<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126</id><updated>2012-02-16T01:26:48.004-08:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Penelitian'/><category term='Peradaban Islam'/><title type='text'>PENDIDIKAN ISLAM</title><subtitle type='html'>Humanisasi Nilai-nilai Spiritual Islam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-8813009682831540614</id><published>2009-10-02T19:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T19:51:44.328-07:00</updated><title type='text'>Hikmah Lebaran</title><content type='html'>&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;MENCARI  KEBAHAGIAAN ATAU KESENANGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi  sering   di identikkan dengan  suatu  tahap  pencapaian  peradaban  suatu bangsa. Misalnya  bangsa ini  sudah  modern  cara hidupnya, karena peradabannya sudah tinggi.  Namun dalam  perkembangannya istilah modernisasi  sering ditafsirkan  sebagai  westernisasi.  Suatu  bangsa dikatakan modern apabila cara hidupnya sebagaimana dilakukan  oleh  orang-orang Barat.  Pada  awalnya mungkin tidak terlalu salah, karena secara realistis Dunia Barat sekarang ini menunjukkan  keunggulannya  di bidang Ilmu Pengetahuan  dan  Teknologi sehingga  peradabannya  juga tinggi.  Akan  tetapi bila modernisasi yang mengarah kepada westernisasi itu mencakup pola prilaku dan filsafat hidup dunia Barat,  maka inilah yang akan menimbulkan  problem baru.&lt;br /&gt;Keunggulan   intelektual   Barat  terutama terlihat  dalam  ilmu dan teknologinya.  Sehingga peradaban  Barat  dipuja  dan  dinyatakan sebagai peradaban ideal. Dalam studinya, The Reformers  of Egypt,   M.N.  Zaki  Badawi  mencatat  dua   jenis kelompok  masyarakat  yang  menganggap   peradaban Barat sebagai peradaban ideal, yaitu yang  "Membaratkan Diri" dan “Golongan Sekularis” (Ziauddin Sardar, 1991:77).  Reaksi pembaratan diri adalah  menerima secara total budaya Barat bersama  dengan  adopsi ilmu  dan teknologinya. Pandangan ini antara  lain dikemukakan  oleh Thaha Hussain :"Mari kita  ambil peradaban Barat ini dalam totalitasnya dan bersama seluruh  aspeknya,  semua yang  baik  maupun  yang buruk".  Pandangan  yang mendasar di sini  adalah keyakinan mereka bahwa "kemajuanlah" yang penting, bukan agama. Karena itu agama dibatasi  bidangnya, yaitu hanya dalam hubungan antara manusia  sebagai individu dengan  Tuhannya.  Contoh  lain   adalah seperti  yang  dilakukan  oleh  Mustafa  Kamal  At-Taturk, dengan sekularisasi di Turki.&lt;br /&gt;Sementara  itu di antara  tokoh-tokoh  Barat sendiri  justru  banyak mengakui  tentang  kondisi kebobrokan  mental  akibat  filsafat  materialisme yang  dianut  oleh Barat. Seperti  yang  dikatakan oleh Dr. Wern Vanbravoon dari Jerman, minat terhadap agama sedang meningkat karena ilmu pengetahuan telah  gagal  mengawasi  terhadap   penyalahgunaan hasil pengetahuan itu sendiri. Menurut Dr.John  A  Stroner dari  Amerika,    makro problema  yang  dihadapai  Amerika  sekarang  ini, bukanlah masalah politik, apalagi ekonomi,  tetapi masalah  rohani,  masalah  spiritual  yang  paling mencemaskan adalah kehancuran akhlaq yang  merupakan  wabah  di kalangan generasi muda.  Ini  semua membuat mereka kehilangan makna dari tujuan hidup, mereka  hanya mencari kesenangan  (comfort)  bukan kebahagiaan  (happines). Dr. Mulder  seorang  guru besar dari Belanda mengatakan, bahwa peranan agama belum selesai (seperti yang dikatakan oleh  bangsa Barat  bahwa  Tuhan  telah  mati),  dengan  alasan karena dunia Barat sekarang ini justru ada  gejala beragama  sebagai  pengaruh  agama  timur   seperti India,  Jepang  dan Indonesia.  Ada  kecenderungan yang menunjukkan bahwa peranan agama semakin  kuat (Nasikun, 1989).&lt;br /&gt;Masalah   sekularisme  adalah  suatu   yang sering   diidentikkan dengan   modernisasi   oleh sementara  orang  yang  terlalu  terpengaruh  oleh penga-laman  sejarah bangsa Barat. Faham  ini dirintis  dari Aliran Liberalis. Dari  sini  timbul segala  ideologi-ideologi dari sistem sosial  yang ada  pada  masyarakat. Tokoh  Liberalis  ini adalah  John Locke, yang karena  teori  politiknya mendasarkan  atas perlindungan kepada  hak  milik, maka faham ini akhirnya melahirkan sistem  kapitalisme  di  negara-negara  Barat.    Dimana   dalam ajaran  John Locke, orang-orang yang  karena teori  politiknya  mendasarkan  atas  perlindungan kepada hak milik, maka faham ini akhrinya melahirkan  sistem  kapitalisme di  negara-negara  Barat. Orang-orang  yang  tidak mempunyai hak milik tidak memperoleh hak kewarganegaraan  yang penuh. Hak milik  dalam  masyarakat industri  yang maju sering diperoleh  dengan  cara tidak  halal yang mirip dengan  penindasan dan ekploitasi.&lt;br /&gt;Faham  kapitalisme yang lahir di Barat  ini telah  melahirkan revolusi industri dengan  segala dampak positif dan negatifnya. Keadaan inilah yang telah merubah jaman feodal yang memberi  kepastian peranan tiap orang, diganti dengan persaingan  dan ketidakpastian. Ketenangan jiwa telah diganti  dengan kegelisahan. Sebaliknya penderita penyakit  jiwa yang mengganggu, atas  nama  kemanusiaan  harus dilindungi. Setiap  orang  dihadapkan pada  ketidakpastian  terhadap  dirinya  dan  anak cucunya. Mereka berlomba mencari harta  sebanyak mungkin untuk melindungi diri dari ketidakpastian yang akan datang. Sikap hidup yang dipenuhi dengan kegelisahan inilah yang nampaknya menjadi fenomena  manusia modern.&lt;br /&gt;Ketegangan-ketegangan  yang  terjadi   pada jaman  modern ini antara lain  disebabkan  karena; kebutuhan  hidup yang meningkat tajam, rasa  individuaistis  dan egois, persaingan hidup  semakain ketat dan  keadaan  yang  tidak  stabil. Akibat meningkatnya  kebutuhan pada  masyarakat  modern  itu  maka orang  dalam kehidupannya selalu  mengejar  waktu, mengejar  benda, mengejar prestise.  Semuanya  itu akan mem bawanya kepada hidup seperti mesin,  tidak mengenal   istirahat  dan  ketentraman.   Hidupnya dipenuhi   oleh  ketegangan  perasaan  (tension) karena  keinginannya  untuk  menghindari  perasaan tertekan,  jika tidak tercapai semua  yang  tampak menggembirakan  itu.  Akibat lebih  lanjut  adalah timbulnya kegelisahan-kegelisahan  yang   kadang-gadang  tidak jelas ujung pangkalnya.  Kegelisahan (anxiety) itu akan menghilangkan kemampuan  untuk merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Ketika rasa untuk memenuhi kebutuhan pribadinya  sudah meningkat, maka yang muncul  biasanya adalah rasa individualistis dan egois. Orang lebih mementingkan  diri  sendiri atau merasa  bahwa  ia perlu   lebih  terdahulu  memikirkan   kepentingan dirinya.  Hubungan persaudaraan  yang  berdasarkan kasih sayang dan cinta mencintai dalam  masyarakat modern menjadi barang langka. Hubungan yang  lazim adalah hubungan kepentingan, apakah itu  hubungan bisnis,  relasi jual-beli, dsb. Hilangnya persaudaraan murni, akan membawa  orang  kepada rasa  kesepian di  tengah-tengah  orang banyak. Perasaan kesepian  ini  akan menghilangkan  rasa  aman,  yang membawa kepada kegelisahan dan kecurigaan dalam hidup. Psikiater  Dadang Hawary (1993)  mengemukakan, perubahan-perubahan yang cepat di satu  fihak dengan ketidakmampuan manusia untuk mengikuti atau menyesuaikan  diri  dengan  kecepatan perubahan-perubahan  itu dapat menimbulkan  ketegangan atau konflik psikososial (stres) dalam masyarakat, yang dapat dibagai dalam tiga golongan, yaitu ; perubahan nilai-nilai kultural, perubahan sistem  okupasional  (pekerjaan)  dan konflik  antar  idealisme serta realita.&lt;br /&gt;Di  negara maju, akibat  modernisasi  dan industrislisasi, maka  cara  berfikir, berperasan dan berprilaku manusia telah  mengalami proses dehumanisasi. Gejala the agony of  modernization,  yaitu  azab sengsara karena  modernisasi dapat  dilihat dalam kehidupan  masyarakat  antara lain : tidak adanya jaminan sosial, pengangguran, kriminalitas yang semakin  meningkat, kekerasan, penyalah gunaan narkotika,  zat ediktif, dan alkohol, kenakalan remaja, kehamilan   remaja,  prostitusi, judi, bunuh diri, gangguan jiwa,  perkosaan, dan lain-lain. (Fatah Syukur)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-8813009682831540614?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/8813009682831540614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=8813009682831540614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8813009682831540614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8813009682831540614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2009/10/hikmah-lebaran.html' title='Hikmah Lebaran'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-8005377970613604674</id><published>2009-01-18T10:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T10:50:56.984-08:00</updated><title type='text'>conoth PTK</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF THING-PAIR- SHARE(TPS) PADA POKOK BAHASAN ZAT DAN WUJUDNYA&lt;br /&gt;DI SMP N 1 KALASAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Sugiyanta Widyaiswara/LPMP DIY&lt;br /&gt;(Sumber: &lt;a href="http://lpmpjogja.diknas.go.id/"&gt;http://lpmpjogja.diknas.go.id//&lt;/a&gt; 4 November 2008.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh upaya peningkatan kualitas pembelajaran melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS) dalam pembelajaran IPA Fisika terhadap kualitas interaksi siswa di kelas dan hasil belajar siswa. Untuk keperluan tersebut maka model penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas(PTK). Subjek  penelitian adalah kelas VII F di SMP Negeri I Kalasan ,yang terdiri dari 38 siswa. Adapun data penelitian diperoleh dengan menggunakan lembar observasi dan tes tertulis. Data tersebut akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa implementasi model&lt;br /&gt;pembelajaran kooperatif tipe Thin-Pair-Share(TPS) dalam pembelajaran IPA Fisika mampu meningkatkan kualitas interaksi siswa dalam kelas dan meningkatkan hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kata Kunci : Model pembelajaran kooperatif tipe TPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Latar Belakang Masalah :&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman di lapangan, kualitas interaksi kelas masih relatif kurang optimal, distribusi kemampuan pada siswa kurang merata, yaitu cenderung memusat pada kelompok atas, siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Dari hasil refleksi dan kajian yang dilakukan, maka untuk memperbaiki struktur interaksi kelas yg demikian ,model pembelajaran yang perlu diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS).Rumusan MasalahBerdasarkan uraian di atas maka dapat dikemukakan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah hasil belajar IPA Fisika dan kualitas interaksi siswa kelas VII F melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipeThing-Pair-Share(TPS)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian:&lt;br /&gt;Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sedangakan secara khusus adalah untuk mendapatkan informasi hasil belajar IPA Fisika, siswa kelas VII F melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipeThing-Pair-Share(TPS).Manfaat Manfaat bagi siswa: meningkatkan motivasi belajar, berbagi pengetahuan, dan meningkatkan hasil belajar.Manfaat bagi guru : meningkatkan motivasi dan kinerja khususnya layanan pendidikan(pembelajaran), masukan dalam upaya pemecahan masalah pembelajaran secara kreatif dan inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;Setting Penelitian:&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan di SMP N 1 Kalasan, Sleman, Yogyakarta tahun Pelajaran 2005/2006, dengan subjek penelitian siswa kela VII F yang berjumlah 38 siswa.Adapun prosedur penelitian dilakukan dengan penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan dan penilian. Secara umum pada langkah awal implementasi pembelajaran guru menjelaskan tujuan pembelajaran, penjelasan singkat materi bahasan dan pertanyaan perangsang motivasi. Langkah selanjutnya untuk menemukan jawaban, siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan beberapa kegiatan eksperimen dengan panduan Lembar Kerja Siswa (LKS). Pembagian kelompok memperhatikan hetrogenitas. Setelah kegiatan eksperimen siswa secara berpasangan berbagi pengalaman-pengetahuan untuk menjawab pertanyaan dalam LKS. Berikut mekanisme pembentukan kelompok dan pasangannya.KELOMPOK EKSPERIMEN Kel. 1Siswa:ABCD Kel. 2Siswa:ABCD Kel. 3Siswa:ABCD Kel. 4 Siswa:ABCD Kel. 1Siswa:ABCD Kel. 2Siswa:ABCD Kel. 3Siswa:ABCD Kel. 4Siswa:ABCD PASANGAN&lt;br /&gt;Setelah proses dalam kelompok dan pasangan selesai, guru meminta jawaban dari masing-masing pasangan dan meminta tanggapan dari pasangan lain. Apabila jawaban telah mengerucut/mendekati kebenaran konsep guru memberi penghargaan dan memvalidasinya serta memberikan penekanan yang diperlukan. Namun apabila belum tepat maka guru memberikan penjelasan dan penekanan jawaban seperlunya. Pada akhir pembelajaran guru memberi perntanyaan kuis untuk mengevaluasi ketercapaian kompetensi dan pengayaan pengetahuan siswa. Setelah pembelajaran selesai, guru bersama kolaborator dan siswa yang dipilih secara acak melakukan refleksi terhadapad proses pembelajaran yang telah berlangsung dan membuat rencana tindakan pada siklus berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur Penelitian Perencanaan :&lt;br /&gt;Menyusun sintaks pembelajaran dan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP), Lembar Kerja Siswa(LKS), pembagian kelompok eksperimen dan kelompok pasangannya, serta alat laboratorium dan media pembelajran yang diperlukan. Pelaksanaan : melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai sintaks pembelajaran dan RPP yang telah disusun. Selama kegiatan pembelajaran dengan dilakukan pengamatan dan mencatat kejadian-kejadian yang dianggap penting, sebagai bahan masukan dan pedoman dalam melakukan refleksi.&lt;br /&gt;Penilaian: melakukan refleksi berdasarkan catatan yang diperoleh dari instrumen observasi kelas dan observasi guru serta pendapat siswa untuk memperbaiki rancangan pembelajaran dan menyususn rencana tindakan pada siklus berikutnya. Instrumen, Analisis Data dan RefleksiData dalam penelitian ini terdiri atas (1) skor hasil belajar siswa,(2)skor interaksi siswa dalam kelas,(3) skor kegiatan guru dalam pembelajaran,dan (4)skor tanggapan siswa teradap proses pembelajaran. Untuk mendapatkan data tersebut digunakan instrumen berupa (1) tes ulangan arian,(2)Lebar observasi Kelas,(3)Lembar Observasi Guru, dan (4) angket siswa.Adapun data penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif kualitatif, dengan ketentuan: (1) hasil belajar siswa didasarkan pada batas ketuntasan individual 65%, dan ketuntasan&lt;br /&gt;klasikal 85%, (2) Data ineteraksi kelas dianalisis secara kualitatif dengan 5 katergori yang telah ditetapkan secara statistik:baik sekali-baik-cukup-kurang-kurang sekali,(3) data aktivitas guru dianalisis secara kualitatif, dilihat sejauhmana telah sesuai prosesdur yang telah ditetapkan, (4)data hasil angket siswa dianalisis secara deskriptif dengan lima kategori seperti pada data interaksi kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Berdasarkan data yang telah diperoleh, berikut ini gambaran secara sederhana alur rencana dan tindakan pada masing-masing siklus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus I&lt;br /&gt;Kondisi :&lt;br /&gt;Siswa termotivasi oleh pertanyaan gurumeski sudah ditentukan anggota kelompoknya, siswa cenderung memilih teman sejenis, teman yg pandai untuk menjadi anggota kelompok.siswa yang kurang pandai cenderung ditolak.siswa masih gaduh, kuarng kompak, sehingga banyak menyita waktu.jika dipasangkan dengan teman yang berlainan jenis, siswa cenderung menolak, dan tidak akrab.sebagian kelompok tidak dapat menyelesaikan percobaan dan menjawab pertanyaan LKS sesuai waktu yang telah ditentukan.Rencana Tindakan hasil refleksi : menyiapkan media yang diperlukan. Menyiapkan alat laboratorium sesuai dengan kbutuhan.menyusun kembali susunan anggota kelompok eksperimen dan kelompok&lt;br /&gt;pasangan.menata susunan meja belajar agar lebih interaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus II&lt;br /&gt;Kondisi :&lt;br /&gt;Kegaduhan berkurangbebrapa siswa masih gaduh, belum enjoy dengan kelompok dan pasangannya.sebagian siswa sudah mulai aktif dan menyesuaikan diri dalam kelompoknya.keaktifan siswa belum merata, cenderung hanya siswa yang terbiasa aktif dan pandai yang aktif dalam kelompok.siswa masih cenderung malu, enggan untuk bertanya maupun menjelaskan baik terhadap pasangannya maupun dengan kelompok lain.siswa pandai masih cenderung masih menyimpan pngetahuannya(egois) dan siswa kurang pandai tidak percaya diri untuk bertanya maupun menjelaskan pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Tindakan hasil refleksi :&lt;br /&gt;1.      guru menjelaskan manfaat bekerja kelompok pada siswa di awal kegiatan.&lt;br /&gt;2.      guru menjelaskan aturan main lebih rinci pada saat kerja kelompok maupun saat berbagi dengan pasangannya.&lt;br /&gt;3.      memberi penghargaan pada kelompok atau pasangan yang mampu menyelesaiakan tugasnya dengan baik dan benar sesuai waktu.&lt;br /&gt;4.      siswa bertanggung jawab atas penguasaan materi yang diimbasakan pada pasangannya.&lt;br /&gt;5.      siswa mengajukan pertanyaan kepada sesama anggota kelompok sebelum bertanya pada guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus III&lt;br /&gt;Kondisi:&lt;br /&gt;kelas cukup interaktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan antar kelompok.kegaduhan tidak tampak.siswa belajar bertanggung jawab terhadap materi yang diimbaskan pada pasangannya.siswa bertanggung jawab pada kelompoknya jika ada pertanyaan dari kelompok lain.sebagian besar siswa tampak lebih enjoy dalam pembelajaran.ada beberapa siswa (7,89%) kurang senang dengan model pembelajaran&lt;br /&gt;karena ingin belajar lebih cepat dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil refleksi :&lt;br /&gt;Guru senang dan puas dengan proses pembelajaran.Guru bangga atas keaktifan siswa, karena selama ini siswa cenderung pasif dalam kelompok.siswa merasa senang dan enjoy dalam pembelajaran.siswa mau berbagi pengetahuan dengan temannya/tidak egois.pengelolaan waktu belum efisien, sehingga kedepan pengelolaan waktu agar lebih disiplin.hasil belajar meningkat, dengan rata-rata ketuntasan diatas batas ketuntasan minimal.distribusi kemampuan semakin merata. D. Simpulan dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. KESIMPULAN SARAN SARAN&lt;br /&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;Implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS) pada materi pokok bahasan Zat dan Wujudnya pada siswa kelas VII F dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas interaksi siswa di kelas.&lt;br /&gt;Saran :&lt;br /&gt;(1) Guru perlu meneliti, mengembangkan dan menerapkan model TPS pada pokok bahasan dan atau kelas yang berbeda karakteristiknya,&lt;br /&gt;(2) guru perlu meneliti lebih lanjut dengan memperluas aspek penelitian, agar dapat diperoleh makna yang lebih luas dan mendalam,&lt;br /&gt;(3) pengelolaan waktu perlu lebih diperhatikan dalam penerapan model TPS agar sesuai prosedur rencana tindakan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Bambang Subali,(2002). Pedoman khusus penyusunan silabus berbasis kemampuan dasar siswa SMP. Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY.&lt;br /&gt;Bloom, B.S.(1976). Human characteristic and school learning. New York : Mc. Grow Hill.Depdiknas.(2004). Materi Pelatihan Terintegrasi. Jakarta: Depdiknas.&lt;br /&gt;Euwe Van den Berg.(1991). Miskonsepsi fisika dan remidiasi. Salatiga: UKSW. Fernandes, H,J.X.(1984). Testing and Measurement. Jakarta: national Educational Planning.&lt;br /&gt;Ibrahim, dkk.(2000). Pembelajan Kooperatif. Surabaya: University Press.Imam Barnadib.(1995). Beberapa aspek substansi ilmu pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;br /&gt;Moh. Amien.(1987). Mengajarkan ilmu pengetahuan alam (IPA) dengan menggunakan metode discoverydan inquiri.Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.Maslow, A.H.(1971). The farther reaches of human nature. New York: The Viking Press.&lt;br /&gt;Mitchel, B.W.(1976). Planning for creative learning. Washington : Kendall/Hunt Publishing Company.&lt;br /&gt;Moh. Sidin Ali(1995). Kreativitas, kemampuan operasi logic dan kemampuan dasar berhitung dengan prestasi belajar fisika pada siswa SMA di kota madya Ujung Pandang.Tesis Yogyakarta.&lt;br /&gt;Munandar, S.C.U.(1977). Creativity and education : Study relationship between measure of creative thinking and a number of educational variables in Indonesian primary and junior secondary schools. Jakarta : UI&lt;br /&gt;Rowe, B.M.(1970). Wait-time and reward as instructional variable: Influence on inquiry and sense and fate control. New York : Columbia University.&lt;br /&gt;Saifudin Azwar.(1976). Tes Pestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta : Pustaka Belajar.&lt;br /&gt;Slavin, R.E.(1995). Cooperative learning, theory, research, and practice. Second edition. Boston : Allyn and Bacon.&lt;br /&gt;Sukamto.(1997). Course material on applied educational research. Medan : PPGT.&lt;br /&gt;Treffinger, D.J.(1992).Encouraging creative learning for gifted and talented. Ventura Clif : Ventura Country Super Intendent of School Office.&lt;br /&gt;Woolfolk,A.E.(1984). Educational phsycology for teachers. New Jersey: Printice-Hall. Inc.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-8005377970613604674?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/8005377970613604674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=8005377970613604674' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8005377970613604674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8005377970613604674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2009/01/conoth-ptk.html' title='conoth PTK'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-6037263914409799429</id><published>2009-01-18T10:44:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T10:49:03.662-08:00</updated><title type='text'>contoh PTK</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Contoh PTK Bidang IPA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA&lt;br /&gt;PELAJARAN IPA DI SD&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Dra. Suprayetkti, M.Pd.&lt;br /&gt;(Sumber: http://www.teknologipendidikan.net)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Penelitian ini bertujuan untuk untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan&lt;br /&gt;pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing; (2) Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kata Kunci: model pembelajaran interaktif, penelitian tindakan kelas, IPA, SD.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggungjawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru SD, yang merupakan ujung tombak dalam pendidikan dasar. Guru SD adalah orang yang paling berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Guru SD dalam setiap pembelajaran selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan keluhan kekurangan waktu untuk mengajarkannya semua.&lt;br /&gt;Menurut pengamatan penulis, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model-model pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, dan sangat sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi.&lt;br /&gt;Kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPA. Disamping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).&lt;br /&gt;Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar IPA siswa kelas 5 di SDN Jakarta Timur yang dipaparkan pada tabel berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1 Nilai rapor untuk mata pelajaran IPA Tahun Ajaran 1998/1999 sampai dengan 2003/2004 SDN Pagi Jakarta Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Ajaran Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata-Rata&lt;br /&gt;1998/1999 6,34 3,78 5,06&lt;br /&gt;1999/2000 7,26 4,26 5,76&lt;br /&gt;2000/2001 6,82 3,96 5,39&lt;br /&gt;2001/2002 7,12 4,12 5,62&lt;br /&gt;2002/2003 7,36 3,42 5,39&lt;br /&gt;2003/2004 6,92 4,08 5,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA di SDN Jakarta Timur munjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA. Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut diatas, penerapan model pembelajaran interaktif menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini dilakukan peneliti yang bertugas sebagai tenaga dosen FKIP-UT dengan berkolaborasi dengan guru-guru SD di SDN Jakarta Timur. Dengan berlolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang model pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariatif. Disamping itu kolaborasi ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksi diri terhadap kinerja yang telah dilakukannya, sehingga dapat melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa.&lt;br /&gt;Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire &amp;amp; Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50) Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PERUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebgai berikut:&lt;br /&gt;Bagaimana desain model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?&lt;br /&gt;Bagaimana menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?&lt;br /&gt;Bagaimana kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?&lt;br /&gt;Apakah dengan kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?&lt;br /&gt;Bagaimana kreaktivitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?&lt;br /&gt;Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. CARA PEMECAHAN MASALAH&lt;br /&gt;Permasalahan rendahnya hasil belajar IPA di SDN Jakarta Timur perlu segera ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas kinerjanya selama perolehan hasil belajar IPA masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi, apabila kreaktifitas siswa dalam pembelajaran juga tinggi. Hasil penelitian mengungkapkan bahawa tingkat kreatifitas siswa saat penelitian dilaksanakan masih rendah, kinerja siswa menunjukkan fenomena sebagai berikut guru jarang membimbing siswa dalam diskusi tentang topik-topik IPA, guru jarang memberikan pertanyaan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena guru kurang memotivasi siswa agar berani bertanya apabila ada masalah/materi yang tidak/kurang dimengerti. Pembelajaran yang ada lebih terpusat pada guru, bukan kepada siswa. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi dengan diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi yang mengisyaratkan pembelajaran harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa. Hal ini dapat tercapai apbila kinerja belajar siswa ditingkatkan, sehingga guru hanya berperan sebagai fasiltator, motivator dan organisator.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SD, menerapkan model pembelajaran interaktif sebagai alternatif untuk dapat meningkatkan perolehan hasil belajar IPA, dapat lebih optimal lagi apabila dilakukan melalui kerja kelompok. Rencana penerapan model tersebut dapat dilihat pada skema berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN&lt;br /&gt;Guru dan Kelas memilih topik dan menemukan informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBELUM PANDANGAN&lt;br /&gt;Kelas atau perorangan siswa mengemukakan&lt;br /&gt;Yang diketahui tentang topik yang dibahas&lt;br /&gt;KEGIATAN EKSPLORASI&lt;br /&gt;Melibatkan siswa dalam topik&lt;br /&gt;PEMBANDINGAN&lt;br /&gt;PERTANYAAN ANAK&lt;br /&gt;Kesempatan kelas mengundang siswa&lt;br /&gt;Mengajukan Pertanyaan tentang topik&lt;br /&gt;PENYELIDIKAN&lt;br /&gt;Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk&lt;br /&gt;Untuk dieksplorasi selama 2-3 hari&lt;br /&gt;PERTANYAAN TAMBAHAN&lt;br /&gt;SETELAH PANDANGAN&lt;br /&gt;Pernyataan perorangan atau kelompok dikompilasi&lt;br /&gt;Dan dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya&lt;br /&gt;REFLEKSI&lt;br /&gt;Saat memantapkan hal-hal yang telah diverifikasi&lt;br /&gt;Dan hal-hal yang masih perlu dipilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1 Bagan Alur Pembelajaran Interaktif&lt;br /&gt;(Faire and Cosgrove, dalam Harlen 1992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Secara khusus tujuan penelitian adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Mengetahui kemampuan guru mendesain model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;2. Menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;3. Meningkatkan kinerja belajar siswa dalam pembelajaran denganmenggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;4. Mengetahui apakah kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;5. Meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok.&lt;br /&gt;6. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;7. Solusi yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN&lt;br /&gt;Bagi siswa pembelajaran interaktif memberikan pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Siswa memiliki kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, karena itu keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa. Disamping itu, melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan siswa didorong aktif secara fisik, mental, dan emosi dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan pembelajaran interaktif menjadi alternative pembelajaran IPA untuk meningkatkan prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. Guru mempunyai kemampuan dalam merancang model pembelajaran interaktif yang merupakan hal baru bagi guru, dan menerapkannya dalam pembelajaran IPA. Dengan penelitian ini, kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK.&lt;br /&gt;Bagi kepala sekolah penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. KAJIAN PUSTAKA&lt;br /&gt;Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan IPA secara umum membantu agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki keterampilan untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar maupun menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam yang harus dibuktikan kebenarannya di laboratorium, dengan demikian IPA tidak saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses. Untuk itu ada tiga hal yang berkaitan dengan sasaran IPA di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut. (1) IPA tidak semata berorientasi kepada hasil tetapi juga proses. (2) Sasaran pembelajaran IPA harus utuh menyeluruh dan (3) pembelajaran IPA akan lebih berarti apabila dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan siswa secara aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)&lt;br /&gt;Seringkali kita mendengar kata penelitian, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : research, yang berarti kegiatan pencaharian atau ekspolrasi untuk menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajian. Adapun yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Dari segi semantik (arti kata) action research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan. Carr dan Kemmis (McNiff, J, 1991, p.2) mendefisikan action research sebagai berikut :&lt;br /&gt;Action research is a form of self – refflective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.&lt;br /&gt;Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa ide pokok antara lain :&lt;br /&gt;1. Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri&lt;br /&gt;2. Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.&lt;br /&gt;3. Penelitian Tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan&lt;br /&gt;4. Tujuan Penelitian Tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktek-praktek, pemahamn terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat tersebut dilaksanakan&lt;br /&gt;Dari keempat ide pokok di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Berdasarkan pengertian tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru di dalam kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Model Pembelajaran Interaktif&lt;br /&gt;Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatn. Sunarwan (1991) dalam Sobry Sutikno (2004 :15) mengartikan model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran atau model mengajar sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada mengajar di kelas dalam setting pengajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.&lt;br /&gt;Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire &amp;amp; Cosgrove dalam Harlen, 1992).&lt;br /&gt;Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus.&lt;br /&gt;Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).&lt;br /&gt;Model pembelajaran interaktif memiliki lima langkah. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Interaktif diawali dengan (1) persiapan, sebelum pembelajaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing. (2) kegiatan penjelajahan, pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan. (3) pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya. (4) penyelidikan, guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalnya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya. (5) refleksi, pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya.&lt;br /&gt;Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kerja Kelompok&lt;br /&gt;Suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan IPA yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu kerja kelompok dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Kerja kelompok memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar karena ia mempunyai tanggung jawab belajar yang lebih besar dan memungkinkan berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa. Sedangkan peran guru lebih ditekankan sebagai organisator kegiatan belajar-mengajar, sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, serta penyedia materidan kesempatan belajar bagi siswa. Guru harus dapat mendiagnosa kesulitan siswa dalam belajar dan dapat memberikan bantuan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pengertian Belajar&lt;br /&gt;Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan yang itu harus secara relative bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kreativitas&lt;br /&gt;Dewasa ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, pegawai negeri maupun pada mereka yang berwiraswasta. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya. Seorang anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya.&lt;br /&gt;Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kraetivitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon Menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong pleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kraetif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PELAKSANAAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Penelitian dilaksanakan di kelas 5 (lima) SDN Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2004/2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Desain Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Prosedur Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri atas tiga siklus kegiatan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKLUS 1&lt;br /&gt;Tahap Perencanaan (Planning) :&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi masalah&lt;br /&gt;2. Menganalisis dan merumuskan masalah&lt;br /&gt;3. Merancang model Pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;4. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)&lt;br /&gt;6. Menyusun kelompok belajar siswa&lt;br /&gt;7. Merencanakan tugas kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Melakukan Tindakan (Action) :&lt;br /&gt;1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan&lt;br /&gt;2. Menerapkan model pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana&lt;br /&gt;4. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan&lt;br /&gt;5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saatmelakukan tahap tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Mengamati (observasi) :&lt;br /&gt;1. Melakukan diskusi dengan guru SD dan kepala Sekolah untuk rencana observasi&lt;br /&gt;2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru kelas lima&lt;br /&gt;3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap refleksi (Reflection)&lt;br /&gt;1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi&lt;br /&gt;2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya&lt;br /&gt;3. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;4. Melakukan refleksi terhada kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA&lt;br /&gt;5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKLUS II&lt;br /&gt;Tahap Refleksi/Siklus II meliputi&lt;br /&gt;Tahap Perencanaan (Planning)&lt;br /&gt;1. Hasil refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya&lt;br /&gt;2. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran&lt;br /&gt;3. Merancang perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Melakukan Tindakan (Action)&lt;br /&gt;1. Melakukan analisis pemecahan masalah&lt;br /&gt;2. Melaksanakan tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Mengamati (observation)&lt;br /&gt;1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;2. Mencatat perubahan yang terjadi&lt;br /&gt;3. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Refleksi (Reflection)&lt;br /&gt;1. Merefleksi proses pebelajaran interakti dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;2. Merfleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok&lt;br /&gt;3. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi&lt;br /&gt;Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah&lt;br /&gt;1. Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA&lt;br /&gt;2. Guru memiliki kemampuan guru merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran IPA&lt;br /&gt;3. Terjadi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran IPA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Analisis Data&lt;br /&gt;Untuk lebih menjamin keakuratan data penelitian dilakukan perekaman data dalam video. Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Rancangan pembelajaran interaktif dan pemberian tugas kerja kelompok dilakukan validasi oleh teman sejawat dan kepala sekolah. Untuk kreativitas siswa dalam pembelajaran digunakan observasi dan angket serta perolehan hasil belajar siswa digunakan deskripsi kuantitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKLUS 1&lt;br /&gt;Tahap Perencanaan (Planning)&lt;br /&gt;1. Guru mulai mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul saat pelaksanaan pembelajaran.&lt;br /&gt;2. Guru mencoba menganilisis dan merumuskan masalah yang mungkin muncul saat pembelajaran&lt;br /&gt;3. Guru merancang model pembelajaran interaktif, dibantu peneliti&lt;br /&gt;4. Guru dan peneliti melakukan diskusi mengenai penerapan model pembelajaran interaktif, terutama langkah-langkah kegiatan diskusi kelompok siswa&lt;br /&gt;5. Peneliti dan guru bersama-sama membuat angket untuk siswa dan pedoman observasi&lt;br /&gt;6. Guru menyusun kelompok berdasarkan siswa yang pandai dibagi merata kesetiap kelompok&lt;br /&gt;7. Guru merencanakan tugas kelompok tentang topik/materi IPA/Sains&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Melakukan Tindakan (Action)&lt;br /&gt;1. Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran&lt;br /&gt;2. Guru menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran Sains/IPA&lt;br /&gt;3. Peneliti dan pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana&lt;br /&gt;4. Peneliti dan pengamat memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan&lt;br /&gt;5. Guru belum dapat mengantisipasi kendala dengan melakukan solusi mengalami kendala saat melakukan tahap tindakan Tahap Mengamati (observasi)&lt;br /&gt;6. Peneliti, pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) dan guru melakukan diskusi untuk rencana observasi pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya&lt;br /&gt;7. Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru&lt;br /&gt;8. Peneliti dan para pengamat mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif. Pada awal pembelajaran guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prncanaan, namun setelah beberapa saat guru kembali kepada pola lama yang biasa dilakukan dalam pembelajaran yaitu menjelaskan materi dan siswa menyimak penjelasan guru dan mencatat hal yang dianggap penting. Guru nampak tidak percaya diri ketika siswa bertanya tentang materi yang tidak dimengerti ketika mengerjakan tugas di rumah.&lt;br /&gt;9. Peneliti, para pengamat dan guru melakukan diskusi untuk membahas tentang kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran IPA/Sains berikutnya. Saran yang diberikan peneliti dan juga para pengamat salah satunya adalah guru harus membaca materi IPA/Sains paket, meskipun guru sudah sering mengajarkan materi tersebut. Guru juga harus membaca beberapa buku referensi lain selain buku paket dan buku wajib, agar guru lebih percaya diri dan dapat menjawab semua pertanyaan siswa dengan tepat. Guru harus dapat mengalokasi waktu dengan baik, sehingga dapat merangkum materi yang dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap refleksi (Reflection)&lt;br /&gt;1. Guru menlakukan analisis temuan peneliti dan para pengamatan saat melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru&lt;br /&gt;2. Peneliti dan para pengamat menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Terutama dalam mengelola kelas, saat siswa melakukan kerja kelompok.&lt;br /&gt;3. Guru melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA/Sains. Selama diskusi kelas guru berusaha berkeliling pada setiap kelompok. Guru menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi saat melakukan percobaan.&lt;br /&gt;4. Guru dibantu peneliti melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA/Sains, di samping itu guru mengadakan evaluasi tentang topik yang sudah dibahas dan nilai rata-rata siswa 5,859. Kreativitas meningkat setelah mengalami pembelajaran yang dilaksanakan guru. Siswa terlibat aktif dalam diksusi kelompok dan percobaan.&lt;br /&gt;5. Guru melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa, mengevaluasi terhadap kekurangan dan kelemahannya dalam pelaksanaan pembelajaran, berupaya untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKLUS II&lt;br /&gt;Tahap Refleksi/Siklus II meliputi&lt;br /&gt;Tahap Perencanaan (Planning)&lt;br /&gt;1. Hasil refleksi guru dievaluasi dan didiskusikan bersama dengan peneliti dan para pengamat dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya.&lt;br /&gt;2. Guru mendata masalah-masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran&lt;br /&gt;3. Guru merancang perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi siklus I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Melakukan Tindakan (Action)&lt;br /&gt;1. Guru melakukan analisis dan pemecahan masalah yang dihadapinya dalam pelaksanaan pembelajaran&lt;br /&gt;2. Guru melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dan berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan saat pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Mengamati (observation)&lt;br /&gt;1. Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;2. Peneliti dan para pengamat mencatat perubahan yang terjadi, guru lebih percaya diri dan menjelaskan materi/konsep dengan baik. Guru sudah dapat berperan sebagai nara sumber, fasilitator dan mediator dengan baik. Guru sudah dapat mengelola kelas dengan baik.&lt;br /&gt;3. Guru, peneliti dan para pengamat melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Refleksi (Reflection)&lt;br /&gt;1. Guru merefleksi proses pembelajaran interaktif yang dilaksanakannya&lt;br /&gt;2. Guru merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif&lt;br /&gt;3. Guru menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian&lt;br /&gt;4. Peneliti dan guru memberikan rekomendasi terhadap hasil akhir penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru.&lt;br /&gt;5. Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah&lt;br /&gt;6. Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA. Setiap pembelajaran IPA siswa selalu sudah siap dengan pertanyaan tentang materi/topik yang akan dibahas. Siswa sudah terbiasa bekerja kelompok dan berdiskusi&lt;br /&gt;7. Guru telah memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif khususnya pada mata pelajaran IPA/Sains. Ada kemauan guru untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran lainnya&lt;br /&gt;8. Prestasi siswa dalam pelajaran IPA/Sains meningkat. Nilai rata siswa mencapai 6,512&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;1. Guru dalam mendesain model pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPA, pada awalnya masih ragu dan belum terbiasa.&lt;br /&gt;2. Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok. Pada awalnya siswa mengalami kesulitan bekerja dalam kelompok, terutama siswa yang pintar/pandai tidak mau bergabung dengan siswa yang tidak/kurang pandai. Siswa yang merasa dirinya pandai lebih suka belajar dan bekerja sendiri. Siswa terkesan egois, untuk dapat menyatukan siswa dalam kelompok dan bekerja sama guru berusaha memberi penjelasan tentang pentingnya berbagi, bekerja sama, bersahabat tanpa memperhatikan kepintaran atau kemampuan orang lain. Justru siswa yang memiliki kelebihan daripada teman-temannya dapat membantunya dengan memberikan penjelasan tentang teori/materi pelajaran yang belum dipahami dan dimengerti&lt;br /&gt;3. Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.&lt;br /&gt;4. Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok, mengalami kesulitan dalam pengelolaan waktu. Guru belum dapat membagi waktu dalam masing-masing kegiatan pembelajaran. Siswa terlalu melakukan diskusi, sehingga guru tidak sempat merangkum/menyimpulkan materi yang dibahas karena waktunya sudah habis.&lt;br /&gt;5. Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;6. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan bertujuan adalah memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakan guru. Menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat dijadikan alternatif untuk penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok memerlukan kemauan dan pengorbanan yang besar, baik waktu, tenaga dan pikiran untuk itu bagi guru sekolah dasar mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas menggunakan model pembelajaran ini sebagai suatu tantangan.&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas sebaiknya dilakukan oleh guru dengan penuh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, peneliti hanya berusaha menjembatani dan memfasilitasi agar para guru sekolah dasar mau melakukan penelitian tindakan kelas sebagai langkah introspeksi diri sebagai tenaga profesional.&lt;br /&gt;Sebaiknya penelitian tindakan kelas dilakukan oleh semua guru, baik guru SD, SMP, maupun SMA, sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja sebagai guru. Guru harus dapat menilai dirinya sendiri sebelum melakukan penilaian kepada siswanya. Guru harus mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam pembelajarannya, berusaha untuk mengatasinya dan menemukan solusi yang terbaik serta mengantisipasi apabila dalam pembelajaran mengalami kendala dan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Arifin, Zainal. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung.&lt;br /&gt;Gagne, R.M (1985). The Conditions of Learning Theory of instruction (4 th Edition). New York : Holt, Rinehart and Winston.&lt;br /&gt;Hasibuan, J.J, Mudjiono (1988), Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Karya. Bandung.&lt;br /&gt;Hendro Darmodjo, Kaligis, J R E. (1991/1992). Pendidikan IPA II, Hal 7-11 Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan&lt;br /&gt;Hernawaty Damanik. (2004). Penerapan Model Pembelajaran Social Science Inquiry Dalam Mata Pelajaran Sosiologi Dengan Kerja Kelompok. FKIP- Universitas Terbuka.&lt;br /&gt;Irwanto, dkk (1991). Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.&lt;br /&gt;Kemmis, S. dan MC. Toggart.R. (Ed.1988). The Action Resesarch Planner. Deakin. Deakin University: Australia&lt;br /&gt;Lemlit-UT, (2003). Jurnal Pendidikan Volume 4, nomor 2. Pusat Studi Lembaga Penelitian Universitas Terbuka.&lt;br /&gt;Mulyasa, E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Remaja Rosdakarya. Bandung.&lt;br /&gt;Poedjiadi, A. (1990). Pendidikan Sains dan Teknologi di Masa yang akan datang. Disampaikan pada Seminar Puskur Balitbang Dikbud, Jakarta.&lt;br /&gt;Poedjiadi, A. (1993). Mewujudkan literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan, hal 4-6. Disampaikan pada seminar FPMIPA IKIP-Bandung.&lt;br /&gt;Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory and Practice. Masschusetts: Allyn and Bacon Publisher.&lt;br /&gt;Sobry Sutikno, (2004). Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran Efektif dan Retorika. NTP Press. Mataram&lt;br /&gt;Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory Research and Practice. Second Edition. Boston: Allyn and Bacon.&lt;br /&gt;Sutarno, N. (2004). Materi Dan Pembelajaran IPA SD. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-6037263914409799429?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/6037263914409799429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=6037263914409799429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/6037263914409799429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/6037263914409799429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2009/01/contoh-ptk.html' title='contoh PTK'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-2415326899069745065</id><published>2008-12-16T06:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T06:13:21.896-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/SUe2ywIEoEI/AAAAAAAAAEU/CzK6FgoiLRE/s1600-h/animated38.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280390071143669826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 153px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/SUe2ywIEoEI/AAAAAAAAAEU/CzK6FgoiLRE/s320/animated38.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Budaya atau kebudayaan berasal dari &lt;a title="Bahasa Sansekerta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sansekerta"&gt;bahasa Sansekerta&lt;/a&gt; yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam &lt;a title="Bahasa Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris"&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt;, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata &lt;a title="Latin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Latin"&gt;Latin&lt;/a&gt; Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-2415326899069745065?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/2415326899069745065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=2415326899069745065' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/2415326899069745065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/2415326899069745065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/12/budaya-atau-kebudayaan-berasal-dari.html' title=''/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/SUe2ywIEoEI/AAAAAAAAAEU/CzK6FgoiLRE/s72-c/animated38.gif' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-8171754004544635579</id><published>2008-12-15T08:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T06:16:44.324-08:00</updated><title type='text'>Media Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/SUe4KhODprI/AAAAAAAAAEc/0lAHP8yq5WY/s1600-h/2animated234.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280391578970728114" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 206px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/SUe4KhODprI/AAAAAAAAAEc/0lAHP8yq5WY/s320/2animated234.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#ff6600;"&gt;MAKNA MEDIA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Media pendidikan merupakan suatu alat atau perantara yang berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan murid menerima dan memahami pelajaran. Proses ini membutuhkan guru yang professional dan mampu menyelaraskan antara media pendidikan dan metode pendidikan.&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan serta perubahan sikap masyarakat membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Hal ini mendorong setiap lembaga pendidikan untuk mengembangkan lembaganya lebih maju dengan memanfaatkan teknologi modern dan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai media pembelajaran.&lt;br /&gt;Dari pemikiran di atas sudah jelas media pendidikan itu berkaitan dengan kemajuan suatu pendidikan yang meliputi sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Arti, fungsi dan nilai media pendidikan.&lt;br /&gt;2. Tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;3. Psikologi belajar.&lt;br /&gt;4. Bentuk media pendidikan.&lt;br /&gt;Pembahasan ini akan dimulai dari pengertian media pendidikan sebagai alat komunikasi.&lt;br /&gt;Alat komunikasi selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan majunya ilmu pengetahuan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kaitannya dengan media pendidikan mempunyai fungsi yang besar di berbagai kehidupan, baik di kehidupan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan seni kebudayaan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan pendidikan media komunikasi memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan maupun peningkatan mutu di suatu lembaga pendidikan. Dengan memakai media tersebut anak didik akan mudah mencerna dan memahami suatu pelajaran. Dengan demikian melalui pendekatan ilmiah sistematis, dan rasional tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai pendidikan tersebut guru memberikan peran yang penting untuk menghantarkan keberhasilan anak didik, oleh karenanya dibutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan murid, untuk menciptakan komunikasi yang baik dibutuhkan guru yang profesional yang mampu menyeimbangkan antara media pembelajaran dan metode pengajaran sehingga informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa dengan baik.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi tugas media bukan sebagai sekedar mengkomunikasikan hubungan antara pengajar dan murid namun lebih dari itu media merupakan bagian integral yang saling berkaitan antara komponen satu dengan komponen yang lain yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arti dan Fungsi Media Pendidikan&lt;br /&gt;Secara harfiah media diartikan “perantara” atau “pengantar”. AECT (Association for Educational Communication and Technology) mendefinisikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Robert Hanick dan kawan-kawan (1986) mendefinisikan media adalah sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dalam sudut yang sama, Kemp dan Dayton mengemukakan peran media dalam proses komunikasi sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sender) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan, media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat, metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan pengajaran di sekolah.&lt;br /&gt;Pada mulanya media hanya dikenal sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni yang memberikan pengalaman visual pada anak dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang komplek dan abstrak menjadi lebih sederhana, kongkret, mudah dipahami. Dewasa ini dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan, maka media pembelajaran berfungsi sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.&lt;br /&gt;b. Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi kongkret).&lt;br /&gt;c. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).&lt;br /&gt;d. Semua indera murid dapat diaktifkan.&lt;br /&gt;e. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.&lt;br /&gt;f. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsepsi semakin mantap fungsi media dalam kegiatan mengajar tidak lagi peraga dari guru, melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Hal demikian pusat guru berpusat pada pengembangan dan pengolahan individu dan kegiatan belajar mengajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pendidik, fungsi dan kemampuan media sangat penting artinya. Media merupakan integrasai dari sistem pembelajaran sebagai dasar kebijakan dalam pemilihan pengembanan, maupun pemanfaatan.&lt;br /&gt;Media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang gilirannya diharapkan mempertinggi hasil belajar yang hendak dicapai. Ada beberapa alasan media pembelajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa.&lt;br /&gt;Pertama, berkenaan dengan manfaat media pembelajaran, sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motifasi belajar.&lt;br /&gt;b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa.&lt;br /&gt;c. Metode pengajaran akan lebih variasi, tidak semata-mata komunikasi verbal.&lt;br /&gt;d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga punya aktifitas lain seperti mengamati, merumuskan, melakukan dan mendemonstrasikan.&lt;br /&gt;Kedua, penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar yang berkenaan dengan taraf pikir siswa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Berfikir siswa dimulai dari yang kongkret menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang komplek. Dalam hubungan ini penggunaan media pembelajaran berkaitan erat dengan tahapan-tahapan berfikir mereka sehingga tepat penggunaan media pembelajaran disesuaikan dengan kondisi mereka sehingga hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan.&lt;br /&gt;Menurut Ensiclopedi of Educational Research, nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalitas.&lt;br /&gt;b. Memperbesar perhatian siswa.&lt;br /&gt;c. Meletakkan dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu pelajaran lebih mantap.&lt;br /&gt;d. Memberikan pengalaman yang nyata.&lt;br /&gt;e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.&lt;br /&gt;f. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan bahasa.&lt;br /&gt;g. Memberikan pengalaman yang tidak diperoleh dengan cara yang lain.&lt;br /&gt;h. Media pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan murid.&lt;br /&gt;i. Media pendidikan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realita dan teliti.&lt;br /&gt;j. Media pendidikan membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan ditujukan untuk menghantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu tercermin baik dari segi intelek, moral maupun hubungannya dengan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dalam lingkungan sekolah akan dibimbing dan diarahkan oleh guru dan siswa berperan aktif.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Filsafat pendidikan memberikan kontribusi yang besar mengenai tujuan pendidikan, karena di dalam filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita yang mengatur tingkah laku atau perbuatan seseorang atau masyarakat. Dalam Undang-Undang Sistem Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3, disebutkan, bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.&lt;br /&gt;Berdasarkan pada uraian di atas maka tujuan pendidikan adalah:&lt;br /&gt;a. Memperbaiki mental, moral, budi pekerti memperkuat keyakinan agama.&lt;br /&gt;b. Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.&lt;br /&gt;c. Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.&lt;br /&gt;d. Membangun warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab&lt;br /&gt;Sebagai seorang pendidik, perumusan tujuan pembelajaran merupakan suatu hal yang pokok sebelum melakukan kegiatan pengajaran. Untuk meneruskan tujuan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Berorientasi pada kepentingan siswa, dengan bertitik tolak pada perubahan tingkah laku.&lt;br /&gt;b. Dinyatakan pada kata kerja yang operasional artinya menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Psikologi Belajar&lt;br /&gt;Pada umumnya belajar dapat kita lihat dari jenis pandangan, yakni tradisional dan pandangan modern. Pertama, pandangan tradisional, belajar adalah usaha memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan” memegang peranan yang penting dalam hidup manusia, pengetahuan adalah kekuasaan siapa saja yang memiliki banyak pengetahuan maka ia akan mendapat kekuasaan. Kedua, pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku perekat interaksi dengan lingkungannya. Seorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan demikian, belajar merupakan suatu keharusan untuk manusia agar memperoleh ilmu pengetahuan sebagai proses perubahan tingkah laku yakni berintelektual tinggi serta berakhlakul karimah.&lt;br /&gt;Untuk mencapai suatu tujuan pelajaran para ahli psikologi pendidikan telah merumuskan beberapa teori yang digolongkan menjadi tiga bagian.&lt;br /&gt;a. Teori Psikologi Daya atau formal disipline&lt;br /&gt;Teori ini menekankan pada daya-daya yang dimiliki oleh anak yakni daya mengingat, daya berfikir, daya mencipta, daya perasaan, dan daya kemauan. Untuk mengembangkan daya tersebut maka perlu dilatih. Misalnya, membentuk daya mengingat, maka para siswa perlu diberi latihan fakta-fakta, untuk melatih daya berfikir para siswa diberi hitungan yang berat-berat dan lain-lain. Yang pening dari teori ini menekankan pada faktor pembentukannya bukan pada faktor materi yang digunakan.&lt;br /&gt;b. Teori Psikologi Asosiasi&lt;br /&gt;Teori ini dikenal dengan sebutan S-R bond teory yakni teori ini stimulus response. Setiap stimulus menimbulkan jawaban tertentu misalnya 5 x 4 = 20, 5 x 4 adalah stimulus sedangkan 20 = response. Teori ini kemudian menjadi dasar tumbuhnya teori connectionisme yang mempunyai doktrin pokok “hubungan antara stimulus dan respon”. Asosiasi dibuat antara kesan-kesan penginderaan dan dorongan-dorongan untuk berbuat. Thorndike dengan S-R bond teori itu menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Hukum latihan atau prinsip use dan disuse. Apanbila hubungan itu sering dilatih ia akan lebih kuat.&lt;br /&gt;2) Hukum pengaruh, hubungan itu akan diperkuat atau diperlemah tergantung pada kepuasan atau ketidak senangan yang berkenaan pada penggunaannya.&lt;br /&gt;3) Hukum kesediaan atau kesiapan, apabila suatu ikatan untuk berbuat, perbuatan itu memberikan kepuasan, sebaliknya apabila tidak siap akan menimbulkan ketidak senangan.&lt;br /&gt;Implikasi dari teori itu dalam belajar adalah :&lt;br /&gt;1) Kelakuan belajar, adalah berkat pengaruh atau perbuatan yang dilakukan terhadap individu.&lt;br /&gt;2) Menjelaskan kelakuan dan motivasi secara mekanis.&lt;br /&gt;3) Kurang memperhatikan proses-proses mengenal dan berfikir.&lt;br /&gt;4) Mengutamakan pengalaman-pengalaman masa lampau.&lt;br /&gt;5) Menganggap bahwa situasi keseluruhan terdiri dari bagian-bagian.&lt;br /&gt;c. Belajar menurut Psikologi Gestalt&lt;br /&gt;Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur, unsur-unsur tersebut berada dalam keseluruhan menurut struktur tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain.&lt;br /&gt;Implikasi teori tersebut terhadap belajar antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Belajar dimulai dari keseluruhan.&lt;br /&gt;2) Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian.&lt;br /&gt;3) Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan.&lt;br /&gt;4) Anak belajar menggunakan pemahaman.&lt;br /&gt;5) Belajar merupakan rangkaian reorganisasi pengalaman.&lt;br /&gt;6) Hasil belajar meliputi semua aspek tingkah laku.&lt;br /&gt;7) Anak yang belajar merupakan keseluruhan bukan belajar pada otaknya saja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bentuk Media Pendidikan&lt;br /&gt;Sesuai dengan pemikiran di atas media pendidikan tidak terbatas pada alat-alat audio-visual yang dapat dilihat, didengar melainkan anak dapat melakukannya sendiri. Dalam hal ini maka tercakup pula di dalamnya pribadi dan tingkah laku guru.&lt;br /&gt;Secara menyeluruh, bentuk media pendidikan terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis)&lt;br /&gt;Misalnya buku, komik, koran, majalah, bulletin, folder, periodikal dan pamflet, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ini seperti :&lt;br /&gt;1) Media pendidikan tanpa proyeksi, misalnya papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan diagram, grafik, karton, komik, gambar.&lt;br /&gt;2) Media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan contoh, diorama, boneka, dan lain-lain.&lt;br /&gt;3) Media yang menggunakan teknik atau masinal.&lt;br /&gt;Alat-alat yang tergolong dalam kategori ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau instruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer.&lt;br /&gt;c. Sumber-sumber masyarakat&lt;br /&gt;Berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.&lt;br /&gt;d. Kumpulan benda-benda&lt;br /&gt;Berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain.&lt;br /&gt;e. Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru&lt;br /&gt;Meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dr. H. Asnawir, Media Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dr. S. Nasution, Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemars, 1983.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Sudarman Danim, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ibid., h. 7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Ibid., h. 11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Drs. Benni Agus Pribadi, Media Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Ibid., h. 23-25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1984.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Dr. Nana Sudjana, Media Pendidikan, Bandung: Sinar Baru, 1990.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Ibid., h. 27-31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ibid., h. 1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ibid., h. 138.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Ibid., h. 40.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Ibid., h. 41-44.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-8171754004544635579?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/8171754004544635579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=8171754004544635579' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8171754004544635579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8171754004544635579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/12/media-pembelajaran.html' title='Media Pembelajaran'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/SUe4KhODprI/AAAAAAAAAEc/0lAHP8yq5WY/s72-c/2animated234.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-1621652785567015758</id><published>2008-05-05T06:50:00.000-07:00</published><updated>2008-05-05T07:12:17.200-07:00</updated><title type='text'>RPP</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi: identitas mata pelajaran, kompetensi dasar dan indikator, materi pokok, langkah kegiatan, alat dan media, dan penilaian. Dalam pengimplementasian pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru dituntut menyusun RPP. RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. Karena itu, RPP harus memuat: tujuan pembelajaran,materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian.&lt;br /&gt;Semangat dari diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah agar siswa belajar secara aktif. Pengembangan kompetensi peserta didik perlu disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Para guru dituntut lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran sehingga memungkinkan siswa dapat berekspresi melalui kegiatan-berbagai kegiatan yang nyata, yang menyenangkan, dan yang mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal. Hanya dengan cara yang demikian, hakikat dari kehadiran seorang guru benar-benar dirasakan oleh setiap peserta didik. Apalagi- sebagaimana dikatakan Prof. Don Elly (Ahli teknologi pembelajaran dari Universitas Syracius, A.S.)- kehadiran guru adalah kesempurnaan dalam proses belajar yang tak akan tergantikan oleh media apapun.&lt;br /&gt;Modul pelatihan ini diharapkan dapat membantu memperluas wawasan para guru yang mengikuti Pendidikan dan Latihan dalam mengimplementasikan pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (M.I.) dengan berpedoman pada KTSP. Mengigat dalam Standar Isi (SI) dari KTSP hanya disebutkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, maka di dalam penyusunan KTSP, guru dituntut untuk secara mandiri mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai indikator yang operasional dan kreatif sehingga dapat mendorong pengalaman belajar siswa menjadi bermakna. Modul ini memberikan arah dalam mengembangkan RPP supaya perencanaan pembelajaran bisa sesuai dengan tuntutan pendidikan yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;B. Penyusunan Rencana Pelakasanaan Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun recana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:&lt;br /&gt;1. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialaokasikan).&lt;br /&gt;2. Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan (ini tidak harus dimasukkan dalam RPP karena pada dasarnya sudah ada di silabus)&lt;br /&gt;3. Tujuan pembelajaran. Tujuan dapat diperoleh dari atau didasarkan pada kompetensi dasar atau indikator.&lt;br /&gt;4. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.&lt;br /&gt;5. Langkah kegiatan. Ini merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran atau pengalaman belajar yang ada di silabus.&lt;br /&gt;6. Alat dan media yang digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajara dalam rangka mencapai tujuan.&lt;br /&gt;7. Penilaian.menyebutkan prosedur dan instrumen penilaian untuk mengetahui kemajuan dalam mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;C. Langkah-langkah penyusunan RPP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mencantumkan identitas&lt;br /&gt;· Nama sekolah&lt;br /&gt;· Mata Pelajaran&lt;br /&gt;· Kelas/Semester&lt;br /&gt;· Standar Kompetensi&lt;br /&gt;· Kompetensi Dasar&lt;br /&gt;· Indikator&lt;br /&gt;· Alokasi Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;· RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.&lt;br /&gt;· Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan&lt;br /&gt;· Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.&lt;br /&gt;3. Mencantumkan Materi Pembelajaran&lt;br /&gt;Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mencantumkan Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran&lt;br /&gt;Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan tetapi, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mencantumkan Sumber Belajar&lt;br /&gt;Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mencantumkan Penilaian&lt;br /&gt;Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat ituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;D. Contoh Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;(RPP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.I. : ........................................................................&lt;br /&gt;Mata Pelajaran : ........................................................................&lt;br /&gt;Kelas/Semester : ........................................................................&lt;br /&gt;Standar Kompetensi : ........................................................................&lt;br /&gt;Kompetensi Dasar : ........................................................................&lt;br /&gt;Indikator : ........................................................................&lt;br /&gt;Alokasi Waktu : ......... x menit (….......... pertemuan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Tujuan Pembelajaran :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;II. Materi Pembelajaran :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;III. Metode Pembelajaran :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;IV. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;Pertemuan 1&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;Pertemuan 2&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;dst&lt;br /&gt;V. Sumber Belajar :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;VI. Penilaian :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;E. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;1. Tahapan kegiatan&lt;br /&gt;Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit). Alokasi waktu disesuaikan dengan bobot kompetensi dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kegiatan Awal&lt;br /&gt;Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa memfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran denagn baik. Sifat dari kegiatan awal adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani dan menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kegiatan Inti&lt;br /&gt;Kegiatan ini difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perseorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kegiatan Akhir&lt;br /&gt;Fungsi kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantonim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;2. Contoh RPP Tematik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )&lt;br /&gt;( TEMATIK )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas/ Semester : II/ I&lt;br /&gt;Tema : Diri Sendiri&lt;br /&gt;Alokasi Waktu : 1 Minggu&lt;br /&gt;Pertemuan Ke : Minggu ke 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Standar Kompetensi&lt;br /&gt;1. PKn&lt;br /&gt;- Kemampuan membiasakan hidup bergotong royong.&lt;br /&gt;2. B. Indonesia&lt;br /&gt;Mendengarkan :&lt;br /&gt;- Kemampuan memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan.&lt;br /&gt;Berbicara :&lt;br /&gt;- Mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman secara lisan melalui kegiatan bertanya, bercerita dan deklamasi.&lt;br /&gt;Membaca :&lt;br /&gt;- Kemampuan memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi.&lt;br /&gt;Menulis :&lt;br /&gt;- Kemampuan menulis permulaan melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte.&lt;br /&gt;3. IPS&lt;br /&gt;- Kemampuan memahami peristiwa penting dalam keluarga secara kronologi.&lt;br /&gt;4. IPA&lt;br /&gt;- Kemampuan mengenal bagian-bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan, serta berbagai tempat hidup makhluk hidup.&lt;br /&gt;5. Matematika&lt;br /&gt;- Kemampuan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500.&lt;br /&gt;6. Seni Budaya dan Keterampilan&lt;br /&gt;- Mengapresiasi karya seni rupa (S. Rupa).&lt;br /&gt;- Mengapresiasi karya seni musik (S. Musik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Kompetensi Dasar&lt;br /&gt;1. PKn&lt;br /&gt;- Kemampuan mengenal pentingnya hidup rukun saling berbagi dan tolong menolong.&lt;br /&gt;2. B. Indonesia&lt;br /&gt;Mendengar :&lt;br /&gt;- Kemampuan menyebutkan kembali dengan kata-kata atau hal sendiri isi teks pendek.&lt;br /&gt;Berbicara :&lt;br /&gt;- Kemampuan bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan satuan berbahasa.&lt;br /&gt;Membaca :&lt;br /&gt;- Kemampuan menyimpulkan isi teks pendek (5-10 kalimat) yang dibaca dengan membaca lancar.&lt;br /&gt;Menulis :&lt;br /&gt;- Kemampuan melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;3. IPS&lt;br /&gt;- Kemampuan memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.&lt;br /&gt;4. IPA&lt;br /&gt;- Kemampuan mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.&lt;br /&gt;5. Matematika&lt;br /&gt;- Kemampuan membandingkan bilangan sampai 500.&lt;br /&gt;6. Seni Budaya dan Keterampilan&lt;br /&gt;Seni Rupa : Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa.&lt;br /&gt;Seni Musik : Mengidentifikasi unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan oleh benda bukan alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Indikator&lt;br /&gt;1. PKn&lt;br /&gt;- Memahami arti hidup rukun, saling berbagi dan tolong menolong dalam keluarga dan lingkungan tetangga.&lt;br /&gt;2. B. Indonesia&lt;br /&gt;Mendengarkan :&lt;br /&gt;- Menjawab pertanyaan sesuai isi cerita yang didengarkan.&lt;br /&gt;Berbicara :&lt;br /&gt;- Menggunakan kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu kepada orang yang belum dikenal dengan pilihan kata yang tepat.&lt;br /&gt;Membaca :&lt;br /&gt;- Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis :&lt;br /&gt;- Melengkapi cerita tentang data diri dan keluarga dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;3. IPS&lt;br /&gt;- Menunjukkan dokumen diri dan keluarga.&lt;br /&gt;4. IPA&lt;br /&gt;- Membuat daftar bagian-bagian utama tubuh hewan di sekitar rumah dan sekolah serta kegunaannya dari hasil pengamatan.&lt;br /&gt;5. Matematika&lt;br /&gt;- Membilang secara urut.&lt;br /&gt;- Menyebutkan banyak benda.&lt;br /&gt;6. Seni Budaya dan Keterampilan&lt;br /&gt;Seni Rupa : Mengelompokkan berbagai jenis bidang tekstur dan bentuk ritme keseimbang kesatuan.&lt;br /&gt;Seni Musik : Menentukan sumber bunyi&lt;br /&gt;Membedakan kuat dan lemahnya bunyi dengan gerakan dan tepukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;- Siswa dapat menjalani hidup rukun dengan teman sekelas saling berbagi dan tolong menolong.&lt;br /&gt;- Siswa dapat menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek yang telah dibaca.&lt;br /&gt;- Siswa dapat bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.&lt;br /&gt;- Siswa dapat menyimpulkan isi teks pendek (5-10 kalimat) kemudian dibacakan.&lt;br /&gt;- Siswa dapat melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;- Siswa dapat memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.&lt;br /&gt;- Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah.&lt;br /&gt;- Membandingkan bilangan sampai 500.&lt;br /&gt;- Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa.&lt;br /&gt;- Menyebutkan unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan oleh benda bukan alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Materi Ajar/ Materi Pokok&lt;br /&gt;- Pentingnya hidup rukun saling berbagi dan tolong menolong.&lt;br /&gt;- Bacaan teks pendek, anak membaca dan mengungkapkan kembali isi bacaan dengan kalimat sendiri.&lt;br /&gt;- Kata tanya, apa, siapa, di mana&lt;br /&gt;- Bacaan teks pendek (5-10 kalimat) anak menyimpulkan isi teks tersebut.&lt;br /&gt;- Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;- Dokumen diri : akte keluarga, KTP, kartu keluarga dan koleksi benda berharga.&lt;br /&gt;- Bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan yang ada di lingkungan rumah dan sekolah.&lt;br /&gt;- Operasi hitung bilangan.&lt;br /&gt;- Keragaman aneka unsur rupa dan unsur musik.&lt;br /&gt;VI. Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;Ceramah, tanya jawab, demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Langkah-Langkah Pembelajaran&lt;br /&gt;Kegiatan Awal&lt;br /&gt;- Mengucapkan salam dan berdoa bersama.&lt;br /&gt;- Menyanyi bersama lagu “Anak kambing saya” dan “Naik-naik ke puncak gunung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Inti&lt;br /&gt;- Siswa menyanyi lagu anak kambing saya dan naik-naik ke puncak gunung sambil diiringi tepuk tangan.&lt;br /&gt;- Siswa mempraktekkan kerjasama dan tolong menolong dalam satu kelas (lingkungan kecil).&lt;br /&gt;- Siswa menjawab pertanyaan dari guru sesuai isi cerita yang didengarkan.&lt;br /&gt;- Siswa menggunakan kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu.&lt;br /&gt;- Siswa membaca teks cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat.&lt;br /&gt;- Siswa menulis pengalaman pribadi ke depan kelas.&lt;br /&gt;- Siswa menjelaskan pentingnya memelihara dokumen dan koleksi barang keluarga.&lt;br /&gt;- Siswa menyebutkan bagian-bagian utama tubuh hewan di sekitar rumah dan sekolah serta kegunaannya.&lt;br /&gt;- Siswa menghitung secara urut sampai 500.&lt;br /&gt;- Siswa menyebutkan banyak benda (lebih sedikit, lebih besar atau sama dengan kumpulan lain).&lt;br /&gt;- Siswa membuat gambar sesuai dengan illustrasinya dari berbagai jenis bidang dan tekstur.&lt;br /&gt;- Siswa menyanyikan sebuah lagu “Lihat kebunku” dengan diiringi sumber bunyi gelas dan sendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Akhir&lt;br /&gt;- Tanya jawab tentang materi yang telah diajarkan.&lt;br /&gt;- Menyanyikan lagu “Naik-naik ke puncak gunung”.&lt;br /&gt;- Pemberian PR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. Alat dan Sumber&lt;br /&gt;Alat : - Benda-benda di sekitar.&lt;br /&gt;- Macam-macam dokumen diri (KTP, akte kelahiran).&lt;br /&gt;- Gambar hewan dan bagian-bagiannya serta kegunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX. Penilaian&lt;br /&gt;- Lembar kerja.&lt;br /&gt;- Pengamatan.&lt;br /&gt;- Tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;3. Contoh Berbasis CTL&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS ACTIVE LEARNING/CTL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah : MTs Miftahul Huda&lt;br /&gt;Mata pelajaran : Fiqih&lt;br /&gt;Kelas/ Semester : VIII/Gasal&lt;br /&gt;Pertemuan ke : I&lt;br /&gt;Alokasi waktu : 2 X 40 menit&lt;br /&gt;Standar kompetensi : ........................&lt;br /&gt;Kompetensi dasar : ........................&lt;br /&gt;Indikator : ........................&lt;br /&gt;Tujuan : ........................&lt;br /&gt;Pokok-pokok Materi : ......................&lt;br /&gt;Metode : .......................&lt;br /&gt;Media/Alat/Bahan/Sumber: .........&lt;br /&gt;Alat Evaluasi : .......................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc66;"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Skenario Pembelajaran Model Jigsaw, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;1. Materi yang dipilih adalah zakat hewan ternak zakat perdagangan (tijaroh), zakat pertanian (hasil bumi), zakat emas dan perak.&lt;br /&gt;2. Siswa dibagi ke dalam 4 kelompok besar&lt;br /&gt;3. Pembagian kelompok berdasarkan nomor urut absensi. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang&lt;br /&gt;4. Setiap kelompok bertugas berbaca dan memahami materi yang ada dalam buku panduan Mata Pelajaran&lt;br /&gt;5. Setiap kelompok melakukan diskusi kecil dan merangkum hasil diskusi&lt;br /&gt;6. Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi kecil kelompoknya kepada kelompok lain melalui salah satu anggotanya yang dikirim pada diskusi kecil antar kelompok.&lt;br /&gt;Setelah melalui proses zig zag dan masing-masing siswa terlihat dalam diskusi kecil antar kelompok, hasil dari diskusi kelompk tersebut disampaikan kepada masing-masing teman sekelompoknya.&lt;br /&gt;7. Kembalikan seperti semula dalam kelompok besar untuk mengulas lagi seandainya ada masalah yang belum terpecahkan&lt;br /&gt;8. Guru melempar beberapa pertanyaan untuk penjajagan pemahaman materi&lt;br /&gt;9. Refleksi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-1621652785567015758?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/1621652785567015758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=1621652785567015758' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/1621652785567015758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/1621652785567015758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/05/rpp.html' title='RPP'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-1779295520150418972</id><published>2008-03-26T15:38:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T15:45:36.521-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Tinggi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;MEMADUKAN IDEALISME DOSEN DENGAN MAHASISWA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;Oleh F. Syukur NC.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tulisan ini diilhami oleh sebuah tulisan Prof. Dr. Achamd Ali, S.H., guru besar UNHAS Makassar yang dimuat di Harian Kompas, 22 April 2002, tentang Moralitas Pendidikan di Indonesia. Dalam artikel tersebut, Achmad Ali yang pernah menjadi dekan Fakultas Hukum Unhas, mendapat keluhan dari seorang dosen senior, bahwa mahasiswa yang diajarnya tidak mau mendengarkan, bahkan mereka bergurau – ramai sendiri. Sang dosen senior ini sampai marah dan melapor pada dekan, supaya dekan menindak mahasiswa tesebut. Namun setelah diusut, ternyata penyebab mahasiswa bergurau – ramai sendiri itu, bukan semata-mata karena faktor mahasiswanya, tetapi setiap sang dosen itu masuk di kelas, yang dilakukannya hanya langsung "mendiktekan" 10 halaman diktatnya.  Sehingga tersirat dalam pikiran sebagian mahasiswanya, "Daripada kami capek-capek mencatat hasil diktean beliau, kan, mendingan dipinjamkan saja untuk kami copy, praktis dan efisien".&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan dialog mahasiswa dengan bidang akademik IAIN Walisongo, mulai dari Pembantu Rektor I, Pembantu Dekan I, Ketua dan Sekretaris Jurusan serta Kasubag Akademik dan Kemahasiswa, ada seorang mahasiswa yang mengkritik habis-habisan keberadaan beberapa dosen yang menurutnya tidak bermutu. Dosen-dosen ketika di kelas tidak siap dengan materi yang diajarkan, yang sering adalah ceramah dan  ngalor-ngidul tentang anak-anak dan tetangganya. Tetapi kalau ada mahasiswa yang bertanya dengan kritis, maka diancam nilainya akan dipotong. Mahasiswa tersebut menuntut agar para dosen tersebut ditingkatkan kualitasnya. Dalam mengajar hendaknya jangan hanya ceramah, dan menganggap mahasiswa sebagai botol kosong yang hanya siap untuk diisi. Ada juga seorang dosen senior ketika di kelas yang diceritakan selalu tentang pengalaman-pengalamanya di luar negeri yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mata kuliah.&lt;br /&gt;Dua kasus tersebut merupakan fenomena yang menarik dalam dunia pendidikan kita, dimana sudah terjadi peningkatan kesadaran di kalangan mahasiswa. Mahasiswa bukanlah benda yang kosong, tetapi mereka sudah membawa potensi dan referensi dari berbagai sumber, sehingga kehadirannya di ruang kuliah bukan tanpa bekal. Ingat di era informasi, maka sumber informasi bisa didapatkan bukan semata-mata dari dosen. Dosen hanya sebagian kecil dari sumber informasi. Justru di luar itu, banyak informasi yang bisa didapatkan melalui buku-buku, jurnal, koran, internet, seminar-seminar dan sebagainya. Oleh karena itu, kalau dosen masih beranggapan bahwa dialah satu-satu sumber informasi, maka dia akan ketinggalan dari dunia informasi yang lain. Apalagi kalau stok informasi yang dimilikinya tidak selalu di upgrade, maka jelas dia akan terlihat ‘kuper’. Dia mengira sudah mencapai setinggi langit dan seluas bumi, padahal ia masih di dalam tempurung.&lt;br /&gt;Ada seorang dosen senior yang memperoleh kesempatan mengikuti program doktor bebas terkendali terheran-heran setelah melihat proses perkuliahan yang dilaksanakan oleh dosen-dosen muda baik yang alumni S-2 atau S-3. Ternyata proses perkuliahannya sudah seperti di S-2 atau S-3, maksudnya banyak membuat makalah, seminar, dan brainstorming.  Tidak jarang mahasiswa mendebat dosen, kalau referensinya tidak atau kurang akurat. Sebelum mendapat kesempatan mengikuti kuliah doktor dia mengira bahwa model kuliahnyalah yang paling ideal. Ternyata dosen-dosen muda sudah melaksanakan model sebagaimana di pasca sarjana, walau tidak sepenuhnya.&lt;br /&gt;Betapa idealnya seandainya idealisme mahasiswa tersebut merupakan gambaran mayoritas mahasiswa kita dan kemudian diimbangi dengan idealisme dari dosen untuk meningkatkan semangat keilmuannya.&lt;br /&gt;Berangkat dari pengalaman saya lebih kurang selama delapan tahun sebagai dosen yang belum senior, menunjukkan bahwa prosentase mahasiswa yang mempunyai kesadaran intelektual dan idealisme jumlahnya sangat kecil. Dalam satu kelas rata-rata kurang dari dua puluh lima prosen, sedang yang lainnya biasa-biasa saja dan lebih banyak pasif.&lt;br /&gt;Sebagaimana dilakukan oleh beberapa dosen yang lain, setiap awal kuliah seorang dosen memaparkan prospectus perkuliahan yang akan diajarkan dalam satu semester ke depan, yang meliputi, tujuan yang ingin dicapai, silabi perkuliahan, buku-buku rujukan, pendekatan dan metode-metode perkuliahan dan sistem evaluasi.  Memang tidak semua dosen melakukan hal seperti itu, misalnya silabi tidak diberitahukan kepada mahasiswa, buku-buku rujukan dan sistem evaluasi tidak diberitahukan kepada mahasiswa. Ada beberapa kemungkinan, mungkin karena dosen tidak sempat membuat silabi yang siap disampaikan kepada mahasiswa atau mungkin dosen sengaja menyembunyikan langkah-langkah yang akan diajarkan supaya tidak diketahui oleh mahasiswa. Konon dulu ada dosen yang setiap memberikan ujian, mahasiswa selalu tidak bisa menjawab. Bahkan referensi yang ditunjukkan oleh dosen tidak ditemukan jawabannya. Akhirnya ada mahasiswa ‘kreatif’ yang mencuri buku yang ada di tas sang dosen ketika dia keluar kelas. Pada pertemuan selanjutnya sang dosen sempat marah karena bukunya hilang dan dia tidak siap untuk mengajar. Rupanya dari buku “babon” yang disembunyikan dari mahasiswa itulah segala soal ujian dibuat.&lt;br /&gt;Dalam pemaparan prospectus tersebut, mahasiswa saya persilahkan untuk berpartisipasi sebagai bagian dari pendidikan orang dewasa dalam sistem andragogi. Misalnya apakah sillabi yang disampaikan oleh dosen ini perlu ditambah, dikurangi atau perlu direvisi. Apakah ada sumber-sumber rujukan yang lain selain yang disampaikan oleh dosen. Apakah sistem evaluasi dan metode yang diusulkan oleh dosen dapat disepakati, termasuk kesepakatan-kesepakatan tentang sanksi-sanksi dalam kuliah. Setelah semua disepakati, maka semua yang terlibat dalam mata kuliah tersebut akan terikat dengan kesepakatan itu. &lt;br /&gt;Dalam realitanya  sangat sedikit mahasiswa yang memanfaatkan moment tersebut, kecuali hanya satu – dua mahasiswa. Rata-rata mereka langsung menerima prospectus tersebut sebagai informasi yang harus diterima. Bahkan anehnya ada beberapa mahasiswa yang tidak peduli dengan prospectus tersebut, dan menganggapnya hanya sebagai angin lalu saja, tanpa ada bekasnya dilembaran kertas yang ia miliki. Akibatnya sudah bisa ditebak, ibarat orang mau berjalan, sudah disediakan denah atau peta yang jelas, lengkap dengan petunjuk kompasnya, namun tidak mau memanfaatkannya, ya seperti berjalan tanpa arah, tanpa persiapan dan tanpa bekal. Bagaimana bisa diharapkan tumbuh idealisme dari mahasiswa yang demikian ?&lt;br /&gt;Sebagai dosen yang menyadari bahwa informasi yang dimiliki oleh dosen itu sangat terbatas, sehingga mengajak mahasiswa untuk membaca langsung dari buku-buku rujukan, namun kenyataannya lain. Masih banyak mahasiswa yang hanya menggantungkan pada dosen sebagai satu-satunya sumber informasi. Buku refrensi yang sudah ditunjukkan tidak pernah dicari, dengan berbagai alasan, sulit dicari, harganya mahal dan sebagainya. Bagi sebagian dosen mungkin ini menguntungkan, karena memposisikan dirinya sebagai orang yang  pintar dan ‘paling tahu segalanya’.&lt;br /&gt;Bila ada dosen yang menugaskan membuat makalah dan presentasi, apalagi yang bersifat individual, maka banyak mahasiswa yang mencap, “dosen banyak tugas”. Mengapa makalah harus sekian halaman, harus dengan sekian referensi. Atau mereka berkata, makalah kelompok saja pak, ada pula yang mengatakan cemarah saja pak.&lt;br /&gt;Kuliah dengan sistem seminar (ada mata kuliah tertentu yang tidak cocok dengan sistem ini), dimaksudkan agar partisipasi mahasiswa lebih banyak. Mereka dapat langsung mencari dari sumber rujukan yang ditunjuk, sekaligus dapat menganalisis dan menyusun pola pikir dengan baik dan sistematis melalui presentasi di kelasnya. Dari makalah itu, dosen dapat memberikan masukan maupun menerima masukan ilmu. Demikian pula mahasiswa yang lain, tanpa dia harus mendalami semua topik yang diajarkan. Dengan demikian akan tercipta kondisi ‘saling belajar’ dan menambah ilmu.&lt;br /&gt;Dengan prospectus yang telah disampaikan oleh dosen di awal perkuliahan mestinya mahasiswa dapat menjadikannya sebagai pedoman, persiapan apa yang harus dibawa untuk mengikuti setiap perkuliahan sesuai dengan topiknya, bukan hanya topik makalah yang ditugaskan kepadanya. Mahasiswa juga dapat ‘mengatur strategi’ dalam menghadapi ujian dari dosen sesuai dengan kesepakatan di kuliah awal tersebut.&lt;br /&gt;Tentang kuliah awal ini memang masih ada budaya yang kurang baik, entah awalnya dari mana, “ah masih kuliah awal belum terlalu penting”, sehingga di minggu pertama kuliah biasanya kelas masih kosong. Sejak awal kepemimpinan Dr. H.A.Qodri A. Azizy (Mantan Rektor IAIN Walisongo), sudah diinstruksikan agar dosen masuk kelas sesuai dengan awal masa perkuliahan. Jangan sampai ada kelas kosong pada minggu-minggu pertama kuliah.&lt;br /&gt;Hasilnya cukup lumayan, untuk Fakultas Tarbiyah, lebih dari delapan puluh prosen dosen sudah memulai perkuliahan sejak minggu pertama perkuliahan. Namun demikian di pihak mahasiswa kesadaran tersebut baru tumbuh sekitar tiga puluh prosen. Laporan dari beberapa dosen, bahwa pada minggu-minggu pertama perkuliahan, mahasiswa yang hadir hanya sekitas sepertiga dari jumlah kelas. Alasannya macam-macam, ada yang masih di kampung, ada yang masih batal tambah, ada yang mengatakan belum penting dan sebagainya. &lt;br /&gt;Itulah sebuah realitas dunia kampus kita, yang tentu terkait dengan realitas-realitas yang lain. Realitas tersebut antara lain adalah rendahnya sikap keingin tahuan, curiosity, untuk haus terhadap ilmu pengetahuan baik di pihak dosen maupun di pihak mahasiswa. Akibat rendahnya sikap curiosity ini, maka orang akan mudah puas dengan apa yang dimilikinya. Lebih dari itu mungkin juga ada sikap arogansi intelektual. Merasa sudah pintar sehingga tidak perlu belajar lagi. Ini pernah saya alami ketika menyampaikan sebuah undangan dari panitia pelatihan manajemen IAIN kepada seorang dosen yunior, bagaimana responnya ?  positifkah ? ternyata jauh dari yang saya bayangkan. Dengan angkuhnya dia mengatakan ‘ah manajemen paling kayak gitu’. Betapa arogannya dia sehingga merasa tidak perlu ada upgrade ilmu-ilmu yang pernah ia dapatkan. Ilmu yang pernah ia dapat sewaktu kuliah puluhan tahun yang silam, masih dipertahankan dan disampaikan sebagaimana adanya kepada mahasiswa pada era sekarang. Padahal ilmu pengetahuan telah berkembang dengan cepat seiring dengan perkembangan masa. Lima tahun yang lalu komputer dengan prosessor 486 Hz sudah dianggap canggih, namun sekarang, pentium sudah mencapai generasi keempat, dan akan terus berkembang. Rendahnya sikap curiosity telah menghambat orang untuk selalu terbuka terhadap pengetahuan baru.&lt;br /&gt;Dulu orang belajar sesuatu harus berhadapan langsung dengan guru, datang ke majlis pengajian, datang ke perpustakaan, tetapi dengan kecanggihan teknologi dari ruang kamar yang berukuran dua kali tiga meter, dengan internet orang bisa mengakses berjuta juta informasi tanpa harus datang ke majlis, atau langsung ketemu dengan guru. Dulu kalau kita ingin membaca tafsir, harus membeli kita-kitab yang tebal dan harganya mahal, sekarang hanya dengan sebuah note book dan sekeping cd al-Qur’an sudah lengkap ayat-ayat dan tafsirnya dari beberapa kitab. Demikian pula hadits kutubussittah yang memuat sembilan kumpulan kitab-kitab hadits besar, dapat diakses hanya dengan sekeping cd. Untuk belajar bahasa, mulai dari anak-anak sampai dewasa, tidak harus datang ke tempat kursus, sekarang sudah banyak cd program belajar bahasa.&lt;br /&gt;Namun demikian untuk menuju ke arah itu masih ada realitas lain yang harus diakui, yakni faktor ekonomi. Masih ada dosen yang tidak memiliki perpustakaan pribadi dan tidak mau datang ke perpustakaan. Buku-buku yang dipakai untuk mengajar di kelas tidak pernah berubah sejak awal dia mengajar sampai pensiun. Masih ada dosen yang belum memiliki komputer, apalagi mengakses internet. Barangkali alasan klassik yang dikemukakan adalah gaji yang diterima dosen tidak cukup untuk membeli buku, langganan koran, langganan internet dan sebagainya. Itu memang kenyataan bahwa gaji dosen di negeri kita masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan gaji guru SLTP di Malaysia. Tetapi itu bukan alasan utama untuk tidak mau berkembang dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Di kalangan mahasiswa, faktor ekonomi ini juga menjadi alasan. Katanya uang saku dari rumah tidak cukup untuk membeli buku. Tetapi kenapa tidak ke perpustakaan ? Katanya, perpustakaan bukunya terbatas. Ya memang benar, perpustakaan yang kita miliki, masih  jauh dari memadahi. Idealnya, satu orang dapat meminjam buku antara 20 sampai 25 buku dalam jangka waktu dua bulan. Sehingga untuk membuat makalah dapat leluasa mencari referensi di perpustakaan. Akan tetapi kalau kita menunggu kondisi ideal, apakah kita baru akan maju setelah kondisi ideal ? Sampai kapan ?&lt;br /&gt;Ada pengalaman menarik sewaktu kuliah di S-1. Ada seorang teman yang uang saku dari orang tuanya jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan teman-temannya satu kost. Katakanlah waktu itu rata-sata uang saku mahasiswa per bulan antara Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu. Sementara uang saku seorang teman tersebut maksimal hanya Rp 10 ribu plus beras 10 kg. Tetapi teman yang satu ini dapat membeli buku paling tidak 2 sampai 3 buku setiap bulan. Sementara yang uang sakunya banyak ternyata habis untuk makan, jalan-jalan dan beri berbagai assessoris. Kuncinya adalah pada kemauan, Rp 10 ribu merupakan modal awal yang dapat dikembangkan. Kebetulan dia hobi menulis, dengan modal itu ia belikan buku, kemudian diresensi dan dikirim ke media massa. Dari tulisan tersebut ia mendapatkan uang, dan dari klipping tulisan tersebut yang dikirimkan ke penerbit, ia mendapatkan buku-buku baru. Sekali lagi dimana ada kemauan di situ ada jalan. Tak ada rotan, akarpun jadi.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mantan aktivis pers mahasiswa akhir tahun delapan puluhan. Sekarang sebagai dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, dan Vice Editor in Chief Joenal Ihya Ulum  al-Din.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-1779295520150418972?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/1779295520150418972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=1779295520150418972' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/1779295520150418972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/1779295520150418972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/03/pendidikan-tinggi.html' title='Pendidikan Tinggi'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-2988682398622089632</id><published>2008-02-23T10:11:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T10:15:47.259-08:00</updated><title type='text'>Silabus Akta IV</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;Universitas Wahid Hasyim Semarang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SILABUS MK PERENCANAAN PEMBELAJARAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Program Akta IV (4 SKS)&lt;br /&gt;Tahun Akademik 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Dosen : Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;I.        STANDAR KOMPETENSI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami konsep dasar Perenanaan Pembelajaran dan Mampu Menerapkannya dalam Proses Pembelajaran dengan baik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;II.      MATERI POKOK&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;1.      Pengertian, dan Ruang Lingkup&lt;br /&gt;2.      Urgensi Persiapan dalam Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;3.      Prinsip Pengembangan Persiapan Pembelajaran&lt;br /&gt;4.      Kinerja Guru dalam Persiapan Pembelajaran&lt;br /&gt;5.      Prinsip-prinsip Pembelajaran&lt;br /&gt;6.      Model-model Pembelajaran :&lt;br /&gt;a.      Model Pembelajaran Konstruktivisme&lt;br /&gt;b.      Model Pembelajaran CTL&lt;br /&gt;c.      Pendekatan Pembelajaran Tematik&lt;br /&gt;d.      Pendekatan Pembelajaran PAIKEM&lt;br /&gt;7.      Pengorganisasian Kelas&lt;br /&gt;a.      Desain Kelas Huruf U&lt;br /&gt;b.      Desain Kelas Corak Tim&lt;br /&gt;c.      Desain Kelas Lingkaran&lt;br /&gt;d.      Desain Kelas Breakout Groupings&lt;br /&gt;e.      Desain Kelas Chevron&lt;br /&gt;f.        Desain Kelas Kelompok untuk Kelompok&lt;br /&gt;8.      Pengembangan Teknik Pembelajaran&lt;br /&gt;a.      Prinsip Student Active Learning&lt;br /&gt;b.      Pembelajaran Partisipatif&lt;br /&gt;c.      Teknik-teknik Pembelajaran&lt;br /&gt;9.      Perencanaan Pembelajaran Pengembangan Diri:&lt;br /&gt;a.      Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup&lt;br /&gt;b.      Kompetensi yang dikembangkan&lt;br /&gt;c.      Strategi Pengembangan Diri&lt;br /&gt;10. Perencanaan Pembelajaran Life Skill:&lt;br /&gt;a.      Latar Belakang, Filosofi, dan Tujuan&lt;br /&gt;b.      PKH di Madrasarah&lt;br /&gt;c.      Strategi Pendidikan Kecakapan Hidup&lt;br /&gt;d.      Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup&lt;br /&gt;11. Pembelajaran Portofolio:&lt;br /&gt;a.      Pengertian dan Prinsip-prinsip&lt;br /&gt;b.      Implementasi model portofolio&lt;br /&gt;c.      Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio&lt;br /&gt;12. Perencanaan Media Pembelajaran&lt;br /&gt;a.      Pengertian&lt;br /&gt;b.      Macam-macam Media&lt;br /&gt;c.      Penerapan dalam Pembelajaran&lt;br /&gt;13. Perencanaan Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;a.      Penegrtian&lt;br /&gt;b.      Macam-macam Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;c.      Penerapan Metode dalam Pembelajaran&lt;br /&gt;14. Perencanaan Evaluasi Pembelajaran&lt;br /&gt;a.      Pengertian&lt;br /&gt;b.      Jenis-jenis Evaluasi&lt;br /&gt;c.      Penerapan Evaluasi dalam Pembelajaran&lt;br /&gt;15. Pengembangan Silabus Berbasis KTSP&lt;br /&gt;16. Pengembangan RPP Berbasis KTSP&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;REFERENSI :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Armai Arief, Dr., M.A., Pengantar Ilmu dan Meodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.&lt;br /&gt;Basyiruddin Usman, Drs.M., M.Pd., Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.&lt;br /&gt;Dasim Budimansyah, Dr., M.Si., Model Pembelajaran Portofolio, Bandung: PT Genesindo, 2003.&lt;br /&gt;Fatah Syukur, Drs., M.Ag., Teknologi Pendidikan, Semarang: Rasail, 2004.&lt;br /&gt;Khaeruddin, Drs., H. M.A., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Semarang: PMDC-Pilar Media, 2007.&lt;br /&gt;Nurhadi, Dr., M.Pd., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang: Universitas Negeri Malang, 2003.&lt;br /&gt;Tim Depag, Kegiatan Pembelajaran, Jakarta:  Dirjen Binbaga Departemen Agama RI, 2003.&lt;br /&gt;Tim Depag, Panduan Pembelajaran, Jakarta: MP3A Departemen Agama RI, 2005&lt;br /&gt;Tim Depag, Panduan Perencanaan &amp;amp; Pengembangan Madrasah, Jakarta: MP3A Departemen Agama RI, 2005&lt;br /&gt;Tim Depag, Pedoman Integrasi Life Skills Dalam Pembelajaran, Jakarta: Dirjen Binbaga Departemen Agama RI, 2005.&lt;br /&gt;Tim Depag, Pedoman Kegiatan Pengembangan Diri untuk Madrasah, Jakarta: Dirjen Binbaga Departemen Agama RI, 2005.&lt;br /&gt;Vembrianto, ST, Pengantar Perencanaan Pendidikan, Jakarta: Gramedia, 1993.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-2988682398622089632?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/2988682398622089632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=2988682398622089632' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/2988682398622089632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/2988682398622089632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/02/silabus-akta-iv.html' title='Silabus Akta IV'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-3452246630405893970</id><published>2008-02-23T09:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T10:05:57.770-08:00</updated><title type='text'>Bahan Ajar Akta IV</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#ffcc00;"&gt;&lt;strong&gt;PERENCANAAN PENGAJARAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Pengertian :&lt;br /&gt;Perencanaan pengajaran berarti pemikiran tentang penetrapan prinsip- prinsip umum mengajar di dalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pengajaran tertentu yang khusus baik yang berlangsung di dalam kelas ataupun diluar kelas.&lt;br /&gt;Rencana pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek yang dilakukan oleh guru untuk dapat memperkirakan berbagai tindakan yang akan dilakukan di kelas atau di luar kelas. Perencanaan pembelajaran tersebut perlu dilakukan agar guru dapat mengkoordinasikan berbagai komponen pembelajaran yang berorientasi (berbasis) pada pembentukan kompetensi siswa, yakni kompetensi dasar, materi standar, indicator hasil belajar, dan penilaian berbasis kelas (PBK). Kompetensi dasar berfungsi untuk memberikan makna terhadap kompetensi dasar. Indikator hasil belajar berfungsi sebagai alat untuk mengukur ketercapaian kompetensi. Sedangkan PBK sebagai alat untuk mengukur pembentkan kompetensi serta menentukan tindakan yang harus dilakukan jika kompetensi standar belum tercapai.&lt;br /&gt;Perencanaan pengajaran mempunyai beberapa faktor yang mendukung tujuan pembelajaran tercapai misal :&lt;br /&gt;a. Persiapan sebelum mengajar&lt;br /&gt;b. Situasi ruangan dan letak sekolah dari jangkauan kendaraan umum&lt;br /&gt;c. Tingkat intelegensi siswa&lt;br /&gt;d. Materi pelajaran yang akan disampaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah perencanaan :&lt;br /&gt;a. Karena adanya perencanaan maka pelaksanaan pengajaran menjadi baik dan efektif. Yang dimaksud adalah maka seorang guru bisa memberikan materi pelajaran dengan baik karena ia harus dapat menghadapi situasi di dalam kelas secara mantap, tegas dan fleksibel.&lt;br /&gt;b. Karena perencanaan maka seseorang akan tumbuh menjadi seseorang guru yang baik. Yang di maksud adalah guru membuat persiapan yang baik dan adanya pertumbuhan berkat pengalaman dan akibat dari hasil belajar yang terus menerus.&lt;br /&gt;Bagaimana cara untuk mencapai hasil hasil belajar yang efektif yang dijadikan pedoman dalam setiap kali membuat perencanaan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 7 aspek persiapan untuk mencapai tugas yang di sebutkan tadi :&lt;br /&gt;1. Persiapan terhadap situasi&lt;br /&gt;Mancakup : tempat, suasana ruangan kelas, dan lain-lain. Dan situasi umum harus dimiliki sebelum saudara mengajar di dalam kelas tersebut dengan pengetahuan saudara dapat membuat ancang- ancang terhadap variabel faktor masalah dan menghadapi situasi kelas.&lt;br /&gt;2. Persiapan terhadap siswa yang akan dihadapi&lt;br /&gt;Maksud ; Sebelum guru mengajar ia harus mengetahui keadaan siswa tsb atau dengan kata lain guru harus membuat gambaran yang jelas mengenai keadaan siswa yang akan dihadapi selain dari pada faktor intern siswa tsb ( laki- laki dan Perempuan) seorang guru harus mengetahui taraf kematangan dan pengetahuan serta khusus dari pada siswa tsb.&lt;br /&gt;3. Persiapan dalam tujuan umum pembelajaran&lt;br /&gt;Yang menyangkut tujuan instruksional apa yang akan dicapai oleh para siswa harus dimiliki seorang guru mencakup antara lain :&lt;br /&gt;Pengetahuan, kecakapan, keterampilan atau sikap tertentu yang konkrit yang bisa di ukur dengan alat- alat evaluasi.&lt;br /&gt;4. Persiapan tentang bahan pelajaran yang akan diajarkan&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ini : Dengan adanya pengetahuan yang akan dihadapkan kepada siswa, si guru memiliki persiapan yang akan di sampaikan kepada siswa yang harus terdapat batas- batas, luas dan urutan- urutan pengajaran perlu di persiapkan.&lt;br /&gt;5. Persiapan tentang metode- mengajar yang hendak di pakai&lt;br /&gt;a. metode ceramah&lt;br /&gt;b. metode tanya jawab atau diskusi&lt;br /&gt;6. Persiapan dalam penggunaan alat- alat peraga&lt;br /&gt;Misal : kapur dan papan tulis, pengahapus paling sedikit di gunakan tetapi dalam belajar pembelajaran di pergunakan alat pembantu adalah media yang mempertinggi komunikasi pada saat proses belajar berlangsung.&lt;br /&gt;7. Persiapan dalam jenis teknik evaluasi&lt;br /&gt;Tujuan evaluasi : samapi sejauhmana daya serap terhadap produk bahasan yang saudara terapkan&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis alat evaluasi disini yaitu : Bentuk test apakah test tertulis maupun test lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis- jenis perencanaan&lt;br /&gt;1. Menurut Besaran :&lt;br /&gt;a. Perencanaan Makro&lt;br /&gt;b. Perencanaan Meso&lt;br /&gt;c. Perencanaan Mikro&lt;br /&gt;2. Menurut Telaahnya :&lt;br /&gt;a. Perencanaan Strategi&lt;br /&gt;b. Perencanaan Manajerial&lt;br /&gt;c. Perencanaan Operasional&lt;br /&gt;2. Menurut Jangka Waktunya :&lt;br /&gt;a. Perencanaan Jangka Panjang&lt;br /&gt;b. Perencanaan Jangka Menengah&lt;br /&gt;c. Perencanaan Jangka Pendek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;Tujuan pembelajaran terbagi atas 2 bagian :&lt;br /&gt;1. Tujuan pembelajaran umum&lt;br /&gt;2. Tujuan pembelajaran khusus, Kriteria :&lt;br /&gt;a. Harus menggunakan istilah- istilah yang operasional, Spt : menuliskan, menyebutkan, menghitung, membedakan, dsg.&lt;br /&gt;b. Harus dalam bentuk hasil belajar, adalah Menggambarkan hasil belajar yang diharapkan pada diri siswa setelah ia menempuh segala KBM atau dengan kata lain hasil apa yang sudah diperoleh setelah ia mempelajari suatu pokok bahasan.&lt;br /&gt;c. Harus berbentuk tingkah laku dari para siswa, artinya Setelah siswa mempelajari pokok bahasan tsb adanya perubahan pengetahuan tentang materi pelajaran.&lt;br /&gt;d. Hanya meliputi satu jenis tingkah laku, adalah Kemampuan yang dimiliki oleh siswa cukup hanya terbatas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembangkan Evaluasi&lt;br /&gt;Yang harus dilakukan dalam mengembangkan evaluasi;&lt;br /&gt;a. Perlu ditentukan jenis- jenis test yang harus di buat&lt;br /&gt;b. Mengembangkan alat evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan Desaign Instruksional&lt;br /&gt;Penyusun PDI di desaign untuk menjawab pertanyaan :&lt;br /&gt;1. Apa yang menjadi tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;2. Bagaimana prosedur dan sumber- sumber belajar yang tepat untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan.&lt;br /&gt;3. Bagaimana kita mengetahui bahwa hasil belajar yang dihasilkan telah tercapai.&lt;br /&gt;Adapun jawaban dari pertanyaan tadi ada 8 langkah :&lt;br /&gt;1. Menyusun pokok bahasan dan tujuan umum&lt;br /&gt;2. Karakteristik siswa&lt;br /&gt;3. Tujuan belajar&lt;br /&gt;4. Isi pokok bahasan&lt;br /&gt;5. Penjajakan terhadap siswa&lt;br /&gt;6. Kegiatan belajar mengajar&lt;br /&gt;7. Pelayanan penunjang&lt;br /&gt;8. Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodologi Pengajaran&lt;br /&gt;1. Metode mengajar&lt;br /&gt;2. Media pengajaran&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis media pengajaran yang dilakukan seorang guru :&lt;br /&gt;1. Media gratis&lt;br /&gt;2. Media tiga dimensi&lt;br /&gt;3. Media proyeksi&lt;br /&gt;4. Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor- faktor yang harus diperhatikan seorang guru dalam media pengajaran :&lt;br /&gt;a. Relevansi pengadaan media pendidikan&lt;br /&gt;b. Kelayakan pengadaan media pendidikan&lt;br /&gt;c. Kemudahan pengadaan media pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan seorang guru dalam menggunakan media pendidikan :&lt;br /&gt;a. Apakah guru tersebut memahami manfaat media pengajaran&lt;br /&gt;b. Guru harus terampil dalam menyediakan media pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media pendidikan di gunakan jika :&lt;br /&gt;a. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang di pahami siswa&lt;br /&gt;b. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pelajaran melalui penuturan kata- kata verbal&lt;br /&gt;c. Perhatian siswa terhadap pengajaran sudah berkurang akibat kebosanan mendengar uraian guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat media pendidikan bagi pengajaran siswa :&lt;br /&gt;1. Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga lebih jelas dipahami siswa sehingga memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.&lt;br /&gt;2. Metode mengajar akan lebih bervariasi&lt;br /&gt;3. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar&lt;br /&gt;4. Motivasi belajar dari para siswa dapat ditumbuhkan / dinaikkan&lt;br /&gt;5. Dapat mengatasi sifat pasif dari para siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan- kesulitan dalam media pengajaran :&lt;br /&gt;1. Biaya pengadaan&lt;br /&gt;2. Pengalaman seorang guru dalam menggunakan media pengajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan Evaluasi Pengajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah : Penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik kearah tujuan- tujuan yang telah ditetapkan untuk mengetahui sampai dimana daya serap siswa setelah mengikuti pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip : Lingkungan kegiatan 1994&lt;br /&gt;- Intra kurikuler&lt;br /&gt;- Tugas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azas :&lt;br /&gt;a. Azas Objektivitas&lt;br /&gt;b. Azas menyeluruh&lt;br /&gt;c. Berkesinambungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan :&lt;br /&gt;Objektif adalah suatu penilaian di katakan objektif apabila keadaan tepat menggambar keadaan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Menyeluruh apabila penilaian yang digunakan mencakup proses maupun hasil belajar serta menggambarkan perubahan tingkah laku tidak sengaja saja dalam ranah kognitif tetapi termasuk pula ranah efektif dalam psikomotor.&lt;br /&gt;Berkesinambungan adalah pelaksanaan penilaian dilakukan secara terus menerus berencana dan bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah- langkah penilaian&lt;br /&gt;Perencanaan penilaian/ perencanaan evaluasi&lt;br /&gt;Penilaian berlaku untuk untuk tujuan harian, ujian umum semester baik gasal/ genap, EBTA terlebih dahulu harus menyusun kisi-kisi soal; adalah menggambarkan lingkup bahan pengajaran dan jenjang prilaku yang diukur yaitu pengetahuan, sikap, keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan penilaian&lt;br /&gt;Harus berkesinambungan maksudnya adalah penialaian yang dilakukan secara berencana, terus menerus dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil KBM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penilaian&lt;br /&gt;Dilakukan dengan 2 cara yaitu :&lt;br /&gt;Ø Dengan cara kuantitatif&lt;br /&gt;Ø Dengan cara kualitatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standart penilaian&lt;br /&gt;Sejalan dengan prinsip belajar tuntas penilaian di gunakan dengan standart mutlak atau penilaian acuan criteria artinya tidak ada pilih kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk- bentuk soal&lt;br /&gt;Ada dua macam :&lt;br /&gt;Pilihan berganda ada 5 yaitu :&lt;br /&gt;a. Melengkapi pilihan&lt;br /&gt;b. Hubungan antar hal&lt;br /&gt;c. Tinjauan kasus&lt;br /&gt;d. Asosiasi pilihan ganda&lt;br /&gt;e. Membaca diagram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk uraian ada 2 macam ;&lt;br /&gt;a. Uraian objektif&lt;br /&gt;b. Uraian non objektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kesukaran dari soal&lt;br /&gt;Selalu berbanding mudah : sedang : dan sukar&lt;br /&gt;Perbandingannya : 25 % 50% 25%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian soal untuk test hasil belajar&lt;br /&gt;Sebelum butir- butir soal disusun si guru harus menyusun TPK sesuai dengan GBPP:&lt;br /&gt;Tujuan kurikuler&lt;br /&gt;Tujuan pembelajaran umum&lt;br /&gt;PB&lt;br /&gt;SPB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pembelajaran khusus&lt;br /&gt;Merupakan rumusan tingkah laku yang akan diukur melalui butir- butir soal. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam menjabarkan TPU menjadi TPK:&lt;br /&gt;Pokok bahasan yang menunjang pencapaian tujuan pembelajaran umum&lt;br /&gt;Tingkat perkembangan/ umur dari para siswa pada jenjang pendidikan yang bersangkutan&lt;br /&gt;Beberapa catatan dalam membuat TPK :&lt;br /&gt;Setiap rumusan TPK selalu mengandung aspek prilaku dan aspek isi&lt;br /&gt;Agar bersifat operasional sehingga mudah di jadikan patokan dalam penyusunanbutir- butir soal dengan kata lain kata- kata kerja yang digunakan untuk aspek prilaku dalam tujuan pembelajaran khusus haruslah operasional , seperti ; menulis, menyebutkan, menghitung, merumuskan, memilih, dsg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan Kegiatan Belajar Mengajar&lt;br /&gt;menyusun program KBM&lt;br /&gt;Melaksanakan KBM&lt;br /&gt;Melaksanakan kegiatan penilaian&lt;br /&gt;Penyusunan program pengajaran ada 3 komponen yang harus diperhatikan :&lt;br /&gt;1. Penguasaan materi&lt;br /&gt;2. Analisis materi pelajaran&lt;br /&gt;3. Penyusunan persiapan mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkup materi&lt;br /&gt;1. Materi untuk siswa&lt;br /&gt;2. Materi untuk guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat usaha yang harus dilakukan seorang guru :&lt;br /&gt;1. Musyawarah guru mata pelajaran&lt;br /&gt;2. Melalui sumaber yang relevan&lt;br /&gt;3. Melalui ahli yang tersedia&lt;br /&gt;4. Melalui pendidikan khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi kegiatan pendalaman materi ;&lt;br /&gt;1. Meningkatkan kepercayaan diri akan kemampuan professional sehingga tidak ragu lagi dalam mengelola proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;2. Memperdalam diri dan memperluas wawasan atas konsepsi tujuan akademis dan aplikasinya sehingga dapat di manfaatkan untuk melaksanakan analisis materi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi analisis materi pelajaran&lt;br /&gt;Sebagai acuan untuk menyusun program tahunan, program semesteran, dan program satuan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran analisis materi pelajaran:&lt;br /&gt;1. Terjabarkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan&lt;br /&gt;2. Terpilihnya metode yang efektif dan efisien&lt;br /&gt;3. Terpilihnya sarana pembelajaran yang paling cocok&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-3452246630405893970?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/3452246630405893970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=3452246630405893970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/3452246630405893970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/3452246630405893970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/02/perencanaan-pengajaran.html' title='Bahan Ajar Akta IV'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-7114307618156218258</id><published>2008-02-09T02:03:00.000-08:00</published><updated>2008-02-09T02:17:38.214-08:00</updated><title type='text'>Jual Rumah</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;RUMAH DIJUAL CEPAT&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R619VgzCNoI/AAAAAAAAACA/f5OehQp6Wmw/s1600-h/08022008339.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164922156198540930" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R619VgzCNoI/AAAAAAAAACA/f5OehQp6Wmw/s200/08022008339.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dijual rumah type 36 di Beringin Putih D-I/5 Ngal&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R619VwzCNpI/AAAAAAAAACI/aSSkKePNBr4/s1600-h/08022008338.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164922160493508242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R619VwzCNpI/AAAAAAAAACI/aSSkKePNBr4/s200/08022008338.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;iyan Semarang. Luas tanah 115 m2, luas bangunan 110 m2, sudah dicor/dag untuk lantai 2 seluas 75 m2. Terdiri dari tiga kamar tidur, ruang keluarga, ruang computer, kamar mandi, ruang dapur, kamar pembantu dan garasi mobil. Ruas jalan 7 m, ada line telpon, air artetis mengalir sehari dua kali, lancar, hanya membayar Rp 5.000,- satu bulan. Lokasi strategis, terletak di depan taman perumahan tempat bermain anak-anak dan memudahkan parkir mobil tamu, ada angkutan umum, dekat SD Negeri dan akses ke kota dekat. Lingkungan masih alami dengan udara bersih dan penuh penghijauan alam. Bila berminat hub: 024-8663825 atau 081390052209 e-mail : &lt;a href="mailto:citraedukasi@yahoo.com"&gt;citraedukasi@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-7114307618156218258?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/7114307618156218258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=7114307618156218258' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7114307618156218258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7114307618156218258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/02/jual-rumah.html' title='Jual Rumah'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R619VgzCNoI/AAAAAAAAACA/f5OehQp6Wmw/s72-c/08022008339.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-6754624267819762168</id><published>2008-01-25T07:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T17:02:19.373-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penelitian'/><title type='text'>Penelitian,</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Proposal Penelitian Individual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SISTEM NILAI DALAM BUDAYA ORGANISASI PENDIDIKAN DI PESANTREN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;(Studi Tentang Interaksi Edukatif Kyai, Santri dan Keluarga Pesantren)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Drs. H. Fatah Syukur, M.Ag.&lt;br /&gt;NIP. 150267028&lt;br /&gt;Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah&lt;br /&gt;IAIN Walisongo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diajukan Untuk Memperoleh Dana Bantuan Penelitian DIPA&lt;br /&gt;INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO&lt;br /&gt;Semarang Tahun 2007&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SISTEM NILAI DALAM BUDAYA&lt;br /&gt;ORGANISASI PENDIDIKAN DI PESANTREN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(Studi Tentang Interaksi Edukatif Kyai, Santri dan Keluarga Pesantren)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstraksi&lt;br /&gt;Dunia pesantren merupan fenomena yang sangat menarik untuk diteliti. Lembaga yang dikatakan ‘Tradisional’ ini memiliki nilai-nilai pendidikan yang tinggi yang tidak banyak disadari dan diperhatikan oleh dunia pendidikan formal pada umumnya. Keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh komunikasi formal antara pendidikan dan anak didik, akan tetapi komunikasi informal dan komunikasi non formal justru merupakan faktor penting penentu keberhasilan pendidikan.&lt;br /&gt;Dalam pesantren bangunan komunikasi terjadi secara formal, non formal dan informal. Selama dua puluh empat jam komunikasi dan interaksi terbangun di antara warga pesantren, baik antara kyai-santri, santri-santri, santri-keluarga kyai dan santri-masyarakat pesantren. Dalam interaksi tersebut, nilai-nilai pendidikan yang dibentuk oleh pesantren mempunyai andil besar dalam menentukan keberhasilan belajar santri. Hubungan santri-kyai-keluarga kyai-sesama santri terbentuk secara sosialogis, ideologios dan informal. Berbeda dengan komuniasi ‘modern’, pola komunikasi dan interaksi lebih didasarkan kepada kepentingan dan formalitas. Kehampaan komunikasi ‘modern’ antara lain karena hanya didasarkan pada bentuk komunikasi formal, sedangkan komunikasi informal dan non formal yang lebih humanis kurang mendapatkan perhatian yang memadai.&lt;br /&gt;Penelitian ini bermaksud mengkaji karakteristik nilai pendidikan pesantren, ragam nilai pendidikan pesantren dan sistem nilai pendidikan dalam budaya organisasi di pesantren. Dengan nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diadopsi ke dalam dunia pendidikan pada umumnya.&lt;br /&gt;Fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah : Sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren yang meliputi Pesantren Raudlatuttolibin, dan Pesantren Luhur Kota Semarang. Di dua pesantren tersebut sebagian besar para santri adalah mahasiswa. Sebagai santri, mereka mengikuti system budaya yang ada di pesantren pada umumnya, misalnya budaya paternalistic dan sami’na wa atho’na. Namun sebagai mahasiswa, mereka selalu berinteraksi dengan nilai-nilai demokratisasi dan liberalisasi pemikiran. Bagaimana karakteristik budaya organisasi pesantren, ragam nilai dalam budaya organisasi pesantren dan bagaimana sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;Secara praktis diharapkan bermanfaat memberi gambaran tentang sistem nilai pada pesantren sehingga dapat menjadi acuan para penyelenggara dan pengelola pesantren khususnya dan pendidikan pada umumnya. Memberi masukan kepada Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, Yayasan Pendidikan, dan Organisasi Keagamaan yang menyelenggarakan pendidikan dalam memajukan lembaga pendidikan berdasarkan sistem nilai.&lt;br /&gt;Secara Teoritis diharapkan bermanfaat memperkaya teori manajemen pendidikan (pesantren) terutama yang berkaitan dengan sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yang dibangun dari dua kasus dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini semoga dapat dijadikan acuan bagi peneliti berikutnya / peneliti lain yang ingin mengkaji lebih mendalam dengan topik dan fokus serta setting yang lain untuk memperoleh perbandingan sehingga memperkaya temuan-temuan penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan kerangka studi kasus. Dalam penelitian ini berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi orang dalam situasi tertentu. Untuk dapat memahami makna peristiwa dan interaksi orang, digunakan orientasi teoritik atau perspektif teoritik dengan pendekatan fenomenologis (phenomenological approarch). Adapun metode dalam pengumpulan data dipergunakan interviw mendalam, observasi partisipan dan studi dokumentasi. Data tersebut kemudian dianalisis dengan menelaah data. Pelaksanaan pengecekan keabsahan data didasarkan pada empat kreteria yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). Data tersebut kemudian ditata, dibagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, disintesis, dicari pola, ditemukan apa yang bermakna, dan apa yang diteliti dan dilaporkan secara sistematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus (pasal 15). Kemudian dalam pasal 30 (ayat 4) dijelaskan bahwa pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, samanera, dan bentuk lain yang sejenis. Dengan adanya ketentuan ini, maka secara formal pesantren adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang berhak mendapatkan perhatian yang serius sebagaimana sub sistem pendidikan nasional yang lain.&lt;br /&gt;Kendatipun secara resmi pesanten di Indonesia baru masuk dalam sistem pendidikan nasional tahun 2003, namun peranan pesantren dalam pendidikan dan pembentukan karakter bangsa Indonesia sudah dimulai sejak berdirinya pesantren itu sendiri.&lt;br /&gt;Peranan lembaga-lembaga pendidikan pesantren di Indonesia cukup besar dalam membina masyarakat. Lebih signifikan lagi adalah kiprah dunia pesantren dalam mempertahankan bangsa dan negara dari tangan penjajah selama berabad-abad yang berpuncak pada fatwa resolusi jihad Oktober 1945. Namun perhatian yang diberikan kepadanya, baik oleh pemerintah, para ahli pendidikan, dan kalangan masyarakat belum memadahi. Penilaian masyarakat terhadap lembaga pesantren masih lekat sebagai tempat mempelajari agama melulu. Begitu juga pada level internasional, studi mengenai dunia pesantren masih sangat langka. Sampai saat ini, baru ada tiga disertasi berbahasa Inggris yang membahas topik dunia pesantren. Pertama "The Pesantren Tradition" (Tradisi Pesantren) yang ditulis pada tahun 1980 oleh Dr. Zamakhsyari Dhofier dari the Department of Anthropology and Sociology, Australian National University, Camberra. Disertasi ketiga muncul tujuh belas tahun kemudian, Maret 1997 dengan judul "The Pesantren Architects and Their Sosio-Religious Teachings" (Para Pelopor Dunia Pesantren dan Ajaran-ajaran Sosial Keagamaan Mereka) oleh Abdurrahman Mas'ud dari University of California Los Angeles, USA. Kebetulan kedua disertasi tersebut ditulis oleh sarjana dari lingkungan pesantren sendiri. Dan desertasi ketiga adalah ditulis sarjana Amerika Serikat, Ronald Alan Lukens-Bull, dari North Florida University, AS, dengan judul Peaceful Jihad, di bawah bimbingan antropolog ahli Islam Jawa, Prof. Mark Woodward.&lt;br /&gt;Komunitas pesantren juga telah memainkan peran penting dalam. perkembangan ilmu di tanah air dari dulu hingga kini. Saffina Belanda di abad sembilan belas, Berg, melaporkan bahwa aspek moral akhlaq, serta tasawuf adalah bagian terpenting yang diajarkan dalam institusi ini. (Lihat LM.C. Van den Berg, "Het Godsdientonderwijs op Java an Madoera en de Daarbij Gebmikte Arabische Boeken," in Tijdshrift voor Indische Twd, Land en Volkenkimde 31, 1886, p. 519-555). Selain itu pada umumnya pesantren-pesantren yang berpengaruh menawarkan ajaran dan praktek tariqat bagi murid-murid yang tidak menetap di pondok. Kegiatan yang terakhir ini biasanya ditangani oleh seorang guru sufi yang masyhur dan diikuti ratusan atau ribuan santri yang cukup usia.&lt;br /&gt;Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam telah membuktikan keberadaannya dan keberhasilannya dalam peningkatan sumber daya manusia atau human resources development. Dalam abad terakhir ini telah terbukti bahwa dari pesantren telah lahir banyak pemimpin bangsa dan pemimpin masyarakat. Pesantren juga telah memberikan nuansa dan mewarnai corak dan pola kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain, pesantren juga merupakan benteng pertahanan yang kokoh dalam menghadapi dahsyatnya gelombang budaya dan peradaban yang tidak sesuai dengan nilal-nilai Ilahiyyah. Sejarah telah mencatat prestasi pesantren sebagai pembentuk kultur unik Islami yang terkenal dengan sebutan "kultur santri Jawa".&lt;br /&gt;Keunikan pesantren terletak pada kecerdikannya dalam mengkombinasikan budaya lokal dengan substansi dan ruh kehidupan yang serba Islam. Pesantren sebagai lembaga pendidikan sangat potensial dan eksepsional. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dunia pesantren memiliki akar historis, ideologis, kultur yang cukup solid. Kekuatan pesantren terletak pada konsistensinya melawan penjajah dalam. bentuk apapun dengan landasan keagamaan seperti "perang jihad mempertahankan bangsa dan negara melawan kafir".&lt;br /&gt;Yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa Walisongo dan Nabi Muhammad merupakan kiblat utama kaum santri, dan bahwa modeling mengikati tokoh pemimpin, uswatun hasanah, merupakan bagian penting dalam filsafat Jawa. Kekuatan modeling ditopang dan sejalan dengan value sistem Jawa yang mementingkan paternalism dan patron-client relation yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Jawa. Pendekatan dan kebijaksanaan (approach &amp;amp; wisdom) Walisongo kini terlembagakan dalam esensi budaya pesantren dengan kesinambungan ideologis dan kesejarahannya. Melalui konsep terakhir inilah keagungan Muhammad saw. serta kharisma Walisongo yang dipersonifikasikan oleh para auliya dan kyai, terjunjung tinggi dari masa ke masa.&lt;br /&gt;Dari sejarah dapat diambil suatu pelajaran bahwa semakin besar tantangan dunia pesantren yang dihadapi, semakin resistan dan piawai dunia pesantren dalam merespons tantangan tersebut. Di saat Belanda semakin mempersempit kehidupan sosial religius-kultural bangsa paruh ketiga abad 19, justru muncul ulama'-ulama' pesantren kaliber internasional seperti Nawawi al Bantani (meninggal 1997) dan Mahfud Termaz (1868-1919) yang ketiganya dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru besar di Mekkah dan Madinah dengan karya-karya tulis mereka semuanya dalam bahasa Arab. Tiga ulama' produktif ini merupakan fenomena pesantren yang jarang disentuh sekaligus menghapuskan kesan bahwa dunia pesantren adalah dunia pidato, lisan dan podium. Dengan demikian kesan tersebut merupakan kesan yang tidak diimbangi dengan pembacaan sejarah secara utuh, atau dalam istilah ilmiah disebut ovesimplification atau bahkan stereotyping.&lt;br /&gt;Di saat tantangan Belanda semakin membabi buta ini pulalah, mucul pesantren induk, the mother of pesantrens, seperti Tebuireng di penghujuang abad 19. Jelas sekali bahwa tumbuh dan berkembangnya pesantren-pesantren ini tidak lepas dari ikatan ideologis kultural dan edukasional.&lt;br /&gt;Besarnya peran yang dimainkan oleh pesantren tersebut bukan suatu kebetulan, tetapi ada nilai-nilai yang mendasarinya. Owens (1995:81) menyodorkan dimensi soft yang berpengaruh terhadap kinerja individu dan organisasi, yaitu nilai-nilai (values), keyakinan (biliefs), budaya (culture), dan norma perilaku. Nilai-nilai adalah pembentuk budaya, dan merupakan dasar atau landasan bagi perubahan dalam hidup pribadi atau kelompok.&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan pesantren, pemahaman santri terhadap ajaran agamanya, menuntut mereka untuk berperilaku sesuai dengan esensi ajaran agamanya, dalam kajian budaya (organisasi), wujud kebudayaan tingkat pertama, yaitu kebudayaan ideal, termasuk dalam hal ini ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Sedang lapisan yang paling tinggi tingkatannya disebut dengan sistem nilai budaya yang biasanya berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Sistem nilai budaya sebagai wujud kebudayaan ideal yang paling abstrak berada dalam pikiran warga masyarakat (pesantren) di mana kebudayaan yang bersangkutan hidup. Dalam dimensi ini, sistem nilai budaya yang berkembang dalam alam pikiran umat beragama itulah yang menuntun perilaku mereka, termasuk dalam pengelolaan pesantren dan interaksinya dengan komunitas internal dan eksternal pesantren.&lt;br /&gt;Berangkat dari latar belakang masalah tersebut banyak hal-hal menarik dan perlu dikaji dari dunia pesantren terutama yang menyangkut sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren yang mendasari pola fikir dan akitivitas dalam merespon perkembangan budaya di pesantren dan di luar pesantren. Secara lebih spesifik, pola fikir dan aktivitas yang terpancar dari sistem nilai tersebut antara lain tercermin dalam: (1) Pola pembelajaran di pesantren, (2) Semangat pengabdian di pesantren, (3) Pola hubungan santri dengan kyai, santri dengan keluarga kyai, santri dengan santri dan santri dengan masyarakat, dan (4) Pola pemikiran dunia pesantren dalam merespon perubahan sosial, ekonomi, dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Fokus Penelitian&lt;br /&gt;Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah : Sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren yang meliputi Pesantren Raudlatuttolibin, dan Pesantren Luhur Kota Semarang.&lt;br /&gt;Fokus tersebut kemudian dirinci menjadi tiga sub fokus, yaitu:&lt;br /&gt;Karakteristik budaya organisasi pada dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;Ragam nilai dalam budaya organisasi pesantren yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;Sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Sesuai dengan fokus penelitian, secara umum tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah menemukan sekaligus mendeskripsikan sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren, yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;Tujuan tersebut kemudian dijabarkan ke dalam tujuan khusus, yakni sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ingin mengetahui karakteristik budaya organisasi di dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;2. Ingin mengetahui ragam nilai dalam budya organisasi di dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;3. Ingin mengetahui sistem nilai dalam budaya organisasi di dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;4. Ingin mengetahui perbedaan sistem nilai dalam budaya organisasi di Pesantren Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Manfaat Praktis :&lt;br /&gt;a. Memberi gambaran tentang sistem nilai pada pesantren dan yang dikembangkan sehingga dapat menjadi acuan para penyelenggara dan pengelola pesantren khususnya dan pendidikan pada umumnya.&lt;br /&gt;b. Memberi masukan kepada Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, Yayasan Pendidikan, dan Organisasi Keagamaan yang menyelenggarakan pendidikan dalam memajukan lembaga pendidikan berdasarkan sistem nilai.&lt;br /&gt;2. Manfaat Teoritis :&lt;br /&gt;a. Secara konseptual dapat memperkaya teori manajemen pendidikan (pesantren) terutama yang berkaitan dengan sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yang dibangun dari dua kasus dalam penelitian ini.&lt;br /&gt;b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi peneliti berikutnya / peneliti lain yang ingin mengkaji lebih mendalam dengan topik dan fokus serta setting yang lain untuk memperoleh perbandingan sehingga memperkaya temuan-temuan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kerangka Konseptual&lt;br /&gt;a. Budaya Organisasi&lt;br /&gt;Istilah “budaya” mula-mula berkembang dalam disiplin antropologi sosial. Budaya sebagaimana software yang berada dalam otak manusia, yang menuntun persepsi, mengidentifikasikan apa yang dilihat, mengarahkan fokus pada suatu hal, serta menghindar dari orang lain.&lt;br /&gt;Budaya diartikan sebagai “totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama” (Kotter&amp;amp;Heskett, 1992:4). Selain itu kebudayaan juga diartikan sebagai norma-norma perilaku yang disepakati olek sekelompk orang uuntuk bertahan hidup dan berada bersama (Farid, E.&amp;amp;Philip, RH. 1997). Secara sederhana, kebudayaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan yang digunakan oleh manusia sebagai pedoman untuk memahami lingkungannya dan sebagai pedoman untuk mewujudkan tindakan dalam menghadapi lingkungannya.&lt;br /&gt;Koentjaraningrat (1989) menyebutkan unsur-unsur universal dari kebudayaan adalah meliputi: (1) sistem religi dan upacara keagamaan, (2) sistem dan organisasi kemasyarakat, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem mata pencaharian, (7) sistem teknologi dan peralatan. Selanjutnya dijelaskan bahwa budaya mempunyai tiga wujud, yaitu kebudayaan sebagai: (1) suatu komplek ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya; (2) suatu kompleks aktivitas kelakuan dari manusia dalam masyarakat; dan (3) sebagai benda-benda karya manusia.&lt;br /&gt;Tiga macam wujud budaya di atas, dalam konteks organisasi disebut dengan budaya organisasi (organizational culture). Dalam kontek perusahaan, diistilahkan dengan budaya perusahaan (corporate culture), dalam lembaga pendidikan/sekolah disebut dengan budaya sekolah (school culture) dan dalam pesantren dapat dikatakan sebagai budaya pesantren (pesantren culture).&lt;br /&gt;Budaya organisasi mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain. Sistem makna bersama ini, bila diamati dengan lebih seksama, merupakan seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi itu.&lt;br /&gt;Riset terbaru mengemukakan tujuh karakteristik primer berikut yang bersama-sama, menangkap hakekat dari budaya suatu organisasi (J.A. Chatman dan K.A. John, 1994):&lt;br /&gt;1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauhmana para karyawan didorong untuk inovasi dan mengambil resiko.&lt;br /&gt;2. Perhatian ke rincian. Sejauhmana para karyawan diharapkan memperhatikan presisi (kecermatan), analisis, dan perhatian kepada rincian.&lt;br /&gt;3. Orientasi hasil. Sejauhmana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil.&lt;br /&gt;4. Orientasi orang. Sejauhmana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi itu.&lt;br /&gt;5. Orientasi tim. Sejauhmana kegiatan kerja diorganisasikan sekita tim-tim, bukannya individu-individu.&lt;br /&gt;6. Keagresifan. Sejauhmana orang-orang itu agresif dan kometitif dan bukannya santai-santai.&lt;br /&gt;7. Kemantapan. Sejauhmana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo sebagai kontras dari pertumbuhan.&lt;br /&gt;Masing-masing ciri ini dalam sebuah kontinum dari rendah sampai tinggi. Oleh karena itu dengan menilai organisasi tersebut dari ketujuh dimensi ini orang akan mendapatkan gambaran mejemuk tentang budaya organisasi tersebut.&lt;br /&gt;Pengaruh budaya terhadap kinerja organisasi dapat dilihat dari dimensi manajemen, anggota secara kelompok, dan anggota secara individual. Budaya organisasi merupakan determinan bagi perilaku manajemen, disamping struktur, kepemimpinan, dan lingkungan eksternal.&lt;br /&gt;Dari sudut anggota secara kelompok, budaya organisasi akan memberikan arah (direction) dalam menemukan cara-cara untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam hal ini budaya organisasi dapat memberikan pengaruh positif atau negatif, tergantung kecocokan (compatible) atau tidaknya budaya tersebut dengan perkembangan lingkungan internal maupun eksternal. Selain itu, budaya organisasi yang tersebar merata pada semua anggota organisasi, akan memberikan citra mengenai lembaga tersebut di mata customer.&lt;br /&gt;Secara individual, budaya organisasi yang meresap dengan kita pada masing-masing anggota, akan menumbuhkan komitmen, sebagaimana dicontohkan suatu sekte keagamaan dapat mempengaruhi pengikutnya untuk melakukan bunuh diri secara sukarela. Komitmen di sini diartikan sebagai suatu kondisi di mana anggota organisasi memberikan kemampuan dan loyalitas tertingginya kepada organisasi, yang dengan itu mereka mendapatkan kepuasan (Hodge &amp;amp; Anthony, 1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sistem Nilai Dalam Budaya Organisasi&lt;br /&gt;Menurut Rokeach dan Bank (Chabib Thoha, 1996) nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dimana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai suatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan. Ini berarti berhubungan dengan pemaknaan atau pemberian arti suatu obyek.&lt;br /&gt;Nilai juga dapat diartikan sebagai sebuah pikiran (idea) atau konsep mengenai apa yang dianggap penting bagi seseorang dalam kehidupannya. Selain itu, kebenaran sebuah nilai juga tidak menuntut adanya pembuktian empirik, namun lebih terkait dengan penghayatan dan apa yang dikehendaki atau tidak dikehendaki, disenangi atau tidak disenangi oleh seseorang. Allport, sebagaimana dikutip oleh Kadarusmadi (1996:55) menyatakan bahwa nilai merupakan kepercayaan yang dijadikan preferensi manusia dalam tindakannya. Manusia menyeleksi atau memilih aktivitas berdasarkan nilai yang dipercayainya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, nilai terdapat dalam setiap pilihan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang baik berkaitan dengan hasil (tujuan) maupun cara untuk mencapainya. Dalam hal ini terkandung pemikiran dan keputusan seseorang mengenai apa yang dianggap benar, baik atau diperbolehkan.&lt;br /&gt;Nilai-nilai penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai meletakkan fondasi untuk memahami sikap dan motivasi serta mempengaruhi persepsi kita. Individu-individu memasuki suatu organisasi dengan gagasan yang dikonsepsikan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya.&lt;br /&gt;DR. Rohmad Mulyono (2004:25) mengklasifikasi nilai ke dalam empat macam: (1) nilai instrumental dan nilai terminal; (2) nilai instrinksik dan nilai ekstrinsik; (3) nilai personal dan nilai sosial; dan (4) nilai subyektif dan nilai obyektif.&lt;br /&gt;Selanjtunya Spranger (Allport, 1964) menjelaskan adanya enam orientasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh manusia dalam kehidupannya. Dalam pemunculannya, enam nilai tersebut cenderung menampilkan sosok yang khas terhadap pribadi seseorang. Karena itu, Spanger merancang teori nilai itu dalam istilah tipe manusia (the types of man), yang berarti setiap orang memiliki orientasi yang lebih kuat pada salah satu di antara enam nilai yang terdapat dalam teorinya. Enam nilai yang dimaksud adalah nilai teoretik, nilai ekonomis, nilai estetik, nilai sosial, nilai politik, dan nilai agama.&lt;br /&gt;Perilaku manusia sehari-hari pada dasarnya ditentukan, didorong atau diarahkan oleh nilai-nilai budayanya. Nilai yang dominan akan memunculkan perilaku yang dominan dalam kehidupan manusia yang membuat manusia berbudaya. Menurut Koentjaraningrat, (1994), dalam kontek yang lebih mendasar, perilaku individu maupun masyarakat pada hakekatnya dipengaruhi oleh sistem nilai yang diyakininya. Sistem nilai tersebut merupakan jawaban yang dianggap benar mengenai berbagai masalah dalam dalam hidup.&lt;br /&gt;Dalam dunia pesantren, nilai-nilai yang dikembangkan dirujukkan kepada sumber-sumber ajaran Islam, yakni al-Qur’an, Hadits dan Ijtihad. Pemahaman terhadap sumber-sumber ajaran Islam tersebut kemudian melahirkan disiplin ilmu fiqih, tauhid dan tasawuf. Aspek fiqih mazhab, tauhid dan tasawuf sangat mengakar dalam kultur pesantren yang selanjutnya dilihat sebagai suatu bangunan sistem nilai yang dikenal dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Yasmadi, 2002:92). Konsep-konsep tentang tawazun (keseimbangan dan harmoni masyarakat), dan juga al-adalah (berkeadilan), tawasuth (moderat), dan tasammuh (menjaga perbedaan dan pluralisme dengan penuh toleransi) merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.&lt;br /&gt;Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah sebagai sebuah sistem nilai yang dianut oleh sebagian besar pesantren banyak mempengaruhi terhadap pola pikir dan perilaku yang dipraktekkan di pesantren, baik dalam interaksi internal maupun eksternal pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Budaya Pesantren&lt;br /&gt;Asal usul pesantren tidak bisa dipisahkan dari sejarah pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia. Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Maulana Malik Ibrahim (meninggal 1419 di Gresik, Jawa Timur), "Spiritual father" Walisongo, dalam masyarakat santri Jawa biasanya dipandang sebagai gurunya-guru tradisi pesantren di tanah Jawa. Oral history yang berkembang memberi indikasi bahwa pondok-pondok tua dan besar di luar Jawa juga memperoleh inspirasi dari ajaran Walisongo. Figur Maulana Malik Ibrahim memang sangat populer di luar Jawa pula. Misalnya pesantren Nahdlatul Wathan yang didirikan tahun 1934 di Pancor Lombok Timur NTB dan dewasa ini santrinya tidak kurang dari sepuluh ribu dengan cabangnya di Jakarta, ternyata juga memperoleh inspirasi dari ajaran da`wah Islamiyyah Maulana Malik Ibrahim. Tokoh ini akrab bukan hanya bagi para pemimpin pendiri Nahdlatul Wathan, tapi juga bagi para santri dan alumninya saat ini.&lt;br /&gt;Walisongo adalah tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa abad 15-16 yang telah berhasil mengkombinasikan aspek-aspek sekuler dan spiritual dalam memperkenalkan Islam pada masyarakat. Mereka secara berturut-turut adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunungjati. Wali dalam bahasa Inggeris pada umumnya diartikan “saint,” sementara songo dalam bahasa Jawa berarti sembilan. Diduga Wali yang dimaksud lebih dari sembilan, tapi agaknya bagi masyarakat Jawa angka sembilan memiliki makna tersendiri yang cukup istimewa. Para santri Jawa berpandangan bahwa Walisongo adalah pemimpin umat yang sangat saleh dan dengan pencerahan spiritual relijius mereka, bumi jawa yang tadinya tidak mengenal agama monotheis menjadi bersinar terang. Lebih dari itu, sebagaimana yang dideskripsikan Prof. A.H. John (Australia National University), mereka memiliki keampuhan spiritual healing atau penyembuhan berbagai macam penyakit rakyat dengan dukungan ekonomi mereka yang cukup kuat sebagai merchant. Posisi mereka dalam kehidupan sosio-kultural dan relijius di Jawa demikian memikat hingga bisa dikatakan bahwa Islam tidak akan pernah menjadi “the religion of Java” jika sufisme yang dikembangkan oleh Walisongo tidak mengakar dalam masyarakat. Rujukan ciri-ciri ini akan memungkinkan kita untuk memahami mengapa ajaran Islam yang diperkenalkan Walisongo di tanah Jawa hadir dengan penuh kedamaian, terkesan lamban tapi meyakinkan. Fakta menunjukkan bahwa dengan cara mentolerir tradisi lokal serta memodifikasinya ke dalam ajaran Islam dan tetap bersandar pada prinsip-prinsip Islam, agama baru ini dipeluk oleh bagsawan-bangsawan serta mayoritas masyarakat Jawa di pesisir utara.&lt;br /&gt;Pendekatan Professor A.H. John perlu dikemukakan di sini untuk mengimbangi hasil penelitian Clifford Geertz yang ensiklopedis tapi masih belum mampu menjawab pertanyaan mengapa kemenangan Islam di Jawa demikian konklusif dan meyakinkan sebagaimana yang kita lihat dewasa ini. Penelitian antropologis Geertz sangat mengasosiakan Islam di Jawa dengan warisan-warisan Hindu-Buda. Bahwa Islam di Jawa sinkretis dan superficial sebagimana asumsi Geertz, jelas tidak didasarkan pada pengamatan proses Islamisasi dan transformasi sosial yang panjang serta memisahkan Islam Jawa dari peta dunia Islam secara keseluruhan. Hal ini tentu tidak sah menurut pendekatan sejarah dan dalam waktu yang sama telah mengecilkan peran besar Walisongo yang telah disepakati oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim dan non-Muslim.&lt;br /&gt;Menarik untuk diamati mengapa change dalam bentuk konversi Hindhu-Budha ke Islam justru terjadi pertama di antara masyarakat nelayan bukan kerajaan di pedalaman. Dalam Islam, egalitarianisme, kesamaan hak individu, yang merupakan salah satu ajaran utama Islam agaknya sejalan dengan pandangan masyarakat pesisir yang lebih egalitarian. Keterbukaan dan mobilitas adalah ciri lain masyarakat pesisir yang lebih kondusif terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar maupun dalam. Letak geografis "coastal area" sebagai tempat persinggahan dan pusat kontak masyarakat dunia serta ciri dasar masyarakat pesisir agaknya juga telah membantu mempermudah masuknya Islam di Jawa.&lt;br /&gt;Dari uraian sejarah pesantren di atas, sesungguhnya bisa ditarik benang merah tentang hakikat dan watak dasar pesantren baik sebagai lembaga pendidikan maupun sebagai sosio-kultural politik. Tanpa bertujuan mereduksi peran-peran pesantren dalam segala dimensinya, di bawah ini adalah refleksi pesantren sebagai sebuah budaya yang unik. Karakteristik utama budaya pesantren di antaranya adalah:&lt;br /&gt;a. Modeling&lt;br /&gt;Modeling dalam ajaran Islam bisa diidentikkan dengan uswatun hasanah atau sunnah hasanah yakni contoh yang ideal yang selayaknya atau seharusnya diikuti dalam komunitas ini. Tidak menyimpang dari ajaran dasar Islam, modeling dalam dunia pesantren agaknya lebih diartikan sebagai tasyabbuh:&lt;br /&gt;Jika dalam dunia Islam, Rasulullah adalah pemimpin dan panutan sentral yang tidak perlu diragukan lagi, dalam masyarakat santri Jawa kepemimpinan Rasulullah diterjemahkan dan diteruskan oleh para Walisongo yang dikemudian hari sampai kini menjadikan mereka sebagai kiblat kedua setelah Nabi. Telah dimaklumi bersama bahwa Masjid Demak yang diresmikan oleh Sunan Kalijaga pada tanggal l Dzul Qa`dah 1428, pada umumnya disepakati sebagai masjid pertama di tanah Jawa dan dibangun sebelum Kerajaan Demak berdiri. Upaya mendahulukan pendirian Masjid sebelum negara Demak pada hakikatnya sama dengan upaya Nabi mendirikan Masjid Quba di Madinah sebelum kota suci ini dijadikan negara bagi seluruh penduduknya yang plural. Bagi umat Islam, Masjid adalah lambang dan perwujudan akhirat yang statusnya tentu lebih mulia dari gemerlapan duniawi dalam berbagai macam daya pikatnya. Dengan analogi ini, bisa difahami bila sebagian besar `ulama Jawa menjustifikasi apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan pendirian masjidnya sebagai bagian dari pelaksanaan Sunnah Nabi: yakni sebuah modeling par excellence.&lt;br /&gt;Yang perlu ditegaskan disini adalah bahwa modeling mengikuti seorang tokoh pemimpin merupakan bagian penting dalam filsafat Jawa. Walisongo yang menjadi kiblat kaum santri tentu berkiblat pada guru besar dan pemimpin Muslimin, Nabi Muhammad saw. Kekuatan modeling didukung dan sejalan dengan value sistem Jawa yang mementingkan paternalism dan patron-client relation yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Jawa&lt;br /&gt;Para Walisongo selalu loyal pada missinya sebagai penerus Nabi yang terlibat secara fisik dalam rekayasa sosial. Misi utama mereka adalah menerangkan, memperjelas, dan memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, dan memberi model ideal bagi kehidupan sosial agama masyarakat. Model Walisongo yang diikuti para `ulama dikemudian hari telah menunjukkan integrasi antara pemimpin agama dan masyarakat yang membawa mereka pada kepemimpinan protektif dan efektif. Approach dan wisdom Walisongo kini terlembagakan dalam esensi budaya pesantren dengan kesinambungan ideologis dan kesejarahannya. Kesinambungan ini tercermin dalam hubungan filosofis dan keagamaan antara taqlid dan modeling bagi masyarakat santri. Melalui konsep terakhir inilah keagungan Muhammad saw serta kharisma Walisongo, yang dipersonifikasikan oleh para auliya dan kiyai, telah terjunjung tinggi dari masa ke masa. Bahwa pendidikan Islam Walisongo ditujukan pada massa ini bisa dilihat pada rekayasa mereka terhadap pendirian pesantren. Pendidikan yang merakyat ini tidak diragukan lagi adalah induk pendidikan Islam di Indonesia atau the mother of Muslim educational institution. Pendekatan pendidikan Walisongo dewasa ini telah tersosialisasi secara luas dalam komunitas ini seperti kesalehan sebagai cara hidup kaum santri, serta pemahaman dan pengarifan terhadap budaya lokal.&lt;br /&gt;Meskipun demikian pendidikan Islam Walisongo juga ditujukan pada penguasa. Keberhasilan Walisongo terhadap pendekatan yang terakhir ini biasanya terungkap dalam istilah populer “Sabdo Pandito Ratu” yang berarti menyatunya pemimpin agama dan pemimpin negera. Dengan kata lain dikotomi atau gap antara ulama dan raja tidak mendapatkan tempat dalam ajaran dasar Walisongo. Hal ini sesuai dengan watak dasar agama tauhid ini yang tidak memberi ruang pada sekularisme. Ajaran ini adalah warisan Sunan Kalijaga, sebagai grand designer yang telah mewariskan sistem Kabupaten di Jawa tipikal dengan komponen-komponen kabupaten, alun-alun, dan masjid agung. Ajaran ini dikemudian hari dipopulerkan oleh Sultan Agung. Menarik untuk dijadikan renungan sejarah bahwa barangkali masjid-masjid "agung" di Jawa saat ini, adalah bentuk modeling yang tidak disadari atas historisitas peninggalan Sultan Agung. Hubungannya bukan sekedar terdapat pada nama "agung" yang telah menyejarah dan melegenda, melainkan juga pada substansi dan format al-madinah al-fadilah ini.&lt;br /&gt;Seperti yang telah disinggung di atas, pendidikan Walisongo mudah ditangkap dan dilaksanakan. Hal ini selaras dengan ajaran Nabi wa khatibinnas `ala qodri `uqulihim. Pola pendidikan ini terlihat dalam rumusan naskah Islam Jawa klasik “arep atatakena elmu, sakadare den lampahaken”(Carilah ilmu yang bisa engkau praktekan, terapkan). Pendekatan ini pula yang mengantarkan pendidikan Islam melalui media wayang yang begitu merakyat. Ajaran rukun Islam dengan demikian bisa ditemukan dalam cerita perwayangan, seperti syahadatain sering dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa, tokoh tertua di antara Pandawa dalam kisah Mahabarata. Puntadewa (syahadatain) digambarkan sebagai raja adil yang tulus ikhlas bekerja untuk kesejahteraan rakyat, yakni pemimpin yang konsisten kata dan perbuatannya. Tingkah laku yang tidak munafik ini adalah refleksi tindakan dan ucapan kaum beriman atau “lips of faith.” Ajaran Islam yang diperagakan melalui media wayang merupakan model yang mudah dicontoh. Modeling dalam dunia pesantren memang tidak terbatas pada satu dimensi kehidupan. Hal ini sekaligus memberi indikasi bahwa masyarakat ini senantiasa membutuhkan model kepemimpinan yang ideal dalam segala bentuk dan zaman.&lt;br /&gt;b. Cultural resistance&lt;br /&gt;Mempertahankan budaya dan tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad. Sikap ini tidak lain merupakan konsekuensi logis dari modeling. Disayangkan bahwa hampir belum ada ilmuwan yang memusatkan perhatian pada tiga aspek ini secara proporsional. Konsepsi ini bahkan sering disalahfahami oleh sarjana-sarjana Barat seperti penghampiran mereka yang lebih memusatkan perhatian pada sinkretisme Islam atau juga studi yang lebih menekankan wajah Hindhu-Budha sebagai induk budaya Jawa sementara Islam dipandang sebagai anak budaya. Dengan kata lain meskipun Islamisasi telah terjadi di sini sejak abad 14, Islam masih dipandang sebagai baju atau kulit luar budaya Jawa. Kesalahan ini sering disebabkan oleh ketidak mampuan mereka dalam memahami teks-teks standar Sunni Islam, misalnya konsep tentang inovasi al muh}a&gt;faz}at ala&gt; qadi&gt;m al s}a&gt;leh wa al akhz}u bi al jadi&gt;d al as}lah (menjaga suatu tradisi yang baik dan mengambil tradisi yang lebih baik). Hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar mereka yang mempelajari Islam Jawa hanya dilengkapi dengan ilmu-ilmu sosial khususnya antropologi. Dengan kata lain mereka tidak memiliki disiplin ilmu Islamic Studies. Mereka yang banyak belajar kajian ke-Islaman seperti Prof. A.H. John dan Markwood Ward akan menghasilkan kesimpulan lebih simpatik terhadap dinamika budaya Islam Jawa.&lt;br /&gt;Walisongo dan para kiyai Jawa adalah agent of social change melalui pendekatan kultural, bukan politik struktural apalagi kekerasan. Istilah Islam kultural yang selama ini ditujukan pada pendekatan Abbdurrahman Wahid dan Nur Cholis Majid, sesungguhnya secara substansial tidak berbeda dengan pendekatan Walisongo dan `ulama-`ulama terdahulu. Apa yang terjadi bukanlah intervensi melainkan akulturasi dan peaceful coexistence.&lt;br /&gt;Ide cultural resistence juga mewarnai kehidupan intelektual dunia pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini melalui hidayah dan berkah seorang kiyai sebagai guru utama atau irsya&gt;du usta&gt;zin. Adalah kitab klasik atau kitab kuning, diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke genarasi berikut, yang sekaligus menunjukkan keampuhan kepemimpinan kiyai. Isi pengajaran kitab kuning menawarkan kesinambungan tradisi yang benar, al-qadim al-salih, yang mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan. Memenuhi fungsi edukatif, materi yang diajarkan di pesantren bukan hanya memberi akses pada santri rujukan kehidupan keemasan warisan peradaban Islam masa lalu, tapi juga menunjukkan peran masa depan secara konkrit, yakni to live a Javanese Muslim life: cara hidup yang mendambakan damai, harmoni dengan masyarakat, lingkungan, dan Tuhan.&lt;br /&gt;Karena konsepsi cultural resistance pula, dunia pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dari luar. Sejarah menunjukkan bahwa saat penjajah semakin menindas, saat itu pula perlawanan kaum santri semakin keras. Penolakan Sultan Agung dan Diponegoro terhadap kecongkakan Belanda, ketegaran kiyai-kiyai di masa penjajahan, serta kehati-hatian para pemimpin Islam berlatarbelakang pesantren dalam menyikapi kebijaksanaan penguasa yang dirasakan tidak bijaksana atau sistem yang established sehingga menempatkan mereka sebagai kelompok "oposan" adalah bentuk-bentuk cultural resistance dari dulu hingga sekarang. Dalam konteks ini bisa difahami jika pesantren-pesantren tua dan besar selalu dihubungkan dengan kekayaan mereka yang berupa kesinambungan ideologis dan historis, serta mepertahankan budaya lokal: a historical and ideological continuum with its cultural resistance. Denominasi keagamaan dunia pesantren yang Syafi`i-Asy`ari-Ghazalian-Oriented terbukti sangat mendukung terhadap pengembangan dan pelaksaan konsep cultural resistance ini. Menarik diamati bahwa kaum santri tidak pernah menyebut Syafi`i dan Ghazali terlepas dari kata “Imam” di depan tiga nama itu. Bukankah ini tradisi unik dunia pesantren yang tidak dijumpai di negara-negara Islam lain. Modeling terhadap tiga tokoh ini dan cultural resistence dalam bentuk kesinambungan kesejarahan adalah tiga konsep yang telah menyatu dalam illustrasi terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Budaya keilmuan yang tinggi&lt;br /&gt;Dunia pesantren senantiasa identik dengan dunia ilmu. Definisi pesantren itu sendiri selalu mengacu pada proses pembelajaran dengan komponen-komponen pendidikan yang mencakup pendidik, santri, murid, serta fasilitas tempat belajar mengajar.&lt;br /&gt;Rujukan ideal keilmuan dunia pesantren cukup komprehensif yang meliputi inti ajaran dasar Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Qur'an Hadis, tokoh-tokoh ideal zaman klasik seperti Imam Bukhari, serta tradisi lisan yang berkembang senantiasa mengagungkan tokoh-tokoh `ulama Jawa yang agung seprti Nawawi al-Bantani, Mahfudz al-Tirmisi dan lain-lain. Ayat al-Qur'an pertama kali yang diwahyukan adalah surat iqra' yang menyerukan signifikasi baca dan belajar bagi kaum beriman. Menjadi Muslim berarti menjadi santri, menjadi santri berarti tidak boleh lepas dari kegiatan belajar 24 jam di lembaga pendidikan pesantren. Status santri, bagi komunitas ini, dengan demikian selalu lebih mulia dibanding dengan status non-santri. Rujukannya jelas ayat al-Qur'an yang menjanjikan status mulia dan khusus bagi kaum beriman dan berilmu. Pendidikan sehari semalam penuh dalam dunia pesantren dengan batas waktu yang relatif, serta hubungan guru-murid yang tidak pernah putus adalah implementasi dari ajaran Nabi yang menekankan keharusan mencari ilmu dari bayi sampai mati, minal mahdi ilallahdi. Singkatnya ajaran dasar Islam adalah landasan ideogis kaum santri untuk menekuni agamanya sebagai ilmu dan petunjuk yang bermanfaat di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Jika dalam zaman keemasan Islam tradisi al-rih}lah fi&gt; ta&gt;lab al-`ilm demikian luar biasa sebagaimana yang tercermin dalam perjalanan intelektual Imam Bukhari, sejarah telah membuktikan bahwa tradisi yang yang sama juga berkembang sepanjang masa dalam masyarakat santri hingga dikenal istilah wandering santris atau santri-santri kelana. Tradisi rihlah ini pula yang telah mengantarkan tiga tokoh utama pesantren: al-Bantani dan al-Tirmisi, mengembara sepanjang hidupnya dan menjadi guru besar di Mekkah dan Madinah. Fenomena dua master intelektual dunia pesantren ini membuktikan bahwa ilmu agama tidak hanya milik dunia Timur Tengah, dan bahwa ilmuwan berlatarbelakang sosio-kultural pesantren mampu menandingi `ulama-`ulama manca negara baik dalam kegiatan tulis menulis berbahasa Arab maupun dalam kegiatan akademik pengajaran di pusat dunia Islam.&lt;br /&gt;Dewasa ini makna penting keilmuan dunia pesantren agaknya tidak bergeser. Seorang tokoh modernis, Dawam Rahardjo, misalnya, menaruh kepercayaan besar terhadap alumni-alumni pesantren yang memperoleh pendidikan di dunia Barat dan bekerja di berbagai sektor dan kantor swasta dan negara di Indonesia.&lt;br /&gt;Dengan merujuk pada dinamika keilmuan pesantren dalam sejarah, agaknya istilah "konservatif" yang dialamatkan pada komunitas atau tradisi pesantren selama ini perlu ditinjau kembali. "Konservatif" pada umumnya identik dengan statis, jumud, serta implikasi-implikasi fatalis lainnya. Lebih dari itu "konservatif" adalah kata impor dari kamus Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian tradisionalitas pesantren selayaknya ditujukan pada satu tradisi luhur dalam berbagai hal, termasuk tradisi intelektual pesantren yang belum pernah terhenti sampai sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Metode Penelitian&lt;br /&gt;1. Pendekatan dan Rancangan Penelitian&lt;br /&gt;Pendekatan merupakan kerangka berfikir/kerangka kerja, term of work, term of thinking yang mendasari dari penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran mendalam tentang sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dari latar yang alami (natural setting) sebagai sumber data langsung. Pemaknaan terhadap data dihasilkan dari kedalaman atas fakta yang diperoleh.&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan dapat menemukan sekaligus mendeskripsikan data secara menyuluh dan utuh mengenai sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren. Disamping itu, penelitian ini diharapkan dapat membangun teori secara induktif dari abstraksi-abstraksi data yang dikumpulkan tentang sistem nilai budaya organisasi pesantren berdasarkan temuan makna dalam latar yang alami.&lt;br /&gt;Pesantren yang menjadi obyek penelitian ini adalah Pesantren Raudlatuttolibin dan Pesantren Luhur Semarang.. Kedua pesantren tersebut memiliki kekhasan masing-masing dalam mengekspresikan sistem nilai dalam pendidikannya.&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus. Sebagaimana ditegaskan oleh Bodgan dan Biklen (1998:62) bahwa:&lt;br /&gt;When research study two or more subjects, setting or depositories of data they are usually doing what we call multi-case studies. Multi-case studies take a variety of forms. Some start as a single case only to have the original work serve as the first in series of studies or as the pilot for a multi-case study. Other studies are primarily single-case studies but include less intense, less extensive observations at other sites for the purpose of addressing the question of generalizability. Other researchers do comparative case studies. Two or more case studies are done and then compared and contrasted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik utama studi kasus adalah apabila peneliti meneliti dua atau lebih subjek, latar atau tempat penyimpanan data. Kasus yang diteliti adalah sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yang memiliki latar berbeda. Pesantren Raudlatuttolibin Semarang hampir sebagian besar santrinya adalah mahasiswa. Keberadaan santri sebagai mahasiswa ini menjadikan pola pembelajaran di pondok dan sistem penentuan kurikulum pondok lebih akomodatif. Sebagian besar program pembelajaran di pondok dirancang bersama antara kyai dan santri. Kemudian Pesantren Luhur Mangkang Semarang merupakan pesantren salafiyah. Ada dua bagian dalam pondok ini, yakni santri mahasiswa yang berada di ‘komplek’ dan santri yang hanya mondok. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus kajian adalah santri yang hanya mondok. Pola pembelajaran di sini mengikuti model salaf murni, dimana para santri hanya diberi materi pembelajaran kitab-kitab kuning tanpa sekolah. Mereka tinggal di pondok secara full time.&lt;br /&gt;Rancangan studi kasus dilakukan sebagai upaya pertanggungjawaban ilmiah berkenaan dengan logis antara penelitian, pengumpulan data yang relevan, dan analisis data penelitian.&lt;br /&gt;Memperhatikan keberadaan masing-masing pesantren tersebut di atas, kasus dan karakteristik keduanya berbeda-beda, terutama dari segi nilai-nilai yang dianut, maka penelitian ini cocok untuk menggunakan rancangan studi kasus. Penerapan rancangan studi multi kasus dimulai dari kasus tunggal (sebagai kasus pertama) terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan pada kasus kedua.&lt;br /&gt;Sebagai penelitian studi kasus, maka langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) melakukan pengumpulan data pada kasus pertama, yaitu Pesantren Raudlattolibin Semarang. Penelitian ini dilakukan sampai pada tingkat kejenuhan data, dan selama itupula dilakukan kategorisasi dalam tema-tema untuk menemukan konsepsi tematik menganai sistem nilai dalam budaya orgnisasi di pesantren tersebut; (2) melakukan pengamatan pada kasus kedua, yaitu Pesantren Luhur Mangkang Semarang. Tujuannya adalah untuk memperoleh temuan konseptual mengenai sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren tersebut.&lt;br /&gt;Berdasarkan temuan konseptual dari kedua pesantren tersebut, selanjutnya dilakukan analisis komparasi dan pengembangan konseptual untuk mendapatkan abstraksi tentang karakteristik budaya organisasi, ragam nilai, dan sistem nilai dari kedua pesantren tersebut. Dalam hal ini dilakukan analisis termodifikasi sebagai suatu cara mengembangkan teori dan mengujinya .&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi orang dalam situasi tertentu. Untuk dapat memahami makna peristiwa dan interaksi orang, digunakan orientasi teoritik atau perspektif teoritik dengan pendekatan fenomenologis (phenomenological approarch).&lt;br /&gt;Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengamati fenomena-fenomena dunia konseptual subjek yang diamati melalui tindakan dan pemikirannya guna memahami makna yang disusun oleh subjek sekitar kejadian sehari-hari. Peneliti berusaha memahami subjek dari sudut pandang subjek itu sendiri, dengan tidak mengabaikan penafsiran, dengan membuat skema konseptual. Menurut Weber, pendekatan fenomenologi disebut verstehen apabila mengemukakan hubungan antara gejala-gejala sosial yang dapat diuji, bukan pemahaman empirik semata. Dengan menggunakan metode Verstehen ini, peneliti dapat memahami secara emik konsep-konsep, pandangan-pandangan, nilai-nilai, ide-ide, gagasan-gagasan, dan norma-norma yang berlaku di tiga pesantren tersebut, sehingga tidak terjadi kekeliruan penafsiran atas makna objek yang diteliti.&lt;br /&gt;Kecuali pendekatan fenomenologis, mengingat penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren, maka untuk memahami perbedaan budaya yang muncul pada masing-masing pesantren digunakan pula orientasi teoritik dengan pendekatan budaya untuk memahami hakekat sudut pandangnya, keterkaitan dengan kehidupan, dan untuk mengungkap visinya mengenai dunianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prosedur Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Dalam mengumpulkan data, peneliti memakai tiga prosedur, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipan dan studi dokumentasi.&lt;br /&gt;a. Wawancara Mendalam&lt;br /&gt;Wawancara digunakan untuk mengungkap makna secara mendasar dalam interaksi yang spesifik. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstuktur (unstandarized interview) yang dilakukan tanpa menyusun suatu daftar pertanyaan yang ketat. Selanjutnya wawancara yang tidak terstandar ini dikembangkan dalam tiga teknik, yaitu (1) wawancara tidak terstruktur (unstructured interview atau passive interview), (2) wawancara agak terstruktur (some what structured interview atau active interview), dan (3) wawancara sambil lalu (casual interview).&lt;br /&gt;Wawancara ini dilakukan terhadap kyai, pengasuh pondok pesantren, pengurus dan sebagian santri. Isi pokok yang ingin digali dari wawancara antara lain; (1) pandangan tentang keunggulan pesantren yang menjadi objek penelitian; (2) pandangan dan keyakinan tentang nilai-nilai sebagai acuan dalam berkarya; (3) upaya-upaya yang dilakukan untuk memajukan pesantren berdasarkan nilai-nilai yang diyakini.&lt;br /&gt;b. Observasi Partisipan&lt;br /&gt;Observasi partisipan merupakan karakteristik interaksi sosial antara peneliti dengan subjek-subjek penelitian. Dengan kata lain, proses bagi peneliti memasuki latar dengan tujuan melakukan pengamatan tentang bagaimana peristiwa-peristiwa dalam latar saling berhubungan. Observasi partisipan dilakukan untuk melengkapi data hasil wawancara yang diberikan oleh informan yang mungkin belum menyeluruh atau belum mampu menggambarkan segala macam situasi atau bahkan melenceng. Ada tiga tahap observasi, yaitu observasi deskriptif (untuk mengetahui gambara umum), observasi terfokus (untuk menemukan kategori-kategori), dan observasi selektif (untum mencari perbedaan di antara kategori-kategori).&lt;br /&gt;c. Studi Dokumentasi&lt;br /&gt;Studi dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data-data yang mendukung untuk memahami dan menganalisis sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren. Data tersebut meliputi; data santri, data ketenagaan, sarana-prasarana, organisasi, manajemen, pedoman peraturan, proses belajar-mengajar, sejarah pondok pesantren dan sebagainya.&lt;br /&gt;3. Metode Analisis Data&lt;br /&gt;Analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang telah dihimpun oleh peneliti. Kegiatan analisis dilakukan dengan menelaah data, menata, membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensintesis, mencari pola, menemukan apa yang bermakna, dan apa yang diteliti dan dilaporkan secara sistematik.&lt;br /&gt;Data tersebut terdiri dari deskripsi-deskripsi yang rinci mengenai situasi, peristiwa, orang, interaksi, dan perilaku. Dengan kata lain, data merupakan deskripsi dari pernyataan-pernyataan seseorang tentang perspektif, pengalaman, atau sesuatu hal, sikap, keyakinan, dan pikirannya serta petikan-petikan isi dokumen yang berkaitan dengan suatu program.&lt;br /&gt;Mengingat penelitian ini menggunakan rancangan studi multi kasus, maka dalam menganalisis data dilakukan tiga tahap, yaitu (1) analisis data kasus individu dan (2) analisis data lintas kasus.&lt;br /&gt;Menurut Miles dan Huberman (1992) analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data (menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tiodak perlu dan mengorganisir data), penyajian data (menemukan pola-pola hubungan yang bermakna serta memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan) dan penarikan kesimpulan/verifikasi (membuat pola makna tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi).&lt;br /&gt;d. Pengecekan Keabsahan Data&lt;br /&gt;Pengecekan keabsahan data adalah bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari penelitian kualitatif. Pelaksanaan pengecekan keabsahan data didasarkan pada empat kreteria yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability) (Moleong, 1994).&lt;br /&gt;Menurut Lincoln dan Guba (1985), bahwa untuk memperoleh data yang valid dapat ditempuh teknik pengecekan data melalui: (1) observasi yang dilakukan secara terus-menerus (persistent observation); (2) trianggulasi (triangulation) sumber data, metode dan peneliti lain; (3) pengecekan anggota (member check), diskusi teman sejawat (peer reviewing); dan (4) pengecekan mengenai kecukupan refernesi (referencial adequacy check)&lt;br /&gt;Transferibilitas atau keteralihan dalam penelitian kualitatif dapat dicapai dengan cara “uraian rinci”. Untuk itu maka dalam penelitian ini peneliti berusaha melaporkan hasil penelitiannya secara rinci. Uraian laporan diusahakan dapat mengungkap secara khusus segala sesuatu yang diperlukan oleh pembaca, agar para pembaca dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh. Penemuan itu sendiri bukan bagian dari uraian rinci melainkan penafsirannya yang diuraikan secara rinci dengan penuh tangngungjawab berdasarkan kejadian-kejadian nyata.&lt;br /&gt;Dependedabilitas atau kebergantungan dilakukan untuk menanggulangi kesalahan-kesalahan dan konseptualisasi rencana penelitian, pengumpulan data, interpretasi temuan, dan pelaporan hasil penelitian. Untuk diperlukan dependent auditor atau para ahli di bidang pokok persoalan penelitian ini.&lt;br /&gt;Konfirmabilitas atau kepastian diperlukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh obyektif atau tidak. Hal ini tergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan temuan seseorang. Jika telah disepakati oleh beberapa atau banyak orang dapat dikatakan obyektif, namun penekanannya tetap pada Tanya. Untuk menentukan kepastian data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengkonfirmasikan data dengan para informan atau para ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Jadual Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini akan dilaksanakan selama 6 (enam) bulan, dengan perincian waktu sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. 1 – 15 Juli 2006 Penyusunan Proposal&lt;br /&gt;2. 16 – 31 Juli 2007 Studi kelayakan lapangan&lt;br /&gt;3. 1 – 15 Agustus 2007 Pendalaman Pustaka&lt;br /&gt;4. 15 Agustus 2007 Penelitian Lapangan&lt;br /&gt;5. 1 – 15 September 2007 Penulisan Draft laporan&lt;br /&gt;6. 15 – 31 Seeptember 2007 Perbaikan laporan&lt;br /&gt;7. 1 – 15 Oktober 2007 Penggandaan laporan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Rancangan Biaya&lt;br /&gt;Semua anggaran yang berkaitan dengan penelitian ini diambilkan dari PUSLIT IAIN Walisongo yang berjumlah Rp. 7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah).&lt;br /&gt;Dengan perincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pembelian buku-buku / foto copi Rp 2.750.000,00&lt;br /&gt;2. Pembelian ATK Rp 2.000.000,00&lt;br /&gt;3. Transportasi dan Akomodasi Rp 750.000,00&lt;br /&gt;4. Komputerisasi &amp;amp; Penulisan Rp 1.000.000,00&lt;br /&gt;6. Penjilidan/penggandaan laporan Rp 1.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Rp 7.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tujuh Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Daftar Pustaka (Sementara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brannen, Julia, 2002, Memadu Metode Penelitian – Kualitatif &amp;amp; Kuantitatif. Terjemahan H. Nuktah Arfawie Kurde, dkk. Samarinda dan Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari dan Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Bull, Ronald Alan Lukens. 2004. Jihad ala Pesantren di Mata Antropolog Amerika. Yogyakarta: Gama Media.&lt;br /&gt;Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung:CV. Pustaka Setia.&lt;br /&gt;Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.&lt;br /&gt;Dirdjosanjoto, Pradjarta. 1999. Memelihara Ummat, Kiai Pesantren-Kiai Langgar di Jawa. Yogyakarta: LKIS.&lt;br /&gt;Faisal Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif – Dasar-dasar dan Aplikasi. Malang YA3 Malang.&lt;br /&gt;Frances Hesselbein etc. 1996. The Leader of the Future. San Fransico: Jossey-Bass Publisher.&lt;br /&gt;Fuad Riyadi, Muhammad. 2001. Kampung Santri, Yogyakarta: Ittaqa Press.&lt;br /&gt;Ismail SM. Dkk. editor. 1999. Dinamika Pesantren dan Madrasah. Semarang-Yogyakarta. Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo kerjasama dengan Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;John W. Best. 1981. Research in Education. Canada: Prentice-Hall of Canada, Ltd.&lt;br /&gt;Marzuki Wahid dkk. Editor. 1999. Pesantren Masa Depan. Bandung. Pustaka Hidayah.&lt;br /&gt;Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS.&lt;br /&gt;Masyhud, Sulthon, Muh. Khusnurridlo. 2003. Manajemen Pondok Pesantren, Jakarta: Diva Pustaka.&lt;br /&gt;Mc.Millan, James H. and Sally Schumacher. 2001 Research in Education – A Conceptual Introduction. New York: Longman.&lt;br /&gt;Moleong, Lexy J. 1990. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;Mulyono, Rohmat.2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: CV Alfabeta.&lt;br /&gt;Nurkhalik Ridwan. 2004. Santri Baru, Yogyakarta: Gerigi Pustaka.&lt;br /&gt;Razik, Taher A. 1995. Fundamental Concepts of Educational Leadership and Management. Ohio: Englewed Cliffs, New Jersey.&lt;br /&gt;Robbins, Stephen P. 2001. Organizational Behavior. U.S.A: Prentice Hall International, Inc.&lt;br /&gt;Steenbrink, Karel A. 1985. Pesantren Madrasah Sekolah. Jakarta: LP3ES.&lt;br /&gt;Sugiono. 2002. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Penerbit Alfabeta.&lt;br /&gt;Sujuthi, Mahmud. 2001. Politik Tarekat, Yogyakarta: Galang Press.&lt;br /&gt;Yasmadi. 2002. Modernisasi Pesantren. Jakarta: Ciputat Press.&lt;br /&gt;Zulkifli. 2002. Sufism in Java, The Role of the Pesantren in the Maintenance of Sufism in Java. Jakarta:INIS.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-6754624267819762168?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/6754624267819762168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=6754624267819762168' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/6754624267819762168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/6754624267819762168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/penelitian.html' title='Penelitian,'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-644171674294536057</id><published>2008-01-25T07:35:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T07:37:40.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peradaban Islam'/><title type='text'>Peradaban Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;KISI-KISI SOAL UJIAN &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;SEJARAH PERADABAN ISLAM&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal-soal :&lt;br /&gt;1.      Apa yang anda ketahui tentang sejarah Islam, jelaskan ?&lt;br /&gt;2.      Jelaskan yang dimaksud dengan kebudayaan, hasil kebudayaan dan peradaban Islam ?&lt;br /&gt;3.      Jelaskan bagaimana sebuah peradaban Islam terbentuk ?&lt;br /&gt;4.      Jelaskan fungsi dan manfaat mempelajari sejarah ?&lt;br /&gt;5.      Apa yang kau ketahui tentang gelar ”Ummi” pada diri Nabi Muhammad saw ?&lt;br /&gt;6.      Nabi dilahirkan di Makkah, namun kenapa beliau kurang sukses berdakwah di sana ?&lt;br /&gt;7.      Jelaskan makna hijrah Nabi ke Madinah ?&lt;br /&gt;8.      Apa yang kau ketahui tentang PIAGAM MADINAH !&lt;br /&gt;9.      Kenapa Nabi tidak meniggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin ummat setelah beliau wafat ? Jelaskan !&lt;br /&gt;10.  Kenapa dalam menentukan pemimpin sebagai pengganti Nabi, ummat Islam hampir terjadi perpecahan, dan kemudian memilih Abu Bakar r.a. ?&lt;br /&gt;11.  Kenapa masa kepemimpinan empat kholifah; Abu Bakar, ra., Umar, ra., Utsman, ra., dan Ali k.w. disebut masa khulafaurrosyidin ?&lt;br /&gt;12.  Jelas sejarah munculnya golongan Syi’ah ! mana yang lebih dahulu, konflik politik, atau konflik teologi, jelaskan !&lt;br /&gt;13.  Jelaskan secara sosiologis dan antroplogis, kenapa kelompok Muawiyah dapat menang ?&lt;br /&gt;14.  Kenapa Muawiyah berkeras untuk memperoleh kekuasaan dan melanggengkannya kepada anak turunnya ?&lt;br /&gt;15.  Jelaskan bagaimana Bani Abbasiyah dapat merebut kekuasaan dari Bani Umaiyah ?&lt;br /&gt;16.  Apa kunci kesuksesan / kemajuan peradaban pada masa Bani Abbasiyah periode pertama ?&lt;br /&gt;17.  Tunjukkan bukti-bukti kemajuan yang dicapai Bani Abbasiyah ?&lt;br /&gt;18.  Jelaskan factor-faktor kemunduran Bani Abbasiyah !&lt;br /&gt;19.  Jelaskan perbedaan kemajuan yang dicapai pada masa tiga kerajaan besar dengan masa klasik !&lt;br /&gt;20.  Kenapa usaha-usaha pembaharuan yang dijalankan di Turki Ustmani mengalami kegagalan ?&lt;br /&gt;21.  Kenapa Islam di Spanyol dan India akhirnya dapat dikalahkan / musnah ? jelaskan kondisi Islamisasi pada saat itu !&lt;br /&gt;22.  Apa yang dimaksud dengan renaissance dan bagaimana kaitannya dengan penjajahan negara-negara Muslim ?&lt;br /&gt;23.  Jelaskan misi penjajahan ke negara-negara Muslim ? banding dengan ekspansi yang pernah dilakukan pada masa kejayaan Islam !&lt;br /&gt;24.  Bagaimana akibat penjajahan Barat terhadap dunia Islam dulu dan sekarang ? berikan contoh perkasus !&lt;br /&gt;25.  Kenapa Inggris dapat dengan mudah menguasi India, padahal semula dalam kekuasaan Kerajaan Mughal ?&lt;br /&gt;26.  Jelaskan factor-faktor yang mempengaruhi gerakan kemerdekaan negara-negera Islam ?&lt;br /&gt;27.  Jelaskan gerakan kemerdekaan yang ada di Indonesia ? siapa yang paling awal mengadakan gerakan nasionalisme ?  kenapa hari kebangkitan nasional diperinganti pada tanggal 20 Mei ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-644171674294536057?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/644171674294536057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=644171674294536057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/644171674294536057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/644171674294536057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/peradaban-islam.html' title='Peradaban Islam'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-7219743437237205283</id><published>2008-01-13T22:10:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:12:02.205-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pengajaran Sejarah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R4r-fCVzPSI/AAAAAAAAABw/9mG9HRaYrEg/s1600-h/Picture+0014.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155212532636663074" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R4r-fCVzPSI/AAAAAAAAABw/9mG9HRaYrEg/s200/Picture+0014.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;PENGAJARAN SEJARAH DAN PROBLEMATIKANYA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#66ffff;"&gt;Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejarah merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah ummat, bangsa, negara, maupun individu. Keberadaan sejarah merupakan bagian dari proses kehidupan itu sendiri.. Oleh karena itu tanpa mengetahui sejarah, maka proses kehidupan tidak akan dapat diketahui. Dengan demikian melalui sejarah itu pulalah manusia dapat mengambil banyak pelajaran dari proses kehidupan suatu ummat, bangsa, negara dan sebagainya. Di antara pelajaran penting yang dapat diambil dari sejarah adalah mengambil sesuatu yang baik dari suatu ummat, bangsa dan negara untuk senantiasa dilestarikan dan dikembangkan. Sedangkan terhadap hal-hal yang tidak baik, sedapat mungkin ditinggalkan dan dihindari.&lt;br /&gt;Melalui sejarah kita dapat mengetahui betapa ummat Islam pernah mencapai suatu kejayaan yang diakui oleh dunia international. Pada saat itu banyak orang-orang non Mslam yang belajar kepada ilmuwan Muslim, baik secara langsung maupun tidak. Banyak karya-karya tokoh ilmuwan Muslim yang dipakai sebagai referensi ilmuwan Eropa sampai hampir tujuh abad, misalnya karya Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Alhawarijmi dan sebagainya. Kejayaan itu tentu tidak dapat dicapai begitu saja, tanpa adanya suatu sebab yaitu usaha maksimal dari para ilmuwan Muslim dan dukungan sarana dan prasarana dara donatur dan birokrat, sebagaimana kejayaan yang pernah dicapai masa Abasiyah periode awal.&lt;br /&gt;Pentingnya belajar sejarah ini pernah disampaikan oleh Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno, dalam sebuah pidato kenegaraan yang diberi title JASMERAH (Jangan Lupakan Sejarah). Mengapa kita tidak boleh melupakan sejarah ? Karena melupakan sejarah berarti melupakan suatu proses. Ibarat perjalanan seorang manusia, melupakan sejarah berarti melupakan wetone (hari dan tanggal kelahiran). Melalui sejarah, manusia dapat mentransformasikan pengalaman dan pengetahuannya dari generasi terdahulu kepada generasi muda dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pentingnya Sejarah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi ummat Islam, sejarah memiliki nilai-nilai yang amat penting. Menurut Prof. Dr. Nourozzaman ash Shiddiqie, paling tidak ada empat aspek penting yang dapat diambil dari sejarah; pertama, adalah kewajiban kaum Muslimin untuk meneladani Rasulullah. Oleh karena itu rekaman tentang perilaku kearifan dan kebijakan Rasul perlu diketahui dan diteladani. Kedua, untuk menafsirkan dan memahami maksud al-Qur’an dan Hadits, perlu memahami setting sosial histories dan kondisi psikologis masyarakat Islam pada saat itu. Atau dalam bahasa yang popular adalah asbab al nuzul dan asbab al wurud. Ketiga, sebagai alat ukur sanad. Untuk mengetahui keautentikan sebuah hadits, apakah dhobit atau tidak, bagaimana perikalu keseharian seorang sanad dan sebagainya. Semua itu dapat dilihat dalam sejarah. Oleh karena itu penulis sejarah yang pertama sesungguhnya adalah orang Islam, yakni al-Tabari, dengan bukunya yang dikenal dengan Tarekh al-Tabari. Keempat, untuk merekam peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, baik sebelum maupun sesudah kedatangan Islam. Di samping itu, sejarah juga berfungsi untuk mengenal diri sendiri, juga sebagai cermin masa lalu untuk dijadikan pedoman masa kini dan masa yang akan datang, untuk diteladani dan dipakai sebagai alat analisis.&lt;br /&gt;Kendatipun demikian penting arti sejarah dalam kehidupan manusia, namun dalam realitas kehidupan itu sendiri, termasuk dalam dunia akademik, keberadaan materi pelajaran sejarah kurang mendapatkan respon yang memadahi. Sejarah sering dianggap hanya sebagai peristiwa masa lalu yang tidak memiliki rangkaian dengan masa kini dan masa yang akan datang. Bahkan dengan pola pengajaran yang monoton, yang menekankan pada pada aspek kognitif, hafalan, maka pelajaran sejarah semakin tampil membosankan dan terkesan hanya mengulang-ulang saja. Di sisi lain sumber-sumber materi sejarah yang lebih menekankan pada aspek politis, menjadikan kesan yang semakin angker dan menyeramkan bahwa perjalanan daulat-daulat Islam selalu diwarnai dengan tindakan-tindakan kekerasan dan pertumpahan darah. Sebagaimana yang ditulis oleh sebagian orientalis, Islam disebarkan dengan pedang di tangan kanan dan al-Qur’an di tangan kiri. Sementara Barat dimunculkan sebagai bangsa yang beradab dan berperadaban.&lt;br /&gt;Distorsi informasi ini bukan hanya memanipulasi informasi sejarah, namun sangat berimplikasi terhadap aspek politis, sosiologis dan psikologis ummat Islam sendiri.&lt;br /&gt;Keterpurukan ummat Islam dalam kondisi inferiority complex, perasaan minder, rendah diri terhadap keberadaan nilai-nilai Islami, dan di sisi lain perasaan yang begitu bangga terhadap produk-produk Barat, merupakan bagian dari keberhasilan dominasi Barat secara politis maupun cultural terhadap dunia Islam. Proses pemutusan mata rantai sejarah Islam telah dilakukan oleh beberapa orientalis Barat abad ke-18, ke-19 sampai pertengahan abad ke-20. Mata rantai yang secara obyektif harus diakui oleh Barat, bahwa kemajuan Barat sebagaimana sekarang ini adalah bagian dari proses sejarah yang diambil dari dunia Islam, baik lewat Perang Salib, lewat kemajuan Islam di Spanyol Islam maupun lewat referensi / karya-karya ilmuwan Muslim.&lt;br /&gt;Beberapa problematika inilah yang perlu mendapat perhatian serius dari ummat Islam, terutama tokoh-tokoh yang bergelut dengan dunia akademik, khususnya guru-guru sejarah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hakekat Sejarah dan Kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Apa yang dimaksud dengan sejarah dan kebudayaan ? Kata sejarah dalam bahasa Indonesia memiliki kesamaan filosofis dengan kata syajarah dalam bahasa Arab yang berarti pohon. Pohon merupakan gambaran suatu rangkaian geneologi, yaitu pohon keluarga yang mempunyai keterkaitan erat antara akar, batang, cabang, ranting dan daun serta buah. Keseluruhan elemen pohon ini memiliki keterkaitan erat, kendatipun yang sering dilihat oleh manusia pada umumnya hanya batang pohon saja, atau buahnya saja, akan tetapi adanya pohon dan buah tidak terlepas dari peran akar. Itulah filosofi sejarah, yang mempunyai keterkaitan erat antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Kata sejarah dalam bahasa Indonesia mempunyai kesamaan arti dengan Tarikh dalam bahasa Arab, Geschichte (bahasa Jerman) dan History (bahasa Inggris) yang berasal dari bahasa Yunani Istoria (ilmu tentang kronologi hal ikhwal manusia).&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, dalam hakekat sejarah terkandung pengertian observasi dan usaha mencari kebenaran (tahqiq), keterangan yang mendalam tentang sebab dan asal benda wujudi, serta pengertian dan pengetahuan tentang substansi, esensi dan sebab-sebab terjadinya peristiwa. Sedang menurut Franz Rosental, sejarah adalah deskripsi tentang aktivitas manusia yang terus menerus baik dalam bentuk individu maupun kelompok. Dari dua pengertian tersebut menunjukkan bahwa definisi pertama lebih bernuansa filosofis yang berkaitan dengan hakekat sesuatu, sedang definisi kedua lebih operasional. Menurut Profesor Nourozzaman ash Shiddiqie, sejarah adalah persitiwa masa lampau yang tidak sekedar informasi tentang terjadinya peristiwa, tetapi juga memberikan interpretasi atas peristiwa yang terjadi dengan melihat kepada hukum sebab akibat. Dengan adanya interpretasi ini, maka sejarah sangat terbuka apabila diketemukan adanya bukti-bukti baru. Definisi ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sayyid Quttub, bahwa sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata yang menjalin seluruh bagian serta memberikan dinamisme dalam waktu dan tempat.&lt;br /&gt;Jadi sejarah bukan sekedar catatan bagi orang-orang yang lahir dan orang-orang yang mati dan sekedar mengungkap kehidupan para penguasa dan biografi para pahlawan, akan tetapi sejarah sejarah juga merupakan suatu ilmu yang membentangkan perkembangan masyarakat, yaitu suatu proses yang panjang sekali. Sejarah berbeda dengan hikayat, legenda, kisah dan sebagainya. Sejarah harus dapat dibuktikan kebenarannya dan logis. Oleh karena itu, cerita yang tidak masuk akal, apalagi tidak dapat dibuktikan kebenarannya, maka tidak dapat dikategorikan sebagai sejarah. Sejarah adalah suatu kisah manusia dalam perjuangannya untuk merealisasikan tujuan peperangan yang diterjuninya, pengetahuan yang ia peroleh dari dirinya dan dari alam sekitarnya, penemuan-penemuan yang ia capai, kota-kota yang ia bangun, pemerintah-pemerintah yang ia dirikan, perundang-undangan yang menjadi pedomannya, manifes-manifes ekonomi, aktivitas yang ia lakukan, peninggalan-peninggalan peradaban yang ia tinggalkan, ide-ide pemikiran yang ia anut kemudian mungkin menggantinya dengan yang lain. Semua itu dikenal dengan apa yang dinamakan “kebudayaan manusia” yang mana kebudayaan manusia itu menjadi obyek sejarah.&lt;br /&gt;Apabila manusia telah memahami asal-usul kebudayaannya, faktor-faktor pertumbuhan dan fase perkembangan kebudayaannya, maka ia benar-benar telah memahami hakekat kekiniannya, niscaya ia mampu mengambil pelajaran dari pemahamannya dan pengalaman-pengalaman itu dalam menghadapi masa depan. Yang demikian itu disebabkan bahwa sejarah suatu ummat adalah merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Setelah mendiskusikan tentang sejarah, maka selanjut adalah tentang kebudayaan. Di Indonesia, istilah kebudayaan dan peradaban sering disinonimkan. Peradaban Islam adalah terjemahan dari al-Hadharah al-Islamiyah. Kata Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Kebudayaan Islam. “Kebudayaan” dalam bahasa Arab adalah al-Tsaqofah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata “kebudayaan” (Arab al-Tsaqofah, Inggris, culture) dan “peradaban” (Arab al-Hadharah, Inggris, civilization). Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Di dalam kebudayaan terdapat pengetahuan dan ide-ide untuk memahami lingkungannya dan sebagai pedoman dalam melakukan suatu tindakan. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka peradaban terefleksikan dalam politik, ekonomi dan teknologi.&lt;br /&gt;Menurut Kuntjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud, (1) wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu komplek ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, (2) wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu komplek aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.&lt;br /&gt;Secara sederhana kebudayaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dan digunakan sebagai pedoman untuk memahami lingkungannya dan sebagai pedoman untuk mewujudkan tindakan dalam menghadapi lingkungannya. Landasan peradaban Islam adalah kebudayaan Islam terutama wujud idealnya, sementara landasan kebudayaan Islam adalah agama.&lt;br /&gt;Karena kebudayaan Islam sumber pokoknya adalah agama Islam, maka kebudayaan Islam memiliki beberapa keunikan dibandingkan dengan budaya lain. Keunikan itu sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, M.A. sebagai berikut :&lt;br /&gt;Adanya konsep tauhid / Oneness of God / Unity of God&lt;br /&gt;Universalitas pesan dan missi peradaban yakni persaudaraan Islam&lt;br /&gt;Prinsip moral dijunjung tinggi&lt;br /&gt;Budaya toleransi yang cukup tinggi – wilayah Islam relatif aman&lt;br /&gt;Prinsip keutamann belajar dan memperoleh ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Problematika Pengajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Kebudayaan Islam merupakan pelajaran penting sebagai upaya untuk membentuk watak dan kepribadian ummat. Dengan mempelajari sejarah, generasi muda akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari perjalanan suatu tokoh atau generasi terdahulu. Dari proses itu dapat diambil banyak pelajaran, sisi-sisi mana yang perlu dikembangkan dan sisi-sisi mana yang tidak perlu dikembangkan. Keteladan dari tokoh-tokoh / pelaku sejarah inilah yang ingin ditransformasikan kepada generasi muda, disamping nilai informasi sejarah penting lainnya.&lt;br /&gt;Kendatipun demikian penting materi sejarah bagi pengembangan kepribadian suatu bangsa, Namun dalam realitasnya sering kurang disadari, sehingga mata pelajaran sejarah kurang diminati. Mata pelajaran sejarah justru hanya dipandang sebagai mata pelajaran pelengkap, baik oleh siswa maupun oleh guru. Ini terbukti dengan jam pelajaran untuk Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di sekolah (baca Madrasah) hanya 1 jam pelajaran dalam seminggu. Padahal materi SKI cukup banyak.&lt;br /&gt;Disamping masalah jam pelajaran, ada masalah-masalah lain yang berkaitan dengan metodologi pengajaran sejarah Islam, yaitu :&lt;br /&gt;1. Baru menekankan pada aspek sejarah politik para elite penguasa pada zamannya. Sementara aspek sosial, aspek ekonomi, budaya dan pendidikan kurang mendapatkan porsi yang memadai.&lt;br /&gt;2. Apresiasi siswa terhadap kebudayaan masih rendah. Bahkan beberapa guru sejarah Islam juga menunjukkan apresiasi yang rendah terhadap mata pelajaran ini. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya perhatian mereka terhadap pengajaran sejarah.&lt;br /&gt;3. Sikap inferiority complex, perasaan rendah diri yang komplek. Sikap inferiority complex ummat Islam terhadap nilai-nilai sejarah budayanya sendiri ini merupakan bagian dari masalah dalam pengajaran sejarah. Generasi muda pada umumnya lebih bangga terhadap hasil kebudyaan Barat, sementara terhadap kebudayaan Islam sendiri, mereka merasa malu untuk mengakuinya, apalagi menirunya. Sikap inferiority complex kaum Muslimin ini juga terefleksi dalam sikap dan reaksi kaum Muslim terhadap budaya Barat;&lt;br /&gt;a. Sikap kelompok Muslim yang secara total menerima dan meniru budaya Barat. Mereka menghendaki budaya Islam diganti dengan budaya Barat.&lt;br /&gt;b. Sikap kelompok Muslim yang anti sama sekali, xenophobia yang berlebihan. Sehingga segala sesuatu yang datang dari Barat harus ditolak sama sekali.&lt;br /&gt;c. Sikap kelompok Muslim yang realistis dan kristis dengan landasan pemikiran bahwa budaya bersifat relatif yang mengandung plus – minus. Dalam pandangan ini, maka darimanapun sebuah kebaikan, apakah dari Barat atau dari Timur, maka hal itu dapat diterima.&lt;br /&gt;4. Metode yang dipergunakan oleh guru masih monoton; sejarah hanya disampaikan dengan ceramah, padahal materi sejarah Islam sudah diperoleh siswa dalam setiap jenjang pendidikan Islam dan dari informasi lain. Oleh karena itu perlu adanya metode dan media yang bervariasi, misalnya field study, study lapangan langsung, pemakaian peta, VCD dan sebagainya.&lt;br /&gt;5. Penjelasan guru atau nara sumber kurang memperhatikan aspek-aspek lain, misalnya faktor sosiologis, faktor antropologis, ekonomis, geografis dan sebagainya. Dalam menjelaskan satu materi dapat diterangkan dengan beberapa sudut pandang yang berbeda, sehingga pemahaman siswa menjadi lebih komprehensif. Materi-materi yang perlu dijelaskan secara komprehensif tersebut misalnya tentang; apa yang dimaksud dengan jahiliyah, apa yang dimaksud dengan sifat ummi pada Nabi, kenapa Islam diturunkan di Makkah, bagaimana awal mula konflik dalam Islam, bagaimana konflik yang terjadi antara Ali k.a dan Muawiyah, Ali k.a dengan Aisyah, Talkhah dan Zubair, bagaimana tuduhan terhadap al-Ghazali sebagai penyebab kemunduran peradaban Islam, apa arti masa keemasan Islam dan pengaruhnya terhadap renaissance di Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Problematika Metodologi Penulisan Sejarah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., secara substansial, metode penulisan sejarah dapat dikategorikan menjadi dua, Old History (Sejarah Konvensional) dan New History (Sejarah Sosial). Penulisan sejarah yang bertipe old history mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :&lt;br /&gt;Berpegang teguh kepada metodologi sejarah an-sich. Dokumen menjadi pedoman dan sumber utama.&lt;br /&gt;Uraiannya cenderung naratif dan diskriptif.&lt;br /&gt;Bersifat ensiklopedis, sehingga kurang memperhatikan kedalaman informasi.&lt;br /&gt;Lebih berorientasi kepada kepentingan politik dan elite penguasa.&lt;br /&gt;Orientasinya ke Timur Tengah (Middle East).&lt;br /&gt;Dengan beberapa ciri penulisan sejarah konvensional ini mengakibatkan suatu citra bahwa belajar sejarah itu membosankan, mengulang-ulang, identik dengan dunia Arab, Islam penuh dengan kekerasan dan Islam hanya di Timur-Tengah dan yang kelihatan hanya kelompok elite saja.&lt;br /&gt;Oleh karena itu muncul model penulisan sejarah baru, New History (Sejarah Sosial). Disebut sejarah sosial, karena aspek-aspek sosial yang ditonjolkan komprehensif menyangkut masalah-masalah sosial. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Munculnya relatif baru.&lt;br /&gt;Tidak terlalu terikat dengan arsip-arsip / dokumen resmi. Sehingga sangat memungkinkan terbuka terhadap data-data baru yang lebih kuat.&lt;br /&gt;Dalam menguraikan data disertai dengan analisis / interpretasi dengan memanfaatkan ilmu-ilmu lain, terutama ilmu-ilmu sosial sebagai pendukung.&lt;br /&gt;Imaginatif, mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa lain.&lt;br /&gt;Tidak berorientasi kepada politik dan dunia Timur Tengah. Obyek pembahasan meliputi dunia Islam secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Model penulisan sejarah New History ini merupakan alternatif penulisan sejarah baru. Penulisan sejarah ini selalu memperhatikan ilmu-ilmu lain sebagai bahan analisis. Ilmu-ilmu tersebut antara lain; Sosiologi, Antropologi, Geografi, Ekonomi dan sebagainya. Obyek yang ditulis dalam sejarah ini, bukan hanya pada kalangan elite saja, tetapi juga masyarakat pinggiran dan kalangan bawah, sejarah pembentukan kota, trend mode pakaian (jilbab) dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendekatan Inquiry Discovery Learning&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara kelemahan metode dalam pengajaran sejarah Islam adalah berawal dari pendekatan yang dipakai. Pelajaran sejarah di sekolah cenderung disampaikan dengan pendekatan ekspositori. Dalam pendekatan ekspositori, guru memegang peranan yang sangat dominan dan sentral. Sementara siswa hanya aktif mencatat atau menghafal fakta-fakta historis yang terdapat dalam buku teks. Akibatnya siswa kurang mengerti apa sebetulnya yang diinginkan / tujuan mempelajari sejarah Islam. Pendekatan ekspositori dalam pengajaran sejarah menjadikan anak tidak kreatif , dan bosan dengan materi yang selalu diulang-ulang.&lt;br /&gt;Untuk menutup kekurangan pada pendekatan di atas, maka muncul paradigma baru dalam pengajaran sejarah, yakni dengan Pendekatan Inquiry Discovey Learning. Pendekatan ini diilhami oleh Inquiry Training model dari Richard Suchman. Pada awalnya pendekatan ini diterapkan untuk pengajarn ilmu-ilmu eksakta, namun kemudian dikembangkan untuk pengajaran ilmu-ilmu social. Pendekatan ini sangat mengedepankan keaktifan dan kreativitas anak. Pendekatan ini bermanfaat terutama untuk pembentukan kemampuan berfikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik.&lt;br /&gt;Inquiry Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam system belajar-mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, dalam hal ini anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Adapun garis besar prosedur pendekatan itu adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Simulation. Guru mulai bertanya dengan mengajukan beberapa persoalan kepada para siswa, atau siswa disuruh membaca buku untuk memecahkan persoalan yang diajukan oleh guru.&lt;br /&gt;Problem Statement. Anak didik diberi kesempatan untuk mengidentifikasi beberapa masalah. Di antara masalah / problem yang paling banyak adalah yang menarik dan fleksibel untuk dipecahkan. Permasalahan yang dipilih itu kemudian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.&lt;br /&gt;Data Collection. Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan kebenaran hipotesis tersebut, siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba dan sebagainya.&lt;br /&gt;Data Processing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi dan sebagainya, kemudian diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasikan, kemudian ditafsirkan pada tinggkat kepercayaan tertentu.&lt;br /&gt;Verification atau pembuktian. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu kemudian dicek, apakah sudah terjawab, atau tidak, terbukti atau tidak.&lt;br /&gt;Generalization. Tahap selanjutnya setelah verifikasi adalah diajak menarik sebuah kesimpulan atau generalisasi.&lt;br /&gt;Dengan pendekatan ini siswa lebih mudah menghafal atau mengingat materi pelajaran. Daur proses pembelajaran dengan menjadikan siswa aktif dan merasa terikat untuk memperoleh informasi-informasi baru, sehingga hasil yang diperolehnya menjadi puas. Hanya kelemahannya adalah waktu yang diperlukan cukup lama dan perlu instruksi yang jelas. Oleh karena itu apabila instruksinya tidak jelas, dan tidak terarah, dapat menjurus ke kekacauan dan kekaburan materi yang dipelajari. Disamping itu, bahan-bahan penunjang, seperti kelengkapan buku diperpustakaan, dan kalau bisa ada VCD dan internet sehingga informasi yang dibutuhkan siswa lebih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejarah adalah bagian dari proses kehidupan. Suatu generasi akan dapat menghayati nilai-nilai kebaikan kalau mereka juga menghayati terhadap pentingnya sejarah. Untuk itu , materi sejarah sangat penting bagi pembentukan karakteristik siswa. Di antara faktor yang menentukan keberhasilan pengajaran sejarah Islam adalah pendekatan dan metode yang tepat dalam proses pengajaran. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Amin, M. Masyhur, Dinamika Islam (Sejarah Transformasi dan Kebangkitan), Yogyakarta: LKPSM, 1995.&lt;br /&gt;· Badri Yatim, Dr., M.A., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.&lt;br /&gt;· Badri Yatim, Drs., M.A., Materi Pokok Sejarah Kebudayaan Islam II, Jakarta: Dirjen Binbaga Islam Depag RI bekerjasama dengan Universitas Terbuka, 1996.&lt;br /&gt;· Fatah Syukur, Drs., M.Ag. Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah, makalah disampaikan dalam Penataran Metodologi Pembelajaran Madrasah Aliyah se-Jawa Tengah, di Magelang, 25 Nopember 1999.&lt;br /&gt;· Haswinar, Drs., M.A., Antropologi Agama I; Ruang Lingkup Kajian Antropologi Agama, makalah disampaikan dalam Pelatihan Calon Tenaga Peneliti Agama, Jakarta: Balitbang Depag RI, 28 September 1996.&lt;br /&gt;· Mahfudz Junaidi, Drs, M.Ag., Metodologi Pengajaran SKI Madrasah Aliyah, makalah disampaikan dalam Penataran Metodologi Pembelajaran Madrasah Aliyah se-Jawa Tengah, di Magelang, 25 Nopember 1999.&lt;br /&gt;· Mas’ud, Abdurrahman, Ph.D., Pengajaran Kebudayaan Islam, dalam Metodologi Pengajaran Agama, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 1999.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-7219743437237205283?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/7219743437237205283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=7219743437237205283' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7219743437237205283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7219743437237205283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/pengajaran-sejarah.html' title='Pengajaran Sejarah'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R4r-fCVzPSI/AAAAAAAAABw/9mG9HRaYrEg/s72-c/Picture+0014.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-8855191915713125593</id><published>2008-01-10T02:29:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:11:21.994-08:00</updated><title type='text'>Bulletin</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R4X3kCVzPQI/AAAAAAAAABg/wcoBLdlpCyU/s1600-h/Picture+0016.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153797547071061250" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R4X3kCVzPQI/AAAAAAAAABg/wcoBLdlpCyU/s200/Picture+0016.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Bulletin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;NURUL JADID&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menuju Masyarakat Madani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Volume 2, No. 01, Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;MODERNISASI, DAN KENESTAPAAN MANUSIA MODERN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Modernisasi sering di identikkan dengan suatu tahap pencapaian peradaban suatu bangsa. Misalnya bangsa ini sudah modern cara hidupnya, karena peradabannya sudah tinggi. Namun dalam perkembangan nya istilah modernisasi sering ditafsirkan sebagai westerni sasi. Suatu bangsa dikata kan modern apabila cara hidupnya sebagaimana dilaku kan oleh orang-orang Barat. Pada awalnya mungkin tidak terlalu salah, karena secara realistis Dunia Barat sekarang ini menunjukkan keunggulan nya di bidang Ilmu Pengeta huan dan Teknologi sehing ga peradabannya juga tinggi. Akan tetapi bila modernisasi yang mengarah kepada westernisasi itu mencakup pola prilaku dan filsafat hidup dunia Barat, maka inilah yang akan menimbulkan problem baru.&lt;br /&gt;Keunggulan intelektual Barat terutama terlihat dalam ilmu dan teknologinya. Sehingga peradaban Barat dipuja dan dinyatakan sebagai peradaban ideal. Dalam studinya, The Reformers of Egypt, M.N. Zaki Badawi mencatat dua jenis kelompok masyarakat yang menganggap peradaban Barat sebagai peradaban ideal, yaitu yang "Membaratkan Diri" dan “Golongan Sekularis” (Ziauddin Sardar, 1991:77). Reaksi pemba ratan diri adalah menerima secara total budaya Barat bersama dengan adopsi ilmu dan teknologinya. Pandangan ini antara lain dikemukakan oleh Thaha Hussain :"Mari kita ambil peradaban Barat ini dalam totalitasnya dan bersama seluruh aspeknya, semua yang baik maupun yang buruk". Panda ngan yang mendasar di sini adalah keyakinan mereka bahwa "kemajuanlah" yang penting, bukan agama. Karena itu agama dibatasi bidangnya, yaitu hanya dalam hubungan antara manusia sebagai individu dengan Tuhannya. Contoh lain adalah seperti yang dilakukan oleh Mustafa Kamal At Taturk, dengan sekularisasi di Turki.&lt;br /&gt;minat terhadap agama sedang meningkat karena ilmu pengetahuan telah gagal mengawasi terhadap penyalah gunaan hasil pengetahuan itu sendiriSementara itu di antara tokoh-tokoh Barat sendiri justru banyak mengakui tentang kondisi kebobrokan mental akibat filsafat materi alisme yang dianut oleh Barat. Seperti yang dikata kan oleh Dr. Wern Vanbravoon dari Jerman, minat terhadap agama sedang meningkat karena ilmu penge tahuan telah gagal menga wasi terhadap penyalah gunaan ha-sil pengeta huan itu sendiri Menurut Dr.John A Stroner dari Amerika, , makro problema yang dihadapai Amerika sekarang ini, bukanlah masalah politik, apalagi ekonomi, tetapi masalah rohani, masalah spiritual yang paling mence maskan adalah kehancuran akhlaq yang merupakan wabah di kalangan generasi muda. Ini semua membuat mereka kehilangan makna dari tujuan hidup, mereka hanya mencari kesenangan (comfort) bukan kebahagiaan (happines). Dr. Mulder seorang guru besar dari Belanda mengatakan, bahwa peranan agama belum selesai (seperti yang dikatakan oleh bangsa Barat bahwa Tuhan telah mati), dengan alasan karena dunia Barat sekarang ini justru ada gejala beragama sebagai pengaruh agama timur seperti India, Jepang dan Indonesia. Ada kecenderungan yang menunjuk kan bahwa peranan agama semakin kuat (Nasikun, 1989).&lt;br /&gt;Masalah sekularisme ada lah suatu yang sering diidentikkan dengan modernisasi oleh semen-tara orang yang terlalu terpengaruh oleh penga-laman seja-rah bangsa Barat. Faham ini dirintis dari Aliran Liberalis. Dari sini timbul segala ideologi-ideologi dari sistem sosial yang pada pada masyarakat. Tokoh Liberalis ini adalah John Locke, yang karena teori politiknya mendasarkan atas perlindungan kepada hak milik, maka faham ini akhirnya melahirkan sistem kapitalisme di negara-negara Barat. Dimana dalam pemerin tahan John Locke orang-orang, yang karena teori politiknya mendasarkan atas perlindungan kepada hak milik, maka faham ini akhrinya melahirkan sistem kapitalisme di negara-negara Barat. Orang-orang yang tidak mempunyai hak milik tidak memperoleh hak kewarganegaraan yang penuh. Hak milik dalam masyarakat industri yang maju sering diperoleh dengan cara tidak halal yang mirip dengan penindasan dan ekploitasi.&lt;br /&gt;makro problema yang kita hadapai sekarang ini, bukanlah masalah politik, apalagi ekonomi, tetapi masalah rohani, masalah spiritual yang paling mencemaskan adalah kehancuran akhlaq yang merupakan wabah di kalangan generasi muda. Ini semua membuat mereka kehilangan makna dari tujuan hidup, mereka hanya mencari kesenangan (comfort) bukan kebahagiaan (happines).Faham kapitalisme yang lahir di Barat ini telah melahirkan revolusi industri dengan segala dampak positif dan negatifnya. Keadaan inilah yang telah merubah jaman feodal yang memberi ke-pastian peranan tiap orang, diganti dengan persaingan dan ketidakpastian. Ketenang an jiwa telah diganti dengan kegelisahan. Sebaliknya penderita penyakit jiwa yang mengganggu, atas nama kemanusiaan harus dilindungi. Setiap orang diha dapkan pada ketidakpastian terhadap dirinya dan anak cucunya. Mereka berlomba mencari harta sebanyak mungkin untuk melindungi diri dari ketidakpastian yang akan datang. Sikap hidup yang dipenuhi dengan kegelisahan inilah yang nampaknya menjadi fenomena manusia modern.&lt;br /&gt;Ketegangan-ketegangan yang terjadi pada jaman modern ini antara lain disebabkan karena; kebutuhan hidup yang meningkat tajam, rasa indivi-uaistis dan egois, persa-ngan hidup semakain ketat dan keadaan yang tidak stabil. Akibat meningkatnya kebutuhan pada masya rakat modern itu maka orang dalam kehidupannya selalu me-ngejar waktu, mengejar benda, mengejar prestise. Semuanya itu akan mem bawanya kepada hidup seperti mesin, tidak mengenal istirahat dan ketentraman. Hidupnya dipenuhi oleh ketegangan perasaan (tension) karena keinginannya untuk meng-hindari perasaan tertekan, jika tidak tercapai semua yang tampak menggembirakan itu. Akibat lebih lanjut adalah timbulnya kegelisahan-kegelisa han yang kadang-gadang tidak jelas ujung pangkalnya. Kegelisahan (anxiety) itu akan menghilangkan kemampuan untuk merasakan kebaha-giaan di dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Hilangnya persaudaraan murni, akan membawa orang kepada rasa kesepian di tengah-tengah orang banyak. Perasaan kesepian ini akan menghilangkan rasa aman, yang membawa kepada kegelisahan dan kecurigaan dalam hidup.Ketika rasa untuk memenuhi kebutuhan priba-dinya sudah meningkat, maka yang muncul biasanya adalah rasa individualistis dan egois. Orang lebih mementingkan diri sendiri atau merasa bahwa ia perlu lebih terdahulu memikirkan kepentingan dirinya. Hubu-ngan persaudaraan yang berdasarkan kasih sayang dan cinta mencintai dalam masyarakat modern menjadi barang langka. Hu-bungan yang lazim adalah hubungan kepentingan , apakah itu hubungan bisnis, relasi jual-beli, dsb. Hilang-nya persaudaraan murni, akan membawa orang kepada rasa kesepian di tengah-tengah orang banyak. Perasaan kesepian ini akan menghilangkan rasa aman, yang membawa kepada kegelisahan dan kecurigaan dalam hidup. Psikiater Dadang Hawary (1993) mengemukakan, perubahan-perubahan yang cepat di satu fihak dengan ketidakmampuan manusia untuk mengikuti atau menyesuaikan diri dengan kecepatan perubahan-perubahan itu dapat menimbulkan ketegangan atau konflik psiko sosial (stres) dalam masyarakat, yang dapat dibagai dalam tiga golongan, yaitu ; perubahan nilai-nilai kultural, perubahan sistem okupa sional (peker jaan) dan konflik antar idealisme ser ta realita.&lt;br /&gt;Di negara maju, akibat modernisasi dan industri alisasi, maka cara berfikir, berperasan dan berprilaku manusia telah mengalami proses dehumani sasi. Gejala the agony of modernization, yaitu azab sengsara karena modernisasi dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat antara lain : tidak adanya jaminan sosial, pengangguran, kriminalitas yang semakin meningkat, kekerasan, penyalah gunaan narkotika, zat ediktif, dan alkohol, kenakalan remaja, kehamilan remaja, prostitusi, judi, bunuh diri, gangguan jiwa, perkosaan, dan lain-lain&lt;br /&gt;(Drs. H. Fatah Syukur NC, M.A.)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#66ffff;"&gt;Bulletin Nurul Jadid diterbitkan secara berkala oleh Takmir Masjid Nurul Jadid Beringin Putih, Ngaliyan Semarang. Redaksi menerima artikel dan masukan yang bersifat membangun. Redkasi berhak mengedit tanpa mengurangi isi. Isi tulisan tidak mesti merepresentasikan pandangan redaksi. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-8855191915713125593?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/8855191915713125593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=8855191915713125593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8855191915713125593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8855191915713125593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/bulletin.html' title='Bulletin'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_eWqxZFGWiMw/R4X3kCVzPQI/AAAAAAAAABg/wcoBLdlpCyU/s72-c/Picture+0016.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-7819336407284557464</id><published>2008-01-09T14:20:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:10:51.162-08:00</updated><title type='text'>HIJRAH NABI</title><content type='html'>&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;strong&gt;HIJRAH NABI, PENDIDIKAN ISLAM&lt;br /&gt;DI MADINAH DAN PIAGAM MADINAH&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Drs. H. Fatah Syukur NC, M.A.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;*)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya mengemban wahyu Allah, Nabi memerlukan suatu strategi yang berbeda dimana pada waktu di Makkah Nabi lebih menonjolkan dari segi tauhid dan perbaikan akhlaq tetapi ketika di Madinah Nabi banyak berkecimpung dalam pembinaan/pendidikan sosial masyarakat karena di sana beliau di angkat sebagai Nabi dan kepala negara.&lt;br /&gt;Persoalan yang dihadapi oleh Nabi ketika di Madinah jauh lebih komplek dibanding ketika di Makah. Di sini ummat Islam sudah berkembang pesat dan harus hidup berdampingan dengan sesama pemeluk agama yang lain, seperti Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu pendidikan yang diberikan oleh Nabi juga mencakup urusan-urusan muamalah atau tentang kehidupan bermasyarakat dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah Nabi ke Madinah (Yatsrib)&lt;br /&gt;Setelah pristiwa Isra’ dan Mi’raj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam. Perkembangan mana datang dari sejumlah penduduk Yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka, yang terdiri dari suku ‘Aus dan Khazraj, masuk Islam dalam tiga gelombang. Pertama, pada tahun kesepuluh kenabian, beberapa orang Khazraj berkata kepada Nabi: “Bangsa kami telah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan ‘Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian. Kiranya Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaraan engkau dan ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh karena itu, kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yang kami terima dari engkau ini”. Mereka giat mendakwahkan Islam di Yatsrib. Kedua, pada tahun kedua belas keNabian delegasi Yatsrib, terdiri dari sepuluh orang suku Khazraj dan dua orang suku ‘Aus serta seorang wanita menemui Nabi di suatu tempat bernama Aqabah. Di hadapan Nabi mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Rombongan ini kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh Mus’ab bin Umair yang sengaja diutus Nabi atas permintaan mereka. Ikrar ini disebut dengan perjanjian “Aqabah pertama”. Pada musim haji berikutnya, jamaah haji yang datang dari Yatsrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta pada Nabi agar berkenan pinda ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala macam ancaman. Nabi pun menyetujui Aqabah kedua.&lt;br /&gt;Tatkala gejala-gejala kemenangan di Yatsrib (Madinah) Nabi menyuruh para sahabatnya untuk berpindah ke sana. Dalam waktu dua bulan hampir semua kaum muslimin, kurang lebih 150 orang, telah meninggalkan kota makkah untuk mencari perlindungan kepada kaum muslimin yang baru masuk di Yatsrib.&lt;br /&gt;Kaum Quraisy sangat terperanjat sekali setelah mereka mengetahui bahwa Nabi mengadakan perjanjian dengan kaum Yatsrib sehingga mereka khawatir kalau-kalau Muhammad dapat bergabung dengan pengikut-pengikutnya di Madinah dan dapat membuat markas yang kuat di sana. Kalau demikian terjadi, maka soalnya bukan hanya mengenai soal agama semata-mata, tetapi juga menyinggung soal ekonomi yang mungkin saja mengakibatkan kehancuran perniagaan dan kerobohan rumah tangga mereka karena kota Yatsrib terletak pada lin perniagaan mereka antara Makkah dengan Syam.&lt;br /&gt;Bila penduduk Yatsrib bermusuhan dengan mereka maka perniagaan mereka dapat saja mengalami keruntuhan. Oleh karena itu salah satu jalan yang harus mereka tempuh ialah melakukan sesuatu tindakan yang menentukan agar dapat menumpas “keadaan buruk ini” yang akan mendatangkan bencana bagi agama dan pintu-pintu rizki mereka.&lt;br /&gt;Setelah melihat dampak yang sangat besar yang dapat merugikan ekonomi dan perniagaan mereka maka mereka melakukan sidang untuk permasalahan tindakan apa yang harus mereka lakukan. Setelah melakukan persidangan akhirnya jalan satu-satunya ialah dengan membunuh Muhammad, tetapi bagaimana membunuhnya? Kaum keluarga Muhammad tentu tidak akan diam begitu saja mereka tentu saja akan membunuh pula siapa yang membunuh Muhammad. Akhirnya Abu Jahal menemukan ide yang paling aman yaitu: masing-masing kabila harus memilih seorang pemuda yang akan membunuh bersama-sama. Dengan demikian seluruh kabilah bertanggung jawab atas kematian Muhammad dan Bani Abu Manaf tidak mampu menuntut bela terhadap seluruh kabilah. Akirnya Bani Abu manaf akan menerima saja pembayaran yang dibayarkan oleh seluruh kabilah kepada mereka.&lt;br /&gt;Fikiran ini mereka anggap paling aman, karena itu mereka siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Pada suatu malam, waktu mereka mengetahui bahwa Muhammad berada di rumahnya, maka mereka mengirim pemuda-pemuda pilihan untuk mengepung rumahnya, dan bersiap untuk menyerbu dan membunuh Muhammad bilamana para penduduk telah tidur nyenyak. Akan tetapi perundingan dan komplotan mereka sudah disampaikan oleh Allah swt kepada Nabi, Allah memerintahkan Nabi hijrah ke Yatsrib. Nabi memberitahukan akan hal ini kepada Abu Bakar, dan Abu Bakar meminta kepada Nabi, supaya diizinkan menemani beliau dalam perjalanan ke Yatsrib. Nabi setuju, dan Abu Bakar mempersiapkan untuk perjalanannya. Kemudian Nabi menyuruh Ali bin Abi Tholib menempati tempat tidur beliau, supaya kaum musyrikin mengira bahwa beliau masih tidur. Kepada Ali diperintahkan juga, supaya mengembalikan barang-barang yang ditumpangkan kepada beliau, kepada pemiliknya masing-masing.&lt;br /&gt;Ketika Nabi dan Abu Bakar keluar dari rumah, Nabi menserakkan pasir ke hadapan para kafir qurais dengan berkata: “Alangkah kejinya mukamu” seketika kafir Quraisy tak sadarkan diri dan mereka tidak mengetahui bahwa Nabi dan Abu Bakar telah keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Makkah ke Yatsrib (Madinah)&lt;br /&gt;Adapun acara perjalan yang dilakukan Nabi itu, digambarkan oleh Ibnu Hisyam, sebagai berikut: Rasulullah datang dengan sembunyi-sembunyi ke rumah Abu Bakar, kemudian mereka berdua keluar dari pintu kecil di belakang pintu rumah, menuju sebuah Gua di bukit Tsur sebelah selatan kota Makkah lalu mereka masuk ke gua itu.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Yatsrib, Nabi istirahat beberapa hari lamanya. Dia menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun sebuah mesjid. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi, sebagai pusat peribadatan, tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi, setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah. Semetera itu, penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatanganya. waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota ini mengelu-elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak itu, sebagai penghormatan terhadap Nabi, nama kota Yatsrib diubah menjadi Madinatul Muhawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia. Dalam istilah sehari-hari, kota ini cukup disebut Madinah saja. Ketika Nabi sampai di Yatsrib dengan perasaan rindu dan perasaan yang amat mendalam mereka melayukan sebuah nyanyian yang terkenal&lt;br /&gt;طلع البدر علينا من ثنيّا ت الوداع&lt;br /&gt;وجب الشكر علينا ما دعا لله داع&lt;br /&gt;أيّها المبعو ث فينا جئت بالا مر المطاع&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendikan Islam di Madinah&lt;br /&gt;Tanggapan orang-orang Madinah tentang kedatangan Nabi sangat di idam-idamkan. Orang-orang Madinah memeluk agama Islam dengan hati yang ikhlas, serta dengan tulus membantu Nabi dalam mensyiarkan agama Islam.&lt;br /&gt;Matahari Islam pun bersinar di atas langit bersih kota Madinah dan cahayanya mulai memancar luas. Salah satu hasil pertamanya adalah keadaan perang yang telah lama mencekam dua kabila ‘Aus dan Khazaraj berubah menjadi keadaan damai dan persahabatan. Orang-orang muknim Madinah berkumpul di sekeliling Nabi dan perlahan-lahan kabilah-kabilah di wilayah Madinah pun memeluk agama Islam. Undang-undang Allah pun di wahyukan dan kemudian di wujudkan serta dipraktekan satu demi satu. Setiap hari, satu bentuk prilaku jahat tentu di basmi dan diganti dengan kesalehan dan keadilan. Perlahan-lahan orang-orang mukmin di Makkah yang dapat banyak gangguan dari orang-orang kafir setelah hijrahnya Rasulullah, meninggalkan rumah dan kehidupan mereka lalu pindah ke Madinah mereka di sambut hangat oleh saudara-saudara seagama di sana.&lt;br /&gt;Orang-orang muslim yang tinggal di Makkah dan berangsur-angsur ke Madinah di kenal sebagai kaum Muhajirin (mereka yang hijrah) dan orang-orang muslim Madinah di kenal sebagai kaum Ansor (penolong). Kemajuan Islam yang pesat di Madinah itu menghawatirkan orang-orang kafir Makkah. Kebencian mereka terhadap Rasul dan kaum muslimin kian hari semakin bertambah dan orang-orang kafir itu berusha mencerai-beraikan mereka. Kaum muslimin, khususnya kaum muhajirin sangat marah terhadap orang-orang kafir Makkah. Mereka menunggu ijin dari Allah guna membahas orang-orang sang penindas itu, dan membebaskan wanita-wanita dan anak-anak yang tak berdosa serta orang-orang muslim yang malang yang masih disiksa di Makkah.&lt;br /&gt;Adapun titik tekan pendidikan Islam pada periode Madinah adalah&lt;br /&gt;a. Pembentukan dan Pembinaan masyarakat baru, menuju satu kesatuan sosial dan politk. Dalam hal ini Nabi melaksanakan pendidikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Nabi mengikis habis sisa-sisa pemusuhan dan pertengkaran antar suku, dengan jalan mengikat tali persaudaraan di antara mereka.&lt;br /&gt;2) Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, nabi menganjurkan kepada kaum Muhajirin untuk usaha dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pekerjaan masing-masing seperti waktu di Makkah.&lt;br /&gt;3) Menjalin kerjasama dan tolong-menolong dalam membentuk tata kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.&lt;br /&gt;4) Shalat jum’at sebagai media komunikasi seluruh ummat Islam.&lt;br /&gt;b. Pendidikan sosial dan kewarganegaraan. Pendidikan ini dilaksanakan melalui :&lt;br /&gt;1) Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antar kaum muslimin.&lt;br /&gt;2) Pendidikan kesejahteraan sosial dan tolong menolong.&lt;br /&gt;3) Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat.&lt;br /&gt;c. Pendidikan anak dalam Islam. Rasullah selalu mengingatkan kepada ummatnya, antara lain&lt;br /&gt;1) Agar kita selalu menjaga diri dan anggota keluarga dari api neraka.&lt;br /&gt;2) Agar jangan meninggalkan anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya menghadapi tantangan hidup.&lt;br /&gt;3) Orang yang dimuliakan Allah adalah orang yang berdoa agar dikaruniai keluarga dan anak keturunan yang menyenangkan hati.&lt;br /&gt;Adapun bentuk-bentuk pendidikan anak dalam Islam sebagaimana digambarkan dalam Surat Luqman 13-19 sebagai berikut; 1) Pendidikan tauhid, 2) Pendidikan shalat, 3) Pendidikan sopan santun dalam keluarga, 4) Pendidikan sopan santun dalam m,asyarakat, 5) Pendidikan kepribadian.&lt;br /&gt;d. Pendidikan Hankam dakwah Islam&lt;br /&gt;Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan mesjid, selain untuk tempat salat juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiwa mereka, di samping sebagai tempat bermusyawarah merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Mesjid pada masa Nabi bahkan juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.&lt;br /&gt;Dasar kedua, adalah ukhuwah Islamiyyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi mempersaudarakan antara golongan Muhajirin, orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah, dan Anshar, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan ikut membantu kaum muhajirin tersebut. Dengan demikian, diharapkan, setiap muslim merasa terikat dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Apa yang dilakukan Rasulullah ini berarti menciptakan suatu bentuk persaudaraan yang baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan darah.&lt;br /&gt;Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Di Madinah, di samping orang-orang Arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka. Dalam hijrah Nabi ke Madinah inilah puncak kejayaan Islam pada zamannya Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam Madinah&lt;br /&gt;Agar stabilitas masyarakat dapat di wujudkan Nabi Muhammad mengadakan ikatan perjanjian dengan Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang. Sebuah piagam yang menjamin kebebasan beragama orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas yang di keluarkan. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan. Kemerdekaan beragama dijamin, dan seluruh anggota masyarakat berkewajiban mempertahankan negeri dari serangan luar. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa Rasulullah menjadi kepala pemerintahan karena menyangkut peraturan dan tata tertib umum, otoritas mutlak di berikan pada beliau. Dalam bidang sosial, dia juga meletakan dasar persamaan antara sesama manusia. Perjanjian ini, dalam pandangan ketatanegaraan sekarang, sering disebut dengan konstitusi Madinah.&lt;br /&gt;Mengenai kapan penyusunan naskah piagam atau perjanjian tertulis itu dilakukan oleh Nabi tidak pasti, mengenai waktu dan tanggalnya. Apakah waktu pertama hijriyah atau sebelum waktu perang badar atau sesudahnya. Menurut Watt. Para sejarah umumnya berpendapat bahwa piagam itu dibuat pada permulaan periode Madinah tahun pertama hijrah. Well Husen menetapkannya sebelum perang badar sedangkan Hurbert Grimne berpendapat bahwa piagam itu dibuat setelah perang badar. Dan masih banyak lagi orang yang berpendapat tentang kapan penyusunan piagam Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi piagam&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah shahifah (piagam) dari Muhammad Rasulullah (yang mengatur hubungan) antara mu’min Quraisy dan Yatsrib (Madinah) dan orang-orang yang mengikuti, bergabung dan berjuang (jahadu) bersama-sama dengan mereka.&lt;br /&gt;1. Mereka adalah satu masyarakat (ummah) yang mandiri, berbeda dari yang lain.&lt;br /&gt;2. Muhajirin Quraisy, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat di kalangan mereka sendiri, dan mereka (sebagai satu kelompok) menerima uang tebusan atas tawanan (tawanan) mereka, (ini harus dilaksanakan) dengan benar dan adil di antara para mu’minin.&lt;br /&gt;3. Banu ‘Awf, seperti kelaziman mereka masa lalu bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub-clan) menerima tebusan tawanan (tawanan) mereka. (ini harus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan semasa Mu’minin.&lt;br /&gt;4. Banu al-Hadits, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub clan) menerima tebusan tawanan (tawanan) mereka” : (ini barus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan sesama Mu’minin.&lt;br /&gt;5. Banu Sa’idah, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub-clan) menerima tebusan tawanan (-tawanan) mereka” : (ini barus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan sesama Mu’minin.&lt;br /&gt;6. Banu Jusham, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub-clan) menerima tebusan tawanan (-tawanan) mereka” : (ini barus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan sesama Mu’minin.&lt;br /&gt;7. Banu al-Najar, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub-clan) menerima tebusan tawanan (-tawanan) mereka” : (ini barus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan sesama Mu’minin.&lt;br /&gt;8. Banu Amir ibn Awf, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub-clan) menerima tebusan tawanan (-tawanan) mereka” : (ini barus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan sesama Mu’minin.&lt;br /&gt;9. Banu al-Nabit, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub-clan) menerima tebusan tawanan (-tawanan) mereka” : (ini barus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan sesama Mu’minin.&lt;br /&gt;10. Banu al-Aws, seperti kelaziman mereka masa lalu, bersama-sama (secara kelompok) membayar diyat. Setiap thaifah (sub-clan) menerima tebusan tawanan (-tawanan) mereka” : (ini barus dilakukan) dengan benar dan adil di kalangan sesama Mu’minin.&lt;br /&gt;11. Mu’minin tidak (diperkenankan) menyingkirkan orang yang berhutang tapi harus memberinya (bantuan) menurut kewajaran, bak untuk, (membayar) tebusan maupun untuk (membayar) diyat.&lt;br /&gt;12. setiap Mu’min tidak diperkenankan mengangkat sebagai keluarga (halif) mawla (klien) dari seorang mu’min lainnya tanpa kerelaan (induk semangnya).&lt;br /&gt;13. Mu’min yang takwa kepada Allah akan bermusuhan dengan siapa saja yang berbuat salah, atau merencanakan berbuat keonaran, dan/atau yang menyebarkan kejahatan, dan/atau yang berbuat dosa, dan/atau bersikap bermusuhan, dan/atau membuat kerusakan di kalangan Mu’minin. Semua orang akan turun tangan walaupun dia (yang berbuat jahat itu adalah) salah seorang anak mereka sendiri.&lt;br /&gt;14. seorang mu’min tidak (perkenankan) membunuh seseorang Mu’min untuk kepentingan kafir, dan tidak (diperkenankan) juga berpihak kepada kafir ( dalam sengketanya dengan) seorang Mu’min.&lt;br /&gt;15. lindungan Allah adalah satu, namun seseorang boleh memberikan perlindungan terhadap orang asing atas tanggung jawabannya sendiri. Sesama Mu’min adalah bersaudara; antara satu sama lain (wajib) bersama-sama menghadapi pengecilan orang luar.&lt;br /&gt;16. siapa saja yahudi yang mau bergabung (berhak) mendapat bantuan dan persamaan (hak). Dia tidak boleh diperlakukan secara buruk dan tidak boleh pula memberikan bantuan kepada musuh-musuh mereka.&lt;br /&gt;17. perdamaian (silm) (di kalangan) Mu’minin tidak dapat dibagi-bagi (dipecah-pecah). Tidak diperkenankan membuat perdamaian terpisah di kalangan orang-orang Mu’minin sedang perang di jalan Allah. Persyaratan haruslah benar dan adil terhadap semua pihak.&lt;br /&gt;18. dalam peperangan, setiap prajurit (kaveleri) harus mengambil gilirannya, saling susul-menyusul.&lt;br /&gt;19. Mu’minin harus menuntut balas darah yang tertumpah di jalan Allah. Mu’min yang takwa kepada Allah akan mendapat nikmat bimbingan yangterbaik dan yang paling mulia.&lt;br /&gt;20. Tidak ada musyrik (polytheis) yang akan mengambil milik atau diri oarng-orang Quraisy yang berada di bawah proteksinya, tidak pula dia campur tangan terhadap seseorang Mu’min.&lt;br /&gt;21. Siapa saja yang menyebabkan terjadinya pembunuhan terhadap seseorang Mu’min tanpa alasan yang benar akan diambil tuntut balas, kecuali keluarganya rela dengan menerima diyat, dan Mu’min akan menghadapinya sebagai seorang oknum, dan mereka terikat untuk mengambil tindakan terhadapnya.&lt;br /&gt;22. Adalah suatu perbuatan yang tidak diperkenankan (melanggar hukum) bagi Mu’min yang diberlakukan piagama ini dan beriman kepada Allah serta hari Kiamat, membantu kejahatan dan atau melindunginya. Jika dia melakukannya, maka laknat dan kemurkaan Allah akan menimpa dirinya pada hari bangkit nanti; dan tidak ada taubat serta tebusan yang diterima lagi darinya.&lt;br /&gt;23. Kapan saja terjadi perselisihan paham tentang sesuatu masalah di antara anda (orang-orang yang terikat dengan piagam ini), haruslah dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya (untuk diselesaikan).&lt;br /&gt;24. Yahudi akan menyokong biaya perang selama (dan sepanjang) mereka (ikut) berperang bersama-sama Mu’min.&lt;br /&gt;25. Yahudi Banu Awf adalah satu umat dengan Mu’min (Yahudi berada dalam agama mereka dan Muslim dalam agama mereka sendiri), (termasuk) orang-orang merdeka di kalangan mereka dan pribadi-pribadi mereka, kecuali mereka yang berperilaku tidak benar dan jahat, karena mereka mengikuti orang-orang yang di luar mereka dan keluarga mereka.&lt;br /&gt;26. Hal yang sama (seperti tersebut pada pasal 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang Yahudi Banu al-Najjar.&lt;br /&gt;27. hal yang sama (seperti tersebut pada pasal 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang yahudi banu al-Harits.&lt;br /&gt;28. hal yang sama (seperti tersebut pada pasa 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang banu Sa’idah.&lt;br /&gt;29. Hal yang sama (seperti tersebut pada pasal 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang Yahudibanu Jusham&lt;br /&gt;30. Hal yang sama (seperti tersebut pada pasal 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang Yahudi banu al-Aws&lt;br /&gt;31. Hal yang sama (seperti tersebut pada pasal 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang Yahudi banu Tsa’labah.&lt;br /&gt;32. Hal yang sama (seperti tersebut pada pasal 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang Yahudi banu Jafnah thehaifah (Sub-clan) dari banu Tsa’labah, (dan) ; 33.&lt;br /&gt;33. Hal yang sama (seperti tersebut pada pasal 25) diberlakukan juga terhadap orang-orang Yahudi as Syutaibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loyalitas adalah satu perlindungan terhadap pengkhianatan.&lt;br /&gt;34. Mawla Banu Tsa’labah adalah seperti mereka sendiri.&lt;br /&gt;35. Teman dekat (bithanah) orang-orang yahudi adalah seperti mereka sendiri.&lt;br /&gt;36. Tidak boleh seorang pun (anggota ummah) pergi berperang tanpa izin Muhammad saw., namun mereka tidak dicegah mengambil tindakan balas terhadap luka yang diderita oleh seseorang (di antara mereka). Orang yang membunuh seseorang tanpa peringatan (terlebih dahulu sama artinya dengan)membunuh dirinya sendiri dan anak isterinya, kecuali (pembunuhan itu dilakukan) terhadap seseorang yang telah berbuat jahat terhadapnya; karena (hal seperti itu) Allah akan menerimanya.&lt;br /&gt;37. Yahudi memikul beban biaya mereka sendiri, demikian juga Muslim memikul beban biaya mereka sendiri pula. Setiap pihak harus membantu pihak lain terhadap siapa pun yang menyerang orang-orang yang tersebut dalam piagam ini. Mereka harus nasehat menasehati dan berkonsultasi yang saling menguntungkan; (dan)&lt;br /&gt;Loyalitas adalah satu perlindungan terhadap pengkhianatan.&lt;br /&gt;38. Seorang angota aliansi tidak mempunyai tanggung jawab hukum terhadap kejahatan yang dilakukan oleh orang aliansinya orang yang dizalimi harus dibantu.&lt;br /&gt;39. Yatsrib akan menjadi tempat suci (pusat pemerintahan) bagi orang-orang tersebut dalam piagam ini.&lt;br /&gt;40. Orang asing yang berada di bawah perlindungan (jar) sama seperti si pelindungnya (sendiri), tidak melakukan hal-hal yang berbahaya dan terlibat dalam kejahatan.&lt;br /&gt;41. Seseorang perempuan hanya bisa diberikan perlindungan (tujar) jika ada kerelaan dari keluarganya.&lt;br /&gt;42. Seandainya ada perselisihan, atau perdebatan yang berkepanjangan yang bisa menimbulkan kesulitan haruslah dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah menerima apa yang paling dekat kepada kesalehan dan kebajikan dalam piagam ini.&lt;br /&gt;43. Quraisy (jahili) dan penolong-penolongnya tidak boleh diberikan perlindungan.&lt;br /&gt;44. Pihak-pihak yang terikat dalam persetujuan (ini), berkewajiban untuk saling membantu melawan penyerangan terhadap Yatsrib.&lt;br /&gt;45. jika mereka diminta untuk membuat perdamaian dan menjaga perdamaian, mereka haruslah melakukannya; dan jika mereka membuat sebuah tuntutan yang sama terhadap muslim, maka harus (pula) dilaksanakan, kecuali dalam hal jihad. Setiap orang akan mendapat bagiannya dari pihak di mana dia berada.&lt;br /&gt;46. Yahudi dari al-‘Aws, orang-orang merdeka (di kalangan) mereka dan mereka sendiri, mempunyai kedudukan yang sama dengan orang-orang yang terikat Piagam ini dalam loyalitas yang murni dari orang-orang yang tersebut dalam piagam ini.&lt;br /&gt;Loyalitas adalah sebuah perlindungan terhadap penghianatan&lt;br /&gt;47. Seseorang yang memperoleh sesuatu (boleh) memilikinya sendiri.&lt;br /&gt;Tuhan berkenan akan piagam ini. Piagam ini tidak akan melindungi orang yang berbuat jahat dan berdosa.&lt;br /&gt;Orang yang pergi berperang dan orang yang tinggal di rumah di dalam kota adalah aman, kecuali yang berbuat jahat dan berdosa.&lt;br /&gt;Allah adalah pelindung yang baik (baik) orang-orang yang takwa dan Muhammad adalah Rasul Allah.&lt;br /&gt;Dari Piagam 47 butir Piagam Madinah menurut penomoran Schacht jelas terlihat beberapa asas yang dianut:&lt;br /&gt;Pertama, Asas kebebasan beragama. Negara mengakui dan melindungi setiap kelompok untuk beribadah menurut agamanya masing-masing.&lt;br /&gt;Kedua, Asas persamaan.&lt;br /&gt;Semua orang mempunyai kedudukan yang sama sebagai anggota masyarakat, wajib saling membantu dan tidak boleh seorang pun diperlakukan secara buruk. Bahkan orang yang lemah harus dilindungi dan dibantu.&lt;br /&gt;Ketiga, Asas kebersamaan&lt;br /&gt;Semua anggota masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara.&lt;br /&gt;Keempat, Asas keadilan.&lt;br /&gt;Setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama dihadapa hukum. Hukum harus ditegakkan. Siapa pun yang melanggar harus terkena hukuman. Hak individu diakui.&lt;br /&gt;Kelima, Asas perdamaian yang berkeadilan.&lt;br /&gt;Keenam, Asas musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;*)&lt;/a&gt; Drs. H. Fatah Syukur NC., M.A. Dosen Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo (http//citraedukasi.blogspot.com atau e-mail citraedukasi@yahoo.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-7819336407284557464?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/7819336407284557464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=7819336407284557464' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7819336407284557464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7819336407284557464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/hijrah-nabi.html' title='HIJRAH NABI'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-8012446130695366501</id><published>2008-01-04T07:21:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:10:27.788-08:00</updated><title type='text'>Media Pendidikan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;MODUL DIKLAT SERTIFIKASI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( 6 JPL )&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGANTAR&lt;br /&gt;Dalam system pendidikan modern, fungsi guru sebagai penyampai pesan-pesan pendidikan tampaknya perlu dibantu dengan media pendidikan, agar proses belajar mengajar pada khususnya dan proses pendidikan pada umumnya dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Hal itu disebabkan antara lain, materi pendidikan yang akan disampaikan semakin beragam dan luas mengingat perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat. Dewasa ini guru bukanlah satu satu-satunya sumber belajar dan penyampai pesan-pesan pendidikan sebagaimana pernah terjadi sebelum tahun lima puluhan. Mulai tahun itu teori komunikasi social mulai masuk ke dalam pendidikan, terutama alat Bantu pandang dengar atau audio visual aid dan telah mulai digunakan dalam penyampaian pesan-pesan pendidikan. Media pendidikan ini tidak saja sebagai alat Bantu pendidikan, juga berfungsi sebagai penyalur pesan-pesan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TUJUAN&lt;br /&gt;Peserta dapat :&lt;br /&gt;Dapat menentukan langkah-langkah untuk memilih media pendidikan agama Islam yang tepat guna.&lt;br /&gt;Dapat menyebutkan kriteria yang tepat untuk memilih media pendidikan agama Islam yang digunakan.&lt;br /&gt;Dapat mempergunakan media pendidikan agama Islam yang sesuai dengan pokok bahasan yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. PENGELOMPOKAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Peserta dikelompokkan sesuai dengan identifikasi masalah yang telah ditemukan dan tiap kelompok beranggota antara 4-5 peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MATERI, METODE &amp;amp; WAKTU&lt;br /&gt;MATERI&lt;br /&gt;Sehubungan dengan telah meluasnya pemakaian media pendidikan ini dalam proses belajar mengajar bidang studi pendidikan agama Islam, maka di bawah secara berturut-turut disampaikan dua sub pokok bahasan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Makna dan Fungsi media pendidikan bagi guru agama Islam,&lt;br /&gt;2. Pemanfaatan dan keterbatasan media pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODE&lt;br /&gt;Brainstorming, analisis konstektual, diskusi dan praktek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU&lt;br /&gt;2 JPL teori (90 menit)&lt;br /&gt;4 JPL praktek (180 menit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANDOUT&lt;br /&gt;Makalah nara sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. BAHAN DAN ALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tercipatnya proses pendidikan dan pelatihan yang memungkinkan tersalurkannya pengalaman peserta, maka dibutuhkan alat bantu/media pendidikan antara lain:&lt;br /&gt;1. Alat tulis (block note)&lt;br /&gt;2. Papan tulis / kertas plano, spidol, lakban (hindari warna merah, kuning atau hijau)&lt;br /&gt;3. Laptop&lt;br /&gt;4. LCD&lt;br /&gt;5. CD-CD model media pembelajaran&lt;br /&gt;Alat bantu lain yang penting adalah media simlasi sederhana dan mudah didapat, mudah diciptakan sendiri, dan cocok dengan materi yang akan disajikan. Alat bantu ini bissa berupa kliping koran, film, gambar-gambar, kertas warna-warni dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. LANGKAH KEGIATAN&lt;br /&gt;1. Fasilitator membuka sesi dengan mengajak peserta mengucapkan basmalah secara bersama-sama. Sampaikan pertanyaan ringan, “Apakah sudah siap bertempur lagi?”, atau pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jelaskan topic bahasan sesi ini, perlunya pembahasan dan target yang ingin dicapai. Jelaskan secara ringkas garis besar pembahasannya (15 menit).&lt;br /&gt;2. Ajaklah peserta melakukan eksplorasi pandangan mereka tentang media pembelajaran, kelebihan dan kekurangannya, manfaatnya dan pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajaran (30 menit).&lt;br /&gt;3. Mintalah masing-masing peserta untuk menyampaikan satu isu kekinian yang relevan dengan pemanfaatan media pembelajaran pendidikan agama Islam. Fasilitator melakukan list semua masukan yang mungkin dengan bahasa yang berbeda. Setelah semua peserta menyampaikan pendapatnya, tanyakan ke peserta apakah ada yang bisa dikelompokkan dalam wilayah isu yang sama? Lakukan pengelompokan jika itu mungkin dilakukan. Jika dianggap terlalu banyak, bisa ditawarkan kembali ke peserta, apakah harus semua didikskusikan atau bisa dipilih beberapa isu yang paling menonjol. Bagilah peserta sesuai dengan sebanyak usulan yang ada. Berilah point-point yang akan didiskusikan, misalnya latar belakang perlunya media dalam pembelajaran, macam-macam media dengan kelebihan dan kekurangannya, kendala-kendala dalam menggunakan media pembelajaran, bagaimana kondisi madrasah dan guru-guru agama dalam pemakaian media, bagaimana media dapat membuat belajar efektif dan efisien, dan sebagainya (45 menit)&lt;br /&gt;4. Mintalah masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Untuk menjaga kebosanan, presentasi dilakukan dengan model panel dan sekaligus mempraktekkan cara pemanfaatan media pembalajaran dengan topik tertentu yang dipilih oleh masing-masing kelopok (90 menit).&lt;br /&gt;5. Jika ada narasumber diposisikan sebagai pembahas dalam penel ini. Dengan demikian pembahasan menjadi lebih hidup dan terhindar dari regulasi murid-guru, yang mungkin saja menjadi tidak produktif (45 menit).&lt;br /&gt;6. Tanyakan kepada peserta, apakah sudah ada pemahaman tentang pentingnya pemanfaatan media pembelajaran dengan pendekatan konektual teaching-learning. Tidak harus ada sepakat, tetapi setidaknya sudah terjadi refleksi dan pemahaman yang mendalam dari proses ini. Ajaklah peserta peserta bertepuk tangan atas keberhasilan diskusi yang cemerlang dan tutup dengan bersama-sama membaca alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. LEMBAR KERJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar kerja 1&lt;br /&gt;1. Lakukan Brainstorming tentang media pembelajaran, kelebihan dan kekurangannya, manfaatnya dan pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajaran&lt;br /&gt;2. Masing-masing peserta menyampaikan satu isu kekinian yang relevan dengan pemanfaatan media pembelajaran pendidikan agama Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar kerja 2&lt;br /&gt;Diskusikan pada masing-masing kelompok dan tulis hasilnya pada plif chart:&lt;br /&gt;1. Latar belakang perlunya media dalam pembelajaran,&lt;br /&gt;2. Macam-macam media dengan kelebihan dan kekurangannya,&lt;br /&gt;3. Kendala-kendala dalam menggunakan media pembelajaran,&lt;br /&gt;4. Kondisi madrasah dan guru-guru agama dalam pemakaian media,&lt;br /&gt;5. Bagaimana media dapat membuat belajar efektif dan efisien, dan sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar kerja 3&lt;br /&gt;Secara berkelompok peserta membuat skenario pemanfaatan media pembelajaran dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dengan mengambil Kompetensi Dasar sesuai dengan kelas kelompok masing-masing&lt;br /&gt;Kegiatan Pembelajaran&lt;br /&gt;Pengorganisasian&lt;br /&gt;Siswa&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. BAHAN BACAAN UNTUK TOOLKITS PESERTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Bacaan I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA DAN FUNGSI MEDIA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media pendidikan merupakan suatu alat atau perantara yang berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan murid menerima dan memahami pelajaran. Proses ini membutuhkan guru yang professional dan mampu menyelaraskan antara media pendidikan dan metode pendidikan.&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan serta perubahan sikap masyarakat membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Hal ini mendorong setiap lembaga pendidikan untuk mengembangkan lembaganya lebih maju dengan memanfaatkan teknologi modern dan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai media pembelajaran.&lt;br /&gt;Dari pemikiran di atas sudah jelas media pendidikan itu berkaitan dengan kemajuan suatu pendidikan yang meliputi sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Arti, fungsi dan nilai media pendidikan.&lt;br /&gt;2. Tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;3. Psikologi belajar.&lt;br /&gt;4. Bentuk media pendidikan.&lt;br /&gt;Pembahasan ini akan dimulai dari pengertian media pendidikan sebagai alat komunikasi.&lt;br /&gt;Alat komunikasi selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan majunya ilmu pengetahuan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kaitannya dengan media pendidikan mempunyai fungsi yang besar di berbagai kehidupan, baik di kehidupan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan seni kebudayaan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan pendidikan media komunikasi memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan maupun peningkatan mutu di suatu lembaga pendidikan. Dengan memakai media tersebut anak didik akan mudah mencerna dan memahami suatu pelajaran. Dengan demikian melalui pendekatan ilmiah sistematis, dan rasional tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai pendidikan tersebut guru memberikan peran yang penting untuk menghantarkan keberhasilan anak didik, oleh karenanya dibutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan murid, untuk menciptakan komunikasi yang baik dibutuhkan guru yang profesional yang mampu menyeimbangkan antara media pembelajaran dan metode pengajaran sehingga informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa dengan baik.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi tugas media bukan sebagai sekedar mengkomunikasikan hubungan antara pengajar dan murid namun lebih dari itu media merupakan bagian integral yang saling berkaitan antara komponen satu dengan komponen yang lain yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arti dan Fungsi Media Pendidikan&lt;br /&gt;Secara harfiah media diartikan “perantara” atau “pengantar”. AECT (Association for Educational Communication and Technology) mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Robert Hanick dan kawan-kawan (1986) mendefinisikan media adalah sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dalam sudut yang sama Kemp dan Dayton mengemukakan peran media dalam proses komunikasi sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sender) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan, media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan pengajaran di sekolah.&lt;br /&gt;Mengenai fungsi media itu sendiri pada mulanya kita hanya mengenal media sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni yang memberikan pengalaman visual pada anak dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang komplek dan abstrak menjadi lebih sederhana, kongkret, mudah dipahami. Dewasa ini dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan, maka media pembelajaran berfungsi sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.&lt;br /&gt;b. Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi kongkret).&lt;br /&gt;c. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).&lt;br /&gt;d. Semua indera murid dapat diaktifkan.&lt;br /&gt;e. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.&lt;br /&gt;f. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsepsi semakin mantap fungsi media dalam kegiatan mengajar tidak lagi peraga dari guru melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Hal demikian pusat guru berpusat pada pengembangan dan pengolahan individu dan kegiatan belajar mengajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pendidik fungsi dan kemampuan media sangat penting artinya. Media merupakan integral dari sistem pembelajaran sebagai dasar kebijakan dalam pemilihan pengembanan, maupun pemanfaatan.&lt;br /&gt;Media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang gilirannya diharapkan mempertinggi hasil belajar yang hendak dicapai. Ada beberapa alasan media pembelajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa.&lt;br /&gt;Pertama, berkenaan dengan manfaat media pembelajaran, sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motifasi belajar.&lt;br /&gt;b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa.&lt;br /&gt;c. Metode pengajaran akan lebih variasi, tidak semata-mata komunikasi verbal.&lt;br /&gt;d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga punya aktifitas lain seperti mengamati, merumuskan, melakukan dan mendemonstrasikan.&lt;br /&gt;Kedua, penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar yang berkenaan dengan taraf pikir siswa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Berfikir siswa dimulai dari yang kongkret menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang komplek. Dalam hubungan ini penggunaan media pembelajaran berkaitan erat dengan tahapan-tahapan berfikir mereka sehingga tepat penggunaan media pembelajaran disesuaikan dengan kondisi mereka sehingga hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan.&lt;br /&gt;Menurut Ensiclopedi of Educational Reseach, nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalitas.&lt;br /&gt;b. Memperbesar perhatian siswa.&lt;br /&gt;c. Meletakkan dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu pelajaran lebih mantap.&lt;br /&gt;d. Memberikan pengalaman yang nyata.&lt;br /&gt;e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.&lt;br /&gt;f. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan bahasa.&lt;br /&gt;g. Memberikan pengalaman yang tidak diperoleh dengan cara yang lain.&lt;br /&gt;h. Media pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan murid.&lt;br /&gt;i. Media pendidikan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realita dan teliti.&lt;br /&gt;j. Media pendidikan membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan ditujukan untuk menghantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu tercermin baik dari segi intelek, moral maupun hubungannya dengan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dalam lingkungan sekolah akan dibimbing dan diarahkan oleh guru dan siswa berperan aktif.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Filsafat pendidikan memberikan kontribusi yang besar mengenai tujuan pendidikan, karena di dalam filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita yang mengatur tingkah laku atau perbuatan seseorang atau masyarakat. Dalam Undang-Undang Sistem Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3, disebutkan, bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.&lt;br /&gt;Berdasarkan pada uraian di atas maka tujuan pendidikan adalah:&lt;br /&gt;a. Memperbaiki mental, moral, budi pekerti memperkuat keyakinan agama.&lt;br /&gt;b. Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.&lt;br /&gt;c. Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.&lt;br /&gt;d. Membangun warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab&lt;br /&gt;Sebagai seorang pendidik, perumusan tujuan pembelajaran merupakan suatu hal yang pokok sebelum melakukan kegiatan pengajaran. Untuk meneruskan tujuan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Berorientasi pada kepentingan siswa, dengan bertitik tolak pada perubahan tingkah laku.&lt;br /&gt;b. Dinyatakan pada kata kerja yang operasional artinya menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Psikologi Belajar&lt;br /&gt;Pada umumnya belajar dapat kita lihat dari jenis pandangan, yakni tradisional dan pandangan modern. Pertama, pandangan tradisional, belajar adalah usaha memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan” memegang peranan yang penting dalam hidup manusia, pengetahuan adalah kekuasaan siapa saja yang memiliki banyak pengetahuan maka ia akan mendapat kekuasaan. Kedua, pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku perekat interaksi dengan lingkungannya. Seorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan demikian, belajar merupakan suatu keharusan untuk manusia agar memperoleh ilmu pengetahuan sebagai proses perubahan tingkah laku yakni berintelektual tinggi serta berakhlakul karimah.&lt;br /&gt;Untuk mencapai suatu tujuan pelajaran para ahli psikologi pendidikan telah merumuskan beberapa teori yang digolongkan menjadi tiga bagian.&lt;br /&gt;a. Teori Psikologi Daya atau formal disipline&lt;br /&gt;Teori ini menekankan pada daya-daya yang dimiliki oleh anak yakni daya mengingat, daya berfikir, daya mencipta, daya perasaan, dan daya kemauan. Untuk mengembangkan daya tersebut maka perlu dilatih. Misalnya, membentuk daya mengingat, maka para siswa perlu diberi latihan fakta-fakta, untuk melatih daya berfikir para siswa diberi hitungan yang berat-berat dan lain-lain. Yang pening dari teori ini menekankan pada faktor pembentukannya bukan pada faktor materi yang digunakan.&lt;br /&gt;b. Teori Psikologi Asosiasi&lt;br /&gt;Teori ini dikenal dengan sebutan S-R bond teory yakni teori ini stimulus response. Setiap stimulus menimbulkan jawaban tertentu misalnya 5 x 4 = 20, 5 x 4 adalah stimulus sedangkan 20 = response. Teori ini kemudian menjadi dasar tumbuhnya teori connectionisme yang mempunyai doktrin pokok “hubungan antara stimulus dan respon”. Asosiasi dibuat antara kesan-kesan penginderaan dan dorongan-dorongan untuk berbuat. Thorndike dengan S-R bond teori itu menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Hukum latihan atau prinsip use dan disuse. Apanbila hubungan itu sering dilatih ia akan lebih kuat.&lt;br /&gt;2) Hukum pengaruh, hubungan itu akan diperkuat atau diperlemah tergantung pada kepuasan atau ketidak senangan yang berkenaan pada penggunaannya.&lt;br /&gt;3) Hukum kesediaan atau kesiapan, apabila suatu ikatan untuk berbuat, perbuatan itu memberikan kepuasan, sebaliknya apabila tidak siap akan menimbulkan ketidak senangan.&lt;br /&gt;Implikasi dari teori itu dalam belajar adalah :&lt;br /&gt;1) Kelakuan belajar, adalah berkat pengaruh atau perbuatan yang dilakukan terhadap individu.&lt;br /&gt;2) Menjelaskan kelakuan dan motivasi secara mekanis.&lt;br /&gt;3) Kurang memperhatikan proses-proses mengenal dan berfikir.&lt;br /&gt;4) Mengutamakan pengalaman-pengalaman masa lampau.&lt;br /&gt;5) Menganggap bahwa situasi keseluruhan terdiri dari bagian-bagian.&lt;br /&gt;c. Belajar menurut psikologi gestalt&lt;br /&gt;Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur, unsur-unsur tersebut berada dalam keseluruhan menurut struktur tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain.&lt;br /&gt;Implikasi teori tersebut terhadap belajar antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Belajar dimulai dari keseluruhan.&lt;br /&gt;2) Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian.&lt;br /&gt;3) Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan.&lt;br /&gt;4) Anak belajar menggunakan pemahaman.&lt;br /&gt;5) Belajar merupakan rangkaian reorganisasi pengalaman.&lt;br /&gt;6) Hasil belajar meliputi semua aspek tingkah laku.&lt;br /&gt;7) Anak yang belajar merupakan keseluruhan bukan belajar pada otaknya saja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bentuk Media Pendidikan&lt;br /&gt;Sesuai dengan pemikiran di atas media pendidikan tidak terbatas pada alat-alat audio-visual yang dapat dilihat, didengar melainkan anak dapat melakukannya sendiri. Dalam hal ini maka tercakup pula di dalamnya pribadi dan tingkah laku guru.&lt;br /&gt;Secara menyeluruh, bentuk media pendidikan terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis)&lt;br /&gt;Misalnya buku, komik, koran, majalah, bulletin, folder, periodikal dan pamflet, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ini seperti :&lt;br /&gt;1) Media pendidikan tanpa proyeksi, misalnya papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan diagram, grafik, karton, komik, gambar.&lt;br /&gt;2) Media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan contoh, diorama, boneka, dan lain-lain.&lt;br /&gt;3) Media yang menggunakan teknik atau masinal.&lt;br /&gt;Alat-alat yang tergolong dalam kategori ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau instruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer.&lt;br /&gt;c. Sumber-sumber masyarakat&lt;br /&gt;Berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.&lt;br /&gt;d. Kumpulan benda-benda&lt;br /&gt;Berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain.&lt;br /&gt;e. Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru&lt;br /&gt;Meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Bacaan II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi komunikasi merupakan teknologi modern dalam bidang komunikasi dengan produk yang berupa peralatan elektronik dan bahan-bahan (sofware) yang disajikan telah mempengaruhi seluruh sektor kehidupan termasuk pendidikan dan teknologi komunikasi pendidikan itu mempunyaisuatu manfaat dalam mempengaruhi dan mengetahui hal–hal yang ada di sekitar dan diperuntukan kepada orang lain secara timbal balik, sehingga mampu untuk memecahkan suatu masalah dalam kehidupan seperti halnya di indonesia sarana yang cukup memadai dalam teknologi komunikasi adalah media radia, televisi dan lain–lain. Teknologi komunikasi dapat digunkan untuk menimbulkan kepekaan terhadap keadaan, nasip serta malapetaka yang menimpa pada suatu daerah, dengn adanya media teknologi komunikasi maka keadaan yang demikian dapat menimbulkan suatu respon dan rasa solidaritas (kesetiakawan) kepada orang lain apabila dalam pendidikan khuusnya pendidikan formal maka teknologi komunikasi seperti media komunikasi yang dijadikan pelengkap untuk menambah intlektual dan emosianal dalam pendidikan misal: OHP vidio, televisi maka selain itu haruslah ada teknologi kemunikasi yang lebih sentral atau menjadi pusat pengembangan dan pemahaman bagi anak didik yaitu seorang pendidik (guru) yang dapat memberikan suatu pesan atau amanah dalam menjadikan akan didik lebih dewasa, maka dari itu kami disini akan membahas tentang manfaat dari teknologi dalam pengembangan pendidikan.&lt;br /&gt;Komunikasi berasal dari bahasa latin : Communicatee yang berarti memberitahukan, berpartisipasi atau menjadi milik bersama, misalnya komunikasi diartikan : proses menyebarkan informasi, berita, pesan, pengetahuan atau nilai-nilai dengan maksud menggunakan partisipasi agar hal-hal yang disampaikan itu menjadi milik bersama antara komunikator (orang yang menyampaikan pesan) dan kemunikasi (orang yang menerima pesan).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dapat diartikan menjadi empat yaitu :&lt;br /&gt;1. Penerapan praktis merupakan suatu yang sudah diolah dan siap dipakai oleh para pelaksana dan penerima pendidikan tenru saja pada tingkatan dan tanggung jawab yang berbeda.&lt;br /&gt;Misalnya menerapkan produk elektronika seperti komputer, radio dan lain-lain dalam belajar mengajar&lt;br /&gt;2. Prinsip dan penemuan ilmu komunikasi baik pada diri manusia maupun pada mesin (peralatan) tetapi dalam pengertian “man machine system”&lt;br /&gt;3. Efisien dan efektif berarti dalam aplikasi prinsip dan penemuan itu tidak semata-mata merupakan komponen tambahan melainkan yang mempunyai peranan khusus dan menentukan adanya perubahan peranan pada komponen yang lain. Misal : tidak ada sekedar membantu guru (sebagai alat bantu mengajar yang sering kali hanya dipajang didepan kelas) melainkan menunjang guru dengan pedoman dan syarat penggunaan tertentu&lt;br /&gt;4. Proses pendidikan, bukan hanya yang berlangsung didalam kelas atau didalam sekolah saja melainkan yang berlangsung pada semua tingaktan (level) yaitu mulai dari proses kurikulum, perencanaan pengajaran sampai pelaksanaan interaksi dalam belajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi memegang peranan penting dalam pendidikan agar komunikasi antara guru dan siswa berlangsung baik dan informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa, guru perlu menggunakan media pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar melalui media terjadi bila ada komunikasi antara guru (sumber) dan murid (penerima).&lt;br /&gt;Selender (s)/sumber yaitu orang yang melakukan komunikasi atau memberi pesan. Message (m) yaitu isi pesan yang diberikan oleh sumber kepada penerima pesan. Sedangkan penerima pesan disebut reciver dan dilambangkan dengan R. Dalam proses itu sendiri baru terjadi setelah ada reaksi umpan balik (feed back) dalam hal ini penerima pesan (R) berubah fungsi sebagai selender sedangkan sumber menjadi receiver atau penerima pesan.&lt;br /&gt;Dalam proses / konsep teknologi pendidikan, tugas media bukan hanya sekedar mengkomunikasikan hubungan antara sumber (pengajar) dan sipenerima (si anak didik), namun lebih dari itu merupakan bagian yang integral dan saling mempunyai keterkaitan antara komponen yang satu dengan yang lainnya, saling berinteraksi dan saling mempengaruhi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø Pola-pola komunikasi dalam interaksi belajar mengajar (pendidikan)&lt;br /&gt;Pola komunikasi dalam interaksi pendidikan dibagi menjadi 2 bagian:&lt;br /&gt;(1). Pola komunikasi satu arah&lt;br /&gt;Seorang guru sebagai pusat belajar mengajar (teacher centered), guru menyampaikan pelajaran dengan berceramah sianak didik mendengarkan dan mencatat (si anak didik pasif) gurulah yang merencanakan, mengendalikan dan melaksanakan segala sesuatu.&lt;br /&gt;Tapi pola ini banyak kelemahan dibanding keuntungan, kelemahanya : suasana kelas kaku, guru cenderung otoriter sebab hubungan guru dengan si anak seperti majikan dengan bawahan, mengerti atau tidak mengertinya si anak didik tidak dengan cepat diktehu guru dan guru akan berbicara terus menerus.&lt;br /&gt;(2). Pola komunikasi dua arah&lt;br /&gt;Pada pola ini sianak didik memperoleh pengetahuan didalam kelas di bawah bimbingan guru atau dengan bantuan tenaga temannya sendiri, terjadilah suatu proses saling bertukar pikiran atau saling membero informasi yang mematangkan si anak didik dalam segala perbuatan belajar.&lt;br /&gt;Pola komunikasi dua arah ini terbagi menjadi 3 yaitu:&lt;br /&gt;(a). Jalur dua arah guru dan anak didik&lt;br /&gt;Si anak punya kesempatan untuk bertanya, mengajukan hadapan, keberatan atau tidak setuju tentang apa-apa yang disampaikan kepadanya, tentang apa-apa yang terjadi dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;(b). Jalur dua arah guru-anak didik dan anak berdampingan&lt;br /&gt;Jalur ini lebih memberi kesempatan lagi kepada anak didik tidak hanya kepada guru dia menanyakan dan mengemukakan pendapatnya, akan tetapi juga kepada teman-teman yang duduk di kiri-kanannya.&lt;br /&gt;(c). Jalur dua arah guru anak didik dan antara anak didik&lt;br /&gt;Ini dapat menghasilkan hasil belajar yang lebih berarti lebih berdaya guna, lebih berhasil guru pada diri anak didik dan masyarakat karena memberi kesempatan lagi pada anak didik dan masyarakat karena memberikesempatan lagi pada anak didik untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya tidak hanya kepada guru akan tetapi juga dapat antar anak didik.&lt;br /&gt;Dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak didik, guru/ pengajar haruslah tahu kriteria/karakteristik dari anak didiknya karena setiap individu itu mempunyai perbedaan adanya itu karena pengaruh:&lt;br /&gt;1. Pembawaan yaitu kepantasan intelegensi urat saraf dan benrtuk tubuh&lt;br /&gt;2. Lingkungan yaitu pengaruh dari luar yang mempengaruhi perkembangan anak. Misal: ekonomi keluarga, masalah keluarga.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selain pada pendidikan yang berkisar verbal maka ada bentuk-bentuk komunikasi lain yang bersifat non-verbal yang tidak kalah pentingnya untuk proses pendidikan/ pembelajaran yang bersifat formal, yaitu:&lt;br /&gt;(1). Para bahasa (paralanguage), komunikasi yang menggunakan, nada suara intonasi atau yang menyampaikan “pesan khusus”&lt;br /&gt;(2). Bahasa tanda (sign language), komunikasi yang menggunakan segala macam kodifikasi untuk mengganti biloangan tanda-tanda baca: kata-kata, menggunakan bahasa rambu&lt;br /&gt;(3). Bahasa perbuatan (action language), komunikasi yang menggunakan isyarat, ekspresi wajah dan gerakan-gerakan&lt;br /&gt;(4). Bahasa obejek (objek language), komunikasi yang menggunakan benda-benda tertentu yang mempunyai makna tertentu&lt;br /&gt;(5). Takfil (tacfil), komunikasi yang menggunakan rabaan atau pegangan (Sudjana &amp;amp; Rivai, 1989)&lt;br /&gt;Dari bentuk-bentuk komunikasi tersebut menunjukkan bahwa komunikasi dapat bersifat abstrak dan bersifat konkret tergantung pada media yang digunakan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Didalam teknologi kominikasi yang penerapannya dalam pendidikan banyak sekali aktivitasnya yaitu :&lt;br /&gt;- fasilitas dan media yang mengentarai transaksi dan informasi&lt;br /&gt;- metode pendidikan dimana fasilitas dan media merupakan komponen integral&lt;br /&gt;- serangkaian pilihan yang menghendaki adanya&lt;br /&gt;a. Perubahan fisik kelas&lt;br /&gt;b. Hubungan guru dan murid yang tidak langusng, artinya: bahwa ada media pelengkap untuk memberi suatu pengetahuan lebih dalam menangkap mata pelajaran&lt;br /&gt;c. Aktiviras murid yang relatif independent di kontrol guru&lt;br /&gt;d. Tenaga pembantu guru (juru ajar/para guru profesional)&lt;br /&gt;e. Perubahan peranan dan kecakapan guru yang diperlukan&lt;br /&gt;Kita lihat dari teknologi komunikasi yang non verbal dan sepertinya bias digunakan dalam komunikasi instruksional, komunikasi instruksional emr subset dari komunikasi secara keseluruhan yang bersifat metodis-teoritis, maksudnya kajian atau garapannya berpola tertentu sehingga akhirnya bisa diterapkan untuk kepentingan dilapangan, adapun manfaat adanya komunikasi instruksional yaitu: efek perubahan tingkah laku yang terjadi, sehingga hasil tindakan komunikasi instruksional bisa dikontrol atau dikendalikan digunakan baik misal : vidio dalam pengajaran, komputer untuk mengembanagkan ilmu yang lebih maju, tapi komunikasi instruksional juga lebih ditekankan kepada pola perencanaan dan pelaksanaan secara operasional yang didukung oleh teori-teori untuk keberhasilan efek perubahan perilaku pada pihak sasaran pelaksanaan tersebut yaitu : guru, dosen, penyulung, pembimbing.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hambatan-hambatan yang terjadi dalam pengembangan teknologi komunikasi pendidikan dipengaruhi aspek internal dan juga aspek eksternal, dan pada aspek internal yaitu ada beberapa faktor:&lt;br /&gt;Ø Hambatan pada sumber yaitu komunikator/guru&lt;br /&gt;- Hambatan kejiwaan/psikologis yaitu simpati, ketidak senangan, benci&lt;br /&gt;- Hambatan bahasa yaitu gangguan sematik yang berhubungan digunakan arti kata salah (bahasa/kata-kata yang belum dipahami)&lt;br /&gt;- Perbedaan pengalaman yaitu gangguan pada masalah kehidupan (penyampaian dari komunikator apa yang disampaikannya tentu tidak sebaik mereka yang mempunyai keahlian yang baik (kecongkakan, kurang motivasi, kurang pergaulan)&lt;br /&gt;Ø Hambatan pada media/alat komunikasi&lt;br /&gt;- Hambatan/gangguan pada saluran terjadi karena adanya ketidakberesan pada saluran komunikasi atau pada suasana sekitar berlangsungnya proses komunikasi dalam pendidikan&lt;br /&gt;Misalnya gangguan suara, tidak jelas/sakah teknis, gambar tidak jelas, dan lain-lain.&lt;br /&gt;- Hambatan pada komunikan terjadi pada pihak komuniktor atau pengajar dan media/saluran tetapi pihak sasaran pun bisa berpeluang untuk menghambat bahkan kemungkinan lebih besar dari yang lain (timbul kecurigaan) (menurut Cawley, 1982)&lt;br /&gt;Secara umumnya; Hambatan dalam komunikasi yang ditemui dalam proses belajar mengajar antara lain:&lt;br /&gt;1. Verbalisme, dimana guru menerangkan pelajaran hanya melalui kata-kata secara lisan (anak didik pasif)&lt;br /&gt;2. Perhatian yang bercabang yaitu perhatian murid tidak terpusat pada informasi yang disampaikan guru, tetapi bercabang perhatian lainnya.&lt;br /&gt;3. Kekacauan penafsiran, terjadi disebabkan adanya tangkap murid sehingga sering terjadi istilah-istilah yang sama diartikan berbeda-beda.&lt;br /&gt;4. Tidaka adanya tanggapan, yaitu murid-murid tidak merespon aktif apa yang disampiakan oleh guru, sehingga tidak terebntuk sikap yang diperlukan. Disini proses pemikiran tidak terbentuk sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;5. Kurang perhatian, disebabkan prosedur dan metode pengajaran kurang bervariasi, sehingga penyampaian informasi yang “monoton’ emnyebabkan kebosanan murid&lt;br /&gt;6. Kaadaan fisik dan lingkungan yang mengganggu, misal obyek nyg terlalu besar atau terlalu kecil, gerakan yang terlalu cepat atau terlalu lambat,dan obyek yang terlalu kompleks serta konsep yang terlalu luas,sehingga menyebapkan tanggapan murit menjadi mengambang.&lt;br /&gt;7. Sipat pasip anak didik yaitu tidak bergairahnya siswa dalam mengikuti pelajaran disebapan kesalahan memilih teknik komunikasi dalam pendidikan/ pengajarannya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hambatan di atas ada beberapa pelancar komunikasi, memperlancar itu dengan halnya:&lt;br /&gt;1. Kepercayaan/kredibilitas.&lt;br /&gt;2. Kewenangan yang adil.&lt;br /&gt;3. Kewibawaan.&lt;br /&gt;4. Kondisi tehnik yang baik.&lt;br /&gt;5. Penguasaan sematik/bahasa yang baik.&lt;br /&gt;6. Status sosial seseorang guru yang baik dan profesional.&lt;br /&gt;7. Menghindari lambang-lambang yang belum di pahami oleh penerima pesan.&lt;br /&gt;8. Penyajian yang di persiapkan secara mantap.&lt;br /&gt;9. Usaha untuk mengatasi ferbalisme ialah penggunaan media secara terinterigrasi dalam proses belajar mengajar, karena fungsi media dalam kegiatan tersebut disamping sebagai penyaji, stimulus informasi, sikap dan lain-lain, untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat teknologi komunikasi dalam pendidikan&lt;br /&gt;Masuknya teknologi komunikasi pendidikan dalam garis besarnya akan mempengaruhi strategi pengembangan kurikulum pola interaksi pendidikan dan lahirlah berbagai bentuk lembaga pendidikan, dalam hal ini media mempunyai peranan penting yang di laksanakan secara menyeluruh yaitu:&lt;br /&gt;1. Sumber media berupa orang saja ( kebanyakan terjadi pada madrasah sekarang ini) dalam pola interaksi ini guru kelas memegang penuh kendali atas berlangsungnya pengajaran dan bahkan pendidikan.&lt;br /&gt;2. Sumber berupa orang yang di bantu oleh sumber lain, maka guru masih memegang kontrol hanya saja tidak mutlak, karena dia dibantu oleh sumber lain.&lt;br /&gt;3. Sumber orang bersama sumber lain berdasarkan suatu pembagian tanggung jawab (terdapat kontrol bersama) misalnya media mengontrol penyajian informasi serta efektifitas penerimaan pesan sedang guru kelas mengontrol disiplin dan kegairahan belajar.&lt;br /&gt;4. Sumber lain/ media tanpa sumber berupa orang, keadaan ini terjadi dalam suatu pembelajaran melalui media, tetapi pelu diingat bahwa media tidaklah mendidik, media dipakai oleh guru untuk mencapai pengembangan anak didik. Berbagai bentuk lembaga pendidikan dapat lahir sebagai pengaruh tekkom, kelembagaan sistem belajar jarak jauh(BJJ) misalnya : merupakan suatu bentuk kelembagaan baru dibanding dengan bentuk yang sudah kita kenal semula. Pertumbuhan ke arah bentuk baru, secara teoritis dapat menuju ke arah terciptanya suatu ”jaringan belajar” (tearning network) yang tidak lagi merupakan suatu lembaga pendidikan, melainkan suatu suasana dimana sumber belajar dalam arti luas, tersedia untuk siapa saja yang mempunyai hasrat belajar. Pemanfaatan tekkom yang tampak secara nyata yaitu media/ alat. Media ini tidak terbatas pada yang dipersiapkan oleh guru kelas sendiri, melainkan yang lebih penting dipersiapkan oleh tiem pembelajaran yang terdiri ahli-ahli dalam bidangnya masing-masing pengajar .&lt;br /&gt;Di lihat dari segi penggunaan media ada tiga kecenderungan untuk penggunaan media yaitu:&lt;br /&gt;a. Dipakai secara massa yang meliputi radio, televisi, teleblackboard.&lt;br /&gt;b. Dipakai dalam kelakuan, baik kecil maupun besar seperti:proyektor film bingkai, overhead , kaset video, kaset suara.&lt;br /&gt;c. Dipakai secara individual seperti mesin belajar misalnya komputer.&lt;br /&gt;Kecenderungan/manfaat pendayagunaan telkom pada saat ini meliputi 5 kebutuhan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan mutu pelajaran secara langsung&lt;br /&gt;2. Melatih, menatar guru&lt;br /&gt;3. Memperluas jangkauan madrasah&lt;br /&gt;4. Pendidikan dasar dan buta huruf&lt;br /&gt;5. Pendidikan orang dewasa dan pembangunan masyarakat&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan teknologi komunikasi itu sedemikian penting peranannya dalam proses pendidikan dan belajar mengajar, karena itu efektivitasnya harus menjadi perhatian serius para praktisi pendidikan terutama guru. Agar proses komunikasi lebih efktif dan dengan demikian tujuan pendidikan tercapai secara optimal. Dan alat komunikasi juga penting sebagai pelengkap untuk mencapai pengembangan intelektual dan kreativitas anak didik dan hanya media yang akan mengontrol penyajian informasi bagi anak didiknya pula dan guru juga sebagai sumber sentral agar dapat memberi suatu pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Asnawir, Media Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.&lt;br /&gt;2. Benni Agus Pribadi, Media Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.&lt;br /&gt;3. Chabib Thoha, dkk (ed), PBM-PAI di Sekolah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.&lt;br /&gt;4. Dawit, M. Yusuf, Komunikasi pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 1990,&lt;br /&gt;5. Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan, Semarang: RoSail, 2005.&lt;br /&gt;6. Nasution, S., Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemars, 1983.&lt;br /&gt;7. Sudarman Danim, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.&lt;br /&gt;8. Sudjana, Nana, Media Pendidikan, Bandung: Sinar Baru, 1990.&lt;br /&gt;9. Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1984.&lt;br /&gt;10. Zahara Idris, Dasar-Dasar Pendidikan, Angkasa Raya, Padang, 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dr. H. Asnawir, Media Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dr. S. Nasution, Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemars, 1983.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Sudarman Danim, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ibid., h. 7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Ibid., h. 11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Drs. Benni Agus Pribadi, Media Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Ibid., h. 23-25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1984.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Dr. Nana Sudjana, Media Pendidikan, Bandung: Sinar Baru, 1990.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Ibid., h. 27-31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ibid., h. 1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ibid., h. 138.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Ibid., h. 40.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Ibid., h. 41-44.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Drs. Chabib Thoha, PBM-PAI di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, h. 254&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Yusuf Hadi Miarso, Teknolpgi Komunikasi pendidikan, CV. Rajawali, cet II, Jakarta, 1986, h. 168&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Prof. Dr. H. Asnawir dkk, Media Pembelajaran, Cipta Pers, Jakarta, 2002, h. 7 – 9&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Prof. Zahara Idris, MA., Dasar-Dasar Pendidikan, Angkasa Raya, Padang, 1981, h. 71 – 73&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Drs. Chabiab Thoaha, op.cit., h. 295&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Drs. Dawit, M. Yusuf, Komunikasi pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 1990, h. 11-12&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Prof.Dr. H. Asnawir, op cit ,h. 6.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-8012446130695366501?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/8012446130695366501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=8012446130695366501' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8012446130695366501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8012446130695366501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/media-pendidikan.html' title='Media Pendidikan'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-7378515323291250564</id><published>2008-01-04T07:08:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:09:26.289-08:00</updated><title type='text'>media pendidikan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MODUL DIKLAT SERTIFIKASI&lt;br /&gt;(Untuk Fasilitator)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;( 6 JPL )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A. PENGANTAR&lt;br /&gt;Dalam system pendidikan modern, fungsi guru sebagai penyampai pesan-pesan pendidikan tampaknya perlu dibantu dengan media pendidikan, agar proses belajar mengajar pada khususnya dan proses pendidikan pada umumnya dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Hal itu disebabkan antara lain, materi pendidikan yang akan disampaikan semakin beragam dan luas mengingat perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat. Dewasa ini guru bukanlah satu satu-satunya sumber belajar dan penyampai pesan-pesan pendidikan sebagaimana pernah terjadi sebelum tahun lima puluhan. Mulai tahun itu teori komunikasi social mulai masuk ke dalam pendidikan, terutama alat Bantu pandang dengar atau audio visual aid dan telah mulai digunakan dalam penyampaian pesan-pesan pendidikan. Media pendidikan ini tidak saja sebagai alat Bantu pendidikan, juga berfungsi sebagai penyalur pesan-pesan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TUJUAN&lt;br /&gt;Peserta dapat :&lt;br /&gt;1. Dapat menentukan langkah-langkah untuk memilih media pendidikan agama Islam yang tepat guna.&lt;br /&gt;2. Dapat menyebutkan kriteria yang tepat untuk memilih media pendidikan agama Islam yang digunakan.&lt;br /&gt;3. Dapat mempergunakan media pendidikan agama Islam yang sesuai dengan pokok bahasan yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PENGELOMPOKAN&lt;br /&gt;Peserta dikelompokkan sesuai dengan identifikasi masalah yang telah ditemukan dan tiap kelompok beranggota antara 4-5 peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MATERI, METODE &amp;amp; WAKTU&lt;br /&gt;MATERI&lt;br /&gt;Sehubungan dengan telah meluasnya pemakaian media pendidikan ini dalam proses belajar mengajar bidang studi pendidikan agama Islam, maka di bawah secara berturut-turut disampaikan dua sub pokok bahasan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Makna dan Fungsi media pendidikan bagi guru agama Islam,&lt;br /&gt;2. Pemanfaatan dan keterbatasan media pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODE&lt;br /&gt;Brainstorming, analisis konstektual, diskusi dan praktek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU&lt;br /&gt;2 JPL teori (90 menit)&lt;br /&gt;4 JPL praktek (180 menit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANDOUT&lt;br /&gt;Makalah nara sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. BAHAN DAN ALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tercipatnya proses pendidikan dan pelatihan yang memungkinkan tersalurkannya pengalaman peserta, maka dibutuhkan alat bantu/media pendidikan antara lain:&lt;br /&gt;1. Alat tulis (block note)&lt;br /&gt;2. Papan tulis / kertas plano, spidol, lakban (hindari warna merah, kuning atau hijau)&lt;br /&gt;3. Laptop&lt;br /&gt;4. LCD&lt;br /&gt;5. CD-CD model media pembelajaran&lt;br /&gt;Alat bantu lain yang penting adalah media simlasi sederhana dan mudah didapat, mudah diciptakan sendiri, dan cocok dengan materi yang akan disajikan. Alat bantu ini bissa berupa kliping koran, film, gambar-gambar, kertas warna-warni dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. LANGKAH KEGIATAN&lt;br /&gt;1. Fasilitator membuka sesi dengan mengajak peserta mengucapkan basmalah secara bersama-sama. Sampaikan pertanyaan ringan, “Apakah sudah siap bertempur lagi?”, atau pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jelaskan topic bahasan sesi ini, perlunya pembahasan dan target yang ingin dicapai. Jelaskan secara ringkas garis besar pembahasannya (15 menit).&lt;br /&gt;2. Ajaklah peserta melakukan eksplorasi pandangan mereka tentang media pembelajaran, kelebihan dan kekurangannya, manfaatnya dan pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajaran (30 menit).&lt;br /&gt;3. Mintalah masing-masing peserta untuk menyampaikan satu isu kekinian yang relevan dengan pemanfaatan media pembelajaran pendidikan agama Islam. Fasilitator melakukan list semua masukan yang mungkin dengan bahasa yang berbeda. Setelah semua peserta menyampaikan pendapatnya, tanyakan ke peserta apakah ada yang bisa dikelompokkan dalam wilayah isu yang sama? Lakukan pengelompokan jika itu mungkin dilakukan. Jika dianggap terlalu banyak, bisa ditawarkan kembali ke peserta, apakah harus semua didikskusikan atau bisa dipilih beberapa isu yang paling menonjol. Bagilah peserta sesuai dengan sebanyak usulan yang ada. Berilah point-point yang akan didiskusikan, misalnya latar belakang perlunya media dalam pembelajaran, macam-macam media dengan kelebihan dan kekurangannya, kendala-kendala dalam menggunakan media pembelajaran, bagaimana kondisi madrasah dan guru-guru agama dalam pemakaian media, bagaimana media dapat membuat belajar efektif dan efisien, dan sebagainya (45 menit)&lt;br /&gt;4. Mintalah masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Untuk menjaga kebosanan, presentasi dilakukan dengan model panel dan sekaligus mempraktekkan cara pemanfaatan media pembalajaran dengan topik tertentu yang dipilih oleh masing-masing kelopok (90 menit).&lt;br /&gt;5. Jika ada narasumber diposisikan sebagai pembahas dalam penel ini. Dengan demikian pembahasan menjadi lebih hidup dan terhindar dari regulasi murid-guru, yang mungkin saja menjadi tidak produktif (45 menit).&lt;br /&gt;6. Tanyakan kepada peserta, apakah sudah ada pemahaman tentang pentingnya pemanfaatan media pembelajaran dengan pendekatan konektual teaching-learning. Tidak harus ada sepakat, tetapi setidaknya sudah terjadi refleksi dan pemahaman yang mendalam dari proses ini. Ajaklah peserta peserta bertepuk tangan atas keberhasilan diskusi yang cemerlang dan tutup dengan bersama-sama membaca alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. LEMBAR KERJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar kerja 1&lt;br /&gt;1. Lakukan Brainstorming tentang media pembelajaran, kelebihan dan kekurangannya, manfaatnya dan pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajaran&lt;br /&gt;2. Masing-masing peserta menyampaikan satu isu kekinian yang relevan dengan pemanfaatan media pembelajaran pendidikan agama Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar kerja 2&lt;br /&gt;Diskusikan pada masing-masing kelompok dan tulis hasilnya pada plif chart:&lt;br /&gt;1. Latar belakang perlunya media dalam pembelajaran,&lt;br /&gt;2. Macam-macam media dengan kelebihan dan kekurangannya,&lt;br /&gt;3. Kendala-kendala dalam menggunakan media pembelajaran,&lt;br /&gt;4. Kondisi madrasah dan guru-guru agama dalam pemakaian media,&lt;br /&gt;5. Bagaimana media dapat membuat belajar efektif dan efisien, dan sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar kerja 3&lt;br /&gt;Secara berkelompok peserta membuat skenario pemanfaatan media pembelajaran dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dengan mengambil Kompetensi Dasar sesuai dengan kelas kelompok masing-masing&lt;br /&gt;Kegiatan Pembelajaran&lt;br /&gt;Pengorganisasian&lt;br /&gt;Siswa&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. BAHAN BACAAN UNTUK TOOLKITS PESERTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Bacaan I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA DAN FUNGSI MEDIA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media pendidikan merupakan suatu alat atau perantara yang berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan murid menerima dan memahami pelajaran. Proses ini membutuhkan guru yang professional dan mampu menyelaraskan antara media pendidikan dan metode pendidikan.&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan serta perubahan sikap masyarakat membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Hal ini mendorong setiap lembaga pendidikan untuk mengembangkan lembaganya lebih maju dengan memanfaatkan teknologi modern dan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai media pembelajaran.&lt;br /&gt;Dari pemikiran di atas sudah jelas media pendidikan itu berkaitan dengan kemajuan suatu pendidikan yang meliputi sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Arti, fungsi dan nilai media pendidikan.&lt;br /&gt;2. Tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;3. Psikologi belajar.&lt;br /&gt;4. Bentuk media pendidikan.&lt;br /&gt;Pembahasan ini akan dimulai dari pengertian media pendidikan sebagai alat komunikasi.&lt;br /&gt;Alat komunikasi selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan majunya ilmu pengetahuan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kaitannya dengan media pendidikan mempunyai fungsi yang besar di berbagai kehidupan, baik di kehidupan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan seni kebudayaan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan pendidikan media komunikasi memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan maupun peningkatan mutu di suatu lembaga pendidikan. Dengan memakai media tersebut anak didik akan mudah mencerna dan memahami suatu pelajaran. Dengan demikian melalui pendekatan ilmiah sistematis, dan rasional tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai pendidikan tersebut guru memberikan peran yang penting untuk menghantarkan keberhasilan anak didik, oleh karenanya dibutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan murid, untuk menciptakan komunikasi yang baik dibutuhkan guru yang profesional yang mampu menyeimbangkan antara media pembelajaran dan metode pengajaran sehingga informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa dengan baik.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi tugas media bukan sebagai sekedar mengkomunikasikan hubungan antara pengajar dan murid namun lebih dari itu media merupakan bagian integral yang saling berkaitan antara komponen satu dengan komponen yang lain yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arti dan Fungsi Media Pendidikan&lt;br /&gt;Secara harfiah media diartikan “perantara” atau “pengantar”. AECT (Association for Educational Communication and Technology) mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Robert Hanick dan kawan-kawan (1986) mendefinisikan media adalah sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dalam sudut yang sama Kemp dan Dayton mengemukakan peran media dalam proses komunikasi sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sender) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan, media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan pengajaran di sekolah.&lt;br /&gt;Mengenai fungsi media itu sendiri pada mulanya kita hanya mengenal media sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni yang memberikan pengalaman visual pada anak dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang komplek dan abstrak menjadi lebih sederhana, kongkret, mudah dipahami. Dewasa ini dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan, maka media pembelajaran berfungsi sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.&lt;br /&gt;b. Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi kongkret).&lt;br /&gt;c. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).&lt;br /&gt;d. Semua indera murid dapat diaktifkan.&lt;br /&gt;e. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.&lt;br /&gt;f. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsepsi semakin mantap fungsi media dalam kegiatan mengajar tidak lagi peraga dari guru melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Hal demikian pusat guru berpusat pada pengembangan dan pengolahan individu dan kegiatan belajar mengajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pendidik fungsi dan kemampuan media sangat penting artinya. Media merupakan integral dari sistem pembelajaran sebagai dasar kebijakan dalam pemilihan pengembanan, maupun pemanfaatan.&lt;br /&gt;Media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang gilirannya diharapkan mempertinggi hasil belajar yang hendak dicapai. Ada beberapa alasan media pembelajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa.&lt;br /&gt;Pertama, berkenaan dengan manfaat media pembelajaran, sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motifasi belajar.&lt;br /&gt;b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa.&lt;br /&gt;c. Metode pengajaran akan lebih variasi, tidak semata-mata komunikasi verbal.&lt;br /&gt;d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga punya aktifitas lain seperti mengamati, merumuskan, melakukan dan mendemonstrasikan.&lt;br /&gt;Kedua, penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar yang berkenaan dengan taraf pikir siswa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Berfikir siswa dimulai dari yang kongkret menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang komplek. Dalam hubungan ini penggunaan media pembelajaran berkaitan erat dengan tahapan-tahapan berfikir mereka sehingga tepat penggunaan media pembelajaran disesuaikan dengan kondisi mereka sehingga hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan.&lt;br /&gt;Menurut Ensiclopedi of Educational Reseach, nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalitas.&lt;br /&gt;b. Memperbesar perhatian siswa.&lt;br /&gt;c. Meletakkan dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu pelajaran lebih mantap.&lt;br /&gt;d. Memberikan pengalaman yang nyata.&lt;br /&gt;e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.&lt;br /&gt;f. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan bahasa.&lt;br /&gt;g. Memberikan pengalaman yang tidak diperoleh dengan cara yang lain.&lt;br /&gt;h. Media pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan murid.&lt;br /&gt;i. Media pendidikan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realita dan teliti.&lt;br /&gt;j. Media pendidikan membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan ditujukan untuk menghantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu tercermin baik dari segi intelek, moral maupun hubungannya dengan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dalam lingkungan sekolah akan dibimbing dan diarahkan oleh guru dan siswa berperan aktif.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Filsafat pendidikan memberikan kontribusi yang besar mengenai tujuan pendidikan, karena di dalam filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita yang mengatur tingkah laku atau perbuatan seseorang atau masyarakat. Dalam Undang-Undang Sistem Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3, disebutkan, bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.&lt;br /&gt;Berdasarkan pada uraian di atas maka tujuan pendidikan adalah:&lt;br /&gt;a. Memperbaiki mental, moral, budi pekerti memperkuat keyakinan agama.&lt;br /&gt;b. Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.&lt;br /&gt;c. Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.&lt;br /&gt;d. Membangun warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab&lt;br /&gt;Sebagai seorang pendidik, perumusan tujuan pembelajaran merupakan suatu hal yang pokok sebelum melakukan kegiatan pengajaran. Untuk meneruskan tujuan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Berorientasi pada kepentingan siswa, dengan bertitik tolak pada perubahan tingkah laku.&lt;br /&gt;b. Dinyatakan pada kata kerja yang operasional artinya menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Psikologi Belajar&lt;br /&gt;Pada umumnya belajar dapat kita lihat dari jenis pandangan, yakni tradisional dan pandangan modern. Pertama, pandangan tradisional, belajar adalah usaha memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan” memegang peranan yang penting dalam hidup manusia, pengetahuan adalah kekuasaan siapa saja yang memiliki banyak pengetahuan maka ia akan mendapat kekuasaan. Kedua, pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku perekat interaksi dengan lingkungannya. Seorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan demikian, belajar merupakan suatu keharusan untuk manusia agar memperoleh ilmu pengetahuan sebagai proses perubahan tingkah laku yakni berintelektual tinggi serta berakhlakul karimah.&lt;br /&gt;Untuk mencapai suatu tujuan pelajaran para ahli psikologi pendidikan telah merumuskan beberapa teori yang digolongkan menjadi tiga bagian.&lt;br /&gt;a. Teori Psikologi Daya atau formal disipline&lt;br /&gt;Teori ini menekankan pada daya-daya yang dimiliki oleh anak yakni daya mengingat, daya berfikir, daya mencipta, daya perasaan, dan daya kemauan. Untuk mengembangkan daya tersebut maka perlu dilatih. Misalnya, membentuk daya mengingat, maka para siswa perlu diberi latihan fakta-fakta, untuk melatih daya berfikir para siswa diberi hitungan yang berat-berat dan lain-lain. Yang pening dari teori ini menekankan pada faktor pembentukannya bukan pada faktor materi yang digunakan.&lt;br /&gt;b. Teori Psikologi Asosiasi&lt;br /&gt;Teori ini dikenal dengan sebutan S-R bond teory yakni teori ini stimulus response. Setiap stimulus menimbulkan jawaban tertentu misalnya 5 x 4 = 20, 5 x 4 adalah stimulus sedangkan 20 = response. Teori ini kemudian menjadi dasar tumbuhnya teori connectionisme yang mempunyai doktrin pokok “hubungan antara stimulus dan respon”. Asosiasi dibuat antara kesan-kesan penginderaan dan dorongan-dorongan untuk berbuat. Thorndike dengan S-R bond teori itu menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Hukum latihan atau prinsip use dan disuse. Apanbila hubungan itu sering dilatih ia akan lebih kuat.&lt;br /&gt;2) Hukum pengaruh, hubungan itu akan diperkuat atau diperlemah tergantung pada kepuasan atau ketidak senangan yang berkenaan pada penggunaannya.&lt;br /&gt;3) Hukum kesediaan atau kesiapan, apabila suatu ikatan untuk berbuat, perbuatan itu memberikan kepuasan, sebaliknya apabila tidak siap akan menimbulkan ketidak senangan.&lt;br /&gt;Implikasi dari teori itu dalam belajar adalah :&lt;br /&gt;1) Kelakuan belajar, adalah berkat pengaruh atau perbuatan yang dilakukan terhadap individu.&lt;br /&gt;2) Menjelaskan kelakuan dan motivasi secara mekanis.&lt;br /&gt;3) Kurang memperhatikan proses-proses mengenal dan berfikir.&lt;br /&gt;4) Mengutamakan pengalaman-pengalaman masa lampau.&lt;br /&gt;5) Menganggap bahwa situasi keseluruhan terdiri dari bagian-bagian.&lt;br /&gt;c. Belajar menurut psikologi gestalt&lt;br /&gt;Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur, unsur-unsur tersebut berada dalam keseluruhan menurut struktur tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain.&lt;br /&gt;Implikasi teori tersebut terhadap belajar antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Belajar dimulai dari keseluruhan.&lt;br /&gt;2) Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian.&lt;br /&gt;3) Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan.&lt;br /&gt;4) Anak belajar menggunakan pemahaman.&lt;br /&gt;5) Belajar merupakan rangkaian reorganisasi pengalaman.&lt;br /&gt;6) Hasil belajar meliputi semua aspek tingkah laku.&lt;br /&gt;7) Anak yang belajar merupakan keseluruhan bukan belajar pada otaknya saja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bentuk Media Pendidikan&lt;br /&gt;Sesuai dengan pemikiran di atas media pendidikan tidak terbatas pada alat-alat audio-visual yang dapat dilihat, didengar melainkan anak dapat melakukannya sendiri. Dalam hal ini maka tercakup pula di dalamnya pribadi dan tingkah laku guru.&lt;br /&gt;Secara menyeluruh, bentuk media pendidikan terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis)&lt;br /&gt;Misalnya buku, komik, koran, majalah, bulletin, folder, periodikal dan pamflet, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ini seperti :&lt;br /&gt;1) Media pendidikan tanpa proyeksi, misalnya papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan diagram, grafik, karton, komik, gambar.&lt;br /&gt;2) Media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan contoh, diorama, boneka, dan lain-lain.&lt;br /&gt;3) Media yang menggunakan teknik atau masinal.&lt;br /&gt;Alat-alat yang tergolong dalam kategori ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau instruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer.&lt;br /&gt;c. Sumber-sumber masyarakat&lt;br /&gt;Berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.&lt;br /&gt;d. Kumpulan benda-benda&lt;br /&gt;Berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain.&lt;br /&gt;e. Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru&lt;br /&gt;Meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Bacaan II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi komunikasi merupakan teknologi modern dalam bidang komunikasi dengan produk yang berupa peralatan elektronik dan bahan-bahan (sofware) yang disajikan telah mempengaruhi seluruh sektor kehidupan termasuk pendidikan dan teknologi komunikasi pendidikan itu mempunyaisuatu manfaat dalam mempengaruhi dan mengetahui hal–hal yang ada di sekitar dan diperuntukan kepada orang lain secara timbal balik, sehingga mampu untuk memecahkan suatu masalah dalam kehidupan seperti halnya di indonesia sarana yang cukup memadai dalam teknologi komunikasi adalah media radia, televisi dan lain–lain. Teknologi komunikasi dapat digunkan untuk menimbulkan kepekaan terhadap keadaan, nasip serta malapetaka yang menimpa pada suatu daerah, dengn adanya media teknologi komunikasi maka keadaan yang demikian dapat menimbulkan suatu respon dan rasa solidaritas (kesetiakawan) kepada orang lain apabila dalam pendidikan khuusnya pendidikan formal maka teknologi komunikasi seperti media komunikasi yang dijadikan pelengkap untuk menambah intlektual dan emosianal dalam pendidikan misal: OHP vidio, televisi maka selain itu haruslah ada teknologi kemunikasi yang lebih sentral atau menjadi pusat pengembangan dan pemahaman bagi anak didik yaitu seorang pendidik (guru) yang dapat memberikan suatu pesan atau amanah dalam menjadikan akan didik lebih dewasa, maka dari itu kami disini akan membahas tentang manfaat dari teknologi dalam pengembangan pendidikan.&lt;br /&gt;Komunikasi berasal dari bahasa latin : Communicatee yang berarti memberitahukan, berpartisipasi atau menjadi milik bersama, misalnya komunikasi diartikan : proses menyebarkan informasi, berita, pesan, pengetahuan atau nilai-nilai dengan maksud menggunakan partisipasi agar hal-hal yang disampaikan itu menjadi milik bersama antara komunikator (orang yang menyampaikan pesan) dan kemunikasi (orang yang menerima pesan).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dapat diartikan menjadi empat yaitu :&lt;br /&gt;1. Penerapan praktis merupakan suatu yang sudah diolah dan siap dipakai oleh para pelaksana dan penerima pendidikan tenru saja pada tingkatan dan tanggung jawab yang berbeda.&lt;br /&gt;Misalnya menerapkan produk elektronika seperti komputer, radio dan lain-lain dalam belajar mengajar&lt;br /&gt;2. Prinsip dan penemuan ilmu komunikasi baik pada diri manusia maupun pada mesin (peralatan) tetapi dalam pengertian “man machine system”&lt;br /&gt;3. Efisien dan efektif berarti dalam aplikasi prinsip dan penemuan itu tidak semata-mata merupakan komponen tambahan melainkan yang mempunyai peranan khusus dan menentukan adanya perubahan peranan pada komponen yang lain. Misal : tidak ada sekedar membantu guru (sebagai alat bantu mengajar yang sering kali hanya dipajang didepan kelas) melainkan menunjang guru dengan pedoman dan syarat penggunaan tertentu&lt;br /&gt;4. Proses pendidikan, bukan hanya yang berlangsung didalam kelas atau didalam sekolah saja melainkan yang berlangsung pada semua tingaktan (level) yaitu mulai dari proses kurikulum, perencanaan pengajaran sampai pelaksanaan interaksi dalam belajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi memegang peranan penting dalam pendidikan agar komunikasi antara guru dan siswa berlangsung baik dan informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa, guru perlu menggunakan media pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar melalui media terjadi bila ada komunikasi antara guru (sumber) dan murid (penerima).&lt;br /&gt;Selender (s)/sumber yaitu orang yang melakukan komunikasi atau memberi pesan. Message (m) yaitu isi pesan yang diberikan oleh sumber kepada penerima pesan. Sedangkan penerima pesan disebut reciver dan dilambangkan dengan R. Dalam proses itu sendiri baru terjadi setelah ada reaksi umpan balik (feed back) dalam hal ini penerima pesan (R) berubah fungsi sebagai selender sedangkan sumber menjadi receiver atau penerima pesan.&lt;br /&gt;Dalam proses / konsep teknologi pendidikan, tugas media bukan hanya sekedar mengkomunikasikan hubungan antara sumber (pengajar) dan sipenerima (si anak didik), namun lebih dari itu merupakan bagian yang integral dan saling mempunyai keterkaitan antara komponen yang satu dengan yang lainnya, saling berinteraksi dan saling mempengaruhi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø Pola-pola komunikasi dalam interaksi belajar mengajar (pendidikan)&lt;br /&gt;Pola komunikasi dalam interaksi pendidikan dibagi menjadi 2 bagian:&lt;br /&gt;(1). Pola komunikasi satu arah&lt;br /&gt;Seorang guru sebagai pusat belajar mengajar (teacher centered), guru menyampaikan pelajaran dengan berceramah sianak didik mendengarkan dan mencatat (si anak didik pasif) gurulah yang merencanakan, mengendalikan dan melaksanakan segala sesuatu.&lt;br /&gt;Tapi pola ini banyak kelemahan dibanding keuntungan, kelemahanya : suasana kelas kaku, guru cenderung otoriter sebab hubungan guru dengan si anak seperti majikan dengan bawahan, mengerti atau tidak mengertinya si anak didik tidak dengan cepat diktehu guru dan guru akan berbicara terus menerus.&lt;br /&gt;(2). Pola komunikasi dua arah&lt;br /&gt;Pada pola ini sianak didik memperoleh pengetahuan didalam kelas di bawah bimbingan guru atau dengan bantuan tenaga temannya sendiri, terjadilah suatu proses saling bertukar pikiran atau saling membero informasi yang mematangkan si anak didik dalam segala perbuatan belajar.&lt;br /&gt;Pola komunikasi dua arah ini terbagi menjadi 3 yaitu:&lt;br /&gt;(a). Jalur dua arah guru dan anak didik&lt;br /&gt;Si anak punya kesempatan untuk bertanya, mengajukan hadapan, keberatan atau tidak setuju tentang apa-apa yang disampaikan kepadanya, tentang apa-apa yang terjadi dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;(b). Jalur dua arah guru-anak didik dan anak berdampingan&lt;br /&gt;Jalur ini lebih memberi kesempatan lagi kepada anak didik tidak hanya kepada guru dia menanyakan dan mengemukakan pendapatnya, akan tetapi juga kepada teman-teman yang duduk di kiri-kanannya.&lt;br /&gt;(c). Jalur dua arah guru anak didik dan antara anak didik&lt;br /&gt;Ini dapat menghasilkan hasil belajar yang lebih berarti lebih berdaya guna, lebih berhasil guru pada diri anak didik dan masyarakat karena memberi kesempatan lagi pada anak didik dan masyarakat karena memberikesempatan lagi pada anak didik untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya tidak hanya kepada guru akan tetapi juga dapat antar anak didik.&lt;br /&gt;Dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak didik, guru/ pengajar haruslah tahu kriteria/karakteristik dari anak didiknya karena setiap individu itu mempunyai perbedaan adanya itu karena pengaruh:&lt;br /&gt;1. Pembawaan yaitu kepantasan intelegensi urat saraf dan benrtuk tubuh&lt;br /&gt;2. Lingkungan yaitu pengaruh dari luar yang mempengaruhi perkembangan anak. Misal: ekonomi keluarga, masalah keluarga.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selain pada pendidikan yang berkisar verbal maka ada bentuk-bentuk komunikasi lain yang bersifat non-verbal yang tidak kalah pentingnya untuk proses pendidikan/ pembelajaran yang bersifat formal, yaitu:&lt;br /&gt;(1). Para bahasa (paralanguage), komunikasi yang menggunakan, nada suara intonasi atau yang menyampaikan “pesan khusus”&lt;br /&gt;(2). Bahasa tanda (sign language), komunikasi yang menggunakan segala macam kodifikasi untuk mengganti biloangan tanda-tanda baca: kata-kata, menggunakan bahasa rambu&lt;br /&gt;(3). Bahasa perbuatan (action language), komunikasi yang menggunakan isyarat, ekspresi wajah dan gerakan-gerakan&lt;br /&gt;(4). Bahasa obejek (objek language), komunikasi yang menggunakan benda-benda tertentu yang mempunyai makna tertentu&lt;br /&gt;(5). Takfil (tacfil), komunikasi yang menggunakan rabaan atau pegangan (Sudjana &amp;amp; Rivai, 1989)&lt;br /&gt;Dari bentuk-bentuk komunikasi tersebut menunjukkan bahwa komunikasi dapat bersifat abstrak dan bersifat konkret tergantung pada media yang digunakan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Didalam teknologi kominikasi yang penerapannya dalam pendidikan banyak sekali aktivitasnya yaitu :&lt;br /&gt;- fasilitas dan media yang mengentarai transaksi dan informasi&lt;br /&gt;- metode pendidikan dimana fasilitas dan media merupakan komponen integral&lt;br /&gt;- serangkaian pilihan yang menghendaki adanya&lt;br /&gt;a. Perubahan fisik kelas&lt;br /&gt;b. Hubungan guru dan murid yang tidak langusng, artinya: bahwa ada media pelengkap untuk memberi suatu pengetahuan lebih dalam menangkap mata pelajaran&lt;br /&gt;c. Aktiviras murid yang relatif independent di kontrol guru&lt;br /&gt;d. Tenaga pembantu guru (juru ajar/para guru profesional)&lt;br /&gt;e. Perubahan peranan dan kecakapan guru yang diperlukan&lt;br /&gt;Kita lihat dari teknologi komunikasi yang non verbal dan sepertinya bias digunakan dalam komunikasi instruksional, komunikasi instruksional emr subset dari komunikasi secara keseluruhan yang bersifat metodis-teoritis, maksudnya kajian atau garapannya berpola tertentu sehingga akhirnya bisa diterapkan untuk kepentingan dilapangan, adapun manfaat adanya komunikasi instruksional yaitu: efek perubahan tingkah laku yang terjadi, sehingga hasil tindakan komunikasi instruksional bisa dikontrol atau dikendalikan digunakan baik misal : vidio dalam pengajaran, komputer untuk mengembanagkan ilmu yang lebih maju, tapi komunikasi instruksional juga lebih ditekankan kepada pola perencanaan dan pelaksanaan secara operasional yang didukung oleh teori-teori untuk keberhasilan efek perubahan perilaku pada pihak sasaran pelaksanaan tersebut yaitu : guru, dosen, penyulung, pembimbing.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hambatan-hambatan yang terjadi dalam pengembangan teknologi komunikasi pendidikan dipengaruhi aspek internal dan juga aspek eksternal, dan pada aspek internal yaitu ada beberapa faktor:&lt;br /&gt;Ø Hambatan pada sumber yaitu komunikator/guru&lt;br /&gt;- Hambatan kejiwaan/psikologis yaitu simpati, ketidak senangan, benci&lt;br /&gt;- Hambatan bahasa yaitu gangguan sematik yang berhubungan digunakan arti kata salah (bahasa/kata-kata yang belum dipahami)&lt;br /&gt;- Perbedaan pengalaman yaitu gangguan pada masalah kehidupan (penyampaian dari komunikator apa yang disampaikannya tentu tidak sebaik mereka yang mempunyai keahlian yang baik (kecongkakan, kurang motivasi, kurang pergaulan)&lt;br /&gt;Ø Hambatan pada media/alat komunikasi&lt;br /&gt;- Hambatan/gangguan pada saluran terjadi karena adanya ketidakberesan pada saluran komunikasi atau pada suasana sekitar berlangsungnya proses komunikasi dalam pendidikan&lt;br /&gt;Misalnya gangguan suara, tidak jelas/sakah teknis, gambar tidak jelas, dan lain-lain.&lt;br /&gt;- Hambatan pada komunikan terjadi pada pihak komuniktor atau pengajar dan media/saluran tetapi pihak sasaran pun bisa berpeluang untuk menghambat bahkan kemungkinan lebih besar dari yang lain (timbul kecurigaan) (menurut Cawley, 1982)&lt;br /&gt;Secara umumnya; Hambatan dalam komunikasi yang ditemui dalam proses belajar mengajar antara lain:&lt;br /&gt;1. Verbalisme, dimana guru menerangkan pelajaran hanya melalui kata-kata secara lisan (anak didik pasif)&lt;br /&gt;2. Perhatian yang bercabang yaitu perhatian murid tidak terpusat pada informasi yang disampaikan guru, tetapi bercabang perhatian lainnya.&lt;br /&gt;3. Kekacauan penafsiran, terjadi disebabkan adanya tangkap murid sehingga sering terjadi istilah-istilah yang sama diartikan berbeda-beda.&lt;br /&gt;4. Tidaka adanya tanggapan, yaitu murid-murid tidak merespon aktif apa yang disampiakan oleh guru, sehingga tidak terebntuk sikap yang diperlukan. Disini proses pemikiran tidak terbentuk sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;5. Kurang perhatian, disebabkan prosedur dan metode pengajaran kurang bervariasi, sehingga penyampaian informasi yang “monoton’ emnyebabkan kebosanan murid&lt;br /&gt;6. Kaadaan fisik dan lingkungan yang mengganggu, misal obyek nyg terlalu besar atau terlalu kecil, gerakan yang terlalu cepat atau terlalu lambat,dan obyek yang terlalu kompleks serta konsep yang terlalu luas,sehingga menyebapkan tanggapan murit menjadi mengambang.&lt;br /&gt;7. Sipat pasip anak didik yaitu tidak bergairahnya siswa dalam mengikuti pelajaran disebapan kesalahan memilih teknik komunikasi dalam pendidikan/ pengajarannya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hambatan di atas ada beberapa pelancar komunikasi, memperlancar itu dengan halnya:&lt;br /&gt;1. Kepercayaan/kredibilitas.&lt;br /&gt;2. Kewenangan yang adil.&lt;br /&gt;3. Kewibawaan.&lt;br /&gt;4. Kondisi tehnik yang baik.&lt;br /&gt;5. Penguasaan sematik/bahasa yang baik.&lt;br /&gt;6. Status sosial seseorang guru yang baik dan profesional.&lt;br /&gt;7. Menghindari lambang-lambang yang belum di pahami oleh penerima pesan.&lt;br /&gt;8. Penyajian yang di persiapkan secara mantap.&lt;br /&gt;9. Usaha untuk mengatasi ferbalisme ialah penggunaan media secara terinterigrasi dalam proses belajar mengajar, karena fungsi media dalam kegiatan tersebut disamping sebagai penyaji, stimulus informasi, sikap dan lain-lain, untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat teknologi komunikasi dalam pendidikan&lt;br /&gt;Masuknya teknologi komunikasi pendidikan dalam garis besarnya akan mempengaruhi strategi pengembangan kurikulum pola interaksi pendidikan dan lahirlah berbagai bentuk lembaga pendidikan, dalam hal ini media mempunyai peranan penting yang di laksanakan secara menyeluruh yaitu:&lt;br /&gt;1. Sumber media berupa orang saja ( kebanyakan terjadi pada madrasah sekarang ini) dalam pola interaksi ini guru kelas memegang penuh kendali atas berlangsungnya pengajaran dan bahkan pendidikan.&lt;br /&gt;2. Sumber berupa orang yang di bantu oleh sumber lain, maka guru masih memegang kontrol hanya saja tidak mutlak, karena dia dibantu oleh sumber lain.&lt;br /&gt;3. Sumber orang bersama sumber lain berdasarkan suatu pembagian tanggung jawab (terdapat kontrol bersama) misalnya media mengontrol penyajian informasi serta efektifitas penerimaan pesan sedang guru kelas mengontrol disiplin dan kegairahan belajar.&lt;br /&gt;4. Sumber lain/ media tanpa sumber berupa orang, keadaan ini terjadi dalam suatu pembelajaran melalui media, tetapi pelu diingat bahwa media tidaklah mendidik, media dipakai oleh guru untuk mencapai pengembangan anak didik. Berbagai bentuk lembaga pendidikan dapat lahir sebagai pengaruh tekkom, kelembagaan sistem belajar jarak jauh(BJJ) misalnya : merupakan suatu bentuk kelembagaan baru dibanding dengan bentuk yang sudah kita kenal semula. Pertumbuhan ke arah bentuk baru, secara teoritis dapat menuju ke arah terciptanya suatu ”jaringan belajar” (tearning network) yang tidak lagi merupakan suatu lembaga pendidikan, melainkan suatu suasana dimana sumber belajar dalam arti luas, tersedia untuk siapa saja yang mempunyai hasrat belajar. Pemanfaatan tekkom yang tampak secara nyata yaitu media/ alat. Media ini tidak terbatas pada yang dipersiapkan oleh guru kelas sendiri, melainkan yang lebih penting dipersiapkan oleh tiem pembelajaran yang terdiri ahli-ahli dalam bidangnya masing-masing pengajar .&lt;br /&gt;Di lihat dari segi penggunaan media ada tiga kecenderungan untuk penggunaan media yaitu:&lt;br /&gt;a. Dipakai secara massa yang meliputi radio, televisi, teleblackboard.&lt;br /&gt;b. Dipakai dalam kelakuan, baik kecil maupun besar seperti:proyektor film bingkai, overhead , kaset video, kaset suara.&lt;br /&gt;c. Dipakai secara individual seperti mesin belajar misalnya komputer.&lt;br /&gt;Kecenderungan/manfaat pendayagunaan telkom pada saat ini meliputi 5 kebutuhan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan mutu pelajaran secara langsung&lt;br /&gt;2. Melatih, menatar guru&lt;br /&gt;3. Memperluas jangkauan madrasah&lt;br /&gt;4. Pendidikan dasar dan buta huruf&lt;br /&gt;5. Pendidikan orang dewasa dan pembangunan masyarakat&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan teknologi komunikasi itu sedemikian penting peranannya dalam proses pendidikan dan belajar mengajar, karena itu efektivitasnya harus menjadi perhatian serius para praktisi pendidikan terutama guru. Agar proses komunikasi lebih efktif dan dengan demikian tujuan pendidikan tercapai secara optimal. Dan alat komunikasi juga penting sebagai pelengkap untuk mencapai pengembangan intelektual dan kreativitas anak didik dan hanya media yang akan mengontrol penyajian informasi bagi anak didiknya pula dan guru juga sebagai sumber sentral agar dapat memberi suatu pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Asnawir, Media Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.&lt;br /&gt;2. Benni Agus Pribadi, Media Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.&lt;br /&gt;3. Chabib Thoha, dkk (ed), PBM-PAI di Sekolah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.&lt;br /&gt;4. Dawit, M. Yusuf, Komunikasi pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 1990,&lt;br /&gt;5. Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan, Semarang: RoSail, 2005.&lt;br /&gt;6. Nasution, S., Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemars, 1983.&lt;br /&gt;7. Sudarman Danim, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.&lt;br /&gt;8. Sudjana, Nana, Media Pendidikan, Bandung: Sinar Baru, 1990.&lt;br /&gt;9. Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1984.&lt;br /&gt;10. Zahara Idris, Dasar-Dasar Pendidikan, Angkasa Raya, Padang, 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dr. H. Asnawir, Media Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dr. S. Nasution, Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemars, 1983.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Sudarman Danim, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ibid., h. 7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Ibid., h. 11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Drs. Benni Agus Pribadi, Media Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Ibid., h. 23-25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1984.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Dr. Nana Sudjana, Media Pendidikan, Bandung: Sinar Baru, 1990.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Ibid., h. 27-31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ibid., h. 1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ibid., h. 138.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Ibid., h. 40.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Ibid., h. 41-44.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Drs. Chabib Thoha, PBM-PAI di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, h. 254&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Yusuf Hadi Miarso, Teknolpgi Komunikasi pendidikan, CV. Rajawali, cet II, Jakarta, 1986, h. 168&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Prof. Dr. H. Asnawir dkk, Media Pembelajaran, Cipta Pers, Jakarta, 2002, h. 7 – 9&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Prof. Zahara Idris, MA., Dasar-Dasar Pendidikan, Angkasa Raya, Padang, 1981, h. 71 – 73&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Drs. Chabiab Thoaha, op.cit., h. 295&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Drs. Dawit, M. Yusuf, Komunikasi pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 1990, h. 11-12&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Prof.Dr. H. Asnawir, op cit ,h. 6.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-7378515323291250564?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/7378515323291250564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=7378515323291250564' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7378515323291250564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7378515323291250564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/media-pendidikan_04.html' title='media pendidikan'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-8785326991263879685</id><published>2008-01-02T01:01:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:08:41.121-08:00</updated><title type='text'>ESQ</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#66ffff;"&gt;ESQ (EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#66ffff;"&gt;*)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Drs.Fatah Syukur, M.Ag.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;**)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluq Allah yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia dibuktikan dengan keberadaan akal fikiran atau kecerdasan (intelligence) dalam struktur tubuh manusia. Kecerdasan manusia memiliki kompleksitas yang sangat rumit dan canggih yang membedakannya dengan kecerdasan yang dimiki oleh makhluk lain, seperti bianatang dan tumbuhan. Dalam diri manusia terdapat beraneka ragam kecerdasan (multiple intelligences) yang hingga kini masih menjadi bahan penelitian yang tiada habisnya bagi para ahli syaraf dan psikologi. Belakangan ditemukan beberapa jenis kecerdasan manusia, selain kecerdasan intelektual (IQ) yang telah lama diteliti orang, yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), serta kecerdasan-kecerdasan yang lainya. Berikut akan dibahas secara sekilas dua jenis kecerdasan yang saat ini hangat dibicarakan yaitu EQ dan SQ yang kemudian disingkat ESQ.&lt;br /&gt;Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Kecerdasan emosi akan menunjuk kepada suatu kemampuan untuk memahami perasaan diri masing-masing dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri, dan menata dengan baik emosi-emosi yang muncul dalam dirinya dan dalam berhubungan dengan orang lain. Sehingga tidak salah jika para ahli ilmu jiwa mengatakan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) itu hanya mempunyai peran 20% dalam keberhasilan hidup manusia. Sedangkan sisannya yaitu 80% akan ditentukan oleh faktor-faktor lain, termasuk di dalamnya faktor yang terpenting adalah kecerdasan emosi (EI). Bahkan Goleman dkk menyebutkan bahwa kecerdasnan kognitif itu hanya mempunyai peran kedua setelah kecerdasan emosi, dalam menentukan puncak prestasi dalam pekerjaan seseorang.&lt;br /&gt;Kecerdasan emosi memiliki lima unsur pokok yang dibagi dua unsur kecakapan yang harus dibangkitkan secara optimal :&lt;br /&gt;1. Kecakapan Pribadi (Personal Competence) yang meliputi:&lt;br /&gt;a. Kesadaran Diri (Self – Awareness), mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusaan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Adapun unsur kesadaran diri yang harus diketahui adalah: a). Kesadaran emosi (emotional awareness), yaitu mengenali emosi diri sendiri dan efeknya. b). Penilaian diri secara teliti (accurate self-assessment), yaitu mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri. c). Percaya diri ( self confidence), yaitu keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri&lt;br /&gt;b. Pengaturan Diri (Self Regulation), yaitu menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas; peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran; mampu segera pulih kembali dari tekanan emosi. Upaya pengaturan diri ini akan optimal jika didukung oleh : a). Kendali diri (Self Control), yaitu mampu mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang merusak. b). Sifat dapat dipercaya (Trustworthiness), yaitu kemampuan untuk memelihara norma kejujuran dan integritas. c). Kehati-hatian (Conscientiousness), adalah bertanggung jawab atas kinerja pribadi, tidak menyalahkan orang lain. d). Adaptabilitas (Adaptability), yaitu keluwesan dalam menghadapi perubahan, tidak kaku atau bisa menerima perubahan positif. e). Inovasi (Innovation), yaitu mudah menerima perubahan dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru.&lt;br /&gt;c. Motivasi (Motivation), adalah menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambl inisiatif dan bertidak sangat efektif,serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. Ada empat kemampuan motivasi yang umumnya dimiliki seseorang, diantaranya adalah : a). Dorongan berprestasi, yaitu dorongan untuk meningkatkan kemampuan untuk memenuhi standard keunggulan. b). Komitmen, menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga. c). Inisiatif, adalah kesiapan untuk memanfaatkan kesempat. d). Optimisme, adalah kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada beberapa halangan dan suatu ketika kemungkinan kegagalan.&lt;br /&gt;2. Kecakapan Sosial (Social Competence) yang meliputi :&lt;br /&gt;a) Empati (Empathy), adalah merasakan yang dirasakan orang lan, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang. Empati ada tiga macam: 1) Empati kognitif; mengetahui emosi atau suasana hati orang lain. 2) Empati partisipatoris; masuk ke dalam pengalaman subyektif orang lain. 3) Empati afektif; melakukan sesuatu seolah-olah ia berada dalam posisi orang itu : Membangkitkan “emosi” orang lain / memberikan alternative yang lebih baik.&lt;br /&gt;Ciri-ciri empati:&lt;br /&gt;1. Ikut merasakan (sharing feeling), kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain.&lt;br /&gt;2. Dibangun berdasarkan kesadaran diri.&lt;br /&gt;3. Peka terhadap bahasa isyarat.&lt;br /&gt;4. Mengambil peran atau prilaku konkrit (role taking).&lt;br /&gt;5. Kontrol emosi, menyadari dirinya sedang berempati, tidak larut.&lt;br /&gt;Menurut Golmen ada lima kemampuan empati yang umumnya dimiliki oleh seseorang, yakni:&lt;br /&gt;1. Memahami orang lain (understanding others), yaitu mengidra perasaan perasaan dan perspektif orang lain serta menunjukkan minat-minat terhadap kepentingan-kepentingan mereka.&lt;br /&gt;2. Mengembangkan orang lain (developing others), yaitu mengindra kebutuhan orang lain untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan mereka.&lt;br /&gt;3. Orientasi pelayanan (service orientation), yaitu mengantisipasi, mengakui dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan.&lt;br /&gt;4. Memanfaatkan keragaman (leveraging diversity) , yaitu menumbuhkan kesempatan-kesempatan melalui keragaman pada banyak orang.&lt;br /&gt;5. Kesadaran politik (political awareness), yaitu membaca kecenderungan politik yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;b) Ketrampilan Sosial (Social Skill), adalah memahami emosi dengan baik, baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan social; berinteraksi dengan lancer; menggunakan ketrampilan-ketrampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaika perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim. Ada delapan masalah utama yang dihadapi dalam hubungan ~ yaitu:&lt;br /&gt;- Egoisme dan konfrontasi&lt;br /&gt;- Tidak adanya kasih sayang dan kelembutan&lt;br /&gt;- Tidak adanya rasa hormat dan saling menolong&lt;br /&gt;- Mementingkan kepentingan sendiri&lt;br /&gt;- Tidak adanya keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan&lt;br /&gt;- Tidak mengenal kompromi dan mengabaikan kesalahan&lt;br /&gt;- Perasaan tertekan secara emosional&lt;br /&gt;- Kepincangan antara harapan pibadi dan karier.&lt;br /&gt;Untuk membangun hubungan sosial yang harmonis hendaknya memperhatikan dua hal . Pertama, citra diri, maksudnya mempersiapkan diri untuk membangun hubungan sosial. Kedua, kemampuan komunikasi, yakni keberhasilan untuk menjalin hubungan antar personal.&lt;br /&gt;Ada enam kata kunci dalam menjaga hubungan agar tetap hamonis, yaitu :&lt;br /&gt;1. Affection (kasih sayang) : sikap tanpa pamrih, ketulusan untuk menolong.&lt;br /&gt;2. Appreciation (penghargaan): menghargai orang lain sebagaimana adanya.&lt;br /&gt;3. Acknowledgment (pengakuan): mengakui nilai-nilai individualitas seseorang.&lt;br /&gt;4. Absolute (kemutlakan): komitmen secara mutlak untuk menjaga hubungan.&lt;br /&gt;5. Acceptance (penerimaan): memberi kesempatan orang lain untuk berkembang tanpa harus membahayakan hubungan.&lt;br /&gt;6. Action (tindakan) : senantiasa mejaga dan meningkatkan hubungan agar harmonis.&lt;br /&gt;Menurut Golmen, ada lima kecakapan empati yang sebaiknya dimiliki setiap orang yaitu :&lt;br /&gt;1. Pengaruh (influence), yaitu terampil menggunakan taktik untuk melakukan persuasi.&lt;br /&gt;2. Komunikasi (communication), yaitu mendengarkan secara terbuka dan mengirimkan pesan secara meyakinkan.&lt;br /&gt;3. Manajemen konfilk (conflict management), yakni merundingkan dan menyelesaikan ketidaksepakatan.&lt;br /&gt;4. Kepemimpinan (leadership), yaitu mengilhami dan membimbing individu atau kelompok.&lt;br /&gt;5. Katalisator perubahan (change catalyst) yaitu mengawali atau mengelola perubahan.&lt;br /&gt;6. Membangun hubungan (building bonds), yakni menumbuhkan hubungan yang bermanfaat.&lt;br /&gt;7. Kolaborasi dan kooperasi (collaboration and cooperation), yakni menjaga kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.&lt;br /&gt;8. Kemampuan tim ( team capabilities), menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan Spiritual&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan Neuropsikolog Michael Pessinger di awal tahun 1990-an, dqn Neurolog V.S. Ramachandran bersama timnya di Universitas California, telah menemukan keberadaan "titik Tuhan" (God spot) dalam lobus temporal pada otak manusia. Titik Tuhan itu merupakan pusat spiritual setiap insane. Keberadaan "Titik Tuhan" menunjukkan bahwa otak telah berkembang untuk menanyakan "pertanyaan-pertanyaan pokok", untuk memiliki dan menggunakan kepekaan terhadap makna dan nilai yang lebih luas.&lt;br /&gt;"Kehadiran" Tuhan di otak merupakan suatu hal yang sangat menarik. Bukan saja karena otak adalah CPU (Central Processing Unit)-nya manusia, melainkan juga karena isi dan fungsi otak merupakan pembentuk sejarah hidup pemiliknya maupun sejarah kehidupan itu sendiri. Ada tiga fungsi yang diperankan oleh otak dan membuatnya berbeda dengan yang lain: (1) fungsi emosi, (2) fungsi rasional, dan (3) fungsi spiritual.&lt;br /&gt;Terkait dengan fungsi yang ketiga, yaitu mencakup hal-hal yang bersifat supernatural dan religius. Fungsi ini hendak menegaskan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan. Keberadaan Tuhan ditampakkan dalam kesempurnaan jalinan dan jaringan saraf manusia.&lt;br /&gt;Kecerdasan Spiritual atau Spiritual Quotient (SQ), yang secara biologis dibuktikan dengan keberadaan "titik Tuhan" dalam struktur otak manusia, adalah kecerdasan yang berkaitan dengan hal-hal transenden, hal-hal yang mengatasi waktu dan ruang. Ia melampaui kekinian dan pengalaman manusia. Ia adalah bagian terdalam dan terpenting dari manusia. Ia menjadikan manusia cerdas secara spiritual dalam beragama. Ia juga membawa kita ke jantung segala sesuatu, ke kesatuan di balik perbedaan, ke potensi di balik ekspresi nyata. SQ mampu menghubungkan kita dengan makna dan ruh esensial dalam agama. Seseorang yang memiliki SQ yang tinggi mampu menjalankan ajaran agamanya secara optimal dan maksimal, namun tidak secara picik, eksklusif, fanatic, atau prasangka.&lt;br /&gt;Optimalisasi otak spiritual juga dapat membuat seseorang cerdas secara utuh. Paling tidak, terdapat tiga komponen hidup yang lahir darioptimalisasi itu: (1) kejernihan berpikir secara rasional, (2) kecakapan emosi, dan (3) ketenangan hidup. Ketenangan hidup merupakan hasil akhir yang paling tinggi nialinya dari otak spiritual. Sebab kecerdasan rasional dan kecakapan emosi tidak akan berarti apa-apa bila seseorang tidak memiliki ketenangan hidup. Melatih otak terus menerus dan membiasakannya untuk merenung akan membuat hati tenang dan bercahaya. Kecemasan dan ketegangan dapat dihilangkan dengan membiarkan otak menemukan dimensi spiritual yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Kegiatan berikut dapat mengoptimalkan otak spitual :&lt;br /&gt;Pertama, melihat secara utuh. Mana yang disebut mata batin? Jika mata lahir memiliki jalur saraf dan pusat penglihatan di otak, apakah demikian juga mata batin? Jawabannya, ya. Mata batin memiliki pusat di otak spiritual. Otak spiritual memadukan semua informasi yang diserap. Jika pohon yang dilihat, yang tampak adalah kepaduan dan kesatuan seluruh bagiannya. Melihat dengan mata batin berarti melihat secara utuh. Pengaktifan mata batin dan otak spiritual akan menghilangkan pikiran-pikiran fragmentaris. Lagi pula, banyak aspek yang dapat ditangkap dengan mata batin.&lt;br /&gt;Kedua, Melihat di balik penampilan objektif. Melihat dengan mata batin juga berarti melihat sesuatu dibalik penampakan fisik objektif merupakan fakta yang tak ditolak oleh mata batin. Jika seseorang melihat pohon, yang tampak adalah pohon dan segala kehidupan yang ada "di balik" pohon tersebut.&lt;br /&gt;Ketiga, luangkan waktu jeda 10 menit setiap hari. Tubuh fisik manusia sebenarnya tidak pernak beristirahat. Tidur tidak berarti organ tubuh maupun sel-sel tubuh beristirahat. Otak bahkan bekerja lebih aktif dalam mengonsolidasikan informasi justru ketika pemiliknya tidur. Sediakan waktu jeda dari kepenatan pekerjaan sehari-hari untuk men-charger otak spiritual. Berdiam diri di dalam kamar, derdzikir, dan bertafakur secara mendalam akan memperkuat otak spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relevansi ESQ Bagi Khatib&lt;br /&gt;Sosok khatib di era millennium ketiga, abad ke-21 dituntut untum memiliki kesalehan emosional dan spiritual, atau dengan kata lain, ia harus memiliki kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang tinggi. Seperti telah dijelaskan didepan, Emotional Quotient (EQ) berkaitan dengan bagaimana seseorang mampu memahami dirinya (intra persolan) dan orang lain (inter personal) dengan baik, sedangkan Spiritual Quotient (SQ) berkaitan dengan hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat transcendental atau nilai-nilai Ilahiyah dengan baik. ESQ terkait dengan perasaan, intuisi, dan Qalbu manusia. Semakin tinggi ESQ seseorang (khatib) maka akan semakin tajam perasaan, intuisi dan qalbunya, sehingga ia akan lebih tanggap dan peka terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan (humanity) dan ke-Ilahi-an (divinity).&lt;br /&gt;Sosok khatib ideal dambaan masa depan, akan mampu menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam secara arif dan bijaksana, dan disesuaikan dengan tuntutan zaman dan masyarakatnya. Kondisi ini akan terrealisir jika para khatib memiliki kecerdasan emosi dan spiritual yang prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Untuk meraih kesuksesan hidup bukan hanya ditentulcan oleh IQ (intelligence quotation) saja, akan tetapi justru lebih ditentukan oleh faktor~faktor lain, terutama EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cooper, Robert K, &amp;amp; Sawaf, Ayman, 1997, Executive EQ, Emotional Intelligence in Leadership and Organization, New York. Advanced Intelligence Technologies, LLC.&lt;br /&gt;Chang, Richard Y, 1999, Sukses Melalui Kerja Sama Tim, Jakarta, PT. Pustaka Binamnan Pressindo.&lt;br /&gt;Goleman, Daniel, 1995, Emotional Intelligence, New York, Bantam Books.&lt;br /&gt;Golleman, Daniel, 1998, Working with Emotional Intelligence, London: Bloomsbury Publishing Plc.&lt;br /&gt;Patton, Patricia, 1998, EQ Membangun Hubungan Jalan Menuju Kebahagiaan dan Kesejahteraan, alih bahasa Hermes, Jakarta : Pustaka Delapratasa.&lt;br /&gt;Supratiknya, A, 1995, Komunikasi Antar Pribadi, Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;Taufiq pasiak. Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al-Quran, Bandung: Mizan, 2003.&lt;br /&gt;Zohar, Danah., Ian Marshal. SQ; Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan (SQ: Spiritual Intelligence-The Ultimate Intelligence), terj. Rahmani Astuti dkk., Bandung: Mizan, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;*)&lt;/a&gt; Disampaikan dalam forum Penataran Khatib Muda se-Jawa Tengah, Yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Jateng bekerja sama dengan Pemda Tingkat I Jawa Tengah, di PLP Kesehatan Suwakul Ungaran, tanggal 16 September2003.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;**)&lt;/a&gt; Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Universitas Wahid Hasyim Semarang, Pengurus Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Jateng, dan Peneliti pada PMDC ( Pesantren and Madrasah Development Centre) Semarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-8785326991263879685?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/8785326991263879685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=8785326991263879685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8785326991263879685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/8785326991263879685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/esq.html' title='ESQ'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-7502537014060540423</id><published>2008-01-02T00:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:08:16.301-08:00</updated><title type='text'>Madrasah dan Peran Masyarakat</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;MADRASAH DAN PEMBERDAYAAN&lt;br /&gt;PERAN MASYARAKAT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;Oleh : Fatah Syukur&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;*)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Kehadiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia merupakan simbiosis mutualistis antara masyarakat Muslim dan madrasah itu sendiri. Secara historis kelahiran madrasah tidak bisa dilepaskan dari peran / partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan. Pendidikan madrasah di Indonesia yang lahir pada awal abad ke-20 dengan munculnya Madrasah Mambaul Ulum di Keraton Surakarta tahun 1905 dan Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad di Sumatera Barat tahun 1909 (Kuntowijoyo; 1994). Madrasah berdiri atas inisiatif dan realisasi dari pembaharuan Islam yang telah ada, yakni antara pengaruh pembaharuan Islam di Timur Tengah, pendidikan Barat dan tradisi pendidikan Islam di Indonesia (baca pesantren). Pembaharuan tersebut meliputi tiga hal, yaitu : usaha penyempurnaan sistem pendidikan pesantren, penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan menjembatani antara sistem pendidikan tradisional pesantren dan sistem pendidikan Barat (Karel Stenbrink, 1984).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, munculnya sistem pendidikan madrasah juga merupakan respon atas kebijakan dan politik pendidikan Hindia Belanda pada saat itu. Politik pendidikan Hindia Belanda yakni dengan membuka lebih luas kesempatan pendidikan bagi penduduk pribumi, yang semula hanya terbatas pada kaum bangsawan, disamping merupakan politik etik, balas budi, juga merupakan salah satu usaha pemerintah Hindia Belanda untuk menundukkan masyarakat pribumi melalui jalur pendidikan (Zamakhsyari Dhofier, 1984).&lt;br /&gt;Melihat fenomena ini, maka pada awal abad ke-20 dalam kehidupan pesantren terjadi suatu perubahan penting, yakni dimasukkannya system madrasah/klassikal ke dalam pesantren. Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan bahwa madrasah dalam batas-batas tertentu merupakan lembaga persekolahan ala Belanda yang diebri muatan agama. Hal ini dianggap sebagai imbangan terhadap pesatnya pertumbuhan sekolah-sekolah yang memakai system pendidikan Barat (Ensiklopedi Islam, 1993).&lt;br /&gt;Dinamika dan Problematika&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam sekarang ditempatkan sebagai pendidikan sekolah dalam sistem pendidikan nasional. Munculnya SKB 3 Menteri Tahun 1975 (Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Dalam Negeri) menandakan bahwa eksistensi madrasah cukup kuat beriringan dengan sekolah umum. Munculnya SKB 3 Menteri merupakan langkah positif untuk meningkatkan mutu madrasah; baik dari status, ijazah, maupun kurikulumnya. Pada awalnya SKB 3 Menteri tersebut juga dipermasalahkan karena komposisi pendidikan umum dan agama 70 % dan 30 %. Namun oleh Menteri Agama pada saat itu, Mukti Ali, dijelaskan bahwa dalam prakteknya kedua mata pelajaran tersebut dapat saling mengisi, sehingga sama-sama 100 % (Biografi Sosial-Politik Menteri-menteri Agama RI, 1998).&lt;br /&gt;Jauh sebelum SKB 3 Menteri tersebut, pemerintah telah meningkatkan penataan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal. Penataan itu antara lain; Keputusan Menteri Agama No. 1 Tahun 1952, yang berisi klasifikasi dan penjenjangan pendidikan madrasah. Berdasarkan keputusan itu, pendidikan di madrasah dilaksanakan dalam tiga tingkat, yaitu tingkat dasar 6 tahun (Madrasah Ibtidaiyah), tingkat menengah pertama 3 tahun (Madrasah Tsanawiyah), dan tingkat menengah atas 3 tahun (Madrasah Aliyah). Dalam peraturan ini disebutkan juga bahwa di ketiga tingkat madrasah tersebut minimal harus mengajarkan tiga mata pelajaran akademik yang diajarkan di sekolah umum dan mengikuti standar kurikulum Departemen Agama.&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 1958, Kementerian Agama mengusahakan pengembangan madrasah dengan memperkenalkan model Madrasah Wajib Belajar (MWB) yang ditempuh selama delapan tahun. Pendidikan Madrasah Wajib Belajar ini memuat kurikulum terpadu antara aspek keagamaan, pengetahuan umum, dan ketrampilan. Kendatipun demikian hasilnya belum optimal.&lt;br /&gt;Munculnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, memperjelas posisi madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas agama Islam. Madrasah Ibtidaiyah adalah Sekolah Dasar berciri khas Islam, Madrasah Tsanawiyah adalah SLTP berciri khas Islam dan Madrasah Aliyah adalah SMU berciri khas Islam. Konsekwensi dari semua itu adalah bahwa madrasah harus memberikan materi kurikulum minimal sama dengan materi kurikulum yang ada di sekolah umum.&lt;br /&gt;Upaya untuk meningkatkan kualitas dan keberadaan madrasah tersebut, dalam perkembangannya tidak pernah lepas dari probelmatika-problematika yang dihadapi. Sebagai suatu inovasi dalam Sistem Pendidikan Islam, ada beberapa problematika yang dihadapi oleh madrasah :&lt;br /&gt;1. Dengan inovasi struktur dan kurikulum yang diajarkan, madrasah seolah telah kehilangan akar sejarahnya, artinya keberadaan madrasah bukan merupakan kelanjutan dari pesantren, meskipun diakui bahwa pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan Islam pertama di Indonesia.&lt;br /&gt;2. Terdapat dualisme pemaknaan terhadap madrasah. Di satu sisi, madrasah diidentikkan dengan sekolah (umum) karena memiliki muatan kurikulum yang realtif sama dengan sekolah umum. Di sisi lain, madrasah dianggap sebagai pesantren dengan sistem pendidikan klassikal yang kemudian dikenal dengan madrasah diniyah.&lt;br /&gt;3. Muatan kurikulum yang relatif sama dengan muatan kurikulum di sekolah, menjadikan madrasah kurang memiliki jati diri sebagai lembaga yang mencetak ahli-ahli agama.&lt;br /&gt;4. Dengan penegerian beberapa madrasah yang ada, mengakibatkan berkurangnnya peran serta masyarakat terhadap madrasah. Ada suatu anggapan bahwa setelah dinegerikan, maka semua tanggungjawab berada pada pemerintah, sehingga masyarakat lepas sama sekali.&lt;br /&gt;5. Kendatipun status madrasah sudah disamakan dengan sekolah (umum), namun dalam realitasnya keberadaan madrasah tetap dianggap sebagai pendidikan kelas dua, baik dari segi kualitas akademik, maupun sarana dan dan prasarana.&lt;br /&gt;Otonomi dan desentralisasi Pendidikan&lt;br /&gt;Sering dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat terhadap otonomi daerah, maka sebagian besar urusan pemerintah akan didesentralisasikan kepada daerah setempat. Di antara urusan yang didesentralisasikan adalah masalah pendidikan.&lt;br /&gt;Adapun tujuan adanya desentralisasi adalah :&lt;br /&gt;1. Mengurangi beban pemerintah pusat, sekaligus juga mengurangi campur tangan pusat dalam hal-hal lokal dan memberi peluang untuk kordinasi di tingkat lokal.&lt;br /&gt;2. Meningkatkan pengertian rakyat serta dukungan mereka terhadap usaha pembangunan sosial ekonomi.&lt;br /&gt;3. Menyusun program-program perbaikan sosial ekonomi pada tingkat lokal agar lebih realistis.&lt;br /&gt;4. Melatih rakyat untuk bisa mengatur urusannya sendiri.&lt;br /&gt;(Emil J. Sady dalam Tjokroamidjaja, 1978).&lt;br /&gt;Dengan kebijakan desentralisasi tersebut, maka ada beberapa konsekwensi yang harus ditanggung, antara lain :&lt;br /&gt;1. Implikasi administrasi, yakni pemberian wewenang yang lebih luas kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan potensi.&lt;br /&gt;2. Implikasi kelembagaan, yakni kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas perencanaan dan pelaksanaan unit-unit daerah.&lt;br /&gt;3. Implikasi keuangan, yakni kebutuhan dana yang lebih besar bagi derah untuk dapat melaksanakan fungsinya di bidang pembangunan.&lt;br /&gt;4. Implikasi pendekatan perencanaan, yakni button-up dengan melibatkan peran serta masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam urusan pendidikan yang semula di-sentralisasi dari pusat, termasuk semua kurikulum ditentukan oleh pusat, maka pada saat otonomi sudah efektif dilaksanakan, kurikulum lokal justru lebih banyak. Sebagai konsekwensi lain dari sistem desentralisasi adalah juga masalah dana pendidikan. Bila pada saat sentralisasi dana pendidikan banyak dicover dari pusat, maka sekarang tergantung dari pemerintah daerah dan masyarakat. Community Based Education merupakan pendidikan yang berbasis masyarakat yang berkembang sebagai konsekwensi dari rencana otonomi daerah yang dengan sendirinya akan terdapat otonomi terhadap bidang lain termasuk pendidikan. Jika dilihat kaitannya dengan madrasah, maka sistem sentralisasi yang ada selama ini akan dirubah menjadi desentralisasi.&lt;br /&gt;Adapun hal-hal yang akan di desentralisasikan adalah :&lt;br /&gt;- Masalah yang menyangkut bidang akademik, di antaranya adalah masalah kurikulum yang harus disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing, demikian juga masalah EBTANAS yang kemungkinan nantinya akan diganti dengan ujian tersendiri di masing-masing madrasah. Khusus untuk tingkat SD/MI EBTANAS sudah dihapus. Sehingga praktis yang menyelenggarakan ujian akhir adalah lembaga masing-masing.&lt;br /&gt;- Masalah yang menyangkut bidang non akademik, seperti membuat perencanaan keuangan, administrasi, personalia dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam kerangka desentralisasi dan globalisasi, maka ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian :&lt;br /&gt;- Menata mental kita, yang semua hanya menerima matang, baik dana maupun kurikulum, harus dirubah dengan sikap mental suka memberi, menghasilkan dan berkreasi. Persoalan perubahan mentalitas ini sangat penting. Karena selama hampir 33 tahun kita selalu dibiasakan dengan budaya atas ‘petunjuk atasan’. Di negara ini hampir tidak ada ruang gerak untuk mengembangkan kreatifitas, semua harus atas persetujuan atasan. Guru mengajar harus sesuai petunjuk pusat. Demikian pula yang berhak mengevaluasi juga pusat, sehingga peran guru tidak lebih dari robot yang dimainkan oleh pusat. Akibatnya kita selalu terbiasa dengan menerima matang, karena memang tidak boleh meramu sendiri.&lt;br /&gt;- Meningkatkan kualitas akademik dengan membekali siswa terhadap kemampuan umum yang dapat menjadi alat dalam persaingan ke depan, misalnya bahasa Inggris dan sebagainya. Salah satu indicator keberhasilan sebuah lembaga pendidikan adalah bila alumninya dapat terserap dalam lapangan pekerjaan atau dapat melanjutkan di sekolah/perguruan tinggi yang favorit. Untuk itu, maka peningkatan kualitas akademik mutlak dilaksanakan.&lt;br /&gt;- Perlu dipersiapkan guru-guru yang berkualitas, personalia yang profesional dan menunjang terhadap desentralisasi ini. Sumber daya manusia yang mengelola sebuah lembaga adalah kunci keberhasilan lembaga itu sendiri. Untuk itu, maka lembaga harus memeberikan dukungan kepada guru dan pegawai agar lebih berkualitas melalui peningkatan pelatihan, peningkatan pendidikan dan ruang gerak yang lebih kreatif.&lt;br /&gt;- Perlu peran serta BP-3 secara maksimal. BP3 bukan hanya sekedar alat sekolah untuk mengumpulkan dana, akan tetapi ia juga dapat berperan sebagai pengendali mutu madrasah dan penyumbang ide-ide untuk kemajuan madrasah. Pemahaman masyarakat bahwa pendidikan adalah urusan sekolah, urusan guru, urusan yayasan, harus segera diluruskan. Bahwa urusan pendidikan semestinya adalah tanggungjawab orang tua, ditambah masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu konsekwensinya adalah apabila orang tua menginginkan lembaga pendidikan yang bonafid dan berkualitas, maka harus seimbang dengan biaya yang disumbangkan kepada lembaga pendidikan tersebut. Karena tidak mungkin maju sebuah lembaga pendidikan yang tidak dikelola secara professional dan dana yang memadai. Logikanya, agar guru yang mengajar dapat berkonsentrasi mengajar dengan baik, maka harus ditunjang dengan sarana dan prasarana. Artinya kebutuhan lembaga terpenuhi, demikian juga kebutuhan keluarga guru juga terjamin. Sehingga ketika mengajar tidak terlintas dalam pikiran ‘bagaimana keluarga kami makan besuk’.&lt;br /&gt;Peran Masyarakat&lt;br /&gt;Untuk menunjang suksesnya pendidikan berbasis masyarakat, maka peranan masyarakat sangat besar sekali. Masyarakat sebagai obyek pendidikan sekaligus juga akan menjadi subyek pendidikan. Sebagai obyek pendidikan, masyarakat merupakan sasaran garapan dari dunia pendidikan dan sebagai subyek pendidikan, masyarakat berhak mendesain model pendidikan sesuai dengan potensi dan harapan yang diinginkan oleh masyarakat setempat. Lebih dari itu sebagai subyek pendidikan, masyarakat juga bertanggungjawab terhadap prospek, termasuk dana pendidikan.&lt;br /&gt;Ada beberapa bentuk peran serta masyarakat dalam menunjang keberhasilan otonomi dalam bidang pendidikan, antara lain :&lt;br /&gt;1. Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah.&lt;br /&gt;2. Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga kependidikan.&lt;br /&gt;3. Pengadaan dan pemberian tenaga ahli (guru tamu, peneliti, dan sebagainya).&lt;br /&gt;4. Pengadaan / penyelenggaraan program pendidikan yang belum diadakan oleh sekolah.&lt;br /&gt;5. Pengadaan bantuan dana ; wakaf, hibah, pinjaman, beasiswa dan sebagainya.&lt;br /&gt;6. Pengadaan dan pemberian bantuan ruang, gedung, tanah dan sebagainya.&lt;br /&gt;7. Pemberian bantuan buku-buku pelajaran.&lt;br /&gt;8. Pemberian kesempatan untuk magang / latihan kerja.&lt;br /&gt;9. Pemberian bantuan managemen pendidikan.&lt;br /&gt;10. Bantuan pemikiran dan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pendidikan.&lt;br /&gt;11. Kerjasama dalam penelitian dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dengan peran masyarakat secara aktif dalam dunia pendidikan, diharapkan program desentralisasi / otonomi pendidikan ini akan berhasil. Kata kuncinya adalah adanya keterbukaan, kejujuran, saling mempercayai dan profesionalitas. Tanpa itu maka program ini justru akan menjadi ‘malapetaka’, artinya sumbisidi pemerintah sudah tidak ada, sementara peran masyarakat juga tidak muncul, masing-masing saling melempar tanggungjawab, antara pemerintah, masyarakat dan orang tua.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Anggani Sudono, M.A., Mengembangkan Kesadaran Masyarakat; Berpartisipasi Meningkatkan Pendidikan Anak Bangsa, dalam Membangun Masyarakat Pendidikan, Bahan Bacaan Inservice Training BP-3 MI &amp;amp; MTs, INSEP bekerjasama dengan BEP Depag Jakarta, 2001.&lt;br /&gt;Depag RI dan PPIM, Menteri-menteri Agama RI, Biografi Sosial Politik, Jakarta, INIS, PPIM dan Balitbang Depag, 1998.&lt;br /&gt;Ensiklopedi Islam – 2 Fas-kal, Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993.&lt;br /&gt;Ghulam Farid Malik, DR., Pedoman Manajemen Madrasah, Basis Education Project (BEP) Depag RI kerjasaman dengan FKBA, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;Ibrahim Musa, DR, M.A., Otonomi Penyelenggaraan Pendidikan Dasar dan Menengah, Pusat Penelitian Kelembagaan Universitas Terbuka, Jakarta, 2000.&lt;br /&gt;Karel A. Stenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekoleh, LP3M, Jakarta, 1984.&lt;br /&gt;Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, Jakarta, CV. Amisco, 1996.&lt;br /&gt;Zamakhsyari Dhofier, K.H. Hasyim Asy’ari, Penggalang Islam Tradisional, Prisma 1, Januari 1984.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;*)&lt;/a&gt; Penulis adalah Sekretaris Jurusan Kependidikan Islam dan Dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-7502537014060540423?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/7502537014060540423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=7502537014060540423' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7502537014060540423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/7502537014060540423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2008/01/madrasah-dan-peran-masyarakat.html' title='Madrasah dan Peran Masyarakat'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-232420651889922206</id><published>2007-12-31T05:28:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:07:46.952-08:00</updated><title type='text'>Aswaja</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Ahlus Sunnah wal Jama'ah Sebuah Konsep Manhaji&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh &lt;a title="Rasulullah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rasulullah"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt; 'Alaihi Asholatu wa Sallam dan para &lt;a title="Sahabat Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Nabi"&gt;Sahabatnya&lt;/a&gt; r.a. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi saw dan para &lt;a title="Sahabat Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Nabi"&gt;Sahabatnya&lt;/a&gt; r.a.&lt;br /&gt;Ini merupakan salah satu aliran teologi dalam Islam yang timbul karena reaksi terhadap paham golongan &lt;a title="Muktazilah" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Muktazilah&amp;amp;action=edit"&gt;Muktazilah&lt;/a&gt;, merupakan nama bagi aliran &lt;a title="Asy'ariyah" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asy%27ariyah&amp;amp;action=edit"&gt;Asy'ariyah&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Maturidiah" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Maturidiah&amp;amp;action=edit"&gt;Maturidiah&lt;/a&gt;. Paham Muktazilah (aliran teologi Islam yang dikenal bersifat rasional dan liberal) yang disebarkan pertama kali oleh &lt;a title="Wasil bin Ata" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wasil_bin_Ata&amp;amp;action=edit"&gt;Wasil bin Ata&lt;/a&gt; (80 H/699 M - 131 H/746 M) pada tahun 100 H/718 M berpengaruh dalam masyarakat. Pengaruh ini mencapai puncaknya pada masa khalifah &lt;a title="Abbasiyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abbasiyah"&gt;Abbasiyah&lt;/a&gt;, yaitu &lt;a title="Al-Ma'mun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Ma"&gt;al-Ma'mun&lt;/a&gt;(198 H/813 M - 218 H/833 M), &lt;a title="Al-Mu'tasim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Mu"&gt;al-Mu'tasim&lt;/a&gt; (218 H/842 M-227 H/833 M), dan &lt;a title="Al-Wasiq" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Al-Wasiq&amp;amp;action=edit"&gt;al-Wasiq&lt;/a&gt;(227 H/842 M - 233 H/847 M). Pengaruh ini semakin kuat ketika aliran Muktazilah dijadikan sebagai &lt;a title="Mazhab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mazhab"&gt;mazhab&lt;/a&gt; resmi yang dianut negara pada masa Khalifah al-Ma'mun.&lt;br /&gt;Dalam penyebaran paham Muktazilah terjadi peristiwa yang membuat lembaran hitam dalam sejarah perkembangan Muktazilah itu sendiri. Khalifah al-Ma'mun dalam menerapkan prinsip &lt;a title="Amar ma'ruf nahi munkar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amar_ma"&gt;amar ma'ruf nahi munkar&lt;/a&gt; melakukan pemaksaan paham Muktazilah kepada seluruh jajaran pemerintahannya, bahkan juga seluruh masyarakat Islam. Dalam pemaksaan paham Muktazilah ini banyak ulama yang menjadi panutan masyarakat menjadi korban penganiayaan. hal ini misalnya terjadi pada &lt;a title="Imam Ahmad bin Hanbal" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Imam_Ahmad_bin_Hanbal&amp;amp;action=edit"&gt;Imam Ahmad bin Hanbal&lt;/a&gt;, seorang yang berpegang teguh pada hadis Nabi SAW dan tidak mau menerima logika dalam pembuktian-pembuktian masalah-masalah &lt;a title="Akidah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akidah"&gt;akidah&lt;/a&gt;, yang harus mendapatkan siksaan karena sikap kuat dan konsistennya dalam mempertahankan prinsip bahwa &lt;a title="Al-Qur'an" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur"&gt;Al-Qur'an&lt;/a&gt; itu bukanlah makhluk sebagaimana yang dianut oleh paham Muktazilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="as-Sunnah"&gt;&lt;/a&gt;A. as-Sunnah&lt;br /&gt;&lt;a name="menurut_bahasa"&gt;&lt;/a&gt;Secara etimologi berasal dari bahasa arab yaitu; ahlun berarti keluarga nabi, sahabat nabi dan orang yang berkompeten,arti dari assunnah adl. Ketentuan-ketentuan nabi, hadist, sedangkan al-jama’ah berarti kelompok, aliran, golongan.Secara istilah berarti suatu aliran atau golongan yang menganut dan berjalan dijalan nabi beserta sahabatnya.&lt;br /&gt;Hubungan dengan PMII: Aswaja adalah sebagai manhaj alfiqr bagi PMII sehingga setiap tindakan dan gerakan PMII berlandaskan dari aswaja. Ciri-ciri aliran aswaja menurut Hasyim As’ary: Menganut empat madhab fiqih; imam Maliki, imam Hanafi, imam Hambali, imam Syafi’I, dan untuk madzhab tasawuf adalah imam Ghozali dan al-Khusairi sedang madzhab tauhid Abu al-Hasan al-asa’ry dan Abu Mansur al-Maturidzi.&lt;br /&gt;As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a name="menurut_ulama"&gt;&lt;/a&gt;Sedangkan menurut &lt;a title="Ulama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ulama"&gt;ulama&lt;/a&gt; ‘aqidah, as-Sunnah adalah &lt;a title="Petunjuk" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Petunjuk&amp;amp;action=edit"&gt;petunjuk&lt;/a&gt; yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah as-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengiku-tinya akan dipuji dan orang-orang yang menyalahinya akan dicela.&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="menurut_Ibnu_Rajab_al-Hanbaly"&gt;&lt;/a&gt;Pengertian as-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbaly Rahimahullah (wafat 795 H): “As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan &lt;a title="Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nabi"&gt;Nabi&lt;/a&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i’tiqad (keyakinan), &lt;a title="Perkataan" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perkataan&amp;amp;action=edit"&gt;perkataan&lt;/a&gt; &lt;a title="Dan perbuatan" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dan_perbuatan&amp;amp;action=edit"&gt;dan perbuatan&lt;/a&gt;. Itulah as-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi &lt;a title="Salaf" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Salaf"&gt;Salaf&lt;/a&gt; terdahulu tidak menamakan as-Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashry (wafat th. 110 H), Imam al-Auza’iy (wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H).” &lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="al-Jama.27ah"&gt;&lt;/a&gt;B. al-Jama'ah&lt;br /&gt;&lt;a name="menurut_bahasa_2"&gt;&lt;/a&gt;Menurut bahasa disebut al-Jama’ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al-haq/kebenaran, tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah.&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="menurut_ulama_.27aqidah"&gt;&lt;/a&gt;Jama’ah menurut ulama ‘aqidah adalah generasi pertama dari umat ini, yaitu kalangan &lt;a title="Sahabat Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Nabi"&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt;, &lt;a title="Tabi’in" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tabi%E2%80%99in&amp;amp;action=edit"&gt;Tabi’in&lt;/a&gt; serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari &lt;a title="Kiamat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kiamat"&gt;kiamat&lt;/a&gt;, karena berkumpul di atas kebenaran.&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="menurut_Imam_Abu_Syammah"&gt;&lt;/a&gt;Menurut Imam Abu Syammah: Kata Imam Abu Syammah &lt;a title="As-Syafi’i" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=As-Syafi%E2%80%99i&amp;amp;action=edit"&gt;as-Syafi’i&lt;/a&gt; Rahimahullah (wafat th. 665 H): “Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya ialah ber-pegang kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan &lt;a title="Sunnah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunnah"&gt;Sunnah&lt;/a&gt; itu sedikit dan yang menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu apa yang dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallamj dan para Sahabatnya tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang (melakukan kebathilan) sesudah mereka.”&lt;br /&gt;&lt;a name="menurut_Ibnu_Mas.27ud"&gt;&lt;/a&gt;Menurut Ibnu Mas'ud; Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[6]&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;“Artinya : Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.”&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="Kesimpulan"&gt;&lt;/a&gt;Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mem-punyai sifat dan karakter mengikuti &lt;a title="Sunnah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunnah"&gt;Sunnah&lt;/a&gt; &lt;a title="Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nabi"&gt;Nabi&lt;/a&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan &lt;a title="Ajaran sesat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ajaran_sesat#Islam"&gt;bid’ah&lt;/a&gt; dalam &lt;a title="Agama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama"&gt;agama&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Karena mereka adalah orang-orang yang ittiba’ (mengikuti) kepada &lt;a title="Sunnah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunnah"&gt;Sunnah&lt;/a&gt; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengikuti &lt;a title="Atsar" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Atsar&amp;amp;action=edit"&gt;Atsar&lt;/a&gt; (jejak Salaful Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan Ahlul Ittiba’. Di samping itu, mereka juga dikatakan sebagai ath-Thaifah al-Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), Ghuraba’ (orang asing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="tentang_at-Thaifah_al-Manshuurah"&gt;&lt;/a&gt;C. at-Thaifah al-Manshuurah&lt;br /&gt;Tentang at-Thaifah al-Manshuurah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Artinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang selalu dalam kebenaran menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolongnya dan orang yang menyelisihinya sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="tentang_al-Ghurabaa.27"&gt;&lt;/a&gt;D. al-Ghurabaa'&lt;br /&gt;Tentang al-Ghurabaa’, &lt;a title="Rasulullah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rasulullah"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;"Artinya : &lt;a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagai-mana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghuraba’ (orang-orang asing).” &lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan makna al-Ghuraba’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu 'anhu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam suatu hari menerangkan tentang makna dari al-Ghuraba’, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;"Artinya : Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” &lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Rasulullah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rasulullah"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda mengenai makna al-Ghuraba’:&lt;br /&gt;“Artinya : Yaitu, orang-orang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di tengah-tengah rusaknya manusia.” &lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain disebutkan:&lt;br /&gt;“Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah &lt;a title="Rasulullah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rasulullah"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam) sesudah dirusak oleh manusia.”&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="Ahlul_Hadits"&gt;&lt;/a&gt;E. Ahlul Hadits&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah, at-Thaifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah semuanya disebut juga Ahlul Hadits. Penyebutan Ahlus Sunnah, at-Thaifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah dengan Ahlul Hadist suatu hal yang masyhur dan dikenal sejak generasi &lt;a title="Salaf" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Salaf"&gt;Salaf&lt;/a&gt;, karena penyebutan itu merupakan tuntutan &lt;a title="Nash" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nash&amp;amp;action=edit"&gt;nash&lt;/a&gt; dan sesuai dengan kondisi dan realitas yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan &lt;a title="Sanad" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sanad&amp;amp;action=edit"&gt;sanad&lt;/a&gt; yang &lt;a title="Shahih" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Shahih&amp;amp;action=edit"&gt;shahih&lt;/a&gt; dari para &lt;a title="Imam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imam"&gt;Imam&lt;/a&gt; seperti, ‘Abdullah Ibnul Mubarak, ‘Ali Ibnul Madiiny, &lt;a title="Ahmad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad"&gt;Ahmad&lt;/a&gt; bin Hanbal, al-&lt;a title="Bukhary" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bukhary&amp;amp;action=edit"&gt;Bukhary&lt;/a&gt;, Ahmad bin Sinan dan yang lainnya, Rahimahullah.&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="pendapat_Imam_asy-Syafi.27i"&gt;&lt;/a&gt;Imam asy-Syafi’i&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[14]&lt;/a&gt; (wafat th. 204 H) Rahimahullah berkata: “Apabila aku melihat seorang ahli hadits, seolah-olah aku melihat seorang dari Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran yang terbaik kepada mereka. Mereka telah menjaga pokok-pokok agama untuk kita dan wajib atas kita berterima kasih atas usaha mereka.”&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="pendapat_Ibnu_Hazm_az-Zhahiri"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="Imam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imam"&gt;Imam&lt;/a&gt; Ibnu Hazm az-Zhahiri (wafat th. 456 H) menjelaskan mengenai Ahlus Sunnah, “Ahlus Sunnah yang kami sebutkan itu adalah Ahlul Haq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para Shahabat Radhiyallahu Ajma'in dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para Tabi’in yang terpilih, kemudian Ash-habul Hadits dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat.” &lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahlus_Sunnah_wal_Jama"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. &lt;a href="http://cianjursatu.blogspot.com/2007/10/profil-pmii.html"&gt;Profil PMII&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu elemen &lt;a title="Mahasiswa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahasiswa"&gt;mahasiswa&lt;/a&gt; yang terus bercita-cita mewujudkan &lt;a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; ke depan menjadi lebih baik. PMII berdiri tanggal &lt;a title="17 April" href="http://id.wikipedia.org/wiki/17_April"&gt;17 April&lt;/a&gt; &lt;a title="1960" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1960"&gt;1960&lt;/a&gt; dengan latar belakang situasi politik tahun &lt;a title="1960-an" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1960-an"&gt;1960-an&lt;/a&gt; yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan sosial politik di Indonesia. Pendirian PMII dimotori oleh kalangan muda &lt;a title="NU" href="http://id.wikipedia.org/wiki/NU"&gt;NU&lt;/a&gt; (meskipun di kemudian hari dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati &lt;a title="14 Juli" href="http://id.wikipedia.org/wiki/14_Juli"&gt;14 Juli&lt;/a&gt; &lt;a title="1972" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1972"&gt;1972&lt;/a&gt;, PMII menyatakan sikap independen dari lembaga NU). Di antara pendirinya adalah &lt;a title="Mahbub Djunaidi" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mahbub_Djunaidi&amp;amp;action=edit"&gt;Mahbub Djunaidi&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Subhan ZE" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Subhan_ZE&amp;amp;action=edit"&gt;Subhan ZE&lt;/a&gt; (seorang &lt;a title="Jurnalis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jurnalis"&gt;jurnalis&lt;/a&gt; sekaligus &lt;a title="Politikus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Politikus"&gt;politikus&lt;/a&gt; legendaris).&lt;br /&gt;Dari namanya PMII disusun dari empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”, dan “Indonesia”. Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada alam sekitarnya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya.&lt;br /&gt;Pengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.&lt;br /&gt;“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah &lt;a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma &lt;a title="Ahlussunah wal jama’ah" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ahlussunah_wal_jama%E2%80%99ah&amp;amp;action=edit"&gt;ahlussunah wal jama’ah&lt;/a&gt; yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).&lt;br /&gt;Sedangkan pengertian “Indonesia” adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (&lt;a title="Pancasila" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila"&gt;Pancasila&lt;/a&gt;) serta &lt;a title="UUD 45" href="http://id.wikipedia.org/wiki/UUD_45"&gt;UUD 45&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="Referensi"&gt;&lt;/a&gt;Referensi&lt;br /&gt;1. Lisanul ‘Arab (VI/399)&lt;br /&gt;2. Buhuuts fii ‘Aqidah Ahlis Sunnah (hal. 16)&lt;br /&gt;3. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam (hal. 495) oleh Ibnu Rajab, tahqiq dan ta’liq Thariq bin ‘Awadhullah bin Muhammad, cet. II, Daar Ibnul Jauzy, th. 1420 H&lt;br /&gt;4. Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqiidah&lt;br /&gt;5. Syarah Khalil Hirras, hal. 61&lt;br /&gt;6. Seorang &lt;a title="Sahabat Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Nabi"&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt;, nama lengkapnya ‘Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib al-Hadzali, Abu ‘Abdirrahman, pimpinan Bani Zahrah. Beliau masuk Islam pada awal-awal Islam di Makkah, yaitu ketika Sa’id bin Zaid dan isterinya, Fathimah binti Khattab, masuk Islam. Beliau melakukan dua kali hijrah, mengalami shalat di dua kiblat, ikut serta dalam perang Badar dan perang lainnya. Beliau termasuk orang yang paling ‘alim tentang al-Qur'an dan tafsirnya sebagai-mana telah diakui oleh Nabi diakui oleh Nabi. Beliau dikirim oleh &lt;a title="Umar bin Khattab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Khattab"&gt;Umar bin Khattab&lt;/a&gt; ke Kufah untuk mengajar kaum muslimin dan diutus oleh &lt;a title="Utsman bin Affan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Utsman_bin_Affan"&gt;Utsman bin Affan&lt;/a&gt; ke Madinah. Beliau wafat tahun 32 H. Lihat al-Ishaabah (II/368 no. 4954)&lt;br /&gt;7. Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman, Syarah Ushuulil I’tiqaad karya al-Laalika-iy no. 160&lt;br /&gt;8. HR. Al-Bukhari (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174)), dari &lt;a title="Muawiyah bin Abu Sufyan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muawiyah_bin_Abu_Sufyan"&gt;Muawiyah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;9. HR. Muslim no. 145 dari Abu Hurairah&lt;br /&gt;10. HR. Ahmad (II/177, 222), Ibnu Wadhdhah no. 168. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad (VI/207 no. 6650). Lihat juga Bashaairu Dzawi Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajas Salaf hal. 125&lt;br /&gt;11. HR. Abu Ja’far ath-Thahawy dalam Syarah Musykilul Atsaar (II/170 no. 689), al-Laalika-iy dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah no. 173 dari Shabahat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu 'anhu. Hadits ini shahih li ghairihi karena ada beberapa syawahidnya. Lihat Syarah Musykiilul Atsaar (II/170-171) dan Silsilah Ahaadits as-Shahiihah no. 1273&lt;br /&gt;12. HR. At-Tirmidzi no. 2630, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dari ‘Amr bin ‘Auf&lt;br /&gt;13. Sunan at-Tirmidzi, Kitaabul Fitan no. 2229. Lihat Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany Rahimahullah (I/539 no. 270) dan Ahlul Hadits Humuth Thaifah al-Manshurah karya Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhaly&lt;br /&gt;14. Nama lengkap beliau, Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas al-Qurasyi asy-Syafi’i Rahimahullah, yang terkenal dengan sebutan Imam asy-Syafi’i, beliau punya hubungan nasab dengan anak paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang bertemu dengannya pada silsilah ‘Abdi Manaf. Beliau dilahirkan tahun 150 H. Para ulama sepakat bahwa beliau adalah orang yang tsiqah, amanah, adil, zuhud, wara’, ‘alim, faqih dan dermawan. Beliau wafat di Mesir th. 204 H dalam usia 54 tahun. Di antara kitab-kitab karya beliau adalah kitab al-Umm dalam bidang fiqih, ar-Risaalah dalam ushul fiqih dan lainnya. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ (X/5-99). Untuk menge-tahui lebih jelas tentang manhaj Imam asy-Syafi’i dalam masalah ‘aqidah dapat dilihat pada kitab Manhajul Imam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah karya Dr. Muham-mad bin ‘Abdil Wahhab al-‘Aqiil, cet. I-1419 H, dalam dua jilid.&lt;br /&gt;15. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ (X/60)&lt;br /&gt;16. Al-Fishaal fil Milaal wal Ahwaa’ wan Nihaal II/271-Daarul Jiil, Beirut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-232420651889922206?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/232420651889922206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=232420651889922206' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/232420651889922206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/232420651889922206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2007/12/aswaja.html' title='Aswaja'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-9072097611650541172</id><published>2007-12-31T04:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:07:11.612-08:00</updated><title type='text'>Sistem Nilai Budaya Pesantren</title><content type='html'>&lt;span style="color:#33ccff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SISTEM NILAI DALAM BUDAYA ORGANISASI PENDIDIKAN DI PESANTREN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;(Studi Tentang Interaksi Edukatif Kyai, Santri dan Keluarga Pesantren)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Drs. H. Fatah Syukur, M.Ag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan dewasa ini adalah keringnya pendidikan nilai. Proses belajar yang terjadi di dalam lembaga pendidikan sudah didominasi oleh transfer of knowledge. Guru merasa selesai tugasnya setelah menyampaikan materi kepada siswanya. Sementara apakah apa yang dikatakan kepada siswa tersebut tercermin dalam prilakunya atau tidak itu urusan ke sekian. Contohnya guru menganjurkan berbuat baik pada orang lain, sementara ia sendiri tidak memberi teladan yang demikian. Guru melarang murid berkatan bohong, sementara ia sendiri sering berbohong, guru menganjurkan untuk hidup bersih dan rapi, tetapi dia tidak bisa memberi contoh yang baik. Kondisi semacam ini tentu sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;Pendidikan nilai dalam proses pendidikan sangat penting. Sesuatu yang membedakan antara pengetahuan Barat dengan pengetahuan lain adalah terletak pada nilai. Muatan materi mungkin sama, namun nilainya belum tentu sama. Untuk menanamkan pendidikan nilai, maka proses penanamnya juga harus menggunakan pendekatan nilai. Ini berarti bahwa seorang guru akhlak, maka mutlak harus seorang yang berakhlak baik, demikian pula seorang guru hadits, maka ia harus orang yang percaya terhadap kebenaran hadits dan mampu melaksanakan isinya. Barangkali itulah yang dimaksud oleh pepatah Jawa, Guru hendaknya dapat digugu dan ditiru.&lt;br /&gt;Di tengah kondisi krisis nilai dalam bidang pendidikan, barangkali pesantren merupakan alernatif yang perlu dikaji dan dijadikan contoh menerapkan pendidikan nilai dalam pembentukan kepribadian para santri. Proses pendidikan di pesantren berlangsung selama 24 jam dalam situasi formal, informal dan non formal. Kyai bukan hanya mentransfer pengetahuan, ketrampilan dan nilai, tetapi sekaligus menjadi model atau contoh bagi para santrinya. Dengan pendidikan nilai yang sedemikian rupa, pesantren telah banyak melahirkan para alumni yang memiliki pengetahuan keagamaan dan melaksanakan pengetahuan tersebut dalam kehidupannya, atau dengan kata lain ada integrasi antara ilmu dan amal.&lt;br /&gt;Keberhasilan pesantren dalam mendidikan santrinya tersebut bukan suatu kebetulan, tetapi ada nilai-nilai yang mendasarinya. Owens (1995:81) menyodorkan dimensi soft yang berpengaruh terhadap kinerja individu dan organisasi, yaitu nilai-nilai (values), keyakinan (biliefs), budaya (culture), dan norma perilaku. Nilai-nilai adalah pembentuk budaya, dan merupakan dasar atau landasan bagi perubahan dalam hidup pribadi atau kelompok.&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan pesantren, pemahaman santri terhadap ajaran agamanya, menuntut mereka untuk berperilaku sesuai dengan esensi ajaran agamanya, dalam kajian budaya (organisasi), wujud kebudayaan tingkat pertama, yaitu kebudayaan ideal, termasuk dalam hal ini ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Sedang lapisan yang paling tinggi tingkatannya disebut dengan sistem nilai budaya yang biasanya berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Sistem nilai budaya sebagai wujud kebudayaan ideal yang paling abstrak berada dalam pikiran warga masyarakat (pesantren) di mana kebudayaan yang bersangkutan hidup. Dalam dimensi ini, sistem nilai budaya yang berkembang dalam alam pikiran umat beragama itulah yang menuntun perilaku mereka, termasuk dalam pengelolaan pesantren dan interaksinya dengan komunitas internal dan eksternal pesantren.&lt;br /&gt;Berangkat dari latar belakang masalah tersebut banyak hal-hal menarik dan perlu dikaji dari dunia pesantren terutama yang menyangkut sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren yang mendasari pola fikir dan akitivitas dalam merespon perkembangan budaya di pesantren dan di luar pesantren. Secara lebih spesifik, pola fikir dan aktivitas yang terpancar dari sistem nilai tersebut antara lain tercermin dalam: (1) Pola pembelajaran di pesantren, (2) Semangat pengabdian di pesantren, (3) Pola hubungan santri dengan kyai, santri dengan keluarga kyai, santri dengan santri dan santri dengan masyarakat, dan (4) Pola pemikiran dunia pesantren dalam merespon perubahan sosial, ekonomi, dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Fokus Penelitian&lt;br /&gt;Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah : Sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren yang meliputi Pesantren Raudlatuth Thalibin, dan Pesantren Luhur Kota Semarang.&lt;br /&gt;Fokus tersebut kemudian dirinci menjadi tiga sub fokus, yaitu:&lt;br /&gt;Karakteristik budaya organisasi pada dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;Ragam nilai dalam budaya organisasi pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;Sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Sesuai dengan fokus penelitian, secara umum tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah menemukan sekaligus mendeskripsikan sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren, yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;Tujuan tersebut kemudian dijabarkan ke dalam tujuan khusus, yakni sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ingin mengetahui karakteristik budaya organisasi di dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;2. Ingin mengetahui ragam nilai dalam budya organisasi di dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;3. Ingin mengetahui sistem nilai dalam budaya organisasi di dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;4. Ingin mengetahui perbedaan sistem nilai dalam budaya organisasi di Pesantren Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Manfaat Praktis :&lt;br /&gt;a. Memberi gambaran tentang sistem nilai pada pesantren dan yang dikembangkan sehingga dapat menjadi acuan para penyelenggara dan pengelola pesantren khususnya dan pendidikan pada umumnya.&lt;br /&gt;b. Memberi masukan kepada Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, Yayasan Pendidikan, dan Organisasi Keagamaan yang menyelenggarakan pendidikan dalam memajukan lembaga pendidikan berdasarkan sistem nilai.&lt;br /&gt;2. Manfaat Teoritis :&lt;br /&gt;a. Secara konseptual dapat memperkaya teori manajemen pendidikan (pesantren) terutama yang berkaitan dengan sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yang dibangun dari dua kasus dalam penelitian ini.&lt;br /&gt;b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi peneliti berikutnya / peneliti lain yang ingin mengkaji lebih mendalam dengan topik dan fokus serta setting yang lain untuk memperoleh perbandingan sehingga memperkaya temuan-temuan penelitian.&lt;br /&gt;E. Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penelitian studi kasus, maka langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) melakukan pengumpulan data pada kasus pertama, yaitu Pesantren Raudlattolibin Semarang. Penelitian ini dilakukan sampai pada tingkat kejenuhan data, dan selama itupula dilakukan kategorisasi dalam tema-tema untuk menemukan konsepsi tematik menganai sistem nilai dalam budaya orgnisasi di pesantren tersebut; (2) melakukan pengamatan pada kasus kedua, yaitu Pesantren Luhur Mangkang Semarang. Tujuannya adalah untuk memperoleh temuan konseptual mengenai sistem nilai dalam budaya organisasi di pesantren tersebut.&lt;br /&gt;Berdasarkan temuan konseptual dari kedua pesantren tersebut, selanjutnya dilakukan analisis komparasi dan pengembangan konseptual untuk mendapatkan abstraksi tentang karakteristik budaya organisasi, ragam nilai, dan sistem nilai dari kedua pesantren tersebut. Dalam hal ini dilakukan analisis termodifikasi sebagai suatu cara mengembangkan teori dan mengujinya .&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi orang dalam situasi tertentu. Untuk dapat memahami makna peristiwa dan interaksi orang, digunakan orientasi teoritik atau perspektif teoritik dengan pendekatan fenomenologis (phenomenological approarch).&lt;br /&gt;Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengamati fenomena-fenomena dunia konseptual subjek yang diamati melalui tindakan dan pemikirannya guna memahami makna yang disusun oleh subjek sekitar kejadian sehari-hari. Peneliti berusaha memahami subjek dari sudut pandang subjek itu sendiri, dengan tidak mengabaikan penafsiran, dengan membuat skema konseptual. Menurut Weber, pendekatan fenomenologi disebut verstehen apabila mengemukakan hubungan antara gejala-gejala sosial yang dapat diuji, bukan pemahaman empirik semata. Dengan menggunakan metode Verstehen ini, peneliti dapat memahami secara emik konsep-konsep, pandangan-pandangan, nilai-nilai, ide-ide, gagasan-gagasan, dan norma-norma yang berlaku di tiga pesantren tersebut, sehingga tidak terjadi kekeliruan penafsiran atas makna objek yang diteliti.&lt;br /&gt;Kecuali pendekatan fenomenologis, mengingat penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren, maka untuk memahami perbedaan budaya yang muncul pada masing-masing pesantren digunakan pula orientasi teoritik dengan pendekatan budaya untuk memahami hakekat sudut pandangnya, keterkaitan dengan kehidupan, dan untuk mengungkap visinya mengenai dunianya.&lt;br /&gt;Dalam mengumpulkan data, peneliti memakai tiga prosedur, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipan dan studi dokumentasi. Data-data yang didapat dari wawancara, observasi dan dokumentasi kemudian dianalisis. Analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang telah dihimpun oleh peneliti. Kegiatan analisis dilakukan dengan menelaah data, menata, membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensintesis, mencari pola, menemukan apa yang bermakna, dan apa yang diteliti dan dilaporkan secara sistematik.&lt;br /&gt;F. Kajian Teoritis&lt;br /&gt;1. Sistem Nilai&lt;br /&gt;Menurut Rokeach dan Bank (Chabib Thoha, 1996) nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dimana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai suatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan. Ini berarti berhubungan dengan pemaknaan atau pemberian arti suatu obyek.&lt;br /&gt;Nilai juga dapat diartikan sebagai sebuah pikiran (idea) atau konsep mengenai apa yang dianggap penting bagi seseorang dalam kehidupannya. Selain itu, kebenaran sebuah nilai juga tidak menuntut adanya pembuktian empirik, namun lebih terkait dengan penghayatan dan apa yang dikehendaki atau tidak dikehendaki, disenangi atau tidak disenangi oleh seseorang. Allport, sebagaimana dikutip oleh Kadarusmadi (1996:55) menyatakan bahwa nilai merupakan kepercayaan yang dijadikan preferensi manusia dalam tindakannya. Manusia menyeleksi atau memilih aktivitas berdasarkan nilai yang dipercayainya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, nilai terdapat dalam setiap pilihan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang baik berkaitan dengan hasil (tujuan) maupun cara untuk mencapainya. Dalam hal ini terkandung pemikiran dan keputusan seseorang mengenai apa yang dianggap benar, baik atau diperbolehkan.&lt;br /&gt;Nilai-nilai penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai meletakkan fondasi untuk memahami sikap dan motivasi serta mempengaruhi persepsi kita. Individu-individu memasuki suatu organisasi dengan gagasan yang dikonsepsikan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya.&lt;br /&gt;DR. Rohmad Mulyono (2004:25) mengklasifikasi nilai ke dalam empat macam: (1) nilai instrumental dan nilai terminal; (2) nilai instrinksik dan nilai ekstrinsik; (3) nilai personal dan nilai sosial; dan (4) nilai subyektif dan nilai obyektif.&lt;br /&gt;Selanjtunya Spranger (Allport, 1964) menjelaskan adanya enam orientasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh manusia dalam kehidupannya. Dalam pemunculannya, enam nilai tersebut cenderung menampilkan sosok yang khas terhadap pribadi seseorang. Karena itu, Spanger merancang teori nilai itu dalam istilah tipe manusia (the types of man), yang berarti setiap orang memiliki orientasi yang lebih kuat pada salah satu di antara enam nilai yang terdapat dalam teorinya. Enam nilai yang dimaksud adalah nilai teoretik, nilai ekonomis, nilai estetik, nilai sosial, nilai politik, dan nilai agama.&lt;br /&gt;Perilaku manusia sehari-hari pada dasarnya ditentukan, didorong atau diarahkan oleh nilai-nilai budayanya. Nilai yang dominan akan memunculkan perilaku yang dominan dalam kehidupan manusia yang membuat manusia berbudaya. Menurut Koentjaraningrat, (1994), dalam kontek yang lebih mendasar, perilaku individu maupun masyarakat pada hakekatnya dipengaruhi oleh sistem nilai yang diyakininya. Sistem nilai tersebut merupakan jawaban yang dianggap benar mengenai berbagai masalah dalam dalam hidup.&lt;br /&gt;Dalam dunia pesantren, nilai-nilai yang dikembangkan dirujukkan kepada sumber-sumber ajaran Islam, yakni al-Qur’an, Hadits dan Ijtihad. Pemahaman terhadap sumber-sumber ajaran Islam tersebut kemudian melahirkan disiplin ilmu fiqih, tauhid dan tasawuf. Aspek fiqih mazhab, tauhid dan tasawuf sangat mengakar dalam kultur pesantren yang selanjutnya dilihat sebagai suatu bangunan sistem nilai yang dikenal dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Yasmadi, 2002:92). Konsep-konsep tentang tawazun (keseimbangan dan harmoni masyarakat), dan juga al-adalah (berkeadilan), tawasuth (moderat), dan tasammuh (menjaga perbedaan dan pluralisme dengan penuh toleransi) merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.&lt;br /&gt;Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah sebagai sebuah sistem nilai yang dianut oleh sebagian besar pesantren banyak mempengaruhi terhadap pola pikir dan perilaku yang dipraktekkan di pesantren, baik dalam interaksi internal maupun eksternal pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Budaya Organisasi&lt;br /&gt;Istilah “budaya” mula-mula berkembang dalam disiplin antropologi sosial. Budaya sebagaimana software yang berada dalam otak manusia, yang menuntun persepsi, mengidentifikasikan apa yang dilihat, mengarahkan fokus pada suatu hal, serta menghindar dari orang lain.&lt;br /&gt;Budaya diartikan sebagai “totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama” (Kotter&amp;amp;Heskett, 1992:4). Selain itu kebudayaan juga diartikan sebagai norma-norma perilaku yang disepakati olek sekelompk orang uuntuk bertahan hidup dan berada bersama (Farid, E.&amp;amp;Philip, RH. 1997). Secara sederhana, kebudayaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan yang digunakan oleh manusia sebagai pedoman untuk memahami lingkungannya dan sebagai pedoman untuk mewujudkan tindakan dalam menghadapi lingkungannya.&lt;br /&gt;Koentjaraningrat (1989) menyebutkan unsur-unsur universal dari kebudayaan adalah meliputi: (1) sistem religi dan upacara keagamaan, (2) sistem dan organisasi kemasyarakat, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem mata pencaharian, (7) sistem teknologi dan peralatan. Selanjutnya dijelaskan bahwa budaya mempunyai tiga wujud, yaitu kebudayaan sebagai: (1) suatu komplek ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya; (2) suatu kompleks aktivitas kelakuan dari manusia dalam masyarakat; dan (3) sebagai benda-benda karya manusia.&lt;br /&gt;Tiga macam wujud budaya di atas, dalam konteks organisasi disebut dengan budaya organisasi (organizational culture). Dalam kontek perusahaan, diistilahkan dengan budaya perusahaan (corporate culture), dalam lembaga pendidikan/sekolah disebut dengan budaya sekolah (school culture) dan dalam pesantren dapat dikatakan sebagai budaya pesantren (pesantren culture).&lt;br /&gt;Budaya organisasi mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain. Sistem makna bersama ini, bila diamati dengan lebih seksama, merupakan seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi itu.&lt;br /&gt;Riset terbaru mengemukakan tujuh karakteristik primer berikut yang bersama-sama, menangkap hakekat dari budaya suatu organisasi (J.A. Chatman dan K.A. John, 1994):&lt;br /&gt;a. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauhmana para karyawan didorong untuk inovasi dan mengambil resiko.&lt;br /&gt;b. Perhatian ke rincian. Sejauhmana para karyawan diharapkan memperhatikan presisi (kecermatan), analisis, dan perhatian kepada rincian.&lt;br /&gt;c. Orientasi hasil. Sejauhmana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil.&lt;br /&gt;d. Orientasi orang. Sejauhmana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi itu.&lt;br /&gt;e. Orientasi tim. Sejauhmana kegiatan kerja diorganisasikan sekita tim-tim, bukannya individu-individu.&lt;br /&gt;f. Keagresifan. Sejauhmana orang-orang itu agresif dan kometitif dan bukannya santai-santai.&lt;br /&gt;g. Kemantapan. Sejauhmana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo sebagai kontras dari pertumbuhan.&lt;br /&gt;Masing-masing ciri ini dalam sebuah kontinum dari rendah sampai tinggi. Oleh karena itu dengan menilai organisasi tersebut dari ketujuh dimensi ini orang akan mendapatkan gambaran mejemuk tentang budaya organisasi tersebut.&lt;br /&gt;Pengaruh budaya terhadap kinerja organisasi dapat dilihat dari dimensi manajemen, anggota secara kelompok, dan anggota secara individual. Budaya organisasi merupakan determinan bagi perilaku manajemen, disamping struktur, kepemimpinan, dan lingkungan eksternal.&lt;br /&gt;Dari sudut anggota secara kelompok, budaya organisasi akan memberikan arah (direction) dalam menemukan cara-cara untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam hal ini budaya organisasi dapat memberikan pengaruh positif atau negatif, tergantung kecocokan (compatible) atau tidaknya budaya tersebut dengan perkembangan lingkungan internal maupun eksternal. Selain itu, budaya organisasi yang tersebar merata pada semua anggota organisasi, akan memberikan citra mengenai lembaga tersebut di mata customer.&lt;br /&gt;Secara individual, budaya organisasi yang meresap dengan kita pada masing-masing anggota, akan menumbuhkan komitmen, sebagaimana dicontohkan suatu sekte keagamaan dapat mempengaruhi pengikutnya untuk melakukan bunuh diri secara sukarela. Komitmen di sini diartikan sebagai suatu kondisi di mana anggota organisasi memberikan kemampuan dan loyalitas tertingginya kepada organisasi, yang dengan itu mereka mendapatkan kepuasan (Hodge &amp;amp; Anthony, 1988).&lt;br /&gt;3. Budaya Pesantren&lt;br /&gt;Karakteristik utama budaya pesantren di antaranya adalah:&lt;br /&gt;a. Modeling&lt;br /&gt;Modeling dalam ajaran Islam bisa diidentikkan dengan uswatun hasanah atau sunnah hasanah yakni contoh yang ideal yang selayaknya atau seharusnya diikuti dalam komunitas ini. Tidak menyimpang dari ajaran dasar Islam, modeling dalam dunia pesantren agaknya lebih diartikan sebagai tasyabbuh:&lt;br /&gt;Jika dalam dunia Islam, Rasulullah adalah pemimpin dan panutan sentral yang tidak perlu diragukan lagi, dalam masyarakat santri Jawa kepemimpinan Rasulullah diterjemahkan dan diteruskan oleh para Walisongo yang dikemudian hari sampai kini menjadikan mereka sebagai kiblat kedua setelah Nabi. Telah dimaklumi bersama bahwa Masjid Demak yang diresmikan oleh Sunan Kalijaga pada tanggal l Dzul Qa`dah 1428, pada umumnya disepakati sebagai masjid pertama di tanah Jawa dan dibangun sebelum Kerajaan Demak berdiri. Upaya mendahulukan pendirian Masjid sebelum negara Demak pada hakikatnya sama dengan upaya Nabi mendirikan Masjid Quba di Madinah sebelum kota suci ini dijadikan negara bagi seluruh penduduknya yang plural. Bagi umat Islam, Masjid adalah lambang dan perwujudan akhirat yang statusnya tentu lebih mulia dari gemerlapan duniawi dalam berbagai macam daya pikatnya. Dengan analogi ini, bisa difahami bila sebagian besar `ulama Jawa menjustifikasi apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan pendirian masjidnya sebagai bagian dari pelaksanaan Sunnah Nabi: yakni sebuah modeling par excellence.&lt;br /&gt;Yang perlu ditegaskan disini adalah bahwa modeling mengikuti seorang tokoh pemimpin merupakan bagian penting dalam filsafat Jawa. Walisongo yang menjadi kiblat kaum santri tentu berkiblat pada guru besar dan pemimpin Muslimin, Nabi Muhammad saw. Kekuatan modeling didukung dan sejalan dengan value sistem Jawa yang mementingkan paternalism dan patron-client relation yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Jawa&lt;br /&gt;Para Walisongo selalu loyal pada missinya sebagai penerus Nabi yang terlibat secara fisik dalam rekayasa sosial. Misi utama mereka adalah menerangkan, memperjelas, dan memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, dan memberi model ideal bagi kehidupan sosial agama masyarakat. Model Walisongo yang diikuti para `ulama dikemudian hari telah menunjukkan integrasi antara pemimpin agama dan masyarakat yang membawa mereka pada kepemimpinan protektif dan efektif. Approach dan wisdom Walisongo kini terlembagakan dalam esensi budaya pesantren dengan kesinambungan ideologis dan kesejarahannya. Kesinambungan ini tercermin dalam hubungan filosofis dan keagamaan antara taqlid dan modeling bagi masyarakat santri. Melalui konsep terakhir inilah keagungan Muhammad saw serta kharisma Walisongo, yang dipersonifikasikan oleh para auliya dan kiyai, telah terjunjung tinggi dari masa ke masa. Bahwa pendidikan Islam Walisongo ditujukan pada massa ini bisa dilihat pada rekayasa mereka terhadap pendirian pesantren. Pendidikan yang merakyat ini tidak diragukan lagi adalah induk pendidikan Islam di Indonesia atau the mother of Muslim educational institution. Pendekatan pendidikan Walisongo dewasa ini telah tersosialisasi secara luas dalam komunitas ini seperti kesalehan sebagai cara hidup kaum santri, serta pemahaman dan pengarifan terhadap budaya lokal.&lt;br /&gt;Meskipun demikian pendidikan Islam Walisongo juga ditujukan pada penguasa. Keberhasilan Walisongo terhadap pendekatan yang terakhir ini biasanya terungkap dalam istilah populer “Sabdo Pandito Ratu” yang berarti menyatunya pemimpin agama dan pemimpin negera. Dengan kata lain dikotomi atau gap antara ulama dan raja tidak mendapatkan tempat dalam ajaran dasar Walisongo. Hal ini sesuai dengan watak dasar agama tauhid ini yang tidak memberi ruang pada sekularisme. Ajaran ini adalah warisan Sunan Kalijaga, sebagai grand designer yang telah mewariskan sistem Kabupaten di Jawa tipikal dengan komponen-komponen kabupaten, alun-alun, dan masjid agung. Ajaran ini dikemudian hari dipopulerkan oleh Sultan Agung. Menarik untuk dijadikan renungan sejarah bahwa barangkali masjid-masjid "agung" di Jawa saat ini, adalah bentuk modeling yang tidak disadari atas historisitas peninggalan Sultan Agung. Hubungannya bukan sekedar terdapat pada nama "agung" yang telah menyejarah dan melegenda, melainkan juga pada substansi dan format al-madinah al-fadilah ini.&lt;br /&gt;Seperti yang telah disinggung di atas, pendidikan Walisongo mudah ditangkap dan dilaksanakan. Hal ini selaras dengan ajaran Nabi wa khatibinnas `ala qodri `uqulihim. Pola pendidikan ini terlihat dalam rumusan naskah Islam Jawa klasik “arep atatakena elmu, sakadare den lampahaken”(Carilah ilmu yang bisa engkau praktekan, terapkan). Pendekatan ini pula yang mengantarkan pendidikan Islam melalui media wayang yang begitu merakyat. Ajaran rukun Islam dengan demikian bisa ditemukan dalam cerita perwayangan, seperti syahadatain sering dipersonifikasikan dalam tokoh Puntadewa, tokoh tertua di antara Pandawa dalam kisah Mahabarata. Puntadewa (syahadatain) digambarkan sebagai raja adil yang tulus ikhlas bekerja untuk kesejahteraan rakyat, yakni pemimpin yang konsisten kata dan perbuatannya. Tingkah laku yang tidak munafik ini adalah refleksi tindakan dan ucapan kaum beriman atau “lips of faith.” Ajaran Islam yang diperagakan melalui media wayang merupakan model yang mudah dicontoh. Modeling dalam dunia pesantren memang tidak terbatas pada satu dimensi kehidupan. Hal ini sekaligus memberi indikasi bahwa masyarakat ini senantiasa membutuhkan model kepemimpinan yang ideal dalam segala bentuk dan zaman.&lt;br /&gt;b. Cultural resistance&lt;br /&gt;Mempertahankan budaya dan tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad. Sikap ini tidak lain merupakan konsekuensi logis dari modeling. Disayangkan bahwa hampir belum ada ilmuwan yang memusatkan perhatian pada tiga aspek ini secara proporsional. Konsepsi ini bahkan sering disalahfahami oleh sarjana-sarjana Barat seperti penghampiran mereka yang lebih memusatkan perhatian pada sinkretisme Islam atau juga studi yang lebih menekankan wajah Hindhu-Budha sebagai induk budaya Jawa sementara Islam dipandang sebagai anak budaya. Dengan kata lain meskipun Islamisasi telah terjadi di sini sejak abad 14, Islam masih dipandang sebagai baju atau kulit luar budaya Jawa. Kesalahan ini sering disebabkan oleh ketidak mampuan mereka dalam memahami teks-teks standar Sunni Islam, misalnya konsep tentang inovasi al muh}a&gt;faz}at ala&gt; qadi&gt;m al s}a&gt;leh wa al akhz}u bi al jadi&gt;d al as}lah (menjaga suatu tradisi yang baik dan mengambil tradisi yang lebih baik). Hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar mereka yang mempelajari Islam Jawa hanya dilengkapi dengan ilmu-ilmu sosial khususnya antropologi. Dengan kata lain mereka tidak memiliki disiplin ilmu Islamic Studies. Mereka yang banyak belajar kajian ke-Islaman seperti Prof. A.H. John dan Markwood Ward akan menghasilkan kesimpulan lebih simpatik terhadap dinamika budaya Islam Jawa.&lt;br /&gt;Walisongo dan para kiyai Jawa adalah agent of social change melalui pendekatan kultural, bukan politik struktural apalagi kekerasan. Istilah Islam kultural yang selama ini ditujukan pada pendekatan Abbdurrahman Wahid dan Nur Cholis Majid, sesungguhnya secara substansial tidak berbeda dengan pendekatan Walisongo dan `ulama-`ulama terdahulu. Apa yang terjadi bukanlah intervensi melainkan akulturasi dan peaceful coexistence.&lt;br /&gt;Ide cultural resistence juga mewarnai kehidupan intelektual dunia pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini melalui hidayah dan berkah seorang kiyai sebagai guru utama atau irsya&gt;du usta&gt;zin. Adalah kitab klasik atau kitab kuning, diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke genarasi berikut, yang sekaligus menunjukkan keampuhan kepemimpinan kiyai. Isi pengajaran kitab kuning menawarkan kesinambungan tradisi yang benar, al-qadim al-salih, yang mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan. Memenuhi fungsi edukatif, materi yang diajarkan di pesantren bukan hanya memberi akses pada santri rujukan kehidupan keemasan warisan peradaban Islam masa lalu, tapi juga menunjukkan peran masa depan secara konkrit, yakni to live a Javanese Muslim life: cara hidup yang mendambakan damai, harmoni dengan masyarakat, lingkungan, dan Tuhan.&lt;br /&gt;Karena konsepsi cultural resistance pula, dunia pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dari luar. Sejarah menunjukkan bahwa saat penjajah semakin menindas, saat itu pula perlawanan kaum santri semakin keras. Penolakan Sultan Agung dan Diponegoro terhadap kecongkakan Belanda, ketegaran kiyai-kiyai di masa penjajahan, serta kehati-hatian para pemimpin Islam berlatarbelakang pesantren dalam menyikapi kebijaksanaan penguasa yang dirasakan tidak bijaksana atau sistem yang established sehingga menempatkan mereka sebagai kelompok "oposan" adalah bentuk-bentuk cultural resistance dari dulu hingga sekarang. Dalam konteks ini bisa difahami jika pesantren-pesantren tua dan besar selalu dihubungkan dengan kekayaan mereka yang berupa kesinambungan ideologis dan historis, serta mepertahankan budaya lokal: a historical and ideological continuum with its cultural resistance. Denominasi keagamaan dunia pesantren yang Syafi`i-Asy`ari-Ghazalian-Oriented terbukti sangat mendukung terhadap pengembangan dan pelaksaan konsep cultural resistance ini. Menarik diamati bahwa kaum santri tidak pernah menyebut Syafi`i dan Ghazali terlepas dari kata “Imam” di depan tiga nama itu. Bukankah ini tradisi unik dunia pesantren yang tidak dijumpai di negara-negara Islam lain. Modeling terhadap tiga tokoh ini dan cultural resistence dalam bentuk kesinambungan kesejarahan adalah tiga konsep yang telah menyatu dalam illustrasi terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Budaya keilmuan yang tinggi&lt;br /&gt;Dunia pesantren senantiasa identik dengan dunia ilmu. Definisi pesantren itu sendiri selalu mengacu pada proses pembelajaran dengan komponen-komponen pendidikan yang mencakup pendidik, santri, murid, serta fasilitas tempat belajar mengajar.&lt;br /&gt;Rujukan ideal keilmuan dunia pesantren cukup komprehensif yang meliputi inti ajaran dasar Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Qur'an Hadis, tokoh-tokoh ideal zaman klasik seperti Imam Bukhari, serta tradisi lisan yang berkembang senantiasa mengagungkan tokoh-tokoh `ulama Jawa yang agung seprti Nawawi al-Bantani, Mahfudz al-Tirmisi dan lain-lain. Ayat al-Qur'an pertama kali yang diwahyukan adalah surat iqra' yang menyerukan signifikasi baca dan belajar bagi kaum beriman. Menjadi Muslim berarti menjadi santri, menjadi santri berarti tidak boleh lepas dari kegiatan belajar 24 jam di lembaga pendidikan pesantren. Status santri, bagi komunitas ini, dengan demikian selalu lebih mulia dibanding dengan status non-santri. Rujukannya jelas ayat al-Qur'an yang menjanjikan status mulia dan khusus bagi kaum beriman dan berilmu. Pendidikan sehari semalam penuh dalam dunia pesantren dengan batas waktu yang relatif, serta hubungan guru-murid yang tidak pernah putus adalah implementasi dari ajaran Nabi yang menekankan keharusan mencari ilmu dari bayi sampai mati, minal mahdi ilallahdi. Singkatnya ajaran dasar Islam adalah landasan ideogis kaum santri untuk menekuni agamanya sebagai ilmu dan petunjuk yang bermanfaat di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Jika dalam zaman keemasan Islam tradisi al-rih}lah fi&gt; ta&gt;lab al-`ilm demikian luar biasa sebagaimana yang tercermin dalam perjalanan intelektual Imam Bukhari, sejarah telah membuktikan bahwa tradisi yang yang sama juga berkembang sepanjang masa dalam masyarakat santri hingga dikenal istilah wandering santris atau santri-santri kelana. Tradisi rihlah ini pula yang telah mengantarkan tiga tokoh utama pesantren: al-Bantani dan al-Tirmisi, mengembara sepanjang hidupnya dan menjadi guru besar di Mekkah dan Madinah. Fenomena dua master intelektual dunia pesantren ini membuktikan bahwa ilmu agama tidak hanya milik dunia Timur Tengah, dan bahwa ilmuwan berlatarbelakang sosio-kultural pesantren mampu menandingi `ulama-`ulama manca negara baik dalam kegiatan tulis menulis berbahasa Arab maupun dalam kegiatan akademik pengajaran di pusat dunia Islam.&lt;br /&gt;Dewasa ini makna penting keilmuan dunia pesantren agaknya tidak bergeser. Seorang tokoh modernis, Dawam Rahardjo, misalnya, menaruh kepercayaan besar terhadap alumni-alumni pesantren yang memperoleh pendidikan di dunia Barat dan bekerja di berbagai sektor dan kantor swasta dan negara di Indonesia.&lt;br /&gt;Dengan merujuk pada dinamika keilmuan pesantren dalam sejarah, agaknya istilah "konservatif" yang dialamatkan pada komunitas atau tradisi pesantren selama ini perlu ditinjau kembali. "Konservatif" pada umumnya identik dengan statis, jumud, serta implikasi-implikasi fatalis lainnya. Lebih dari itu "konservatif" adalah kata impor dari kamus Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian tradisionalitas pesantren selayaknya ditujukan pada satu tradisi luhur dalam berbagai hal, termasuk tradisi intelektual pesantren yang belum pernah terhenti sampai sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Temuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karakteristik budaya organisasi pada dua pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang&lt;br /&gt;Karakteristik budaya organisasi dalam penelitian tercermin dalam pola pembelajaran dan kurikulum. Pesantren Raudlatuth Thalibin atau yang lebih dikenal dengan PPRT semua santrinya adalah mahasiswa IAIN Walisongo Semarang. Sebagian dari para santri ini sebelumnya ada yang pernah mondok dan ada yang baru mondok sekali ini. Tujuan mereka mondok di sini adalah agar dapat belajar ilmu agama disamping ilmu dari bangku kuliah. Sebagai mahasiswa IAIN, maka jam perkuliahan terkadang pagi, siang ataupun sore. Oleh karena itu pengajian bandongan yang diselenggaran di pondok mengambil waktu ba'da maghrib, ba'da isya' dan ba'da shubuh. Di sini tidak diselenggarakan Madrasah Diniyah.&lt;br /&gt;Pemilihan waktu tersebut diharapkan dapat diikuti oleh semua santri PPRT, kecuali ada halangan syar'ie. Adapun materi pengajian adalah kitab-kitab klasik seperti Majalis al-Tsaniah, dan Tafsir al-Munir. Kitab-kitab tersebut dibaca sampai habis sekitar 1 tahun atau lebih. Setelah habis biasanya kyai menawarkan pilihan beberapa kitab kepada santri-santri. Kurikulum di PPRT terkesan longgar, karena pada pagi, siang dan sore hari para santri banyak yang kuliah. Sementara yang tidak kuliah, ada yang mengerjakan tugas kuliah, cuci pakaian, cuci kendaraan, ada yang tiduran dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sedangkan di Pesantren Luhur yang memilih sebagai pesantren salafiyah, sebagian besar santrinya tidak sekolah (baca khusus mondok). Pola pembelajaran di sini diselenggarakan secara klasikal dalam bentuk Madrasah Diniyah kelas I sampai kelas IV yang diselenggarakan pagi dan siang hari, yakni jam 08.00 – 11.00 WIB. Kemudian pada malamnya diadakan taqrar atau pengulangan. Bagi mereka yang sekolah dan tidak bisa mengikuti Madin Pagi, mereka dapat mengikuti Taqrar. Materi dalam taqrir ini sama dengan Madin pagi dan kyai/ustadz hanya memberikan peringatan ketika ada kesalahan saja. Berbeda dengan di PPRT, kurikulum di Pesnatren Luhur didesain cukup lengkap, untuk kelas I (Sharf, Nahwu, Arba'in Nawawi, Ta'lim Muta'allim, Tajwid, Mabadi' al-Fiqhiyah dan Tauhid), kelas II Sharf, Nahwu, Riyad al-Badi'ah, Tauhid, Mabadi' al-Awwaliyah dan Bulugh al-Marom), kelas III (Shorf, Fath al-Qarib, Nahwu, Tajwid, al-Sulam, dan al-Adzkar), dan kelas IV (Ibnu Aqil, Fath Mu'in, Tauhid, Jauhar Maknun, Tajwid, Minhaj al-Qawim, al-Tibyan dan Mushthalah al-Hadits).&lt;br /&gt;Suasana di luar jam pelajaran biasanya dimanfaatkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran diniah. Karena umumnya mereka hanya mondok, maka kesempatan memperdalam ilmu-ilmu dari Madin sangat luas.&lt;br /&gt;2. Ragam nilai dalam budaya organisasi pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;Ragam nilai dalam budaya organisasi pesantren dalam penelitian ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan santri dan tujuan 'nyantri'. Di PPRT semua santrinya berpendidikan mahasiswa. Mereka memilih tinggal di pondok adalah untuk melengkapi keilmuan yang telah didapatkan dari kampus. Pola pikir mahasiswa yang demokratis sedikit banyak mempengaruhi pola kehidupan di pesantren. Para santri tidak begitu saja menerima ajaran yang disampaikan kyai, tetapi dengan pikiran kritis. Salah satu contoh konsep tentang Ahl as-Sunnah wa-al-Jama'ah, yang sering dipahami oleh dunia pesantren sebagai ajaran yang dalam bidang aqidah mengikuti Imam Asy'ari dan Imam Maturidzi, dalam bidang fiq mengikuti Imam Empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali), serta dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Ghazali dan imam Abu Qasim al-Junaidi. Oleh santri mahasiswa, konsep Ahl as-Sunnah wa-al-Jama'ah semacam itu dianggap apologis. Karena hanya membatasi kepada hasil ijtihad orang bukan bersumber dari ajaran yang pokok, yakni al-Qur'an dan Hadits Nabi.&lt;br /&gt;Dalam pesantren mahasiswa, mereka lebih bersikap kontekstual, inklusif, dan akomodatif dalam menyikapi realitas dengan pembacaannya yang kritis- akademis ala kampus tanpa melupakan khazanah intelektual masa silam yang sudah melebur dengan tradisi.&lt;br /&gt;Pola pikir mahasiwa ini juga berpengaruh terhadap pola relasi kiai-santri dan santri-keluarga kyai di dalamnya. Lazimnya, relasi kiai-santri dan santri-keluarga kyai adalah patron-client relationship ala pesantren yang terbentuk atas dasar kiai sebagai fokus pusaran kekuasaan di pesantren.&lt;br /&gt;Namun jika dianalisa lebih lanjut, pola kepemimpinan tradisional dan karismatik khas pesantren ini mulai bergeser seiring dengan tumbuhnya pesantren mahasiswa ini. Dalam pesantren model ini, pola relasi kiai-santri yang sebelumnya masih patron-client relationship yang tenggelam dalam aspek ruh al-inqiyad (semangat kepatuhan berlebihan para santri) bergeser menjadi pola relasi kepemimpinan botton up antara kiai dan santri atas dasar ruh al-intiqad (semangat mengkritik, menguji, dan mempertanyakan). Artinya, semangat kritis-akademis ala kampus mulai merasuk terbawa para santri saat mengikuti proses belajar-mengajar di pesantren.&lt;br /&gt;Di Pesantren Luhur yang masih menerapkan sistem salaf, keberadaan santri di pesantren memang betul-betul untuk 'nyantri' belajar di pondok. Pola pikir sebagaimana dalam pesantren mahasiswa belum banyak mempengaruhi mereka, sehingga pola relasi kyai-santri masih patron-client relationship. Kyai adalah sebagai fokus pusaran kekuasaan di pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sistem nilai dalam budaya organisasi pesantren yaitu Pesantren Raudlatuth Thalibin dan Pesantren Luhur Semarang.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan, sistem pendidikan pesantren didasari, digerakkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran dasar Islam. Nilai ini secara kontekstual disesuaikan dengan realitas sosial masyarakat. Perpaduan kedua sumber nilai inilah yang membentuk pandangan hidup dan menetapkan tujuan yang akan dikembangkan oleh pesantren.&lt;br /&gt;Menurut Mastuhu, nilai yang mendasari pesantren digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak yang bersifat fiqih-sufistik dan berorientasi pada kehidupan ukhrawi, dan 2) Nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relatif, bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan menurut hukum agama. Kedua nilai ini mempunyai hubungan vertikal dan hirarkis. Dalam kaitan ini, kyai menjaga nilai-nilai agama kelompok pertama, sedangkan ustadz dan santri menjaga nilai-nilai kelompok kedua. Hal inilah yang menyebabkan dalam sistem pendidikan pesantren sosok kyai menjadi sosok yang menentukan setiap perjalanan dan aktivitas pesantren (individual enterprise).&lt;br /&gt;Disamping nilai-nilai tersebut ada beberapa prinsip dalam pesantren, yakni: Pertama, teosentris, artinya sistem pendidikan pesantren mendasarkan falsafah pendidikannya pada filsafat teosentris. Falsafah ini berangkat dari pandangan yang menyatakan bahwa semua kejadian berasal, berproses, kembali kepada kebenaran Tuhan, dan pengaruh konsep fitrah dalam Islam. Maka semua aktivitas pendidikan di pesantren dipandang sebagai ibadah dan bagian integral dari totalitas kehidupan manusia, sehingga belajar di pesantren tidak dipandang sebagai alat tetapi dipandang sebagai tujuan.&lt;br /&gt;Kedua, sukarela dan mengabdi. Karena mendasarkan kegiatan pendidikan sebagai suatu ibadah.Penyelenggaraan pesantren dilaksanakan secara sukarela (ikhlas) dan mengabdi kepada sesama dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Ketiga, kearifan, yakni bersikap dan berperilaku sabar, rendah hati, patuh kepada ketentuan hukum agama, tidak merugikan orang lain, dan mendatangkan manfaat bagi kepentingan bersama menjadi titik tekan dalam kehidupan pesantren dalam rangka mewujudkan sifat arif&lt;br /&gt;Keempat, kesederhanaan. Salah satu nilai luhur pesantren dan menjadi pedoman perilaku bagi warganya adalah penampilan sederhana. Sederhana yang dimaksud di sini bukan identik dengan kemiskinan, tetapi kemampuan bersikap dan berpikir wajar, proporsional, dan tidak tinggi hati.&lt;br /&gt;Kelima, kolektivitas. Pesantren menekankan pentingnya kolektivitas atau kebersamaan lebih tinggi daripada individualisme. Implikasi dari prinsip ini, di pesantren berlaku pendapat bahwa dalam masalah hak seseorang harus mendahulukan kepentingan orang lain, sedangkan dalam masalah kewajiban, dia harus mendahulukan kewajibannya sendiri sebelum orang lain.&lt;br /&gt;Keenam, mengatur kegiatan bersama. Merujuk pada nilai-nilai pesantren yang bersifat relatif, santri, dengan bimbingan ustadz dan kyai, mengatur hampir semua kegiatan proses belajamya sendiri.&lt;br /&gt;Ketujuh, kebebasan terpimpin. Prinsip ini digunakan pesantren dalam menjalankan kebijakan kependidikannya. Konsep yang mendasarinya adalah ajaran bahwa semua makhluk pada akhirnya tidak dapat keluar melampaui ketentuan-ketentuan sunnatullah. Di samping itu, ada keyakinan bahwa masing-masing anak dilahirkan menurut fitrah-Nya. Implikasi dari prinsip ini adalah warga pesantren mengalami keterbatasan-keterbatasan namun tetap memiliki kebebasan mengatur dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Kedelapan, mandiri. Dalam kehidupan pesantren, sifat mandiri tampak jelas. Sikap ini dapat dilihat dari aktivitas santri dalam mengatur dan bertanggung jawab atas keperluannya sendiri.&lt;br /&gt;Kesembilan, mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Sebagaimana disebutkan di muka, pesantren sangat mementingkan pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kehidupannya selalu berada dalam rambu-rambu hukum agama.&lt;br /&gt;Kesepuluh, pesantren adalah tempat mencari ilmu dan mengabdi. Warga pesantren menganggap bahwa pesantren adalah tempat mencari ilmu dan mengabdi. Ilmu yang dimaksud adalah bersifat suci dan tak terpisahkan dari bagian agama, sehingga model pemikiran mereka berangkat dari keyakinan dan berakhir dengan kepastian. Hal ini berbeda dengan ilmu dalam arti science yang memandang setiap gejala yang mempunyai kebenaran relatif dan bersyarat. Akhir dari pandangan ini adalah ilmu tidak dipandang sebagai kemampuan berpikir metodologis, melainkan sebagai berkah.&lt;br /&gt;Kesebelas, tanpa ijazah. Seiring dengan prinsip-prinsip sebelumnya, pesantren tidak memberikan ijazah atau sertifikat sebagai tanda keberhasilan belajar. Alasannya, keberhasilan tidak diukur dengan ijazah yang ditandai dengan angka-angka, tetapi diukur dengan prestasi kerja yang diakui oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Keduabelas, restu kyai. Dalam kehidupan pesantren, semua aktivitas warga pesantren sangat tergantung pada restu kyai, baik ustadz, pengurus, maupun santri. Implikasi prinsip ini adalah tanda kelulusan ditentukan oleh kyai, sehingga warga pesantren sangat berhati-hati jangan sampai melakukan tindakan yang tidak berkenan di hadapan kyai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7802309631215398126-9072097611650541172?l=citraedukasi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://citraedukasi.blogspot.com/feeds/9072097611650541172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7802309631215398126&amp;postID=9072097611650541172' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/9072097611650541172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7802309631215398126/posts/default/9072097611650541172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://citraedukasi.blogspot.com/2007/12/sistem-nilai-budaya-pesantren.html' title='Sistem Nilai Budaya Pesantren'/><author><name>Fatah Syukur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01687073777905967550</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/-svw8i57z9_o/TbtkzDQhz9I/AAAAAAAAAFk/MCOhx_jtaEs/s220/FATAH%2BSYUKUR%252C%2BDR%2B180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7802309631215398126.post-7087492352966077668</id><published>2007-12-31T04:28:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T21:06:17.047-08:00</updated><title type='text'>Implementasi TQM di Madrasah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;Implementasi TQM di Madrasah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fatah Syukur*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;Abstraksi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Peningkatan kualitas merupakan salah satu prasyarat agar kita dapat memasuki era globlalisasi yang penuh dengan persaingan. Keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam tidak akan lepas dari persaingan global tersebut. Untuk itu peningakat kualitas merupakan agenda utama dalam meningkatkan mutu madrasah agar dapat survive dalam era global.&lt;br /&gt;TQM (Total Quality Management) merupakan konsep peningkatan mutu secara terpadu di bidang manajemen dan masih cukup baru dalam dunia pendidikan. Artikel ini mencoba mengimplementasikan konsep TQM untuk Madrasah. Walaupun keberadaan madrasah secara formal sama dengan sekolah, tetapi kekhasan kultur madrasah tetap membedakan dengan kultur sekolah umum. Oleh karena itu, apakah TQM dapat diterapkan di madrasah, prasyarat apa yang diperlukan agar TQM itu berhasil, apa kendala-kendalanya. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang dimuculkan dalam artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keywords : &lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;Total Quality Management, Mutu, dan Madrasah,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.&lt;br /&gt;Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan hasil ujian nasional siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah/madrasah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.&lt;br /&gt;Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.&lt;br /&gt;Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah/madrasah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.&lt;br /&gt;Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement). Disamping itu mengingat sekolah/madrasah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah/madrasah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah/madrasah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah/madrasah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;Bervariasinya kebutuhan siswa akan belajar, beragamnya kebutuhan guru dan staff lain dalam pengembangan profesionalnya, berbedanya lingkungan sekolah/madrasah satu dengan lainnya dan ditambah dengan harapan orang tua/masyarakat akan pendidikan yang bermutu bagi anak dan tuntutan dunia usaha untuk memperoleh tenaga bermutu, berdampak kepada keharusan bagi setiap individu terutama pimpinan kelompok harus mampu merespon dan mengapresiasikan kondisi tersebut di dalam proses pengambilan keputusan. Ini memberi keyakinan bahwa di dalam proses pengambilan keputusan untuk peningkatan mutu pendidikan mungkin dapat dipergunakan berbagai teori, perspektif dan kerangka acuan (framework) dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat terutama yang memiliki kepedulian kepada pendidikan. Karena sekolah/madrasah berada pada pada bagian terdepan dari pada proses pendidikan, maka diskusi ini memberi konsekwensi bahwa sekolah/madrasah harus menjadi bagian utama di dalam proses pembuatan keputusan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Sementara, masyarakat dituntut partisipasinya agar lebih memahami pendidikan, sedangkan pemerintah pusat berperan sebagai pendukung dalam hal menentukan kerangka dasar kebijakan pendidikan.&lt;br /&gt;Strategi ini berbeda dengan konsep mengenai pengelolaan sekolah/madrasah yang selama ini kita kenal. Dalam sistem lama, birokrasi pusat sangat mendominasi proses pengambilan atau pembuatan keputusan pendidikan, yang bukan hanya kebijakan bersifat makro saja tetapi lebih jauh kepada hal-hal yang bersifat mikro; Sementara sekolah/madrasah cenderung hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, lingkungan Sekolah/madrasah, dan harapan orang tua. Pengalaman menunjukkan bahwa sistem lama seringkali menimbulkan kontradiksi antara apa yang menjadi kebutuhan sekolah/madrasah dengan kebijakan yang harus dilaksanakan di dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Fenomena pemberian kemandirian kepada sekolah/madrasah ini memperlihatkan suatu perubahan cara berpikir dari yang bersifat rasional, normatif dan pendekatan preskriptif di dalam pengambilan keputusan pandidikan kepada suatu kesadaran akan kompleksnya pengambilan keputusan di dalam sistem pendidikan dan organisasi yang mungkin tidak dapat diapresiasiakan secara utuh oleh birokrat pusat. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya pemikiran untuk beralih kepada konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah/madrasah sebagai pendekatan baru di Indonesia, yang merupakan bagian dari desentralisasi pendidikan yang tengah dikembangkan.&lt;br /&gt;Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah/madrasah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah/madrasah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979). Beberapa indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut; (i) lingkungan sekolah/madrasah yang aman dan tertib, (ii) sekolah/madrasah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (iii) sekolah/madrasah memiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah/madrasah (kepala sekolah/madrasah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanya pengembangan staf sekolah/madrasah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (vi) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (vii) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat. Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan. Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah/madrasah; kepala sekolah/madrasah, guru dan tenaga/staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam memandang, memahami, membantu sekaligus sebagai pemantau yang melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah/madrasah yang bersangkutan dengan didukung oleh pengelolaan sistem informasi yang presentatif dan valid. Akhir dari semua itu ditujukan kepada keberhasilan sekolah/madrasah untuk menyiapkan pendidikan yang berkualitas/bermutu bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam pengimplementasian konsep ini, sekolah/madrasah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya berkaitan dengan permasalahan administrasi, keuangan dan fungsi setiap personel sekolah/madrasah di dalam kerangka arah dan kebijakan yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah/madrasah harus membuat keputusan, mengatur skala prioritas disamping harus menyediakan lingkungan kerja yang lebih profesional bagi guru, dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keyakinan masyarakat tentang sekolah/madrasah/pendidikan. Kepala sekolah/madrasah harus tampil sebagai koordinator dari sejumlah orang yang mewakili berbagai kelompok yang berbeda di dalam masyarakat sekolah/madrasah dan secara profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah/madrasah melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total dengan menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah/madrasah itu sendiri maupun sekolah/madrasah lain.&lt;br /&gt;Ada empat hal yang terkait dengan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total yaitu; (i) perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus-menerus mengumandangkan peningkatan mutu, (ii) kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah/madrasah, (iii) prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, (iv) sekolah/madrasah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional.&lt;br /&gt;Sistem kompetisi tersebut akan mendorong sekolah/madrasah untuk terus meningkatkan diri, sedangkan penghargaan akan dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri setiap personel sekolah/madrasah, khususnya siswa. Jadi sekolah/madrasah harus mengontrol semua semberdaya termasuk sumber daya manusia yang ada, dan lebih lanjut harus menggunakan secara lebih efisien sumber daya tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat bagi peningkatan mutu khususnya. Sementara itu, kebijakan makro yang dirumuskan oleh pemerintah atau otoritas pendidikan lainnya masih diperlukan dalam rangka menjamin tujuan-tujuan yang bersifat nasional dan akuntabilitas yang berlingkup nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Mutu&lt;br /&gt;Dalam kerangka umum, mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam "proses pendidikan" yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah/madrasah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah/madrasah, dukungan kelas berfungsi mensinkronisasikan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah/madrasah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta atau UAN). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenis teknik, jasa. Bahkan prestasi sekolah/madrasah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam arti hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah/madrasah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah/madrasah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah/madrasah, terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya: NEM oleh KKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah/madrasah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah/madrasah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dan Prinsip Mutu Terpadu&lt;br /&gt;Mendefinisikan mutu / kualitas memerlukan pandangan yang komprehensif. Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas, yakni;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;1. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan&lt;br /&gt;2. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan&lt;br /&gt;3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain)&lt;br /&gt;4. Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.&lt;br /&gt;Mutu terpadu atau disebut juga Total Quality Management (TQM) dapat didefinisikan dari tiga kata yang dimilikinya yaitu: Total (keseluruhan), Quality (kualitas, derajat/tingkat keunggulan barang atau jasa), Management (tindakan, seni, cara menghendel, pengendalian, pengarahan). Dari ketiga kata yang dimilikinya, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995) &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seperti halnya kualitas, Total Quality Management dapat diartikan sebagai berikut;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; 1)Perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian serta kepuasan pelanggan (Ishikawa, 1993, p.135). 2) Sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi (Santosa, 1992, p.33). 3) Suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.&lt;br /&gt;Total Quality Approach hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik sebagai berikut;&lt;br /&gt;1. Fokus pada pelanggan (internal &amp;amp; Eksternal)&lt;br /&gt;2. Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas&lt;br /&gt;3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah&lt;br /&gt;4. Memiliki komitmen jangka panjang&lt;br /&gt;5. Membutuhkan kerjasama tim (teamwork)&lt;br /&gt;6. Memperbaiki proses secara kontinu&lt;br /&gt;7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan&lt;br /&gt;8. Memberikan kebebasan yang terkendali&lt;br /&gt;9. Memiliki kesatuan tujuan&lt;br /&gt;10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tujuan sistem mutu adalah memberikan keyakinan bahwa produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan (dapat pula disebut sebagai keluaran) memenuhi persyaratan mutu pembeli. Sistem mutu tersebut mencakup baik jaminan mutu maupun pengendalian mutu.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada beberapa tokoh yang mengemukakan prinsip-prinsip TQM. Salah satunya adalah Bill Crash, 1995, mengatakan bahwa program TQM harus mempunyai empat prinsip bila ingin sukses dalam penerapannya. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Program TQM harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada kualitas dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap proses dan produk.&lt;br /&gt;2. Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dalam memberlakukan karyawan, mengikutsertakannya, dan memberinya inspirasi.&lt;br /&gt;3. Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang disemua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusiasme keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;4. Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip, kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah organisasi.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Bill Creech, 1996, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen.&lt;br /&gt;Lima Pilar TQM&lt;br /&gt;PRODUK&lt;br /&gt;PROSES&lt;br /&gt;ORGANISASI&lt;br /&gt;PEMIMPIN&lt;br /&gt;KOMITMEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk adalah titik pusat untuk tujuan dan pencapaian organisasi. Mutu dalam produk tidak mungkin ada tanpa mutu di dalam proses. Mutu di dalam proses tidak mungkin ada tanpa organisasi yang tepat. Organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa pemimpin yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah ke atas merupakan pilar pendukung bagi semua yang lain. Setiap pilar tergantung pada keempat pilar yang lain, dan kalau salah satu lemah dengan sendirinya yang lain jga lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Program Mutu Terpadu [TQM].&lt;br /&gt;TQM sangat bermanfaat baik bagi pelanggan, institusi, maupun bagi staf organisasi.&lt;br /&gt;Manfaat TQM bagi pelanggan adalah:&lt;br /&gt;1. Sedikit atau bahkan tidak memiliki masalah dengan produk atau pelayanan.&lt;br /&gt;2. Kepedulian terhadap pelanggan lebih baik atau pelanggan lebih diperhatikan.&lt;br /&gt;3. Kepuasan pelanggan terjamin.&lt;br /&gt;Manfaat TQM bagi institusi adalah:&lt;br /&gt;1. Terdapat perubahan kualitas produk dan pelayanan&lt;br /&gt;2. Staf lebih termotivasi&lt;br /&gt;3. Produktifitas meningkat&lt;br /&gt;4. Biaya turun&lt;br /&gt;5. Produk cacat berkurang&lt;br /&gt;6. Permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat.&lt;br /&gt;Manfaat TQM bagi staf Organisasi adalah:&lt;br /&gt;1. Pemberdayaan&lt;br /&gt;2. Lebih terlatih dan berkemampuan&lt;br /&gt;3. Lebih dihargai dan diakui&lt;br /&gt;Manfaat lain dari implementasi TQM yang mungkin dapat dirasakan oleh institusi di masa yang akan datang adalah:&lt;br /&gt;1. Membuat institusi sebagai pemimpin (leader) dan bukan hanya sekedar pengikut (follower)&lt;br /&gt;2. Membantu terciptanya tim work&lt;br /&gt;3. Membuat institusi lebih sensitif terhadap kebutuhan pelanggan&lt;br /&gt;4. Membuat institusi siap dan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan&lt;br /&gt;5. Hubungan antara staf departemen yang berbeda lebih mudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Implementasi TQM&lt;br /&gt;Agar implementasi program TQM berjalan sesuai dengan yang diharapkan diperlukan persyaratan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Komitmen yang tinggi (dukungan penuh) dari menejemen puncak.&lt;br /&gt;2. Mengalokasikan waktu secara penuh untuk program TQM&lt;br /&gt;3. Menyiapkan dana dan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas&lt;br /&gt;4. Memilih koordinator (fasilitator) program TQM&lt;br /&gt;5. Melakukan banchmarking pada perusahaan lain yang menerapkan TQM&lt;br /&gt;6. Merumuskan nilai (value), visi (vision) dan misi (mission)&lt;br /&gt;7. Mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai bentuk hambatan&lt;br /&gt;8. Merencanakan mutasi program TQM.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Peranan Pemimpin dan Staf Dalam Implementasi TQM&lt;br /&gt;Pemimpin berperan dalam implementasi program TQM mulai dari menetapkan tujuan hingga alokasi waktu yang cukup. Kepemimpinan organisasi yang umum digunakan dapat dibedakan dalam empat model gaya kepemimpinan yaitu: model autocrasi, model feudal, model egalitarian, model anarchic. Adapun model kepemimpinan yang sangat cocok dengan budaya TQM adalah model egalitarian, karena pada model ini seorang pemimpin memberikan kebebasan kepada karyawan untuk bekerja. Karyawan berkomunikasi ke atas dan ke bawah di dalam departemennya bahkan dapat melewati departemen yang lain. Tim antar departemen dapat dibentuk untuk menyelesaikan masalah tertentu, pada model kepemimpinan ini.&lt;br /&gt;Menurut pengalaman Deming dan Juran disimpulkan bahwa sistem dan menejemen lebih menentukan keberhasilan perusahaan. Namun, tanpa dukungan karyawan maka keberhasilan itu tidak akan sempurna. Kesuksesan TQM yang dapat mengenali karyawan hanya dapat mencapai hasil terbaik ketika budaya perusahan mendukung dan sistem yang jelek diperbaiki secara seksama. Implikasinya adalah menejemen harus mendorong karyawan yang berada ditingkat bawah untuk membuat keputusan mereka sendiri dan karyawan harus dipercayai dalam mengerjakan tugasnya tanpa harus dimonitor setiap gerak-geriknya. Hal ini merupakan prinsip pemberdayaan (empowerment) karyawan. &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat Agar Pelanggan Puas&lt;br /&gt;Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan agar pelanggan puas yang meliputi :&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7802309631215398126#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;1. Reability (kepercayaan), yaitu layanan sesuai dengan yang dijanjikan&lt;br /&gt;2. Assurance (keterjaminan), yaitu mampu menjamin kualitas layanan yang diberikan&lt;br /&gt;3. Tangible (penampilan), yaitu iklim sekolah/madrasah yang kondusif&lt;br /&gt;4. Emphaty (perhatian), yaitu memberikan perhatian penuh kepada peserta didik&lt;br /&gt;5. Responsiveness (ketanggapan), yaitu tepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi pelaksanaan di tingkat sekolah/madrasah&lt;br /&gt;Dalam rangka mengimplementasikan konsep manajemen peningkatan mutu yang berbasis sekolah/madrasah ini, maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan sekolah/madrasah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;· Penyusunan basis data dan profil sekolah/madrasah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.&lt;br /&gt;· Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah/madrasah, personil sekolah/madrasah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.&lt;br /&gt;· Berdasarkan analisis tersebut sekolah/madrasah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah/madrasah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengeloaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.&lt;br /&gt;· Berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut sekolah/madrasah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannnya). Program tersebut memuat sejumlah program aktivitas yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yang telah ditetapkan dan harus memperhitungkan kunci pokok dari strategi perencanaan tahun itu dan tahun-tahun yang akan datang. Perencanaan program sekolah/madrasah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan NEM rata-rata dalam prosentase tertentu, perolehan prestasi dalam bidang keterampilan, olah raga, dsb). Program sekolah/madrasah yang disusun bersama-sama antara sekolah/madrasah, orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu sekolah/madrasah dan sekolah/madrasah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Karena fokus kita dalam mengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa, maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan, langkah untuk menyampaikannya di dalam proses pembelajaran dan siapa yang akan menyampaikannya.&lt;br /&gt;Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksankan program. Oleh karena itu, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Kondisi ini mendorong sekolah/madrasah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan peralatan bukan kepada output pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen tersebut sekolah/madrasah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.&lt;br /&gt;· Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program sekolah/madrasah, oleh karena itu sekolah/madrasah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial, yaitu : (i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di sekolah/madrasah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program sekolah/madrasah dalam periode satu tahun, dan (ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera)
