02 Oktober 2009

Hikmah Lebaran

MENCARI KEBAHAGIAAN ATAU KESENANGAN

Modernisasi sering di identikkan dengan suatu tahap pencapaian peradaban suatu bangsa. Misalnya bangsa ini sudah modern cara hidupnya, karena peradabannya sudah tinggi. Namun dalam perkembangannya istilah modernisasi sering ditafsirkan sebagai westernisasi. Suatu bangsa dikatakan modern apabila cara hidupnya sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Barat. Pada awalnya mungkin tidak terlalu salah, karena secara realistis Dunia Barat sekarang ini menunjukkan keunggulannya di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sehingga peradabannya juga tinggi. Akan tetapi bila modernisasi yang mengarah kepada westernisasi itu mencakup pola prilaku dan filsafat hidup dunia Barat, maka inilah yang akan menimbulkan problem baru.
Keunggulan intelektual Barat terutama terlihat dalam ilmu dan teknologinya. Sehingga peradaban Barat dipuja dan dinyatakan sebagai peradaban ideal. Dalam studinya, The Reformers of Egypt, M.N. Zaki Badawi mencatat dua jenis kelompok masyarakat yang menganggap peradaban Barat sebagai peradaban ideal, yaitu yang "Membaratkan Diri" dan “Golongan Sekularis” (Ziauddin Sardar, 1991:77). Reaksi pembaratan diri adalah menerima secara total budaya Barat bersama dengan adopsi ilmu dan teknologinya. Pandangan ini antara lain dikemukakan oleh Thaha Hussain :"Mari kita ambil peradaban Barat ini dalam totalitasnya dan bersama seluruh aspeknya, semua yang baik maupun yang buruk". Pandangan yang mendasar di sini adalah keyakinan mereka bahwa "kemajuanlah" yang penting, bukan agama. Karena itu agama dibatasi bidangnya, yaitu hanya dalam hubungan antara manusia sebagai individu dengan Tuhannya. Contoh lain adalah seperti yang dilakukan oleh Mustafa Kamal At-Taturk, dengan sekularisasi di Turki.
Sementara itu di antara tokoh-tokoh Barat sendiri justru banyak mengakui tentang kondisi kebobrokan mental akibat filsafat materialisme yang dianut oleh Barat. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Wern Vanbravoon dari Jerman, minat terhadap agama sedang meningkat karena ilmu pengetahuan telah gagal mengawasi terhadap penyalahgunaan hasil pengetahuan itu sendiri. Menurut Dr.John A Stroner dari Amerika, makro problema yang dihadapai Amerika sekarang ini, bukanlah masalah politik, apalagi ekonomi, tetapi masalah rohani, masalah spiritual yang paling mencemaskan adalah kehancuran akhlaq yang merupakan wabah di kalangan generasi muda. Ini semua membuat mereka kehilangan makna dari tujuan hidup, mereka hanya mencari kesenangan (comfort) bukan kebahagiaan (happines). Dr. Mulder seorang guru besar dari Belanda mengatakan, bahwa peranan agama belum selesai (seperti yang dikatakan oleh bangsa Barat bahwa Tuhan telah mati), dengan alasan karena dunia Barat sekarang ini justru ada gejala beragama sebagai pengaruh agama timur seperti India, Jepang dan Indonesia. Ada kecenderungan yang menunjukkan bahwa peranan agama semakin kuat (Nasikun, 1989).
Masalah sekularisme adalah suatu yang sering diidentikkan dengan modernisasi oleh sementara orang yang terlalu terpengaruh oleh penga-laman sejarah bangsa Barat. Faham ini dirintis dari Aliran Liberalis. Dari sini timbul segala ideologi-ideologi dari sistem sosial yang ada pada masyarakat. Tokoh Liberalis ini adalah John Locke, yang karena teori politiknya mendasarkan atas perlindungan kepada hak milik, maka faham ini akhirnya melahirkan sistem kapitalisme di negara-negara Barat. Dimana dalam ajaran John Locke, orang-orang yang karena teori politiknya mendasarkan atas perlindungan kepada hak milik, maka faham ini akhrinya melahirkan sistem kapitalisme di negara-negara Barat. Orang-orang yang tidak mempunyai hak milik tidak memperoleh hak kewarganegaraan yang penuh. Hak milik dalam masyarakat industri yang maju sering diperoleh dengan cara tidak halal yang mirip dengan penindasan dan ekploitasi.
Faham kapitalisme yang lahir di Barat ini telah melahirkan revolusi industri dengan segala dampak positif dan negatifnya. Keadaan inilah yang telah merubah jaman feodal yang memberi kepastian peranan tiap orang, diganti dengan persaingan dan ketidakpastian. Ketenangan jiwa telah diganti dengan kegelisahan. Sebaliknya penderita penyakit jiwa yang mengganggu, atas nama kemanusiaan harus dilindungi. Setiap orang dihadapkan pada ketidakpastian terhadap dirinya dan anak cucunya. Mereka berlomba mencari harta sebanyak mungkin untuk melindungi diri dari ketidakpastian yang akan datang. Sikap hidup yang dipenuhi dengan kegelisahan inilah yang nampaknya menjadi fenomena manusia modern.
Ketegangan-ketegangan yang terjadi pada jaman modern ini antara lain disebabkan karena; kebutuhan hidup yang meningkat tajam, rasa individuaistis dan egois, persaingan hidup semakain ketat dan keadaan yang tidak stabil. Akibat meningkatnya kebutuhan pada masyarakat modern itu maka orang dalam kehidupannya selalu mengejar waktu, mengejar benda, mengejar prestise. Semuanya itu akan mem bawanya kepada hidup seperti mesin, tidak mengenal istirahat dan ketentraman. Hidupnya dipenuhi oleh ketegangan perasaan (tension) karena keinginannya untuk menghindari perasaan tertekan, jika tidak tercapai semua yang tampak menggembirakan itu. Akibat lebih lanjut adalah timbulnya kegelisahan-kegelisahan yang kadang-gadang tidak jelas ujung pangkalnya. Kegelisahan (anxiety) itu akan menghilangkan kemampuan untuk merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya.
Ketika rasa untuk memenuhi kebutuhan pribadinya sudah meningkat, maka yang muncul biasanya adalah rasa individualistis dan egois. Orang lebih mementingkan diri sendiri atau merasa bahwa ia perlu lebih terdahulu memikirkan kepentingan dirinya. Hubungan persaudaraan yang berdasarkan kasih sayang dan cinta mencintai dalam masyarakat modern menjadi barang langka. Hubungan yang lazim adalah hubungan kepentingan, apakah itu hubungan bisnis, relasi jual-beli, dsb. Hilangnya persaudaraan murni, akan membawa orang kepada rasa kesepian di tengah-tengah orang banyak. Perasaan kesepian ini akan menghilangkan rasa aman, yang membawa kepada kegelisahan dan kecurigaan dalam hidup. Psikiater Dadang Hawary (1993) mengemukakan, perubahan-perubahan yang cepat di satu fihak dengan ketidakmampuan manusia untuk mengikuti atau menyesuaikan diri dengan kecepatan perubahan-perubahan itu dapat menimbulkan ketegangan atau konflik psikososial (stres) dalam masyarakat, yang dapat dibagai dalam tiga golongan, yaitu ; perubahan nilai-nilai kultural, perubahan sistem okupasional (pekerjaan) dan konflik antar idealisme serta realita.
Di negara maju, akibat modernisasi dan industrislisasi, maka cara berfikir, berperasan dan berprilaku manusia telah mengalami proses dehumanisasi. Gejala the agony of modernization, yaitu azab sengsara karena modernisasi dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat antara lain : tidak adanya jaminan sosial, pengangguran, kriminalitas yang semakin meningkat, kekerasan, penyalah gunaan narkotika, zat ediktif, dan alkohol, kenakalan remaja, kehamilan remaja, prostitusi, judi, bunuh diri, gangguan jiwa, perkosaan, dan lain-lain. (Fatah Syukur)

18 Januari 2009

conoth PTK

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF THING-PAIR- SHARE(TPS) PADA POKOK BAHASAN ZAT DAN WUJUDNYA
DI SMP N 1 KALASAN
Oleh :
Sugiyanta Widyaiswara/LPMP DIY
(Sumber: http://lpmpjogja.diknas.go.id// 4 November 2008.)

Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh upaya peningkatan kualitas pembelajaran melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS) dalam pembelajaran IPA Fisika terhadap kualitas interaksi siswa di kelas dan hasil belajar siswa. Untuk keperluan tersebut maka model penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas(PTK). Subjek penelitian adalah kelas VII F di SMP Negeri I Kalasan ,yang terdiri dari 38 siswa. Adapun data penelitian diperoleh dengan menggunakan lembar observasi dan tes tertulis. Data tersebut akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa implementasi model
pembelajaran kooperatif tipe Thin-Pair-Share(TPS) dalam pembelajaran IPA Fisika mampu meningkatkan kualitas interaksi siswa dalam kelas dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Kata Kunci : Model pembelajaran kooperatif tipe TPS

A. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah :
Berdasarkan pengalaman di lapangan, kualitas interaksi kelas masih relatif kurang optimal, distribusi kemampuan pada siswa kurang merata, yaitu cenderung memusat pada kelompok atas, siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Dari hasil refleksi dan kajian yang dilakukan, maka untuk memperbaiki struktur interaksi kelas yg demikian ,model pembelajaran yang perlu diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS).Rumusan MasalahBerdasarkan uraian di atas maka dapat dikemukakan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah hasil belajar IPA Fisika dan kualitas interaksi siswa kelas VII F melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipeThing-Pair-Share(TPS)?

Tujuan Penelitian:
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sedangakan secara khusus adalah untuk mendapatkan informasi hasil belajar IPA Fisika, siswa kelas VII F melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipeThing-Pair-Share(TPS).Manfaat Manfaat bagi siswa: meningkatkan motivasi belajar, berbagi pengetahuan, dan meningkatkan hasil belajar.Manfaat bagi guru : meningkatkan motivasi dan kinerja khususnya layanan pendidikan(pembelajaran), masukan dalam upaya pemecahan masalah pembelajaran secara kreatif dan inovatif.

B. METODE PENELITIAN
Setting Penelitian:
Penelitian dilakukan di SMP N 1 Kalasan, Sleman, Yogyakarta tahun Pelajaran 2005/2006, dengan subjek penelitian siswa kela VII F yang berjumlah 38 siswa.Adapun prosedur penelitian dilakukan dengan penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan dan penilian. Secara umum pada langkah awal implementasi pembelajaran guru menjelaskan tujuan pembelajaran, penjelasan singkat materi bahasan dan pertanyaan perangsang motivasi. Langkah selanjutnya untuk menemukan jawaban, siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan beberapa kegiatan eksperimen dengan panduan Lembar Kerja Siswa (LKS). Pembagian kelompok memperhatikan hetrogenitas. Setelah kegiatan eksperimen siswa secara berpasangan berbagi pengalaman-pengetahuan untuk menjawab pertanyaan dalam LKS. Berikut mekanisme pembentukan kelompok dan pasangannya.KELOMPOK EKSPERIMEN Kel. 1Siswa:ABCD Kel. 2Siswa:ABCD Kel. 3Siswa:ABCD Kel. 4 Siswa:ABCD Kel. 1Siswa:ABCD Kel. 2Siswa:ABCD Kel. 3Siswa:ABCD Kel. 4Siswa:ABCD PASANGAN
Setelah proses dalam kelompok dan pasangan selesai, guru meminta jawaban dari masing-masing pasangan dan meminta tanggapan dari pasangan lain. Apabila jawaban telah mengerucut/mendekati kebenaran konsep guru memberi penghargaan dan memvalidasinya serta memberikan penekanan yang diperlukan. Namun apabila belum tepat maka guru memberikan penjelasan dan penekanan jawaban seperlunya. Pada akhir pembelajaran guru memberi perntanyaan kuis untuk mengevaluasi ketercapaian kompetensi dan pengayaan pengetahuan siswa. Setelah pembelajaran selesai, guru bersama kolaborator dan siswa yang dipilih secara acak melakukan refleksi terhadapad proses pembelajaran yang telah berlangsung dan membuat rencana tindakan pada siklus berikutnya.

Prosedur Penelitian Perencanaan :
Menyusun sintaks pembelajaran dan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP), Lembar Kerja Siswa(LKS), pembagian kelompok eksperimen dan kelompok pasangannya, serta alat laboratorium dan media pembelajran yang diperlukan. Pelaksanaan : melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai sintaks pembelajaran dan RPP yang telah disusun. Selama kegiatan pembelajaran dengan dilakukan pengamatan dan mencatat kejadian-kejadian yang dianggap penting, sebagai bahan masukan dan pedoman dalam melakukan refleksi.
Penilaian: melakukan refleksi berdasarkan catatan yang diperoleh dari instrumen observasi kelas dan observasi guru serta pendapat siswa untuk memperbaiki rancangan pembelajaran dan menyususn rencana tindakan pada siklus berikutnya. Instrumen, Analisis Data dan RefleksiData dalam penelitian ini terdiri atas (1) skor hasil belajar siswa,(2)skor interaksi siswa dalam kelas,(3) skor kegiatan guru dalam pembelajaran,dan (4)skor tanggapan siswa teradap proses pembelajaran. Untuk mendapatkan data tersebut digunakan instrumen berupa (1) tes ulangan arian,(2)Lebar observasi Kelas,(3)Lembar Observasi Guru, dan (4) angket siswa.Adapun data penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif kualitatif, dengan ketentuan: (1) hasil belajar siswa didasarkan pada batas ketuntasan individual 65%, dan ketuntasan
klasikal 85%, (2) Data ineteraksi kelas dianalisis secara kualitatif dengan 5 katergori yang telah ditetapkan secara statistik:baik sekali-baik-cukup-kurang-kurang sekali,(3) data aktivitas guru dianalisis secara kualitatif, dilihat sejauhmana telah sesuai prosesdur yang telah ditetapkan, (4)data hasil angket siswa dianalisis secara deskriptif dengan lima kategori seperti pada data interaksi kelas.


C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang telah diperoleh, berikut ini gambaran secara sederhana alur rencana dan tindakan pada masing-masing siklus.

Siklus I
Kondisi :
Siswa termotivasi oleh pertanyaan gurumeski sudah ditentukan anggota kelompoknya, siswa cenderung memilih teman sejenis, teman yg pandai untuk menjadi anggota kelompok.siswa yang kurang pandai cenderung ditolak.siswa masih gaduh, kuarng kompak, sehingga banyak menyita waktu.jika dipasangkan dengan teman yang berlainan jenis, siswa cenderung menolak, dan tidak akrab.sebagian kelompok tidak dapat menyelesaikan percobaan dan menjawab pertanyaan LKS sesuai waktu yang telah ditentukan.Rencana Tindakan hasil refleksi : menyiapkan media yang diperlukan. Menyiapkan alat laboratorium sesuai dengan kbutuhan.menyusun kembali susunan anggota kelompok eksperimen dan kelompok
pasangan.menata susunan meja belajar agar lebih interaktif.

Siklus II
Kondisi :
Kegaduhan berkurangbebrapa siswa masih gaduh, belum enjoy dengan kelompok dan pasangannya.sebagian siswa sudah mulai aktif dan menyesuaikan diri dalam kelompoknya.keaktifan siswa belum merata, cenderung hanya siswa yang terbiasa aktif dan pandai yang aktif dalam kelompok.siswa masih cenderung malu, enggan untuk bertanya maupun menjelaskan baik terhadap pasangannya maupun dengan kelompok lain.siswa pandai masih cenderung masih menyimpan pngetahuannya(egois) dan siswa kurang pandai tidak percaya diri untuk bertanya maupun menjelaskan pengetahuannya.

Rencana Tindakan hasil refleksi :
1. guru menjelaskan manfaat bekerja kelompok pada siswa di awal kegiatan.
2. guru menjelaskan aturan main lebih rinci pada saat kerja kelompok maupun saat berbagi dengan pasangannya.
3. memberi penghargaan pada kelompok atau pasangan yang mampu menyelesaiakan tugasnya dengan baik dan benar sesuai waktu.
4. siswa bertanggung jawab atas penguasaan materi yang diimbasakan pada pasangannya.
5. siswa mengajukan pertanyaan kepada sesama anggota kelompok sebelum bertanya pada guru.

Siklus III
Kondisi:
kelas cukup interaktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan antar kelompok.kegaduhan tidak tampak.siswa belajar bertanggung jawab terhadap materi yang diimbaskan pada pasangannya.siswa bertanggung jawab pada kelompoknya jika ada pertanyaan dari kelompok lain.sebagian besar siswa tampak lebih enjoy dalam pembelajaran.ada beberapa siswa (7,89%) kurang senang dengan model pembelajaran
karena ingin belajar lebih cepat dan mandiri.

Hasil refleksi :
Guru senang dan puas dengan proses pembelajaran.Guru bangga atas keaktifan siswa, karena selama ini siswa cenderung pasif dalam kelompok.siswa merasa senang dan enjoy dalam pembelajaran.siswa mau berbagi pengetahuan dengan temannya/tidak egois.pengelolaan waktu belum efisien, sehingga kedepan pengelolaan waktu agar lebih disiplin.hasil belajar meningkat, dengan rata-rata ketuntasan diatas batas ketuntasan minimal.distribusi kemampuan semakin merata. D. Simpulan dan

D. KESIMPULAN SARAN SARAN
Kesimpulan :
Implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Thing-Pair-Share(TPS) pada materi pokok bahasan Zat dan Wujudnya pada siswa kelas VII F dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas interaksi siswa di kelas.
Saran :
(1) Guru perlu meneliti, mengembangkan dan menerapkan model TPS pada pokok bahasan dan atau kelas yang berbeda karakteristiknya,
(2) guru perlu meneliti lebih lanjut dengan memperluas aspek penelitian, agar dapat diperoleh makna yang lebih luas dan mendalam,
(3) pengelolaan waktu perlu lebih diperhatikan dalam penerapan model TPS agar sesuai prosedur rencana tindakan yang telah ditetapkan.

E. DAFTAR PUSTAKA
Bambang Subali,(2002). Pedoman khusus penyusunan silabus berbasis kemampuan dasar siswa SMP. Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY.
Bloom, B.S.(1976). Human characteristic and school learning. New York : Mc. Grow Hill.Depdiknas.(2004). Materi Pelatihan Terintegrasi. Jakarta: Depdiknas.
Euwe Van den Berg.(1991). Miskonsepsi fisika dan remidiasi. Salatiga: UKSW. Fernandes, H,J.X.(1984). Testing and Measurement. Jakarta: national Educational Planning.
Ibrahim, dkk.(2000). Pembelajan Kooperatif. Surabaya: University Press.Imam Barnadib.(1995). Beberapa aspek substansi ilmu pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.
Moh. Amien.(1987). Mengajarkan ilmu pengetahuan alam (IPA) dengan menggunakan metode discoverydan inquiri.Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.Maslow, A.H.(1971). The farther reaches of human nature. New York: The Viking Press.
Mitchel, B.W.(1976). Planning for creative learning. Washington : Kendall/Hunt Publishing Company.
Moh. Sidin Ali(1995). Kreativitas, kemampuan operasi logic dan kemampuan dasar berhitung dengan prestasi belajar fisika pada siswa SMA di kota madya Ujung Pandang.Tesis Yogyakarta.
Munandar, S.C.U.(1977). Creativity and education : Study relationship between measure of creative thinking and a number of educational variables in Indonesian primary and junior secondary schools. Jakarta : UI
Rowe, B.M.(1970). Wait-time and reward as instructional variable: Influence on inquiry and sense and fate control. New York : Columbia University.
Saifudin Azwar.(1976). Tes Pestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Slavin, R.E.(1995). Cooperative learning, theory, research, and practice. Second edition. Boston : Allyn and Bacon.
Sukamto.(1997). Course material on applied educational research. Medan : PPGT.
Treffinger, D.J.(1992).Encouraging creative learning for gifted and talented. Ventura Clif : Ventura Country Super Intendent of School Office.
Woolfolk,A.E.(1984). Educational phsycology for teachers. New Jersey: Printice-Hall. Inc.

contoh PTK

Contoh PTK Bidang IPA
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA
PELAJARAN IPA DI SD
Dra. Suprayetkti, M.Pd.
(Sumber: http://www.teknologipendidikan.net)

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan
pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing; (2) Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas.
Kata Kunci: model pembelajaran interaktif, penelitian tindakan kelas, IPA, SD.

I. PENDAHULUAN
Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggungjawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru SD, yang merupakan ujung tombak dalam pendidikan dasar. Guru SD adalah orang yang paling berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Guru SD dalam setiap pembelajaran selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan keluhan kekurangan waktu untuk mengajarkannya semua.
Menurut pengamatan penulis, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model-model pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, dan sangat sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi.
Kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPA. Disamping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar IPA siswa kelas 5 di SDN Jakarta Timur yang dipaparkan pada tabel berikut.

Tabel 1 Nilai rapor untuk mata pelajaran IPA Tahun Ajaran 1998/1999 sampai dengan 2003/2004 SDN Pagi Jakarta Timur

Tahun Ajaran Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata-Rata
1998/1999 6,34 3,78 5,06
1999/2000 7,26 4,26 5,76
2000/2001 6,82 3,96 5,39
2001/2002 7,12 4,12 5,62
2002/2003 7,36 3,42 5,39
2003/2004 6,92 4,08 5,00

Rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA di SDN Jakarta Timur munjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA. Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera.
Berdasarkan hal tersebut diatas, penerapan model pembelajaran interaktif menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini dilakukan peneliti yang bertugas sebagai tenaga dosen FKIP-UT dengan berkolaborasi dengan guru-guru SD di SDN Jakarta Timur. Dengan berlolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang model pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariatif. Disamping itu kolaborasi ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksi diri terhadap kinerja yang telah dilakukannya, sehingga dapat melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa.
Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50) Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebgai berikut:
Bagaimana desain model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
Bagaimana menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
Bagaimana kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
Apakah dengan kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
Bagaimana kreaktivitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?

C. CARA PEMECAHAN MASALAH
Permasalahan rendahnya hasil belajar IPA di SDN Jakarta Timur perlu segera ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas kinerjanya selama perolehan hasil belajar IPA masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi, apabila kreaktifitas siswa dalam pembelajaran juga tinggi. Hasil penelitian mengungkapkan bahawa tingkat kreatifitas siswa saat penelitian dilaksanakan masih rendah, kinerja siswa menunjukkan fenomena sebagai berikut guru jarang membimbing siswa dalam diskusi tentang topik-topik IPA, guru jarang memberikan pertanyaan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena guru kurang memotivasi siswa agar berani bertanya apabila ada masalah/materi yang tidak/kurang dimengerti. Pembelajaran yang ada lebih terpusat pada guru, bukan kepada siswa. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi dengan diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi yang mengisyaratkan pembelajaran harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa. Hal ini dapat tercapai apbila kinerja belajar siswa ditingkatkan, sehingga guru hanya berperan sebagai fasiltator, motivator dan organisator.
Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SD, menerapkan model pembelajaran interaktif sebagai alternatif untuk dapat meningkatkan perolehan hasil belajar IPA, dapat lebih optimal lagi apabila dilakukan melalui kerja kelompok. Rencana penerapan model tersebut dapat dilihat pada skema berikut.

PERSIAPAN
Guru dan Kelas memilih topik dan menemukan informasi

SEBELUM PANDANGAN
Kelas atau perorangan siswa mengemukakan
Yang diketahui tentang topik yang dibahas
KEGIATAN EKSPLORASI
Melibatkan siswa dalam topik
PEMBANDINGAN
PERTANYAAN ANAK
Kesempatan kelas mengundang siswa
Mengajukan Pertanyaan tentang topik
PENYELIDIKAN
Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk
Untuk dieksplorasi selama 2-3 hari
PERTANYAAN TAMBAHAN
SETELAH PANDANGAN
Pernyataan perorangan atau kelompok dikompilasi
Dan dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya
REFLEKSI
Saat memantapkan hal-hal yang telah diverifikasi
Dan hal-hal yang masih perlu dipilah

Gambar 1 Bagan Alur Pembelajaran Interaktif
(Faire and Cosgrove, dalam Harlen 1992)


D. TUJUAN PENELITIAN
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran.
Secara khusus tujuan penelitian adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui kemampuan guru mendesain model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok
2. Menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok
3. Meningkatkan kinerja belajar siswa dalam pembelajaran denganmenggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
4. Mengetahui apakah kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran interaktif
5. Meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok.
6. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
7. Solusi yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

E. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN
Bagi siswa pembelajaran interaktif memberikan pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Siswa memiliki kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, karena itu keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa. Disamping itu, melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan siswa didorong aktif secara fisik, mental, dan emosi dalam pembelajaran.
Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan pembelajaran interaktif menjadi alternative pembelajaran IPA untuk meningkatkan prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. Guru mempunyai kemampuan dalam merancang model pembelajaran interaktif yang merupakan hal baru bagi guru, dan menerapkannya dalam pembelajaran IPA. Dengan penelitian ini, kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK.
Bagi kepala sekolah penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.

II. KAJIAN PUSTAKA
Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan IPA secara umum membantu agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki keterampilan untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar maupun menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam yang harus dibuktikan kebenarannya di laboratorium, dengan demikian IPA tidak saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses. Untuk itu ada tiga hal yang berkaitan dengan sasaran IPA di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut. (1) IPA tidak semata berorientasi kepada hasil tetapi juga proses. (2) Sasaran pembelajaran IPA harus utuh menyeluruh dan (3) pembelajaran IPA akan lebih berarti apabila dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan siswa secara aktif.

A. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Seringkali kita mendengar kata penelitian, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : research, yang berarti kegiatan pencaharian atau ekspolrasi untuk menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajian. Adapun yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Dari segi semantik (arti kata) action research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan. Carr dan Kemmis (McNiff, J, 1991, p.2) mendefisikan action research sebagai berikut :
Action research is a form of self – refflective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa ide pokok antara lain :
1. Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
2. Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
3. Penelitian Tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan
4. Tujuan Penelitian Tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktek-praktek, pemahamn terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat tersebut dilaksanakan
Dari keempat ide pokok di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Berdasarkan pengertian tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru di dalam kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

B. Model Pembelajaran Interaktif
Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatn. Sunarwan (1991) dalam Sobry Sutikno (2004 :15) mengartikan model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran atau model mengajar sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada mengajar di kelas dalam setting pengajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992).
Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus.
Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).
Model pembelajaran interaktif memiliki lima langkah. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Interaktif diawali dengan (1) persiapan, sebelum pembelajaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing. (2) kegiatan penjelajahan, pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan. (3) pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya. (4) penyelidikan, guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalnya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya. (5) refleksi, pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya.
Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

C. Kerja Kelompok
Suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan IPA yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu kerja kelompok dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Kerja kelompok memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar karena ia mempunyai tanggung jawab belajar yang lebih besar dan memungkinkan berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa. Sedangkan peran guru lebih ditekankan sebagai organisator kegiatan belajar-mengajar, sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, serta penyedia materidan kesempatan belajar bagi siswa. Guru harus dapat mendiagnosa kesulitan siswa dalam belajar dan dapat memberikan bantuan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya.



D. Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan yang itu harus secara relative bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).

E. Kreativitas
Dewasa ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, pegawai negeri maupun pada mereka yang berwiraswasta. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya. Seorang anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya.
Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kraetivitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon Menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong pleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kraetif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal.

III. PELAKSANAAN PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di kelas 5 (lima) SDN Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2004/2005.

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur.

B. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri atas tiga siklus kegiatan sebagai berikut.

SIKLUS 1
Tahap Perencanaan (Planning) :
1. Mengidentifikasi masalah
2. Menganalisis dan merumuskan masalah
3. Merancang model Pembelajaran interaktif
4. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif
5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
6. Menyusun kelompok belajar siswa
7. Merencanakan tugas kelompok

Tahap Melakukan Tindakan (Action) :
1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan
2. Menerapkan model pembelajaran interaktif
3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
4. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saatmelakukan tahap tindakan

Tahap Mengamati (observasi) :
1. Melakukan diskusi dengan guru SD dan kepala Sekolah untuk rencana observasi
2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru kelas lima
3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif
4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya

Tahap refleksi (Reflection)
1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
3. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
4. Melakukan refleksi terhada kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA
5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa

SIKLUS II
Tahap Refleksi/Siklus II meliputi
Tahap Perencanaan (Planning)
1. Hasil refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya
2. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
3. Merancang perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
1. Melakukan analisis pemecahan masalah
2. Melaksanakan tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

Tahap Mengamati (observation)
1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
2. Mencatat perubahan yang terjadi
3. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan

Tahap Refleksi (Reflection)
1. Merefleksi proses pebelajaran interakti dengan kerja kelompok
2. Merfleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
3. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian

Rekomendasi
Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah
1. Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA
2. Guru memiliki kemampuan guru merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran IPA
3. Terjadi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran IPA

C. Analisis Data
Untuk lebih menjamin keakuratan data penelitian dilakukan perekaman data dalam video. Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Rancangan pembelajaran interaktif dan pemberian tugas kerja kelompok dilakukan validasi oleh teman sejawat dan kepala sekolah. Untuk kreativitas siswa dalam pembelajaran digunakan observasi dan angket serta perolehan hasil belajar siswa digunakan deskripsi kuantitatif.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

SIKLUS 1
Tahap Perencanaan (Planning)
1. Guru mulai mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul saat pelaksanaan pembelajaran.
2. Guru mencoba menganilisis dan merumuskan masalah yang mungkin muncul saat pembelajaran
3. Guru merancang model pembelajaran interaktif, dibantu peneliti
4. Guru dan peneliti melakukan diskusi mengenai penerapan model pembelajaran interaktif, terutama langkah-langkah kegiatan diskusi kelompok siswa
5. Peneliti dan guru bersama-sama membuat angket untuk siswa dan pedoman observasi
6. Guru menyusun kelompok berdasarkan siswa yang pandai dibagi merata kesetiap kelompok
7. Guru merencanakan tugas kelompok tentang topik/materi IPA/Sains



Tahap Melakukan Tindakan (Action)
1. Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran
2. Guru menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran Sains/IPA
3. Peneliti dan pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
4. Peneliti dan pengamat memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
5. Guru belum dapat mengantisipasi kendala dengan melakukan solusi mengalami kendala saat melakukan tahap tindakan Tahap Mengamati (observasi)
6. Peneliti, pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) dan guru melakukan diskusi untuk rencana observasi pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya
7. Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru
8. Peneliti dan para pengamat mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif. Pada awal pembelajaran guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prncanaan, namun setelah beberapa saat guru kembali kepada pola lama yang biasa dilakukan dalam pembelajaran yaitu menjelaskan materi dan siswa menyimak penjelasan guru dan mencatat hal yang dianggap penting. Guru nampak tidak percaya diri ketika siswa bertanya tentang materi yang tidak dimengerti ketika mengerjakan tugas di rumah.
9. Peneliti, para pengamat dan guru melakukan diskusi untuk membahas tentang kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran IPA/Sains berikutnya. Saran yang diberikan peneliti dan juga para pengamat salah satunya adalah guru harus membaca materi IPA/Sains paket, meskipun guru sudah sering mengajarkan materi tersebut. Guru juga harus membaca beberapa buku referensi lain selain buku paket dan buku wajib, agar guru lebih percaya diri dan dapat menjawab semua pertanyaan siswa dengan tepat. Guru harus dapat mengalokasi waktu dengan baik, sehingga dapat merangkum materi yang dibahas.

Tahap refleksi (Reflection)
1. Guru menlakukan analisis temuan peneliti dan para pengamatan saat melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru
2. Peneliti dan para pengamat menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Terutama dalam mengelola kelas, saat siswa melakukan kerja kelompok.
3. Guru melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA/Sains. Selama diskusi kelas guru berusaha berkeliling pada setiap kelompok. Guru menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi saat melakukan percobaan.
4. Guru dibantu peneliti melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA/Sains, di samping itu guru mengadakan evaluasi tentang topik yang sudah dibahas dan nilai rata-rata siswa 5,859. Kreativitas meningkat setelah mengalami pembelajaran yang dilaksanakan guru. Siswa terlibat aktif dalam diksusi kelompok dan percobaan.
5. Guru melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa, mengevaluasi terhadap kekurangan dan kelemahannya dalam pelaksanaan pembelajaran, berupaya untuk memperbaikinya.

SIKLUS II
Tahap Refleksi/Siklus II meliputi
Tahap Perencanaan (Planning)
1. Hasil refleksi guru dievaluasi dan didiskusikan bersama dengan peneliti dan para pengamat dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya.
2. Guru mendata masalah-masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
3. Guru merancang perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi siklus I

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
1. Guru melakukan analisis dan pemecahan masalah yang dihadapinya dalam pelaksanaan pembelajaran
2. Guru melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dan berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan saat pembelajaran.

Tahap Mengamati (observation)
1. Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif
2. Peneliti dan para pengamat mencatat perubahan yang terjadi, guru lebih percaya diri dan menjelaskan materi/konsep dengan baik. Guru sudah dapat berperan sebagai nara sumber, fasilitator dan mediator dengan baik. Guru sudah dapat mengelola kelas dengan baik.
3. Guru, peneliti dan para pengamat melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan.

Tahap Refleksi (Reflection)
1. Guru merefleksi proses pembelajaran interaktif yang dilaksanakannya
2. Guru merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif
3. Guru menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian
4. Peneliti dan guru memberikan rekomendasi terhadap hasil akhir penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru.
5. Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah
6. Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA. Setiap pembelajaran IPA siswa selalu sudah siap dengan pertanyaan tentang materi/topik yang akan dibahas. Siswa sudah terbiasa bekerja kelompok dan berdiskusi
7. Guru telah memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif khususnya pada mata pelajaran IPA/Sains. Ada kemauan guru untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran lainnya
8. Prestasi siswa dalam pelajaran IPA/Sains meningkat. Nilai rata siswa mencapai 6,512

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Guru dalam mendesain model pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPA, pada awalnya masih ragu dan belum terbiasa.
2. Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok. Pada awalnya siswa mengalami kesulitan bekerja dalam kelompok, terutama siswa yang pintar/pandai tidak mau bergabung dengan siswa yang tidak/kurang pandai. Siswa yang merasa dirinya pandai lebih suka belajar dan bekerja sendiri. Siswa terkesan egois, untuk dapat menyatukan siswa dalam kelompok dan bekerja sama guru berusaha memberi penjelasan tentang pentingnya berbagi, bekerja sama, bersahabat tanpa memperhatikan kepintaran atau kemampuan orang lain. Justru siswa yang memiliki kelebihan daripada teman-temannya dapat membantunya dengan memberikan penjelasan tentang teori/materi pelajaran yang belum dipahami dan dimengerti
3. Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.
4. Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok, mengalami kesulitan dalam pengelolaan waktu. Guru belum dapat membagi waktu dalam masing-masing kegiatan pembelajaran. Siswa terlalu melakukan diskusi, sehingga guru tidak sempat merangkum/menyimpulkan materi yang dibahas karena waktunya sudah habis.
5. Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas.
6. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan bertujuan adalah memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakan guru. Menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat dijadikan alternatif untuk penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan berikutnya.

B. Saran
Penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok memerlukan kemauan dan pengorbanan yang besar, baik waktu, tenaga dan pikiran untuk itu bagi guru sekolah dasar mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas menggunakan model pembelajaran ini sebagai suatu tantangan.
Penelitian tindakan kelas sebaiknya dilakukan oleh guru dengan penuh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, peneliti hanya berusaha menjembatani dan memfasilitasi agar para guru sekolah dasar mau melakukan penelitian tindakan kelas sebagai langkah introspeksi diri sebagai tenaga profesional.
Sebaiknya penelitian tindakan kelas dilakukan oleh semua guru, baik guru SD, SMP, maupun SMA, sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja sebagai guru. Guru harus dapat menilai dirinya sendiri sebelum melakukan penilaian kepada siswanya. Guru harus mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam pembelajarannya, berusaha untuk mengatasinya dan menemukan solusi yang terbaik serta mengantisipasi apabila dalam pembelajaran mengalami kendala dan masalah.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Gagne, R.M (1985). The Conditions of Learning Theory of instruction (4 th Edition). New York : Holt, Rinehart and Winston.
Hasibuan, J.J, Mudjiono (1988), Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Karya. Bandung.
Hendro Darmodjo, Kaligis, J R E. (1991/1992). Pendidikan IPA II, Hal 7-11 Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan
Hernawaty Damanik. (2004). Penerapan Model Pembelajaran Social Science Inquiry Dalam Mata Pelajaran Sosiologi Dengan Kerja Kelompok. FKIP- Universitas Terbuka.
Irwanto, dkk (1991). Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Kemmis, S. dan MC. Toggart.R. (Ed.1988). The Action Resesarch Planner. Deakin. Deakin University: Australia
Lemlit-UT, (2003). Jurnal Pendidikan Volume 4, nomor 2. Pusat Studi Lembaga Penelitian Universitas Terbuka.
Mulyasa, E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Poedjiadi, A. (1990). Pendidikan Sains dan Teknologi di Masa yang akan datang. Disampaikan pada Seminar Puskur Balitbang Dikbud, Jakarta.
Poedjiadi, A. (1993). Mewujudkan literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan, hal 4-6. Disampaikan pada seminar FPMIPA IKIP-Bandung.
Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory and Practice. Masschusetts: Allyn and Bacon Publisher.
Sobry Sutikno, (2004). Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran Efektif dan Retorika. NTP Press. Mataram
Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory Research and Practice. Second Edition. Boston: Allyn and Bacon.
Sutarno, N. (2004). Materi Dan Pembelajaran IPA SD. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

16 Desember 2008


Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

15 Desember 2008

Media Pembelajaran


MAKNA MEDIA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Media pendidikan merupakan suatu alat atau perantara yang berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan murid menerima dan memahami pelajaran. Proses ini membutuhkan guru yang professional dan mampu menyelaraskan antara media pendidikan dan metode pendidikan.
Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan serta perubahan sikap masyarakat membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Hal ini mendorong setiap lembaga pendidikan untuk mengembangkan lembaganya lebih maju dengan memanfaatkan teknologi modern dan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai media pembelajaran.
Dari pemikiran di atas sudah jelas media pendidikan itu berkaitan dengan kemajuan suatu pendidikan yang meliputi sebagai berikut :
1. Arti, fungsi dan nilai media pendidikan.
2. Tujuan pendidikan.
3. Psikologi belajar.
4. Bentuk media pendidikan.
Pembahasan ini akan dimulai dari pengertian media pendidikan sebagai alat komunikasi.
Alat komunikasi selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan majunya ilmu pengetahuan.[1] Kaitannya dengan media pendidikan mempunyai fungsi yang besar di berbagai kehidupan, baik di kehidupan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan seni kebudayaan.[2]
Dalam kehidupan pendidikan media komunikasi memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan maupun peningkatan mutu di suatu lembaga pendidikan. Dengan memakai media tersebut anak didik akan mudah mencerna dan memahami suatu pelajaran. Dengan demikian melalui pendekatan ilmiah sistematis, dan rasional tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien.[3]
Untuk mencapai pendidikan tersebut guru memberikan peran yang penting untuk menghantarkan keberhasilan anak didik, oleh karenanya dibutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan murid, untuk menciptakan komunikasi yang baik dibutuhkan guru yang profesional yang mampu menyeimbangkan antara media pembelajaran dan metode pengajaran sehingga informasi yang disampaikan guru dapat diterima siswa dengan baik.[4]
Jadi tugas media bukan sebagai sekedar mengkomunikasikan hubungan antara pengajar dan murid namun lebih dari itu media merupakan bagian integral yang saling berkaitan antara komponen satu dengan komponen yang lain yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.

1. Arti dan Fungsi Media Pendidikan
Secara harfiah media diartikan “perantara” atau “pengantar”. AECT (Association for Educational Communication and Technology) mendefinisikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi.[5]
Robert Hanick dan kawan-kawan (1986) mendefinisikan media adalah sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dalam sudut yang sama, Kemp dan Dayton mengemukakan peran media dalam proses komunikasi sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sender) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).[6]
Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan, media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat, metodik dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan pengajaran di sekolah.
Pada mulanya media hanya dikenal sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni yang memberikan pengalaman visual pada anak dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang komplek dan abstrak menjadi lebih sederhana, kongkret, mudah dipahami. Dewasa ini dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan, maka media pembelajaran berfungsi sebagai berikut :
a. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.
b. Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi kongkret).
c. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).
d. Semua indera murid dapat diaktifkan.
e. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.
f. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.[7]
Dengan konsepsi semakin mantap fungsi media dalam kegiatan mengajar tidak lagi peraga dari guru, melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Hal demikian pusat guru berpusat pada pengembangan dan pengolahan individu dan kegiatan belajar mengajar.[8]
Sebagai seorang pendidik, fungsi dan kemampuan media sangat penting artinya. Media merupakan integrasai dari sistem pembelajaran sebagai dasar kebijakan dalam pemilihan pengembanan, maupun pemanfaatan.
Media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang gilirannya diharapkan mempertinggi hasil belajar yang hendak dicapai. Ada beberapa alasan media pembelajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa.
Pertama, berkenaan dengan manfaat media pembelajaran, sebagai berikut :
a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motifasi belajar.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa.
c. Metode pengajaran akan lebih variasi, tidak semata-mata komunikasi verbal.
d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengar uraian guru, tetapi juga punya aktifitas lain seperti mengamati, merumuskan, melakukan dan mendemonstrasikan.
Kedua, penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar yang berkenaan dengan taraf pikir siswa.[9] Berfikir siswa dimulai dari yang kongkret menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang abstrak, dari yang sederhana menuju yang komplek. Dalam hubungan ini penggunaan media pembelajaran berkaitan erat dengan tahapan-tahapan berfikir mereka sehingga tepat penggunaan media pembelajaran disesuaikan dengan kondisi mereka sehingga hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan.
Menurut Ensiclopedi of Educational Research, nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut :
a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalitas.
b. Memperbesar perhatian siswa.
c. Meletakkan dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu pelajaran lebih mantap.
d. Memberikan pengalaman yang nyata.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan bahasa.
g. Memberikan pengalaman yang tidak diperoleh dengan cara yang lain.
h. Media pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan murid.
i. Media pendidikan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realita dan teliti.
j. Media pendidikan membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar.[10]

2. Tujuan Pendidikan
Pendidikan ditujukan untuk menghantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu tercermin baik dari segi intelek, moral maupun hubungannya dengan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dalam lingkungan sekolah akan dibimbing dan diarahkan oleh guru dan siswa berperan aktif.[11]
Filsafat pendidikan memberikan kontribusi yang besar mengenai tujuan pendidikan, karena di dalam filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita yang mengatur tingkah laku atau perbuatan seseorang atau masyarakat. Dalam Undang-Undang Sistem Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3, disebutkan, bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Berdasarkan pada uraian di atas maka tujuan pendidikan adalah:
a. Memperbaiki mental, moral, budi pekerti memperkuat keyakinan agama.
b. Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.
c. Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.
d. Membangun warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab
Sebagai seorang pendidik, perumusan tujuan pembelajaran merupakan suatu hal yang pokok sebelum melakukan kegiatan pengajaran. Untuk meneruskan tujuan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Berorientasi pada kepentingan siswa, dengan bertitik tolak pada perubahan tingkah laku.
b. Dinyatakan pada kata kerja yang operasional artinya menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu.[12]

3. Psikologi Belajar
Pada umumnya belajar dapat kita lihat dari jenis pandangan, yakni tradisional dan pandangan modern. Pertama, pandangan tradisional, belajar adalah usaha memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan” memegang peranan yang penting dalam hidup manusia, pengetahuan adalah kekuasaan siapa saja yang memiliki banyak pengetahuan maka ia akan mendapat kekuasaan. Kedua, pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku perekat interaksi dengan lingkungannya. Seorang dikatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku.[13]
Jadi dengan demikian, belajar merupakan suatu keharusan untuk manusia agar memperoleh ilmu pengetahuan sebagai proses perubahan tingkah laku yakni berintelektual tinggi serta berakhlakul karimah.
Untuk mencapai suatu tujuan pelajaran para ahli psikologi pendidikan telah merumuskan beberapa teori yang digolongkan menjadi tiga bagian.
a. Teori Psikologi Daya atau formal disipline
Teori ini menekankan pada daya-daya yang dimiliki oleh anak yakni daya mengingat, daya berfikir, daya mencipta, daya perasaan, dan daya kemauan. Untuk mengembangkan daya tersebut maka perlu dilatih. Misalnya, membentuk daya mengingat, maka para siswa perlu diberi latihan fakta-fakta, untuk melatih daya berfikir para siswa diberi hitungan yang berat-berat dan lain-lain. Yang pening dari teori ini menekankan pada faktor pembentukannya bukan pada faktor materi yang digunakan.
b. Teori Psikologi Asosiasi
Teori ini dikenal dengan sebutan S-R bond teory yakni teori ini stimulus response. Setiap stimulus menimbulkan jawaban tertentu misalnya 5 x 4 = 20, 5 x 4 adalah stimulus sedangkan 20 = response. Teori ini kemudian menjadi dasar tumbuhnya teori connectionisme yang mempunyai doktrin pokok “hubungan antara stimulus dan respon”. Asosiasi dibuat antara kesan-kesan penginderaan dan dorongan-dorongan untuk berbuat. Thorndike dengan S-R bond teori itu menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut :
1) Hukum latihan atau prinsip use dan disuse. Apanbila hubungan itu sering dilatih ia akan lebih kuat.
2) Hukum pengaruh, hubungan itu akan diperkuat atau diperlemah tergantung pada kepuasan atau ketidak senangan yang berkenaan pada penggunaannya.
3) Hukum kesediaan atau kesiapan, apabila suatu ikatan untuk berbuat, perbuatan itu memberikan kepuasan, sebaliknya apabila tidak siap akan menimbulkan ketidak senangan.
Implikasi dari teori itu dalam belajar adalah :
1) Kelakuan belajar, adalah berkat pengaruh atau perbuatan yang dilakukan terhadap individu.
2) Menjelaskan kelakuan dan motivasi secara mekanis.
3) Kurang memperhatikan proses-proses mengenal dan berfikir.
4) Mengutamakan pengalaman-pengalaman masa lampau.
5) Menganggap bahwa situasi keseluruhan terdiri dari bagian-bagian.
c. Belajar menurut Psikologi Gestalt
Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur, unsur-unsur tersebut berada dalam keseluruhan menurut struktur tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain.
Implikasi teori tersebut terhadap belajar antara lain sebagai berikut:
1) Belajar dimulai dari keseluruhan.
2) Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian.
3) Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan.
4) Anak belajar menggunakan pemahaman.
5) Belajar merupakan rangkaian reorganisasi pengalaman.
6) Hasil belajar meliputi semua aspek tingkah laku.
7) Anak yang belajar merupakan keseluruhan bukan belajar pada otaknya saja.[14]

4. Bentuk Media Pendidikan
Sesuai dengan pemikiran di atas media pendidikan tidak terbatas pada alat-alat audio-visual yang dapat dilihat, didengar melainkan anak dapat melakukannya sendiri. Dalam hal ini maka tercakup pula di dalamnya pribadi dan tingkah laku guru.
Secara menyeluruh, bentuk media pendidikan terdiri dari :
a. Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis)
Misalnya buku, komik, koran, majalah, bulletin, folder, periodikal dan pamflet, dan lain-lain.
b. Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ini seperti :
1) Media pendidikan tanpa proyeksi, misalnya papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan diagram, grafik, karton, komik, gambar.
2) Media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan contoh, diorama, boneka, dan lain-lain.
3) Media yang menggunakan teknik atau masinal.
Alat-alat yang tergolong dalam kategori ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau instruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer.
c. Sumber-sumber masyarakat
Berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.
d. Kumpulan benda-benda
Berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain.
e. Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru
Meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.
[1] Dr. H. Asnawir, Media Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
[2] Dr. S. Nasution, Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemars, 1983.
[3] Sudarman Danim, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
[4] Ibid., h. 7.
[5] Ibid., h. 11.
[6] Drs. Benni Agus Pribadi, Media Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.
[7] Ibid., h. 23-25.
[8] Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1984.
[9] Dr. Nana Sudjana, Media Pendidikan, Bandung: Sinar Baru, 1990.
[10] Ibid., h. 27-31.
[11] Ibid., h. 1.
[12] Ibid., h. 138.
[13] Ibid., h. 40.
[14] Ibid., h. 41-44.

05 Mei 2008

RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A. Pengantar
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi: identitas mata pelajaran, kompetensi dasar dan indikator, materi pokok, langkah kegiatan, alat dan media, dan penilaian. Dalam pengimplementasian pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru dituntut menyusun RPP. RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. Karena itu, RPP harus memuat: tujuan pembelajaran,materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian.
Semangat dari diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah agar siswa belajar secara aktif. Pengembangan kompetensi peserta didik perlu disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Para guru dituntut lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran sehingga memungkinkan siswa dapat berekspresi melalui kegiatan-berbagai kegiatan yang nyata, yang menyenangkan, dan yang mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal. Hanya dengan cara yang demikian, hakikat dari kehadiran seorang guru benar-benar dirasakan oleh setiap peserta didik. Apalagi- sebagaimana dikatakan Prof. Don Elly (Ahli teknologi pembelajaran dari Universitas Syracius, A.S.)- kehadiran guru adalah kesempurnaan dalam proses belajar yang tak akan tergantikan oleh media apapun.
Modul pelatihan ini diharapkan dapat membantu memperluas wawasan para guru yang mengikuti Pendidikan dan Latihan dalam mengimplementasikan pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (M.I.) dengan berpedoman pada KTSP. Mengigat dalam Standar Isi (SI) dari KTSP hanya disebutkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, maka di dalam penyusunan KTSP, guru dituntut untuk secara mandiri mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai indikator yang operasional dan kreatif sehingga dapat mendorong pengalaman belajar siswa menjadi bermakna. Modul ini memberikan arah dalam mengembangkan RPP supaya perencanaan pembelajaran bisa sesuai dengan tuntutan pendidikan yang diharapkan.

B. Penyusunan Rencana Pelakasanaan Pembelajaran

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun recana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:
1. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialaokasikan).
2. Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan (ini tidak harus dimasukkan dalam RPP karena pada dasarnya sudah ada di silabus)
3. Tujuan pembelajaran. Tujuan dapat diperoleh dari atau didasarkan pada kompetensi dasar atau indikator.
4. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
5. Langkah kegiatan. Ini merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran atau pengalaman belajar yang ada di silabus.
6. Alat dan media yang digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajara dalam rangka mencapai tujuan.
7. Penilaian.menyebutkan prosedur dan instrumen penilaian untuk mengetahui kemajuan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

C. Langkah-langkah penyusunan RPP
1. Mencantumkan identitas
· Nama sekolah
· Mata Pelajaran
· Kelas/Semester
· Standar Kompetensi
· Kompetensi Dasar
· Indikator
· Alokasi Waktu

Catatan:
· RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
· Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan
· Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.

2. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.
3. Mencantumkan Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.

4. Mencantumkan Metode Pembelajaran
Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

5. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan tetapi, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

6. Mencantumkan Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

7. Mencantumkan Penilaian
Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat ituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.

D. Contoh Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

M.I. : ........................................................................
Mata Pelajaran : ........................................................................
Kelas/Semester : ........................................................................
Standar Kompetensi : ........................................................................
Kompetensi Dasar : ........................................................................
Indikator : ........................................................................
Alokasi Waktu : ......... x menit (….......... pertemuan)

I. Tujuan Pembelajaran :
.......................................................................................................................
II. Materi Pembelajaran :
.......................................................................................................................
III. Metode Pembelajaran :
.......................................................................................................................
IV. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:
.......................................................................................................................
Pertemuan 1
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
Pertemuan 2
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
dst
V. Sumber Belajar :
.......................................................................................................................
VI. Penilaian :
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................

E. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
1. Tahapan kegiatan
Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit). Alokasi waktu disesuaikan dengan bobot kompetensi dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

a. Kegiatan Awal
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa memfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran denagn baik. Sifat dari kegiatan awal adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani dan menyanyi.

b. Kegiatan Inti
Kegiatan ini difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perseorangan.

c. Kegiatan Akhir
Fungsi kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantonim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.

2. Contoh RPP Tematik

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
( TEMATIK )

Kelas/ Semester : II/ I
Tema : Diri Sendiri
Alokasi Waktu : 1 Minggu
Pertemuan Ke : Minggu ke 1

I. Standar Kompetensi
1. PKn
- Kemampuan membiasakan hidup bergotong royong.
2. B. Indonesia
Mendengarkan :
- Kemampuan memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan.
Berbicara :
- Mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman secara lisan melalui kegiatan bertanya, bercerita dan deklamasi.
Membaca :
- Kemampuan memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi.
Menulis :
- Kemampuan menulis permulaan melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte.
3. IPS
- Kemampuan memahami peristiwa penting dalam keluarga secara kronologi.
4. IPA
- Kemampuan mengenal bagian-bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan, serta berbagai tempat hidup makhluk hidup.
5. Matematika
- Kemampuan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500.
6. Seni Budaya dan Keterampilan
- Mengapresiasi karya seni rupa (S. Rupa).
- Mengapresiasi karya seni musik (S. Musik).

II. Kompetensi Dasar
1. PKn
- Kemampuan mengenal pentingnya hidup rukun saling berbagi dan tolong menolong.
2. B. Indonesia
Mendengar :
- Kemampuan menyebutkan kembali dengan kata-kata atau hal sendiri isi teks pendek.
Berbicara :
- Kemampuan bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan satuan berbahasa.
Membaca :
- Kemampuan menyimpulkan isi teks pendek (5-10 kalimat) yang dibaca dengan membaca lancar.
Menulis :
- Kemampuan melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.
3. IPS
- Kemampuan memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.
4. IPA
- Kemampuan mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.
5. Matematika
- Kemampuan membandingkan bilangan sampai 500.
6. Seni Budaya dan Keterampilan
Seni Rupa : Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa.
Seni Musik : Mengidentifikasi unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan oleh benda bukan alat musik.

III. Indikator
1. PKn
- Memahami arti hidup rukun, saling berbagi dan tolong menolong dalam keluarga dan lingkungan tetangga.
2. B. Indonesia
Mendengarkan :
- Menjawab pertanyaan sesuai isi cerita yang didengarkan.
Berbicara :
- Menggunakan kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu kepada orang yang belum dikenal dengan pilihan kata yang tepat.
Membaca :
- Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang tepat.

Menulis :
- Melengkapi cerita tentang data diri dan keluarga dengan kata yang tepat.
3. IPS
- Menunjukkan dokumen diri dan keluarga.
4. IPA
- Membuat daftar bagian-bagian utama tubuh hewan di sekitar rumah dan sekolah serta kegunaannya dari hasil pengamatan.
5. Matematika
- Membilang secara urut.
- Menyebutkan banyak benda.
6. Seni Budaya dan Keterampilan
Seni Rupa : Mengelompokkan berbagai jenis bidang tekstur dan bentuk ritme keseimbang kesatuan.
Seni Musik : Menentukan sumber bunyi
Membedakan kuat dan lemahnya bunyi dengan gerakan dan tepukan.

IV. Tujuan Pembelajaran
- Siswa dapat menjalani hidup rukun dengan teman sekelas saling berbagi dan tolong menolong.
- Siswa dapat menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek yang telah dibaca.
- Siswa dapat bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.
- Siswa dapat menyimpulkan isi teks pendek (5-10 kalimat) kemudian dibacakan.
- Siswa dapat melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.
- Siswa dapat memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.
- Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah.
- Membandingkan bilangan sampai 500.
- Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa.
- Menyebutkan unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan oleh benda bukan alat musik.

V. Materi Ajar/ Materi Pokok
- Pentingnya hidup rukun saling berbagi dan tolong menolong.
- Bacaan teks pendek, anak membaca dan mengungkapkan kembali isi bacaan dengan kalimat sendiri.
- Kata tanya, apa, siapa, di mana
- Bacaan teks pendek (5-10 kalimat) anak menyimpulkan isi teks tersebut.
- Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.
- Dokumen diri : akte keluarga, KTP, kartu keluarga dan koleksi benda berharga.
- Bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan yang ada di lingkungan rumah dan sekolah.
- Operasi hitung bilangan.
- Keragaman aneka unsur rupa dan unsur musik.
VI. Metode Pembelajaran
Ceramah, tanya jawab, demonstrasi.

VII. Langkah-Langkah Pembelajaran
Kegiatan Awal
- Mengucapkan salam dan berdoa bersama.
- Menyanyi bersama lagu “Anak kambing saya” dan “Naik-naik ke puncak gunung”

Kegiatan Inti
- Siswa menyanyi lagu anak kambing saya dan naik-naik ke puncak gunung sambil diiringi tepuk tangan.
- Siswa mempraktekkan kerjasama dan tolong menolong dalam satu kelas (lingkungan kecil).
- Siswa menjawab pertanyaan dari guru sesuai isi cerita yang didengarkan.
- Siswa menggunakan kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu.
- Siswa membaca teks cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat.
- Siswa menulis pengalaman pribadi ke depan kelas.
- Siswa menjelaskan pentingnya memelihara dokumen dan koleksi barang keluarga.
- Siswa menyebutkan bagian-bagian utama tubuh hewan di sekitar rumah dan sekolah serta kegunaannya.
- Siswa menghitung secara urut sampai 500.
- Siswa menyebutkan banyak benda (lebih sedikit, lebih besar atau sama dengan kumpulan lain).
- Siswa membuat gambar sesuai dengan illustrasinya dari berbagai jenis bidang dan tekstur.
- Siswa menyanyikan sebuah lagu “Lihat kebunku” dengan diiringi sumber bunyi gelas dan sendok.

Kegiatan Akhir
- Tanya jawab tentang materi yang telah diajarkan.
- Menyanyikan lagu “Naik-naik ke puncak gunung”.
- Pemberian PR.

VIII. Alat dan Sumber
Alat : - Benda-benda di sekitar.
- Macam-macam dokumen diri (KTP, akte kelahiran).
- Gambar hewan dan bagian-bagiannya serta kegunaannya.

IX. Penilaian
- Lembar kerja.
- Pengamatan.
- Tertulis.

3. Contoh Berbasis CTL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS ACTIVE LEARNING/CTL

Sekolah : MTs Miftahul Huda
Mata pelajaran : Fiqih
Kelas/ Semester : VIII/Gasal
Pertemuan ke : I
Alokasi waktu : 2 X 40 menit
Standar kompetensi : ........................
Kompetensi dasar : ........................
Indikator : ........................
Tujuan : ........................
Pokok-pokok Materi : ......................
Metode : .......................
Media/Alat/Bahan/Sumber: .........
Alat Evaluasi : .......................

Skenario Pembelajaran Model Jigsaw, sebagai berikut:
1. Materi yang dipilih adalah zakat hewan ternak zakat perdagangan (tijaroh), zakat pertanian (hasil bumi), zakat emas dan perak.
2. Siswa dibagi ke dalam 4 kelompok besar
3. Pembagian kelompok berdasarkan nomor urut absensi. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang
4. Setiap kelompok bertugas berbaca dan memahami materi yang ada dalam buku panduan Mata Pelajaran
5. Setiap kelompok melakukan diskusi kecil dan merangkum hasil diskusi
6. Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi kecil kelompoknya kepada kelompok lain melalui salah satu anggotanya yang dikirim pada diskusi kecil antar kelompok.
Setelah melalui proses zig zag dan masing-masing siswa terlihat dalam diskusi kecil antar kelompok, hasil dari diskusi kelompk tersebut disampaikan kepada masing-masing teman sekelompoknya.
7. Kembalikan seperti semula dalam kelompok besar untuk mengulas lagi seandainya ada masalah yang belum terpecahkan
8. Guru melempar beberapa pertanyaan untuk penjajagan pemahaman materi
9. Refleksi

26 Maret 2008

Pendidikan Tinggi

MEMADUKAN IDEALISME DOSEN DENGAN MAHASISWA

Oleh F. Syukur NC.


Tulisan ini diilhami oleh sebuah tulisan Prof. Dr. Achamd Ali, S.H., guru besar UNHAS Makassar yang dimuat di Harian Kompas, 22 April 2002, tentang Moralitas Pendidikan di Indonesia. Dalam artikel tersebut, Achmad Ali yang pernah menjadi dekan Fakultas Hukum Unhas, mendapat keluhan dari seorang dosen senior, bahwa mahasiswa yang diajarnya tidak mau mendengarkan, bahkan mereka bergurau – ramai sendiri. Sang dosen senior ini sampai marah dan melapor pada dekan, supaya dekan menindak mahasiswa tesebut. Namun setelah diusut, ternyata penyebab mahasiswa bergurau – ramai sendiri itu, bukan semata-mata karena faktor mahasiswanya, tetapi setiap sang dosen itu masuk di kelas, yang dilakukannya hanya langsung "mendiktekan" 10 halaman diktatnya. Sehingga tersirat dalam pikiran sebagian mahasiswanya, "Daripada kami capek-capek mencatat hasil diktean beliau, kan, mendingan dipinjamkan saja untuk kami copy, praktis dan efisien".
Dalam sebuah kesempatan dialog mahasiswa dengan bidang akademik IAIN Walisongo, mulai dari Pembantu Rektor I, Pembantu Dekan I, Ketua dan Sekretaris Jurusan serta Kasubag Akademik dan Kemahasiswa, ada seorang mahasiswa yang mengkritik habis-habisan keberadaan beberapa dosen yang menurutnya tidak bermutu. Dosen-dosen ketika di kelas tidak siap dengan materi yang diajarkan, yang sering adalah ceramah dan ngalor-ngidul tentang anak-anak dan tetangganya. Tetapi kalau ada mahasiswa yang bertanya dengan kritis, maka diancam nilainya akan dipotong. Mahasiswa tersebut menuntut agar para dosen tersebut ditingkatkan kualitasnya. Dalam mengajar hendaknya jangan hanya ceramah, dan menganggap mahasiswa sebagai botol kosong yang hanya siap untuk diisi. Ada juga seorang dosen senior ketika di kelas yang diceritakan selalu tentang pengalaman-pengalamanya di luar negeri yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mata kuliah.
Dua kasus tersebut merupakan fenomena yang menarik dalam dunia pendidikan kita, dimana sudah terjadi peningkatan kesadaran di kalangan mahasiswa. Mahasiswa bukanlah benda yang kosong, tetapi mereka sudah membawa potensi dan referensi dari berbagai sumber, sehingga kehadirannya di ruang kuliah bukan tanpa bekal. Ingat di era informasi, maka sumber informasi bisa didapatkan bukan semata-mata dari dosen. Dosen hanya sebagian kecil dari sumber informasi. Justru di luar itu, banyak informasi yang bisa didapatkan melalui buku-buku, jurnal, koran, internet, seminar-seminar dan sebagainya. Oleh karena itu, kalau dosen masih beranggapan bahwa dialah satu-satu sumber informasi, maka dia akan ketinggalan dari dunia informasi yang lain. Apalagi kalau stok informasi yang dimilikinya tidak selalu di upgrade, maka jelas dia akan terlihat ‘kuper’. Dia mengira sudah mencapai setinggi langit dan seluas bumi, padahal ia masih di dalam tempurung.
Ada seorang dosen senior yang memperoleh kesempatan mengikuti program doktor bebas terkendali terheran-heran setelah melihat proses perkuliahan yang dilaksanakan oleh dosen-dosen muda baik yang alumni S-2 atau S-3. Ternyata proses perkuliahannya sudah seperti di S-2 atau S-3, maksudnya banyak membuat makalah, seminar, dan brainstorming. Tidak jarang mahasiswa mendebat dosen, kalau referensinya tidak atau kurang akurat. Sebelum mendapat kesempatan mengikuti kuliah doktor dia mengira bahwa model kuliahnyalah yang paling ideal. Ternyata dosen-dosen muda sudah melaksanakan model sebagaimana di pasca sarjana, walau tidak sepenuhnya.
Betapa idealnya seandainya idealisme mahasiswa tersebut merupakan gambaran mayoritas mahasiswa kita dan kemudian diimbangi dengan idealisme dari dosen untuk meningkatkan semangat keilmuannya.
Berangkat dari pengalaman saya lebih kurang selama delapan tahun sebagai dosen yang belum senior, menunjukkan bahwa prosentase mahasiswa yang mempunyai kesadaran intelektual dan idealisme jumlahnya sangat kecil. Dalam satu kelas rata-rata kurang dari dua puluh lima prosen, sedang yang lainnya biasa-biasa saja dan lebih banyak pasif.
Sebagaimana dilakukan oleh beberapa dosen yang lain, setiap awal kuliah seorang dosen memaparkan prospectus perkuliahan yang akan diajarkan dalam satu semester ke depan, yang meliputi, tujuan yang ingin dicapai, silabi perkuliahan, buku-buku rujukan, pendekatan dan metode-metode perkuliahan dan sistem evaluasi. Memang tidak semua dosen melakukan hal seperti itu, misalnya silabi tidak diberitahukan kepada mahasiswa, buku-buku rujukan dan sistem evaluasi tidak diberitahukan kepada mahasiswa. Ada beberapa kemungkinan, mungkin karena dosen tidak sempat membuat silabi yang siap disampaikan kepada mahasiswa atau mungkin dosen sengaja menyembunyikan langkah-langkah yang akan diajarkan supaya tidak diketahui oleh mahasiswa. Konon dulu ada dosen yang setiap memberikan ujian, mahasiswa selalu tidak bisa menjawab. Bahkan referensi yang ditunjukkan oleh dosen tidak ditemukan jawabannya. Akhirnya ada mahasiswa ‘kreatif’ yang mencuri buku yang ada di tas sang dosen ketika dia keluar kelas. Pada pertemuan selanjutnya sang dosen sempat marah karena bukunya hilang dan dia tidak siap untuk mengajar. Rupanya dari buku “babon” yang disembunyikan dari mahasiswa itulah segala soal ujian dibuat.
Dalam pemaparan prospectus tersebut, mahasiswa saya persilahkan untuk berpartisipasi sebagai bagian dari pendidikan orang dewasa dalam sistem andragogi. Misalnya apakah sillabi yang disampaikan oleh dosen ini perlu ditambah, dikurangi atau perlu direvisi. Apakah ada sumber-sumber rujukan yang lain selain yang disampaikan oleh dosen. Apakah sistem evaluasi dan metode yang diusulkan oleh dosen dapat disepakati, termasuk kesepakatan-kesepakatan tentang sanksi-sanksi dalam kuliah. Setelah semua disepakati, maka semua yang terlibat dalam mata kuliah tersebut akan terikat dengan kesepakatan itu.
Dalam realitanya sangat sedikit mahasiswa yang memanfaatkan moment tersebut, kecuali hanya satu – dua mahasiswa. Rata-rata mereka langsung menerima prospectus tersebut sebagai informasi yang harus diterima. Bahkan anehnya ada beberapa mahasiswa yang tidak peduli dengan prospectus tersebut, dan menganggapnya hanya sebagai angin lalu saja, tanpa ada bekasnya dilembaran kertas yang ia miliki. Akibatnya sudah bisa ditebak, ibarat orang mau berjalan, sudah disediakan denah atau peta yang jelas, lengkap dengan petunjuk kompasnya, namun tidak mau memanfaatkannya, ya seperti berjalan tanpa arah, tanpa persiapan dan tanpa bekal. Bagaimana bisa diharapkan tumbuh idealisme dari mahasiswa yang demikian ?
Sebagai dosen yang menyadari bahwa informasi yang dimiliki oleh dosen itu sangat terbatas, sehingga mengajak mahasiswa untuk membaca langsung dari buku-buku rujukan, namun kenyataannya lain. Masih banyak mahasiswa yang hanya menggantungkan pada dosen sebagai satu-satunya sumber informasi. Buku refrensi yang sudah ditunjukkan tidak pernah dicari, dengan berbagai alasan, sulit dicari, harganya mahal dan sebagainya. Bagi sebagian dosen mungkin ini menguntungkan, karena memposisikan dirinya sebagai orang yang pintar dan ‘paling tahu segalanya’.
Bila ada dosen yang menugaskan membuat makalah dan presentasi, apalagi yang bersifat individual, maka banyak mahasiswa yang mencap, “dosen banyak tugas”. Mengapa makalah harus sekian halaman, harus dengan sekian referensi. Atau mereka berkata, makalah kelompok saja pak, ada pula yang mengatakan cemarah saja pak.
Kuliah dengan sistem seminar (ada mata kuliah tertentu yang tidak cocok dengan sistem ini), dimaksudkan agar partisipasi mahasiswa lebih banyak. Mereka dapat langsung mencari dari sumber rujukan yang ditunjuk, sekaligus dapat menganalisis dan menyusun pola pikir dengan baik dan sistematis melalui presentasi di kelasnya. Dari makalah itu, dosen dapat memberikan masukan maupun menerima masukan ilmu. Demikian pula mahasiswa yang lain, tanpa dia harus mendalami semua topik yang diajarkan. Dengan demikian akan tercipta kondisi ‘saling belajar’ dan menambah ilmu.
Dengan prospectus yang telah disampaikan oleh dosen di awal perkuliahan mestinya mahasiswa dapat menjadikannya sebagai pedoman, persiapan apa yang harus dibawa untuk mengikuti setiap perkuliahan sesuai dengan topiknya, bukan hanya topik makalah yang ditugaskan kepadanya. Mahasiswa juga dapat ‘mengatur strategi’ dalam menghadapi ujian dari dosen sesuai dengan kesepakatan di kuliah awal tersebut.
Tentang kuliah awal ini memang masih ada budaya yang kurang baik, entah awalnya dari mana, “ah masih kuliah awal belum terlalu penting”, sehingga di minggu pertama kuliah biasanya kelas masih kosong. Sejak awal kepemimpinan Dr. H.A.Qodri A. Azizy (Mantan Rektor IAIN Walisongo), sudah diinstruksikan agar dosen masuk kelas sesuai dengan awal masa perkuliahan. Jangan sampai ada kelas kosong pada minggu-minggu pertama kuliah.
Hasilnya cukup lumayan, untuk Fakultas Tarbiyah, lebih dari delapan puluh prosen dosen sudah memulai perkuliahan sejak minggu pertama perkuliahan. Namun demikian di pihak mahasiswa kesadaran tersebut baru tumbuh sekitar tiga puluh prosen. Laporan dari beberapa dosen, bahwa pada minggu-minggu pertama perkuliahan, mahasiswa yang hadir hanya sekitas sepertiga dari jumlah kelas. Alasannya macam-macam, ada yang masih di kampung, ada yang masih batal tambah, ada yang mengatakan belum penting dan sebagainya.
Itulah sebuah realitas dunia kampus kita, yang tentu terkait dengan realitas-realitas yang lain. Realitas tersebut antara lain adalah rendahnya sikap keingin tahuan, curiosity, untuk haus terhadap ilmu pengetahuan baik di pihak dosen maupun di pihak mahasiswa. Akibat rendahnya sikap curiosity ini, maka orang akan mudah puas dengan apa yang dimilikinya. Lebih dari itu mungkin juga ada sikap arogansi intelektual. Merasa sudah pintar sehingga tidak perlu belajar lagi. Ini pernah saya alami ketika menyampaikan sebuah undangan dari panitia pelatihan manajemen IAIN kepada seorang dosen yunior, bagaimana responnya ? positifkah ? ternyata jauh dari yang saya bayangkan. Dengan angkuhnya dia mengatakan ‘ah manajemen paling kayak gitu’. Betapa arogannya dia sehingga merasa tidak perlu ada upgrade ilmu-ilmu yang pernah ia dapatkan. Ilmu yang pernah ia dapat sewaktu kuliah puluhan tahun yang silam, masih dipertahankan dan disampaikan sebagaimana adanya kepada mahasiswa pada era sekarang. Padahal ilmu pengetahuan telah berkembang dengan cepat seiring dengan perkembangan masa. Lima tahun yang lalu komputer dengan prosessor 486 Hz sudah dianggap canggih, namun sekarang, pentium sudah mencapai generasi keempat, dan akan terus berkembang. Rendahnya sikap curiosity telah menghambat orang untuk selalu terbuka terhadap pengetahuan baru.
Dulu orang belajar sesuatu harus berhadapan langsung dengan guru, datang ke majlis pengajian, datang ke perpustakaan, tetapi dengan kecanggihan teknologi dari ruang kamar yang berukuran dua kali tiga meter, dengan internet orang bisa mengakses berjuta juta informasi tanpa harus datang ke majlis, atau langsung ketemu dengan guru. Dulu kalau kita ingin membaca tafsir, harus membeli kita-kitab yang tebal dan harganya mahal, sekarang hanya dengan sebuah note book dan sekeping cd al-Qur’an sudah lengkap ayat-ayat dan tafsirnya dari beberapa kitab. Demikian pula hadits kutubussittah yang memuat sembilan kumpulan kitab-kitab hadits besar, dapat diakses hanya dengan sekeping cd. Untuk belajar bahasa, mulai dari anak-anak sampai dewasa, tidak harus datang ke tempat kursus, sekarang sudah banyak cd program belajar bahasa.
Namun demikian untuk menuju ke arah itu masih ada realitas lain yang harus diakui, yakni faktor ekonomi. Masih ada dosen yang tidak memiliki perpustakaan pribadi dan tidak mau datang ke perpustakaan. Buku-buku yang dipakai untuk mengajar di kelas tidak pernah berubah sejak awal dia mengajar sampai pensiun. Masih ada dosen yang belum memiliki komputer, apalagi mengakses internet. Barangkali alasan klassik yang dikemukakan adalah gaji yang diterima dosen tidak cukup untuk membeli buku, langganan koran, langganan internet dan sebagainya. Itu memang kenyataan bahwa gaji dosen di negeri kita masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan gaji guru SLTP di Malaysia. Tetapi itu bukan alasan utama untuk tidak mau berkembang dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya.
Di kalangan mahasiswa, faktor ekonomi ini juga menjadi alasan. Katanya uang saku dari rumah tidak cukup untuk membeli buku. Tetapi kenapa tidak ke perpustakaan ? Katanya, perpustakaan bukunya terbatas. Ya memang benar, perpustakaan yang kita miliki, masih jauh dari memadahi. Idealnya, satu orang dapat meminjam buku antara 20 sampai 25 buku dalam jangka waktu dua bulan. Sehingga untuk membuat makalah dapat leluasa mencari referensi di perpustakaan. Akan tetapi kalau kita menunggu kondisi ideal, apakah kita baru akan maju setelah kondisi ideal ? Sampai kapan ?
Ada pengalaman menarik sewaktu kuliah di S-1. Ada seorang teman yang uang saku dari orang tuanya jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan teman-temannya satu kost. Katakanlah waktu itu rata-sata uang saku mahasiswa per bulan antara Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu. Sementara uang saku seorang teman tersebut maksimal hanya Rp 10 ribu plus beras 10 kg. Tetapi teman yang satu ini dapat membeli buku paling tidak 2 sampai 3 buku setiap bulan. Sementara yang uang sakunya banyak ternyata habis untuk makan, jalan-jalan dan beri berbagai assessoris. Kuncinya adalah pada kemauan, Rp 10 ribu merupakan modal awal yang dapat dikembangkan. Kebetulan dia hobi menulis, dengan modal itu ia belikan buku, kemudian diresensi dan dikirim ke media massa. Dari tulisan tersebut ia mendapatkan uang, dan dari klipping tulisan tersebut yang dikirimkan ke penerbit, ia mendapatkan buku-buku baru. Sekali lagi dimana ada kemauan di situ ada jalan. Tak ada rotan, akarpun jadi.***

Penulis adalah mantan aktivis pers mahasiswa akhir tahun delapan puluhan. Sekarang sebagai dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, dan Vice Editor in Chief Joenal Ihya Ulum al-Din.

23 Februari 2008

Silabus Akta IV

Universitas Wahid Hasyim Semarang
SILABUS MK PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Program Akta IV (4 SKS)
Tahun Akademik 2008
Dosen : Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag.


I. STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami konsep dasar Perenanaan Pembelajaran dan Mampu Menerapkannya dalam Proses Pembelajaran dengan baik

II. MATERI POKOK
1. Pengertian, dan Ruang Lingkup
2. Urgensi Persiapan dalam Proses Pembelajaran
3. Prinsip Pengembangan Persiapan Pembelajaran
4. Kinerja Guru dalam Persiapan Pembelajaran
5. Prinsip-prinsip Pembelajaran
6. Model-model Pembelajaran :
a. Model Pembelajaran Konstruktivisme
b. Model Pembelajaran CTL
c. Pendekatan Pembelajaran Tematik
d. Pendekatan Pembelajaran PAIKEM
7. Pengorganisasian Kelas
a. Desain Kelas Huruf U
b. Desain Kelas Corak Tim
c. Desain Kelas Lingkaran
d. Desain Kelas Breakout Groupings
e. Desain Kelas Chevron
f. Desain Kelas Kelompok untuk Kelompok
8. Pengembangan Teknik Pembelajaran
a. Prinsip Student Active Learning
b. Pembelajaran Partisipatif
c. Teknik-teknik Pembelajaran
9. Perencanaan Pembelajaran Pengembangan Diri:
a. Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup
b. Kompetensi yang dikembangkan
c. Strategi Pengembangan Diri
10. Perencanaan Pembelajaran Life Skill:
a. Latar Belakang, Filosofi, dan Tujuan
b. PKH di Madrasarah
c. Strategi Pendidikan Kecakapan Hidup
d. Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup
11. Pembelajaran Portofolio:
a. Pengertian dan Prinsip-prinsip
b. Implementasi model portofolio
c. Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio
12. Perencanaan Media Pembelajaran
a. Pengertian
b. Macam-macam Media
c. Penerapan dalam Pembelajaran
13. Perencanaan Metode Pembelajaran
a. Penegrtian
b. Macam-macam Metode Pembelajaran
c. Penerapan Metode dalam Pembelajaran
14. Perencanaan Evaluasi Pembelajaran
a. Pengertian
b. Jenis-jenis Evaluasi
c. Penerapan Evaluasi dalam Pembelajaran
15. Pengembangan Silabus Berbasis KTSP
16. Pengembangan RPP Berbasis KTSP

REFERENSI :
Armai Arief, Dr., M.A., Pengantar Ilmu dan Meodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
Basyiruddin Usman, Drs.M., M.Pd., Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
Dasim Budimansyah, Dr., M.Si., Model Pembelajaran Portofolio, Bandung: PT Genesindo, 2003.
Fatah Syukur, Drs., M.Ag., Teknologi Pendidikan, Semarang: Rasail, 2004.
Khaeruddin, Drs., H. M.A., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Semarang: PMDC-Pilar Media, 2007.
Nurhadi, Dr., M.Pd., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang: Universitas Negeri Malang, 2003.
Tim Depag, Kegiatan Pembelajaran, Jakarta: Dirjen Binbaga Departemen Agama RI, 2003.
Tim Depag, Panduan Pembelajaran, Jakarta: MP3A Departemen Agama RI, 2005
Tim Depag, Panduan Perencanaan & Pengembangan Madrasah, Jakarta: MP3A Departemen Agama RI, 2005
Tim Depag, Pedoman Integrasi Life Skills Dalam Pembelajaran, Jakarta: Dirjen Binbaga Departemen Agama RI, 2005.
Tim Depag, Pedoman Kegiatan Pengembangan Diri untuk Madrasah, Jakarta: Dirjen Binbaga Departemen Agama RI, 2005.
Vembrianto, ST, Pengantar Perencanaan Pendidikan, Jakarta: Gramedia, 1993.

Bahan Ajar Akta IV

PERENCANAAN PENGAJARAN


Pengertian :
Perencanaan pengajaran berarti pemikiran tentang penetrapan prinsip- prinsip umum mengajar di dalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pengajaran tertentu yang khusus baik yang berlangsung di dalam kelas ataupun diluar kelas.
Rencana pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek yang dilakukan oleh guru untuk dapat memperkirakan berbagai tindakan yang akan dilakukan di kelas atau di luar kelas. Perencanaan pembelajaran tersebut perlu dilakukan agar guru dapat mengkoordinasikan berbagai komponen pembelajaran yang berorientasi (berbasis) pada pembentukan kompetensi siswa, yakni kompetensi dasar, materi standar, indicator hasil belajar, dan penilaian berbasis kelas (PBK). Kompetensi dasar berfungsi untuk memberikan makna terhadap kompetensi dasar. Indikator hasil belajar berfungsi sebagai alat untuk mengukur ketercapaian kompetensi. Sedangkan PBK sebagai alat untuk mengukur pembentkan kompetensi serta menentukan tindakan yang harus dilakukan jika kompetensi standar belum tercapai.
Perencanaan pengajaran mempunyai beberapa faktor yang mendukung tujuan pembelajaran tercapai misal :
a. Persiapan sebelum mengajar
b. Situasi ruangan dan letak sekolah dari jangkauan kendaraan umum
c. Tingkat intelegensi siswa
d. Materi pelajaran yang akan disampaikan

Faedah perencanaan :
a. Karena adanya perencanaan maka pelaksanaan pengajaran menjadi baik dan efektif. Yang dimaksud adalah maka seorang guru bisa memberikan materi pelajaran dengan baik karena ia harus dapat menghadapi situasi di dalam kelas secara mantap, tegas dan fleksibel.
b. Karena perencanaan maka seseorang akan tumbuh menjadi seseorang guru yang baik. Yang di maksud adalah guru membuat persiapan yang baik dan adanya pertumbuhan berkat pengalaman dan akibat dari hasil belajar yang terus menerus.
Bagaimana cara untuk mencapai hasil hasil belajar yang efektif yang dijadikan pedoman dalam setiap kali membuat perencanaan ?

Ada 7 aspek persiapan untuk mencapai tugas yang di sebutkan tadi :
1. Persiapan terhadap situasi
Mancakup : tempat, suasana ruangan kelas, dan lain-lain. Dan situasi umum harus dimiliki sebelum saudara mengajar di dalam kelas tersebut dengan pengetahuan saudara dapat membuat ancang- ancang terhadap variabel faktor masalah dan menghadapi situasi kelas.
2. Persiapan terhadap siswa yang akan dihadapi
Maksud ; Sebelum guru mengajar ia harus mengetahui keadaan siswa tsb atau dengan kata lain guru harus membuat gambaran yang jelas mengenai keadaan siswa yang akan dihadapi selain dari pada faktor intern siswa tsb ( laki- laki dan Perempuan) seorang guru harus mengetahui taraf kematangan dan pengetahuan serta khusus dari pada siswa tsb.
3. Persiapan dalam tujuan umum pembelajaran
Yang menyangkut tujuan instruksional apa yang akan dicapai oleh para siswa harus dimiliki seorang guru mencakup antara lain :
Pengetahuan, kecakapan, keterampilan atau sikap tertentu yang konkrit yang bisa di ukur dengan alat- alat evaluasi.
4. Persiapan tentang bahan pelajaran yang akan diajarkan
Yang dimaksud dengan ini : Dengan adanya pengetahuan yang akan dihadapkan kepada siswa, si guru memiliki persiapan yang akan di sampaikan kepada siswa yang harus terdapat batas- batas, luas dan urutan- urutan pengajaran perlu di persiapkan.
5. Persiapan tentang metode- mengajar yang hendak di pakai
a. metode ceramah
b. metode tanya jawab atau diskusi
6. Persiapan dalam penggunaan alat- alat peraga
Misal : kapur dan papan tulis, pengahapus paling sedikit di gunakan tetapi dalam belajar pembelajaran di pergunakan alat pembantu adalah media yang mempertinggi komunikasi pada saat proses belajar berlangsung.
7. Persiapan dalam jenis teknik evaluasi
Tujuan evaluasi : samapi sejauhmana daya serap terhadap produk bahasan yang saudara terapkan
Ada beberapa jenis alat evaluasi disini yaitu : Bentuk test apakah test tertulis maupun test lisan.

Jenis- jenis perencanaan
1. Menurut Besaran :
a. Perencanaan Makro
b. Perencanaan Meso
c. Perencanaan Mikro
2. Menurut Telaahnya :
a. Perencanaan Strategi
b. Perencanaan Manajerial
c. Perencanaan Operasional
2. Menurut Jangka Waktunya :
a. Perencanaan Jangka Panjang
b. Perencanaan Jangka Menengah
c. Perencanaan Jangka Pendek

Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran terbagi atas 2 bagian :
1. Tujuan pembelajaran umum
2. Tujuan pembelajaran khusus, Kriteria :
a. Harus menggunakan istilah- istilah yang operasional, Spt : menuliskan, menyebutkan, menghitung, membedakan, dsg.
b. Harus dalam bentuk hasil belajar, adalah Menggambarkan hasil belajar yang diharapkan pada diri siswa setelah ia menempuh segala KBM atau dengan kata lain hasil apa yang sudah diperoleh setelah ia mempelajari suatu pokok bahasan.
c. Harus berbentuk tingkah laku dari para siswa, artinya Setelah siswa mempelajari pokok bahasan tsb adanya perubahan pengetahuan tentang materi pelajaran.
d. Hanya meliputi satu jenis tingkah laku, adalah Kemampuan yang dimiliki oleh siswa cukup hanya terbatas saja.

Mengembangkan Evaluasi
Yang harus dilakukan dalam mengembangkan evaluasi;
a. Perlu ditentukan jenis- jenis test yang harus di buat
b. Mengembangkan alat evaluasi

Perencanaan Desaign Instruksional
Penyusun PDI di desaign untuk menjawab pertanyaan :
1. Apa yang menjadi tujuan pembelajaran
2. Bagaimana prosedur dan sumber- sumber belajar yang tepat untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan.
3. Bagaimana kita mengetahui bahwa hasil belajar yang dihasilkan telah tercapai.
Adapun jawaban dari pertanyaan tadi ada 8 langkah :
1. Menyusun pokok bahasan dan tujuan umum
2. Karakteristik siswa
3. Tujuan belajar
4. Isi pokok bahasan
5. Penjajakan terhadap siswa
6. Kegiatan belajar mengajar
7. Pelayanan penunjang
8. Evaluasi

Metodologi Pengajaran
1. Metode mengajar
2. Media pengajaran
Ada beberapa jenis media pengajaran yang dilakukan seorang guru :
1. Media gratis
2. Media tiga dimensi
3. Media proyeksi
4. Lingkungan

Faktor- faktor yang harus diperhatikan seorang guru dalam media pengajaran :
a. Relevansi pengadaan media pendidikan
b. Kelayakan pengadaan media pendidikan
c. Kemudahan pengadaan media pendidikan

Beberapa hal yang harus diperhatikan seorang guru dalam menggunakan media pendidikan :
a. Apakah guru tersebut memahami manfaat media pengajaran
b. Guru harus terampil dalam menyediakan media pendidikan.

Media pendidikan di gunakan jika :
a. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang di pahami siswa
b. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pelajaran melalui penuturan kata- kata verbal
c. Perhatian siswa terhadap pengajaran sudah berkurang akibat kebosanan mendengar uraian guru.

Manfaat media pendidikan bagi pengajaran siswa :
1. Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga lebih jelas dipahami siswa sehingga memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
2. Metode mengajar akan lebih bervariasi
3. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar
4. Motivasi belajar dari para siswa dapat ditumbuhkan / dinaikkan
5. Dapat mengatasi sifat pasif dari para siswa

Kesulitan- kesulitan dalam media pengajaran :
1. Biaya pengadaan
2. Pengalaman seorang guru dalam menggunakan media pengajaran tersebut.

Perencanaan Evaluasi Pengajaran

Adalah : Penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik kearah tujuan- tujuan yang telah ditetapkan untuk mengetahui sampai dimana daya serap siswa setelah mengikuti pelajaran tersebut.

Prinsip : Lingkungan kegiatan 1994
- Intra kurikuler
- Tugas

Azas :
a. Azas Objektivitas
b. Azas menyeluruh
c. Berkesinambungan

Penjelasan :
Objektif adalah suatu penilaian di katakan objektif apabila keadaan tepat menggambar keadaan yang sebenarnya.
Menyeluruh apabila penilaian yang digunakan mencakup proses maupun hasil belajar serta menggambarkan perubahan tingkah laku tidak sengaja saja dalam ranah kognitif tetapi termasuk pula ranah efektif dalam psikomotor.
Berkesinambungan adalah pelaksanaan penilaian dilakukan secara terus menerus berencana dan bertahap.


Langkah- langkah penilaian
Perencanaan penilaian/ perencanaan evaluasi
Penilaian berlaku untuk untuk tujuan harian, ujian umum semester baik gasal/ genap, EBTA terlebih dahulu harus menyusun kisi-kisi soal; adalah menggambarkan lingkup bahan pengajaran dan jenjang prilaku yang diukur yaitu pengetahuan, sikap, keterampilan.

Pelaksanaan penilaian
Harus berkesinambungan maksudnya adalah penialaian yang dilakukan secara berencana, terus menerus dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil KBM

Cara penilaian
Dilakukan dengan 2 cara yaitu :
Ø Dengan cara kuantitatif
Ø Dengan cara kualitatif

Standart penilaian
Sejalan dengan prinsip belajar tuntas penilaian di gunakan dengan standart mutlak atau penilaian acuan criteria artinya tidak ada pilih kasih.

Bentuk- bentuk soal
Ada dua macam :
Pilihan berganda ada 5 yaitu :
a. Melengkapi pilihan
b. Hubungan antar hal
c. Tinjauan kasus
d. Asosiasi pilihan ganda
e. Membaca diagram

Bentuk uraian ada 2 macam ;
a. Uraian objektif
b. Uraian non objektif

Tingkat kesukaran dari soal
Selalu berbanding mudah : sedang : dan sukar
Perbandingannya : 25 % 50% 25%

Penilaian soal untuk test hasil belajar
Sebelum butir- butir soal disusun si guru harus menyusun TPK sesuai dengan GBPP:
Tujuan kurikuler
Tujuan pembelajaran umum
PB
SPB

Tujuan pembelajaran khusus
Merupakan rumusan tingkah laku yang akan diukur melalui butir- butir soal. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam menjabarkan TPU menjadi TPK:
Pokok bahasan yang menunjang pencapaian tujuan pembelajaran umum
Tingkat perkembangan/ umur dari para siswa pada jenjang pendidikan yang bersangkutan
Beberapa catatan dalam membuat TPK :
Setiap rumusan TPK selalu mengandung aspek prilaku dan aspek isi
Agar bersifat operasional sehingga mudah di jadikan patokan dalam penyusunanbutir- butir soal dengan kata lain kata- kata kerja yang digunakan untuk aspek prilaku dalam tujuan pembelajaran khusus haruslah operasional , seperti ; menulis, menyebutkan, menghitung, merumuskan, memilih, dsg.

Pengelolaan Kegiatan Belajar Mengajar
menyusun program KBM
Melaksanakan KBM
Melaksanakan kegiatan penilaian
Penyusunan program pengajaran ada 3 komponen yang harus diperhatikan :
1. Penguasaan materi
2. Analisis materi pelajaran
3. Penyusunan persiapan mengajar

Lingkup materi
1. Materi untuk siswa
2. Materi untuk guru

Empat usaha yang harus dilakukan seorang guru :
1. Musyawarah guru mata pelajaran
2. Melalui sumaber yang relevan
3. Melalui ahli yang tersedia
4. Melalui pendidikan khusus

Fungsi kegiatan pendalaman materi ;
1. Meningkatkan kepercayaan diri akan kemampuan professional sehingga tidak ragu lagi dalam mengelola proses belajar mengajar.
2. Memperdalam diri dan memperluas wawasan atas konsepsi tujuan akademis dan aplikasinya sehingga dapat di manfaatkan untuk melaksanakan analisis materi pelajaran.

Fungsi analisis materi pelajaran
Sebagai acuan untuk menyusun program tahunan, program semesteran, dan program satuan pelajaran.

Sasaran analisis materi pelajaran:
1. Terjabarkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan
2. Terpilihnya metode yang efektif dan efisien
3. Terpilihnya sarana pembelajaran yang paling cocok

09 Februari 2008

Jual Rumah

RUMAH DIJUAL CEPAT

Dijual rumah type 36 di Beringin Putih D-I/5 Ngaliyan Semarang. Luas tanah 115 m2, luas bangunan 110 m2, sudah dicor/dag untuk lantai 2 seluas 75 m2. Terdiri dari tiga kamar tidur, ruang keluarga, ruang computer, kamar mandi, ruang dapur, kamar pembantu dan garasi mobil. Ruas jalan 7 m, ada line telpon, air artetis mengalir sehari dua kali, lancar, hanya membayar Rp 5.000,- satu bulan. Lokasi strategis, terletak di depan taman perumahan tempat bermain anak-anak dan memudahkan parkir mobil tamu, ada angkutan umum, dekat SD Negeri dan akses ke kota dekat. Lingkungan masih alami dengan udara bersih dan penuh penghijauan alam. Bila berminat hub: 024-8663825 atau 081390052209 e-mail : citraedukasi@yahoo.com